My Angel Baby

My Angel Baby
tak ada pilihan baik


__ADS_3

Tok... Tok ... Tok...


Lia sedikit gemas, pasalnya tadi dia sudah mewanti-wanti pada sekretarisnya untuk menolak siapapun yang datang karena dia cukup sibuk hari ini.


Tapi kenapa masih ada yang mengetuk pintu ruangannya?


"Masuk" kata Lia sedikit berteriak untuk melampiaskan amarahnya, awas saja kalau sekretarisnya yang datang dan bertanya hal yang tidak penting.


"Surprise" kata seorang pria dengan se bucket bunga tulip kesukaan Lia dan sekotak hadiah.


"Kak Bayu?" kata Lia, sungguh surprise yang sangat menyenangkan.


"Hai cantik, maaf kalau aku ngotot masuk meski sekretarismu sudah memintaku untuk tak mengganggumu" kata Bayu.


"Iya, kau nakal sekali. Asal kau tahu kak, aku sangat sibuk hari ini" kesal Lia, kesal yang dibuat-buat.


"Ini untukmu" kata Bayu memberikan dua benda di tangannya pada Lia yang diterima dengan senyum ceria.


"Terimakasih kak. Kapan kakak datang? Kemarin aku melihat stori kakak masih ada di LN" tanya Lia.


"Kemarin malam. Foto dalam stori itu sebenarnya audah beberapa hari yang lalu. Bagaimana kabarmu?" tanya Bayu.


"Aku baik, apalagi setelah melihatmu, aku jadi semakin baik" jawab Lia.


"Aku sangat merindukanmu. Dan sepertinya aku harus menghubungi yang lain" kata Lia.


"Jangan, biarkan saja mereka dengan kesibukannya. Aku hanya ingin bersamamu hari ini" cegah Bayu.


Lia tak jadi mengambil ponselnya, lantas duduk bersisian dengan Bayu untuk membuka kotak hadiah dari pria itu.


"Uwah, coklat. Dan ini sangat banyak, kak. Kau ingin membuatku jadi gendut ya?" canda Lia.


"Itu coklat khas dari Swiss. Sengaja aku belikan untukmu saat aku dalam perjalanan tugas kedokteran kemarin. Aku bingung mau membelikanmu apa, Lia. Karena kau sudah punya segalanya" ujar Bayu.


"Kau berlebihan sekali. Tapi terimakasih ya kak. Ehm, bagaimana kuliahmu?" tanya Lia.


"Tinggal satu tahun lagi. Dan setelah itu aku akan memilih untuk tugas di sini saja agar aku bisa lebih mudah untuk menemuimu" kata Bayu sambil memandangi wajah cantik Lia yang tak pernah berubah.


"Kau ini bisa saja, kak. Ingin menemuiku atau Silvi, hah?" tanya Lia.


"Kau tahu aku tak pernah ada perasaan khusus apapun pada Silvi sejak dulu" kata Bayu serius.


"Tapi kenapa kau diam saja saat Silvi menggombalimu? Dia kan jadi mengira kalau kau diam, maka masih ada peluang untuk mendekatimu" kata Lia sambil mencomot satu coklat pemberian Bayu dan memakannya dengan santai.


"Butuh waktu yang tepat untuk jujur padanya. Aku takut melukai hatinya dan membuat persahabatan kita jadi hancur. Itu saja" kata Bayu.


"Memang sedikit sulit, sih. Tapi ya semoga saja Silvi mau mengerti. Oh iya, apa yang lainnya tahu kalau kakak mengunjungiku?" tanya Lia


"Sepertinya tidak ada" jawab Bayu.


"Hei, both of you. Aku tidak akan pernah membiarkan kalian berduaan" kata sebuah suara yang tiba-tiba muncul.


Lia menoleh dan tersenyum riang, sementara Bayu yang tahu dengan nada suara itu tentu manyun saja.


"Kau ini ada-ada saja, Jo. Sudah pulang dari Sumatra?" tanya Lia yang berdiri dan menyambut hangat pelukan persaudaraan dengan Johan yang dianggapnya saudara.


"Kemarin aku sampai. Dan dugaanku benar kalau ada yang tidak beres, ternyata kak Bayu sudah mencuri start untuk menemuimu, Lia" kata Johan yang hanya ditanggapi dengan senyum sinis oleh Bayu.


"Dan ini hadiah untukmu" kata Johan yang juga menyerahkan sebuah tas anyaman untuk Lia.


"Kompak sekali kalian memberikan aku hadiah. Sepertinya hari ulang tahunku masih lama" kata Lia sambil mengintip isi dalam tas anyaman yang Jihan berikan.


"Kain?" tanya Lia.


"Itu kain khas dari Sumatra Barat, tempat si Malin Kundang di kutuk" jawab Johan yang ikut menikmati coklat dari Bayu.

__ADS_1


"Hem, coklat Swiss" gumam Johan.


"Baiklah, terimakasih Jo. Nanti akan ku buat kain ini menjadi blazer yang cantik" kata Lia dan kembali memasukkan kain itu ke dalam tasnya.


Dan kini, di sela kesibukan Lia yang malah diganggu oleh dua pria yang selalu bersitegang itu, maka Lia memutuskan agar keduanya membantu pekerjaannya saja karena memang hari ini cukup menumpuk berkas yang harus Lia selesaikan.




"Aahh, dimana ini?" pertanyaan pertama yang terucap oleh Eri saat matanya baru terbuka.



Setelah menyesuaikan cahaya ruangan dengan netranya, Eri memandangi sekitarnya yang hanya berupa kamar kecil berukuran 2x3 meter yang terisi oleh sebuah ranjang, lemari kecil dan meja kecil di dalamnya.



"Oh, kau sudah sadar rupanya?" tanya seorang wanita paruh baya yang berpenampilan glamour dan berias cukup menor.



"Ibu siapa?" tanya Eri sedikit khawatir.



Sembari memegangi kepalanya, Eri berusaha mengingat apa yang telah dia alami.



"Apa kau sudah mengingat sesuatu?" tanya ibu itu.



"Aku dikejar anak buah Handoko. Dan bagaimana bisa aku ada disini?" tanya Eri.




"Kenapa ibu mau menolong saya?" tanya Eri curiga.



Dari pengalamannya selama ini, tak ada sesuatu yang gratis atau cuma-cuma. Pasti ada maksud dari sebuah tindakan.



"Hahaha, kau jangan berfikir terlalu jauh. Pulihkan saja kesehatanmu" jawab wanita itu dengan senyumannya.



"Berapa lama aku pingsan, bu?" tanya Eri yang masih belum bisa menggerakkan tubuhnya karena terlalu lemas.



"Tiga hari. Kau betah sekali dalam tidurmu. Apa kau merasa lapar?" tanya wanita itu.



Dan Eri hanya mengangguk untuk menjawabnya.



"Tunggulah sebentar, akan aku suruh orang membawakan bubur untukmu" kata wanita itu sambil berlalu pergi.

__ADS_1



Eri hanya bisa terdiam sambil berfikir. Selama tiga hari tertidur dengan pakaian yang masih sama, ternyata kartu ATM dan buku tabungannya masih berada dalam sakunya.



"Syukurlah" ucap Eri dalam hati, setidaknya masih ada banyak uang untuknya sebagai bekal hidup.



"Ini makanan untukmu, madam Norita menyuruhku untuk membawakannya" kata seorang wanita yang hanya memakai tank top dan celana pendek, wajah polosnya seperti wanita yang suka berdandan karena separuh alisnya tak ada.



"Apa kau bisa makan sendiri?" tanya wanita itu lagi, meski bertampang judes, tapi dia mau membantu Eri duduk dan menyiapkan makanannya.



"Hati-hati, itu masih panas" ucap wanita itu sambil memberikan segelas air saat mulut Eri seperti terbakar karena makanan yang terlalu panas.



"Terimakasih" kata Eri setelah meminum air.



"Biar aku menyuapimu" kata wanita itu.



"Kau betah sekali tidur disini. Namaku Wina, untung saja semalam aku dapat jatah libur, jadi hari ini aku bisa menemanimu. Kalau yang lain mungkin tak akan mau membantumu. Namamu siapa?" tanya Wina.



"Aku Eri. Terimakasih karena kau mau membantuku, Wina" jawab Eri.



"Sudahlah, jangan difikirkan. Setelah kau baikan, pasti nasibmu akan sama dengan kami" tutur Wina.



"Maksudmu?" tanya Eri semakin penasaran.



"Aku sama sepertimu, dulu madam Norita menemukanku dalam pelarian dari para pelaku perdagangan manusia. Tapi nasibku tak jauh lebih baik meski telah diselamatkan mereka" kara Wina dengan pandangan kosong.



"Apa yang terjadi padamu selanjutnya?" tanya Eri semakin penasaran.



"Madam Norita memintaku untuk melayani para pria hidung belang agar bisa membayar hutangku padanya saat merawatku setelah lolos dari sindikat perdagangan manusia" jawab Wina dengan raut wajah sedihnya.



Eri gundah kali ini. Akankah nasibnya akan sama dengan Wina yang keluar dari kandang singa, tapi kembali masuk ke mulut buaya?



.


.

__ADS_1


.


__ADS_2