My Angel Baby

My Angel Baby
Maafkan aku, Sam!


__ADS_3

"Baiklah, kita segera selesaikan saja semuanya agar kau bisa segera lepas dari masalah ini" ujar Eri yang malas melihat Lian yang lagi-lagi memintanya untuk mengikhlaskan masa lalunya dan memaafkan keluarga Alexander.


"Jadi, ibu mau memaafkan mereka? Lagipula mereka itu orang yang baik, bu. Buktinya Sam meskipun berasal dari keluarga yang kaya tapi dia mau-mau saja untuk sekolah di tempat yang sama denganku dan juga ---"


"Diam! Bodoh!" bentak Eri yang memotong pembicaraan Lian.


Rasa dendam di hatinya melebihi apapun. Dan satu-satunya jalan yang bisa menghentikannya adalah pembalasan saja, tak ada yang lain.


"Maaf bu" cicit Lian sedikit takut.


"Nanti pulang sekolah, ajak Samuel sialan itu ke jalan yang sepi, kalau bisa ajak dia ke pinggiran kota yang sepi. Biar nanti anak buahku yang menyelesaikan semuanya, dan kau akan bebas setelah itu" kata Eri.


"Apa ibu mau membunuh Sam? Tolong jangan lakukan itu, bu. Sam itu anak yang baik, saya mohon carilah jalan lainnya bu" rengek Lian.


"Diam dan lakukan, atau nyawa ayahmu yang akan menjadi penebusnya" lagi-lagi Eri membungkam mulut Lian dengan ancaman.


Lian hanya diam, semakin takut karena Eri yang feminim itu ternyata sangat kejam. Air matanya menetes, membayangkan wajah Sam yang akan meregang nyawa karenanya. Tapi lagi-lagi dia tak punya jalan lain, karena usahanya untuk menghabisi diri sendiripun gagal.


Langkah Lian semakin berat saat meninggalkan ruangan Eri pagi itu. Apalagi saat melihat supir yang ada sudah membukakan pintu untuknya dan membawanya ke sekolah.


Lian berharap jika terjadi sesuatu dengan mobilnya, mogok atau bannya kempes mungkin agar dia tak bisa datang ke sekolah.


Tapi semua itu hanyalah khayalannya saja, karena dua puluh menit perjalanannya aman hingga dia sudah sampai di gerbang sekolahnya.


"Jadi, nanti kamu tidak akan aku jemput ya, Lian. Jalankan saja tugasmu agar kau bisa segera bebas dari Eri. Semakin lama wanita itu sama saja kelakuannya dengan madam Norita. Jadi, jika ada kesempatan dengan jalan apapun segera saja kau ambil meski harus merugikan orang lain" saran pak supir yang sudah mendapatkan pesan dari Eri melalui gawainya.


"Terimakasih, pak" cicit Lian dengan suara kecilnya.


Berjalan santai ke arah kelasnya semakin membuat Lian merasa sedih. Bagaiman jika nantinya Sam benar-benar pergi meninggalkannya?


Kesehariannya yang selalu bersama pria itu ternyata membuatnya merasa nyaman dan aman. Dan jika Sam harus pergi, bagaimana?


"Kenapa melamun sih?" tanya Sam yang entah sejak kapan sudah mensejajari langkahnya.


"Eh, enggak kok Sam. Kamu apa kabar?" tanya Lian yang gelagapan.


"Eh, tumben. Gue selalu baik, Lian. Lo kenapa? Ada masalah?" tanya Sam yang melihat gelagat aneh dari teman istimewanya itu.


"Iya" jawab Lian dengan penuh keyakinan dengan senyum terpaksa, hatinya harus mantap dan berharap bisa secepatnya pergi dari kungkungan Eri, semoga Sam akan memaafkannya.


"Sepertinya aku butuh healing, sedikit liburan gitu Sam. Aku sangat jenuh" kata Lian mengawali rencananya.


"Bisakah kamu mengantarkan aku ke pantai nanti sepulang sekolah? Aku sangat ingin melihat deburan ombak agar bisa lebih bersemangat" setiap kata yang Lian tuturkan tentu penuh dengan rasa bersalah, tapi dia tak ada jalan lain.

__ADS_1


"Tumben. Tapi tentu saja gur bakalan mengabulkan apapun yang lo mau" kata Sam sembari mengusap pucuk rambut Lian.


"Ehm, lo mau naik motor atau gue bawain mobil biar nggak kepanasan?" tanya Sam.


"Memangnya kamu punya mobil?" tanya Lian pura-pura tidak tahu.


"Mobil kakak gue sih. Tapi sering gue pinjam" jawab Sam.


"Pakai motor daja deh Sam, biar lebih cepat seandainya nanti ada kemacetan" kata Lian tanpa mau melihat ekspresi Sam yang penuh semangat dengan ajakan Lian.


"Oh, ok. Nanti setelah bel, kita langsung berangkat ya, biar pulangnya nggak terlalu malam" kata Sam , ternyata langkah mereka sudah membawa ke dalam ruang kelas yang sudah ramai, bel juga sudah berdenting saat mereka baru memasuki ruangan.


Lian tersenyum, berpencar dengan Sam yang duduknya cukup jauh dibelakang.


Dalam hatinya, Lian merasa sangat bersalah. Apalagi melihat Sam yang sama sekali tak berfikiran buruk tentangnya.


Sedangkan dalam hati Sam, tentu dia sangat bahagia karena bisa meluangkan waktunya bersama Lian tak hanya di lingkungan sekolah saja. Sam bahkan sudah tidak sabar menunggu waktu pulang, padahal bel masuk saja baru terdengar.


Sepanjang hari itu dilalui Lian dengan banyak doa. Dia tahu apa yang dia lakukan adalah kesalahan besar. Tapu Lian masih berdoa tentang satu hal yang terbaik untuk mereka.


Perasaan bahagia membuat Sam yang bersemangat membuat waktu seolah berjalan cepat, tanpa disadari jarum jam sudah menunjukkan pukul dua siang, waktunya pulang.


"Ayo Lian, kita segera pergi" kata Sam yang sudah ada di meja Lian bahkan saat gadis itu belum selesai merapikan peralatan sekolahnya.


"Buju buset dah lo Sam, semangat benar" ejek Mawan yang selalu mengekor pada Sam meski sudah diusir.


Lian hanya tersenyum dan segera beranjak sambil memakai jaketnya karena Eri memang sudah menyiapkan jaket itu agar menutupi bedge sekolahnya.


"Gue cabut duluan ya, Sam. Samapi ketemu besok" teriak Mawan yang sudah beranjak dengan motor lawasnya, sesekali memang dia membawa motor saat ayahnya menyuruh untuk membeli keperluan warungnya.


"Iya, lo hati-hati ya" balas Sam sambil melambaikan tangan.


"Siap tuan putri?" tanya Sam yang melihat Lian sudah mengenakan helmnya dengan benar.


"Sudah, ayo pergi" jawab Lian lirih, sungguh apa yang dia lakukan sangat bertentangan dengan hati nuraninya.


"Maafkan aku Tuhan" ujar Lian berkali-kali dalam hatinya, hingga tak sadar membuat air matanya tumpah.


Tapi sebisanya dia menahan suara tangisannya agar tak terdengar oleh Sam.


"Gue juga sudah kama nggak ke pantai, Lian. Nanti kita pulangnya setelah senja pergi ya, soalnya lo harus tahu kalau suasana senja di Pantai itu indah banget" kata Sam dari depan, membuat Lia. harus menajamkan telinganya karena suara Sam bertabrakan dengan desiran angin.


Sam membawa motornya cukup kencang karena tak sabar untuk bisa segera sampai di pantai, dia tak tahu kalau bahaya sedang mengintainya.

__ADS_1


"Iya Sam" kata Lian dengan usaha yang cukup keras agar Sam tak tahu kalau dia sedang menangis.


Sam yang terlalu bahagia tak menyadari perubahan suara Lian. Fokusnya pada kedamaian jalan yang harus bisa segera dia pecahkan.


Waktu semakin berlalu, motor yang mereka berdua kendarai sudah memasuki kawasan sepi dengan hanya pepohonan rindang di pinggiran jalanan.


Ditambah bukan waktunya liburan, membuat suasana jalan semakin lengang. Sam tak menyadari jika ada dua mobil yang mendahuluinya, mobil yang berisi beberapa orang yang bersiap untuk menyerangnya di depan nanti.


Dan benar saja, setelah tikungan tajam dengan pepohonan yang rimbun. Kedua mobil tadi sudah terparkir di tepi jalan dan semua penumpangnya turun dengan masker yang menutupi wajah mereka.


Lian yang menyadari itu semua semakin membuatnya merasa bersedih. Tanpa sengaja dia mengeratkan pegangannya di pinggang Sam dan menaruh kepalanya di punggung pria itu sembari berkata, " Maafin aku ya Sam" kata Lian.


"Maaf untuk apa, Lian? Tenang saja, gue juga senang kok nganterin lo ke pantai. Gue juga pengen refreshing. Jadi lo nggak usah merasa bersalah seperti ini" tutur Sam yang masih belum menyadari adanya bahaya dari para pria bermasker yang berjarak beberapa meter di depannya.


Lian semakin menangis karena Sam yang sangat tulus memberikan hati untuknya.


"Seandainya ada kesempatan kedua, aku pasti akan menjadikanmu pendampingku, Sam. Dan aku berjanji untuk berusaha mencintaimu seperti kamu mencintai aku" kata Lian yang sudah tak bisa melihat jalan di depannya karena air matanya.


"Semoga masih ada kehidupan kedua yang menuntun kita untuk kembali bertemu, Samuel" kata Lian dalam hatinya.


Dan saat Lian berhasil menghapus air matanya, diapun menyadari jika motor Sam sudah berhenti. Ada satu orang dari mereka yang menghadang perjalanan Sam.


"Berhenti dan turun!" teriak orang itu.


Sam tentu menghentikan laju motornya karena dihadang seperti ini. Dan mulailah dia menyadari bahaya di depannya.


"Sial, kita di begal, Lian" gumam Sam.


"Saat gue turun, lo segera lari dan cari pertolongan ya, Lian. Biar gue hadang mereka semampu gue. Semoga kita masih bisa bertemu besok" ujar Sam yang masih mengkhawatirkan keselamatan Lian.


"Maafin aku ya, Sam" lagi-lagi Lian yang merasa bersalah.


"Pergi dan cari bantuan, sekarang Lian" desak Sam yang melihat beberapa pria mulai mendatanginya.


"Pergi, Lian" kata Sam sambil mendorong tubuh Lian agar segera lari.


Lian benar-benar pergi, tapi dia berlari menuju ke salah satu mobil dan memasukinya saat Sam tak lagi melihat ke arahnya.


Dan di dalam mobil itu, Lian semakin menangis sambil melihat Sam yang sudah terkepung oleh beberapa anak buah Eri.


"Maafkan aku, Samuel" ujar Lian lirih, menangisi perlakuan curangnya pada Samuel yang sangat tulus padanya.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2