My Angel Baby

My Angel Baby
Eksekusi


__ADS_3

Handoko terlalu senang saat ini, harapannya untuk menuntaskan kejantanannya yang agak sedikit menyimpang akan segera tersalurkan.


"Kemarilah sayang" ujar Handoko sekali lagi saat melihat Eri masih saja terdiam.


Tanpa pria tua itu sadari, ternyata sudah ada seorang pria di belakangnya. Sesuai rencana yang sudah Eri siapkan secara mendadak bersama supirnya tadi saat berhenti di pinggir jalan sambil menunggu kedatangan Handoko.


Pria itu adalah supir Eri yang mau membantu Eri untuk memuluskan aksinya. Dengan sigap dia langsung menjerat leher Handoko dengan seutas tali jemuran yang diambilnya dari belakang rumah.


Supir itu dulunya juga adalah supir dari Norita, jadi dia sudah hafal dengan denah rumah itu, bahkan dia pemegang kunci cadangan daei bangunannya.


"Ahhh, lepaskan. Sialan kau wanita j*l*ng" kata Handoko tak begitu jelas karena sedang berusaha berburu oksigen dengan leher yang terjerat.


"Hahahaha, dasar pria tua tak tahu diri. Sekarang kau bisa apa saat seorang diri? Mana kesombonganmu yang biasanya?" bentak Eri sambil tertawa seperti kesetanan.


Merogoh tas kecilnya, ternyata Eri audah menyimpan sebuah pistol di dalamnya. Dan setelah mendapatkan itu, Eripun menodongkan pada Handoko agar membungkam mulut pria tua yang sedang mengumpatinya dengan kata-kata kasar. Seketika Handoko diam dan mengangkat tangannya saat melihat pistol mengarah ke kepalanya.


Dan jeratan di lehernyapun kian melonggar. Supir Eri sengaja melonggarkan jeratannya dengan tak mengurangi sedikitpun kewaspadaan.


"Sebutkan permintaan terakhirmu, pak tua" kata Eri sambil tersenyum seperti iblis.


"Bebaskan aku, sayang. Aku tahu kau adalah orang yang baik. Dan aku berjanji untuk tak lagi mendekatimu jika kau bebaskan aku" ucap Handoko memelas, dengan kedua tangan di dadanya.


"Kemana saja kau selama ini? Kenapa baru menyadari kesalahanmu sekarang saat nyawamu sudah diujung tanduk? Dan apa kau pikir aku akan mempercayai bualanmu itu hah?" bentak Eri.


Sungguh, orang baik yang sering tersakiti akan berubah menjadi iblis jika kesabarannya sudah hilang.


"Sayangnya aku hanya bercanda, pak tua. Aku tak akan mengabulkan apapun permintaan terakhirmu" kata Eri.


"Ehm, begini saja. Pejamkan matamu agar kau tak melihat saat aku menarik pelatuk dari pistol ini. Dan saat kau membuka mata nanti, maka kau sudah berada di neraka bersama malaikat yang akan menyiksamu dan juga para iblis yang akan menemanimu" kata Eri yang sudah tidak sabar lagi.


Handoko hanya bisa meraung untuk meminta kebebasannya. Bila selama ini banyak wanita yang meminta kebebasan darinya, kini dia tahu rasanya takut dan khawatir jika tak akan bisa lagi melihat mentari esok.


Tapi sayangnya semuanya sudah terlambat. Rasa sesalnya sudah tak lagi berguna karena tanpa aba-aba terlebih dahulu, Eri sudah menarik pelatuknya saat pikiran Handoko sedang melayang mengingat raut wajah ketakutan dari para wanita yang pernah dia jahati dulu.


Dor!

__ADS_1


Satu peluru bersarang tepat di kepalanya setelah menembus tulang dahinya.


Mata pria tua itu seketika melotot seolah akan keluar dari lubangnya saat merasakan betapa sakitnya luka dari bekas tembakan yang Eri berikan padanya.


Dor!


Satu lagi tembakan bersarang di jantungnya bersamaan dengan muncratnya darah hingga mengenai baju dan wajah Eri.


Tapi hal itu tak lantas membuat Eri takut. Kini dia tertawa dengan keras setelah berhasil mencabut nyawa Handoko dengan tangannya, disaksikan supirnya yang bisa dipastikan akan selalu setia padanya.


"Hahahaha, dasar pria tua tak berguna. Bodoh dan sombongmu tak berlaku disini. Sekarang kau hanya menjadi seonggok daging tak berguna setelah nyawamu melayang oleh tanganku sendiri" teriak Eri di depan tubuh Handoko yang masih menggelepar saat nyawanya belum hilang sepenuhnya.


Sang supir hanya terdiam, karena dulu saat menjadi supir dari Norita pun dia juga sudah sering membantu wanita tua itu untuk menghabisi beberapa nyawa dari relasinya.


"Apa rencana nona selanjutnya? Akan langsung membuang mayatnya atau bagaimana?" tanya si supir, padahal tubuh Handoko masih saja menggelepar.


"Aku sudah punya rencana lain, pak" jawab Eri sambil menyeka noda darah di wajahnya dengan tisu basah.


Wanita itu duduk di sofa, diseberang mayat Handoko. Setelah menyilangkan kakinya, Eri memasukkan kembali pistolnya dan menghubungi seseorang.


Eri hanya melihat kelakuan supirnya sambil terus berbicara dengan orang dibalik telepon. Dalam hatinya, Eri memuji kecekatan si supir dalam bekerja. Rupanya dia sudah ahli setelah beberapa kali mengalami kejadian yang hampir mirip saat masih bersama Norita dulu.


"Bagaimana perasaan nona setelah melakukan semua ini?" tanya si supir setelah melihat Eri menyudahi teleponnya.


"Aku sangat lega, pak. Terimakasih karena sudah membantuku" kata Eri.


"Tenang saja nona. Rahasia nona aman di tangan saya" jawabnya.


"Aku akan memberimu bonus yang besar setelah semuanya selesai" kata Eri yang hanya diangguki oleh supirnya.


Eri duduk tenang sambil menunggu kedatangan orang yang tadi dia hubungi. Duduk sambil memandangi wajah Handoko yang melotot saat nyawanya pergi dari tubuhnya.


Menunggu jarum jam yang berputar dan tak mau berhenti, Eri yang sedang menunggu seseorang memilih untuk mengambil sebungkus rokok dari dalam tas mungilnya. Lalu menyulut satu batang dan menawarkan sisanya pada si supir yang hanya menggeleng. Selera cigaretnya tak sama dengan Eri.


Terlihat sangat menikmati pemandangan di depannya, Eri terus saja tersenyum sambil menyilangkan kaki dan memandangi mayat Handoko yang terbelalak.

__ADS_1


"Dasar pria penuh dosa. Lihatlah matanya yang melotot itu, pak. Seolah dia sedang melihat banyaknya dosa yang sudah dia lakukan" kata Eri mengomentari mayat Handoko yang sudah terdiam.


Supirnya hanya menanggapi dengan senyuman sambil mengikat kedua tangan dan kaki Handoko dan membaringkannya di lantai.


Lalu tanpa di perintahpun, si supir langsung mengambil peralatan pel untuk membersihkan sisa noda darah yang berceceran di beberapa tempat.


Terdengar seseorang mengetuk pintu setelah si supir selesai dengan tugasnya. Eri beranjak dari duduknya untuk membukakan pintu.


"Masuklah! Apa kau membawakan pesananku?" tanya Eri pada pria yang baru saja masuk ke ruang tamu.


"Tentu saja. Kenapa kau tak mengajakku juga ingin mengeksekusinya?" ya, dia adalah Tomi yang tadi Eri telepon untuk membawakan sesuatu. Tomi teman seperjuangan Eri saat berjuang melawan madam Norita dan sekutunya.


"Kejadiannya terlalu cepat, Tom. Awalnya aku tak ada rencana apapun sampai saat tua bangka itu datang dan kembali menggangguku. Aku sangat muak padanya hingga terpikirkan untuk menghabisinya saja agar hidupku bisa lebih damai" ujar Eri dengan santainya, tak ada raut wajah penyesalan ataupun ketakutan darinya.


"Jadi, pria tua ini yang akan menjadi penghuni pertama di ruangan khusus yang sudah kai siapkan? Kau bilang kalau ruangan itu khusus untuk anggota keluarga Alexander, bukan?" tanya Tomi.


"Aku berubah pikiran. Dan kau benar kalau dia yang akan menjadi penghuni pertama di ruangan itu" jawab Eri.


"Ayo segera kita selesaikan semuanya. Aku sudah tidak sabar untuk bisa segera melihat koleksi pertamaku" kata Eri sambil meraih koper besar dari tangan Tomi dan menyeretnya agar lebih dekat dengan mayat Handoko.


"Kau sangat berbeda, Eri. Saat pertama kai datang ke bar dulu, aku kira kau adalah orang yang lugu. Tapi ternyata aku salah" kata Tomi yang ikut mendekat dan melambaikan tangannya pada supir Eri untuk membantunya.


"Semua orang bisa berubah tergantung dimana dia berada, Tom. Jika saja saat aku keluar dari penjara waktu itu aku ditemukan oleh orang yang berhari baik, mungkin aku akan menjadi orang yang baik. Tapi nyatanya, sejak aku keluar dari penjara ternyata aku terjebak oleh orang-orang jahat yang membuatku ikut berubah menjadi jahat agar bisa bertahan hidup" jawab Eri sambil membatu kedua temannya untuk memasukkan mayat Handoko ke dalam kantong plastik besar dan segera memasukkannya ke dalam koper.


"Biar saya bersihkan dulu bekas darah yang tersisa, nona" kata si supir angkat bicara setelah daritadi hanya terdiam dan mendengarkan pembicaraan kedua orang penting di bar tempatnya bekerja.


"Silahkan pak, jangan terlalu lama karena aku sudah tidak sabar untuk segera kembali ke bar" kata Eri.


"Siap nona" jawab supirnya dan dengan cekatan segera menyelesaikan tugasnya dan kembali ke bar yang jaraknya cukup jauh dari rumah itu.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2