
...MAB by VizcaVida...
...|10. Bertemu Dengan Keluarga Hutama|...
...Selamat membaca...
...[•]...
Dua puluh lima tahun hidup di dunia, ini adalah pertama kalinya Angel merasakan tulang lututnya bergemelutuk seperti mau patah. Ini pertama kalinya tubuhnya terasa lemas seperti Jelly. Ditambah lagi Louis bilang, jika mereka tidak akan lama lagi sampai dikediaman keluarga Hutama, membuat jantung Angel memompa darah lebih banyak dan membuatnya pusing serta mual secara tiba-tiba secara tidak terkontrol.
Dengan mata berair ingin menangis, Angel menatap kantong berisi bahan-bahan kue yang sudah ia beli tempo hari sepulang dari kantor, padahal ia yakin jika mamanya Louis pasti sudah menyiapkan semuanya tanpa harus ia bawakan, ia tetap harus membawanya untuk berjaga-jaga. Atau, memang harusnya pakai yang ia bawa saja nanti?
Angel hanya takut jika bahan yang disediakan oleh mamanya Louis terlalu mahal dan nanti malah bisa berimbas pada hasil. Ia takut gagal dan mempermalukan diri sendiri, itulah tujuannya membawa semuanya sendiri. Persiapan pribadi lebih baik dari pada nanti menyesal dan malu. Antisipasi, begitu pikir Angel.
“Nah, itu rumah kami.” Kata Louis, mengulurkan tangan berkulit putih dan dililit jam tangan mewah A. Lange & Sohne itu kedepan menunjuk salah satu bangunan. Ternyata, Louis dengan pakaian casual jauh lebih dan lebih tampan dari dugaan Angel. T-shirt hitam press body, dan celana Jeans pendek sebatas lutut, juga sepatu sport berlogo centang yang membuat sempurna penampilan, tadi sempat membuat Angel melting.
Dari jarak yang tidak terlalu jauh, Angel bisa melihat betapa megah dan mewahnya rumah mereka. Ia merasa kerdil dan tidak pantas berada diantara orang-orang seperti keluarga Hutama ini.
Kepala Angel semakin pening. Ia bergerak gusar dengan menggerakkan kaki dan meremat pakaian terbaik yang ia miliki dan sedang ia gunakan hari ini untuk bertemu dengan keluarga Louis. Bukan diperkenalkan kepada orang tuanya apalagi lamaran, tapi rasanya lebih menakutkan daripada dua hal itu sampai-sampai telapak tangan Angel berkeringat.
“Nggak usah gugup. Mama sama kayak orang lain kok. Cuma mama saya itu wajahnya memang sedikit ketus. Nggak perlu terlalu dipikirin.”
Sumpah, Angel mual dan ingin muntah sangking gugupnya.
“Dirumah juga ada kakak ipar dan keponakan saya yang datang. Jadi suasananya pasti menyenangkan deh. Percayalah sama saya. Mereka semua baik, kok. Apalagi kak Stefy, dia orangnya welcome banget.”
Seharusnya Angel lega mendengarnya. Tapi rasa gugup itu masih ada dan terlihat nyata. Mungkin Louis juga melihat kegugupan di raut wajah Angel.
Sesampainya di pintu gerbang yang terbuka otomatis, Louis memacu perlahan mobilnya memasuki pekarangan rumah yang luasnya lebih lebar dari sawah warisan yang diberikan nenek Angel kepada ibunya di Surabaya sana. Mata Angel mulai berkunang, namun semua rasa itu seperti sirna saat telapak tangannya terasa digenggam lembut, dan orang yang melakukan itu adalah Louis.
“Tenang saja, fokus. Kalaupun gagal, itu wajar kok.”
Angel mengangguk ragu, lalu menarik tangannya karena berada dalam genggaman tangan Louis bisa membuatnya semakin ingin pingsan karena kulit pria itu terus menyentuh permukaan kulitnya.
“Yuk turun.”
Ia menurut. Melepas seatbelt lalu menarik pengait pintu mobil kemudian turun dan menyusul Louis yang sudah lebih dulu ada di pelataran rumah beralaskan marmer mengkilat yang berkelas dan tentu saja pasti mahal.
__ADS_1
Saat langkahnya berhasil melewati belah pintu bersamaan teriakan Louis yang memberitahu jika dia sudah datang, Angel dapat melihat foto keluarga berjumlah enam orang dengan pakaian sama dan senyuman bahagia dengan berbeda generasi, terpampang jelas menyambut indra penglihatannya di bawah sebuah lambang keagamaan yang berukuran cukup besar. Diam-diam Angel merasa bersyukur karena dia dan Louis seiman.
Tak berselang lama, seorang gadis kecil yang amat sangat cantik setinggi tidak lebih dari lutut orang dewasa, berpipi gembil, berambut hitam berkilau dan lebat, berlari menerjang Louis sambil memanggilnya, “Uncle . . . ”
Ah, ternyata ini gadis kecil yang ada difoto itu. Sudah besar.
“Princess nya Uncle.” kata Louis sambil memantulkan tubuh berisi si gadis cilik dalam gendongannya.
“Itu, siapa?” tanya Rere menunjuk Angel.
“Oh, ini teman Uncle. Namanya Auntie Angel. Sapa gih.”
Seperti sedang melakukan simulasi keluarga. Batin Angel.
Tak perlu waktu lama, gadis kecil itu tersenyum ke arah Angel sambil melambaikan tangan. “Hai auntie.”
“Oh hai—”
“Rebecca.” sahut Louis sedikit berbisik ke arah Angel.
“Hai Rebecca.”
“Auntie cantik, kayak barbie.” kata Rebecca membuat Angel menahan senyuman hingga wajahnya memerah. Benarkah dirinya secantik itu?
“Asyik...” teriak Rebecca sambil bertepuk tangan dan tertawa ceria.
Langkah Louis menuju ruang tengah dimana anggota keluarga sedang berkumpul. Jantung Angel seperti ingin terjun ke dasar lambung ketika melihat keluarga itu menatap kehadirannya secara bersamaan. Dari sini dia bisa melihat dengan jelas wajah Pak Hutama, nyonya Hutama, kakak laki-laki Louis belum pernah ia lihat sebelumnya, juga kakak ipar Louis yang ternyata jauh lebih cantik aslinya dari pada di bingkai foto yang tadi terlihat sudah cantik. Sungguh suasana yang tidak pernah terbayangkan oleh Angel sebelumnya.
“Mam, ini Angel.” seru Louis memperkenalkan Angel pada mamanya yang meminta gadis itu meluangkan waktu untuk menjadi guru privat nya membuat kue hari ini.
“Oh, hai Angel. Maaf merepotkan mu.” kata Jenita sambil tersenyum dan berdiri dari duduknya untuk menyambut Angel. “Saya Jenita, mama nya Louis.” lanjut wanita lepas patuh baya itu sambil mengulurkan tangan ke arah Angel.
“Saya Angel.” jawab Angel sudah berada di titik puncak kegugupan yang membuat telapak tangannya gemetaran.
“Panggil saya tante saja biar akrab.” pinta Jenita yang membuat Angel makin salah tingkah. Akrab katanya, tidak mungkin lah. Batin Angel mulai membangun benteng pertahanan agar ia tidak terlalu besar kepala sudah berhasil masuk kedalam keluarga besar dan berpengaruh di dunia pertelevisian dan juga negara ini. Angel mengangguk ragu sebagai jawaban. “Nah, kalau ini menantu saya, istri dari Robert, kakak iparnya Louis yang nanti ikut membuat kue sama kita.”
Wanita berlesung pipi dengan wajah oriental itu tersenyum hangat pada Angel, kemudian mengulurkan tangan memulai perkenalan. “Hai, Ngel. Panggil aku Stefy aja biar akrab.”
“Ah, iya kak Stefy. Panggil saja saya Angel.”
__ADS_1
“Nah, kalau yang itu, Robert, kakak Louis. Dan yang itu, suami saya Hutama Pratama, Papanya Louis.”
Mendengar nama itu, mendadak hati Angel bergetar. Ada rasa bangga tersendiri bisa melihat dan dekat dengan pria berusia hampir tujuh puluh tahun itu didepannya.
“Hai, Angel.” sapa Robert riang. Sedangkan Hutama hanya menganggukkan kepala dengan sebuah simpul senyum penuh wibawa.
Duh, serasa akan di jadikan anggota keluarga saja.
“Ah, salam kenal dari saya kak Robert, Om Hutama.” sapa Angel sembari membungkuk lima belas derajat. Sopan santun Angel seperti ini sudah berhasil menarik rasa suka Jenita pada si gadis. Apalagi saat tanpa sengaja, mata Jenita menangkap sebuah liontin berbentuk lambang keagamaan yang sama dengan mereka menggantung pada sebuah necklase yang dipakai oleh Angel, hati Jenita yang biasanya kaku saat dulu melihat Caca, kini bergerak lembut menerima Angel. Ya, sepertinya gadis inilah yang ia inginkannya menjadi pendamping Louis. Dia hanya perlu mencari tau asal-usul keluarga dan bagaimana Angel bisa memiliki wajah kebule-bulean seperti itu. Jenita yakin, salah satu dari kedua orang tua Angel bukanlah orang Indonesia asli.
Jika Rebecca mewarisi perpaduan wajah tampan Robert yang rupawan dari gen Hutama dan wajah oriental Stefany dengan mata sipitnya. Pasti nanti jika Louis berhasil bersatu dengan gadis ini, cucunya akan berwajah kebule-bulean seperti sang ibu. Pasti akan sangat menyenangkan memiliki cucu berwajah bule. Dan Jenita sudah berfikir terlalu jauh padahal baru mengenal sosok Angel pertama kalinya hari ini.
“Ah, ini saya membawa bahan kue yang bisa kita pergunakan nanti, tan—te,” kata Angel gugup ketika menyebut kata Tante dan ditatap penasaran oleh sosok Jenita yang masih di sibukkan oleh angannya yang melambung tinggi membayangkan masa depan Louis.
“It's Okey. Nggak perlu gugup. Panggil saya seperti yang sudah saya sebutkan tadi, oke.” kata Jenita penuh senyuman senang. Hatinya sedang berada dalam fase good mood.
Stefany sampai ikut tersenyum melihat ibu mertuanya senang begitu. Ia membatin jika anggota keluarga ini akan bertambah dalam waktu dekat.
“Sebenarnya saya sudah menyiapkan beberapa bahan kue untuk kita gunakan nanti. Tapi berhubung kamu membawakan jauh-jauh untuk kita, ya sudah pakai itu saja.”
Angel bernafas lega karena ternyata ucapan Louis benar. Jenita sebenarnya tidak seketus kelihatannya. Hanya wajahnya saja yang terlihat seperti itu, dan mungkin itulah yang membuatnya selalu di hormati oleh seluruh pegawai yang bekerja di bawah tangan Hutama.
“Kita mulai sekarang?” tanya Jenita sudah tidak sabaran. Ia sangat antusias karena dia yakin akan berhasil membuat kue kali ini.
Angel mengangguk dan langsung saja menerima rangkulan dari Stefany, kakak ipar Louis yang sangat baik itu.
“Baiklah, para lelaki, tunggu disini. Lihat keberhasilan Mama kali ini. Kalian tidak akan bisa menghina mama dengan makanan gosong dan pahit.”
Angel menahan ******* senyum di bibirnya. Ia lantas melihat reaksi para pria disana yang menatap datar menahan senyuman, dan si kecil cantik yang tadi ada dalam gendongan Louis sudah turun dan berlari ke arah dapur.
Louis menatap Angel memberi dukungan. “Semangat.” katanya berbisik dengan kepalan tangan yang ia tinjukan di udara dan sematan senyuman kecil penyemangat.
Angel mengangguk diam-diam dan mulai mengikuti langkah Stefany menuju dapur. Disana, Rebecca sudah naik dan duduk di kursi counter dapur sambil memegang adukan adonan dan memakai celemek.
Tak jauh berbeda, mama Louis juga sudah lengkap dengan alat perangnya membuat kue bersama Angel. Wanita itu lantas mengulurkan celemek untuk Stefany dan Angel secara bergantian. Kemudian, dengan senyuman yang tak surut di bibirnya, Jenita berkata.
“Oke. Kita harus memulainya dari mana.” []
###
__ADS_1
Kompak sekali kan akak . . . ☺️
Author Vi's suka interaksi sama pembaca lho, jadi jangan ragu untuk meninggalkan komentar kalian disini