My Angel Baby

My Angel Baby
Kak Bayu


__ADS_3

"Kalian darimana saja? Kenapa baru pulang?" tanya Suzy yang tengah menikmati kue bersama Abraham dan Lia di teras, sambil menikmati udara sore.


"Lihat deh ma" ucap Vicky dengan senyum sumringah.


Berkat kehadiran Viviane dan Lia, keluarga Alexander terlihat semakin bahagia. Bahkan Vicky menjadi sedikit manja pada kedua orang tuanya.


Suasana hangat membuat aura kebahagiaan terpancar di wajah mereka. Dan itu membuat suasana rumah semakin nyaman, tak hanya bagi pemiliknya tapi juga untuk semua pekerja disana.


"Apa itu?" tanya Suzy penasaran, menerima amplop coklat berukuran sedang dari tangan Vicky, sementara Abraham juga ikut melihat dari sisi istrinya.


Rasa terkejut sangat terlihat dari kedua orang tua itu saat mereka berhasil membuka amplop dan menilik isinya, sedangkan Lia hanya terdiam dan tak bersuara. Masih cemberut saja sejak papa dan mamanya datang.


"Kau akan punya adik, Lia. Lihatlah, mamamu sedang hamil" tutur Suzy dengan semangat, memperlihatkan hasil foto usg yang tentu belum Lia pahami.


"Maksudnya? Lia mau punya adik beneran ma?" tanya Lia yang jadi ikut bersemangat, hilang sudah rasa cemburu yang sejak tadi dia rasakan.


"Iya sayang. Kau akan menjadi seorang kakak" ucap Vicky sambil menggendong Lia.


"Apa kau senang?" tanya Vicky lagi.


"Iya pa" kata Lia sambil mengangguk dan memeluk mamanya dengan masih berada dalam gendongan papanya.


Abraham dan Suzy juga tak kalah bahagia. Lengkap sudah kebahagiaan mereka dengan adanya menantu yang cantik dan baik seperti Viviane yang sangat Vicky cintai, ditambah dengan Lia dan kini Viviane tengah hamil anak keduanya.




Liburan kebaikan kelas sudah usai. Tahun ajaran baru sudah dimulai. Dan sesuai rencana, Lia bersekolah di tempat Johan. Sekolah elit dengan pendidikan terbaik menurut kebanyakan orang.



Pagi ini, diantarkan oleh supir keluarga Alexander, Lia datang ke sekolah dengan perasaan gugup yang sewajarnya dirasakan oleh murid baru. Semua persyaratan dan administrasi sudah selesai diselesaikan sejak lama, bahkan sejak masih ada Johan di Jakarta.



"Selamat pagi anak-anak, perkenalkan dia adalah murid baru di sekolah kita. Silahkan perkenalkan diri kamu" ucap bu guru, sementara para murid yang lain nampak sangat antusias.



"Hai semua, selamat pagi. Perkenalkan nama saya Angelia Darius Alexander. Panggil saja saya Lia. Semoga kita bisa berteman dengan baik" ucap Lia memperkenalkan dirinya.



Semua temannya menyimak dengan sangat baik. Di sekolah itu sangat dilarang segala sesuatu yang berhubungan dengan pembullyan dan pertengkaran. Jadi, Lia bisa bernafas lega karena pasti akan diusut dengan tuntas saat ada yang berusaha membully nya sebagai anak baru.



"Kamu bisa duduk di sana Lia, di bangku kosong itu" tunjuk bu guru.



Lia mengangguk dan beranjak pergi setelah berucap terimakasih tentunya. Dan menduduki kursi yang berada cukup di tengah ruangan.



"Hai, aku silvi" ucap seorang gadis berkulit sangat putih dengan lesung pipi yang cukup dalam saat dia tersenyum.



"Aku Lia" balas Lia yang menjabat tangan Silvi.



Dan pelajaran hari itu berlalu dengan sangat baik. Sebagai siswa baru, Lia visa mengikuti jalannya pelajaran dengan baik pula.



Hingga saat tiba waktu istirahat, Lia yang tak terbiasa membawa bekal dari rumahnya jadi sedikit bingung karena kebanyakan temannya tak pergi keluar untuk mencari makan di kantin sekolah.



Setelah celingukan cukup lama, rupanya Silvi mengerti dengan apa yang sedang Lia alami.



"Kamu nggak bawa bekal ya, Lia?" tanya Silvi.



"Iya, aku nggak terbiasa sih. Kamu sendiri?" tanya Lia sambil memperhatikan kotak bekal Silvi yang kembali dia masukkan ke dalam tasnya.

__ADS_1



"Sebenarnya aku bosan dengan menu bekalku. Dan aku akan sangat senang kalau kau mau pergi ke kantin bersamaku" tutur Silvi.



Lia tersenyum senang, mendapatkan teman pertamanya yang ternyata sangat baik seperti Silvi ini.



"Baiklah, ayo kita sama-sama pergi ke kantin. Sekalian kamu perkenalkan lingkungan sekolah ini sama aku ya, Sil" kata Lia yang sudah beranjak, mengulurkan tangannya agar Silvi bersedia untuk menggenggamnya.



Kedua gadis kecil itu berjalan bersama bergandengan tangan. Seperti sebuah tour, Silvi menjelaskan keadaan sekolahnya dengan cukup baik pada Lia.



Dan sesampai di kantin, suasana terlihat cukup ramai meski masih tersedia banyak ruang untuk keduanya duduk dan memilih makanan.



"Kamu mau pesan apa Lia?" tanya Silvi.



"Menurutmu, makanan apa yang enak dan tak perlu menunggu lama?" tanya Lia.



"Soto saja, bagaimana?" tanya Silvi memberi saran.



"Boleh juga. Yuk ke tempat penjual soto" ujar Lia bersemangat, mengikuti Silvi yang memang lebih tahu seluk beluk tempat itu.



Selesai dengan pesanannya, keduanya sudah mendapatkan sebuah nampan berisi semangkuk soto dan segelas teh hangat sesuai pesanannya.



Para murid di sekolah itu memang diajarkan mandiri sedari dini. Seperti dengan membawa sendiri makanan yang telah mereka pesan di kantin. Tentunya semua sudah dipertimbangkan tingkat keamanannya dengan memberikan mangkuk dan gelas plastik agar tidak mudah pecah.




Soto yang baru saja dibelinya tumpah dan mengotori baju kakak kelasnya. Kini, tampang Silvi sudah berubah. Rasa takut membuatnya berdiri gemetaran sambil melihat wajah kakak kelasnya yang marah dengan noda soto di bajunya.



"Tolong maafkan saya, kak. Saya tidak sengaja" ucap Silvi yang langsung mengambilkan beberapa lembar tisu dan diberikan pada kakak kelasnya.



"Makanya kalau jalan itu pakai mata. Jangan bercanda. Lihat nih, baju seragamku kan jadi kotor" kata kakak kelasnya sambil menerima tisu yang Silvi berikan.



Sementara Lia masih harus menaruh nampannya sebelum membantu Silvi mengatasi masalahnya.



"Tolong maafkan teman saya ya kak. Lain kali kami akan lebih berhati-hati" tutur Lia membantu Silvi, karena masih terdengar suara gerutuan yang keluar dari mulut kakak kelasnya itu meski Silvi sudah meminta maaf.



Kakak kelas Lia itu masih saja memarahi Silvi meski mereka berdua sudah meminta maaf berulang kali. Bahkan teman-temannya pun ikut memarahi mereka berdua.



Ya, namanya juga masih usia SD, pasti anak sekecil mereka masih belum bisa dengan mudahnya mengelola emosi.



Kerumunan pun tak bisa dihindari, banyak yang melihat kejadian itu. Saat dimana kakak kelas sedang memarahi adik kelasnya.



Lia dan Silvi hanya bisa pasrah, sampai seseorang datang dan merangkul pundak Lia yang sedang menunduk.

__ADS_1



"Lia, kamu sekolah disini juga?" tanya sebuah suara yang terdengar familiar di telinga Lia.



Gadis itupun mendongak untuk melihat siapa yang sedang menegurnya.



"Sudahlah, mereka kan tidak sengaja melakukannya. Lagipula mereka juga sudah minta maaf. Kamu mau minta ganti rugi?" tanya anak yang bru saja menegur Lia, sepertinya dia sedang membelanya.



"Bukannya gitu, kan baju aku jadi kotor" kata si kakak kelas dengan nada manjanya. Lah, kenapa bisa jadi berubah begitu cara bicaranya?



"Sudahlah, kanu bersihkan di toilet saja. Sepertinya nodanya hanya mengenai rok kamu saja kan" kata anak yang barusan menegur Lia.



Dan setelahnya, anak itu kembali fokus pada Lia yabg belum juga menjawab pertanyaannya.



"Lia, kamu belum memakan makananmu. Cepat makan karena waktu istirahat sudah mau habis" kata anak itu lagi.



"Iya kak" jawab Lia, duduk bersisian dengan Silvi dan memakan soto itu semangkuk berdua.



"Kakak sangat terkejut melihatmu disini, senang juga sih" kata kakak kelasnya itu yang masih saja setia membuntuti Lia hingga menunggunya makan.



"Lia juga senang karena ternyata kita satu sekolah. Ehm, kak Bayu nggak makan?" tanya Lia yang melihat Bayu hanya duduk sambil memandanginya.



"Kakak sudah makan tadi, dan saat kakak mau kembali ke kelas ternyata tadi kakak sedang melihatmu dimarahi sama teman kakak. Kasihan sekali kalian berdua ini" tutur Bayu yang tetap menunggu Lia dan Silvi yang sedang makan.



"Yang tadi itu teman kak Bayu?" tanya Lia.



"Iya. Dia itu terkenal cerewet, makanya kakak buru-buru bantuin kamu saat tahu kalau dia yang sedang marahi kamu" kata Bayu yang kemudian terdiam dan membiarkan Lia dan Silvi menghabiskan makanannya.



Setelah selesai dan berpamitan, Bayu meminta Lia untuk kembali bertemu esok hari di tempat yang sama.



Berjalan berlawanan arah, Silvi jadi ingin tahu hubungan Bayu dan Lia.



"Bagaimana kamu bisa kenal sama kak Bayu, Lia? Dia itu anak yang berprestasi di sekolah ini. Semua orang mengenalnya karena dia sering menjadi wakil dari sekolah kita dalam acara lomba" kata Silvi.



"Untung saja tadi kak Bayu yang menolong kita, kalau tidak pasti urusannya masih belum selesai karena kakak yang tadi ketumpahan kuah soto itu memang sangat cerewet. Tapi berkat kak Bayu, semuanya jadi beres" lanjut Silvi membanggakan Bayu.



"Ehm, kak Bayu itu anaknya teman kantor mamaku" jawab Lia jujur.



Silvi hanya mengangguk mendengar jawaban Lia. Dan sepertinya dia tidak salah memilih teman kali ini. Karena berkat Lia, maka Silvi bisa ngobrol dengan Bayu yang menjadi idola di sekolahnya.



.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2