
"Ah, lambat!" teriak si kriting yang langsung maju dan bersiap memukul Bayu.
Meski jarang latihan, reflek Bayu masih bagus untuk segera menghindar dan masih ingin menyisakan si kriting untuk ditangani nanti di bagian akhir.
Bayu kembali memasukkan tangannya ke dalam saku jaketnya dan menerobos tiga pria yang masih belum bersiap-siap.
Satu dari mereka yang berdiri di paling belakang kini nampak jatuh terjerembab padahal sebelumnya pria itu berdiri dengan baik.
Kembali pria itu menggelepar seperti kesetanan dalam beberapa saat dengan mengeluarkan suara yang aneh.
Fokus tiga pria yang tersisa kini pada temannya yang masih dalam proses pengangkatan nyawa. Nampak mengerikan di mata mereka.
"Bro, lo kenapa?" tanya salah satunya pada si pria malang.
Memegangi lengan temannya yang masih sekarat dengan pandangan heran karena tak ada bekas luka atau apapun di tubuhnya.
Pria itu mendongak pada Bayu yang berdiri di dekat mereka sembari berucap, "Apa kau malaikat pencabut nyawa?" tanya pria itu.
Bayu terkekeh pelan, "Apa aku semenakutkan itu?" tanya Bayu dalam kekehannya yang tertahan.
"Dia itu cuma bedebah kecil, segera kita atasi dan bawa dua wanita bodoh ini" teriak si kriting dengan semangat membara. Rasa takutnya dia kesampingkan karena sebuah ego.
Kesombongan manusia yang tak mau diungguli oleh lainnya. Padahal jika mereka menyerah dan meminta maaf untuk tidak akan menyakiti Lia dan Viviane, pasti Bayu akan membiarkan mereka pergi.
Tapi nyatanya mereka malah semakin merasa tidak terima dan semakin berambisi untuk menghabisi Bayu.
"Demi teman gue" teriak pria yang tadi seperti bersedih atas kematian pria kedua.
Pria itu merangsek untuk mendekati Bayu demi bisa menyakiti pria datar itu dengan senjata berupa pisau lipat yang dia keluarkan dari saku celananya.
Lagi, Bayu hanya menghindar tapi memang tangannya melakukan sesuatu sebelum pria yang menyerangnya roboh dan terjatuh.
Dan segera Bayu kembali memasukkan sesuatu ke dalam saku jaketnya. Dan itu dilakukan dengan sangat cepat dan hati-hati.
"Sial! Sebenarnya lo apain teman-teman gue?" tanya si kriting sedikit khawatir melihat kini hanya tinggal dia berdua saja dengan temannya yang berambut gondrong.
"Tidak ada. Kalian hanya terlalu lambat" ucap Bayu dengan kesombongannya.
Sementara Si kriting masih belum berani menyerang, Lia dan Viviane pun merasa sedikit terpengarah melihat Bayu malam ini.
Sungguh diluar kebiasaannya. Bayu yang datar tanpa emosi berlebih itu bisa membuat nyawa dari beberapa orang melayang tanpa sentuhan yang berarti.
"Sebenarnya apa yang Bayu lakukan, Lia?" tanya Viviane dalam dekapan putrinya.
__ADS_1
"Dari yang Lia lihat, sepertinya kak Bayu menggunakan suntikan pada lawan-lawannya yang entah diisi dengan cairan apa hingga membuat mereka mati dengan mudahnya. Mereka menggelepar seperti ikan yang keluar dari air. Dan seperti manusia yang dimasukkan kedalam air" kata Lia berpendapat.
"Kau juga melihat kalau Bayu memakai suntikan ya, sayang? Mama juga melihatnya meski gerakan tangannya sangat cepat" ujar Viviane yang tadinya merasa pandangannya salah saat Bayu mengeluarkan suntikan dan memakai itu di leher lawannya, sepertinya begitu.
"Iya ma. Apa kak Bayu menggunakan racun?" Viviane hanya mengendikkan bahunya untuk menjawab pertanyaan sang anak, dia pun terlalu awam.
Tanpa kedua wanita itu sadari jika kini Bayu sudah berhasil menumbangkan lagi satu lawannya dengan cara yang sama. Kini benar-benar hanya tertinggal Bayu dan si kriting saja yang berduel.
Masih terdengar suara aneh dari mulut korban keganasan Bayu saat si kriting menyerang dengan tiba-tiba.
Bayu sedikit terlena tadi, dan kesempatan itu digunakan dengan baik oleh si kriting untuk menyerang.
Kini tangan kanan si kriting yang memegang pisau telah berhasil mengalung di leher Bayu. Membuatnya merasa sedikit sesak.
"Kena lo dokter keparat, hahaha" tawa si kriting meledak saat berhasil menawan Bayu yang nampak santai, dia sudah bisa mengendalikan emosinya.
"Sebutkan permintaan terkahir lo sebelum gue gorok leher putih lo ini. Dasar cowok rumahan, kulit lo kayak kulit tuan putri, hahaha" ejek si kriting yang merasa diatas angin.
"Bagaimana kalau permintaan terakhir gue adalah kematian lo?" tanya Bayu.
Pria berambut keriting itu tergelak kencang. Dalam masa ini pria itu merasa menang. Dan Bayu hanya terlihat seperti seekor curut yang terkena jebakan.
"Hei dokter curut, lo sudah berada di bawah ketiak gue saja masih sombong. Memang seharusnya sudah dari tadi gue kenalin lo sama Izrail" kata si kriting agak tak suka.
Si kriting lupa jika masih ada Lia dan Viviane di sekitarnya.
Demi menyelamatkan Bayu, Lia menyerang pria itu dengan satu pukulan telak di tengkuknya. Pria itu kesakitan meski tak pingsan, dia terlalu kuat.
Pisau yang pria itu gunakan untuk menggorok leher Bayu kini terjatuh, teronggok di lantai setelah menimbulkan suara nyaring akibat berbenturan dengan lantai di malam sepi itu.
"Ya Tuhan, selamatkan kami" bisik Viviane dalam doanya.
Begitulah manusia, selalu ingat terhadap Tuhannya saat berada dalam keadaan terhimpit dan bermasalah. Meski mungkin memang Tuhan sedang merindukan salah satu umatNya dengan memberikan cobaan agar umatNya mendatangiNya lagi.
Viviane sangat takut, baru kali ini wanita itu berhadapan dengan musuh yang benar-benar nyata di hadapannya.
Dan melihat dengan mata kepalanya sendiri bagaimana pribadi agung yang biasanya sopan dan tak terbaca seperti Bayu bisa dengan teganya menghabisi nyawa beberapa orang yang memang membahayakan.
Baru malam ini Viviane berada dalam posisi bertahan, melawan dan menang atau diam, tertindas dan menjadi pecundang.
"Ah sial, beraninya keroyokan" kata si kriting yang masih tiduran di lantai sembari memegangi tengkuknya yang amat sangat sakit.
"Kau sendiri kan tadi berlima, bodoh. Dasar pikun" balas Lia mengejek.
__ADS_1
Si kriting masih memulihkan tenaganya untuk kembali berusaha melawan Bayu. Pria itu berjongkok dan memejamkan mata.
"Lo mau mati bersama teman-teman lo atau selamat dan menjadi tahanan polisi?" tanya Bayu.
"Kagak dua-duanya. Gue masih kuat kalau cuma ngelawan kalian berdua. Cowok lemah dan cewek bodoh" ucap kriting masih tak mau mengalah.
Bayu menggelengkan kepalanya. Baru kali ini ada seorang yang sangat keras kepala padahal nyawanya benar-benar sangat terancam.
"Haaaa" pria itu berteriak kencang sembari menghambur ke arah Bayu untuk kembali bergulat.
Sudah tak banyak waktu yang tersisa. Bayu harus segera menyelesaikan semuanya sebelum tin Vicky datang dengan pihak berwajib.
Dengan tenang Bayu kembali menarget leher lawannya dan kembali menyuntikkan sesuatu disana. Dan tepat sasaran!
Kini Bayu melakukan hal itu dalam keadaan lambat. Membiarkan Lia melihat bagaimana dia menumbangkan lima orang lawannya tanpa banyak mengeluarkan tenaga.
Pria itu melotot sambil memegangi leher bekas suntikan Bayu. Mulutnya yang menganga masih sempat mengumpat pasa Bayu dan mengejek dokter tampan itu dalam bahasa jalanan yang sangat kotor.
"Kau memang pria jahat. Tak ada sedikitpun kebaikan dalam hatimu. Bahkan di sisa terakhir nyawa melekat di ragamu, masih saja kau tak mau mengagungkan Tuhanmu dan berharap maafnya. Hanya kebencian saja isi dalam hati dan pikiranmu" ujar Bayu membiarkan pria itu terkapar dengan mengeluarkan suara seperti rekan-rekannya sebelum mati.
Serupa suara sapi yang di gorok di tempat jagal. Sedikit mengerikan dengan mata melotot yang terus tertuju pada Bayu hingga lama kelamaan suara itu habis dan tubuh pria itu mengejang hebat sebelum benar-benar mati.
Viviane, Lia dan juga Bayu hanya berdiri dan terdiam melihat pria kriting itu tewas. Menunggu hingga nyawanya dibawa malaikat untuk kembali melangkahkan kaki dan berusaha keluar dari bar ini.
"Ayo kita segera pergi" ajak Bayu sambil kembali membopong lengan Viviane.
"Ayo" jawab Lia yang mengambil lengan lainnya dan menuntun mamanya dengan pelan dan membiarkan lima pria yang tergeletak itu di belakangnya.
Beberapa langkah dapat terlalui dengan baik. Mungkin hanya kurang lima langkah lagi agar mereka bisa sampai di belokan untuk menuju lorong yang akan mengantar mereka ke tangga darurat.
"Kalian memang kurang ajar" sebuah teriakan terdengar dari belakang dan membuat ketiga orang menoleh.
"Aahhh" fokus Bayu terpecah saat mendengar teriakan Lia.
Menoleh pada gadis itu dan terlihat ada sebuah pisau kecil menancap di lengan belakang Lia.
"Oh ****! Lia!" Bayu bergerak cepat untuk melihat kondisi Lia yang kesakitan.
Sementara pandangan Viviane terlihat penuh emosi pada wanita di hadapannya. Ya, itu adalah Ruby.
"No mommy!" terdengar juga teriakan Johan dari balik tubuh Ruby.
Sementara Ruby hanya tertawa terbahak-bahak.
__ADS_1