My Angel Baby

My Angel Baby
Tante Meryl


__ADS_3

"Pa, boleh kalau nanti sepulang sekolah aku dan teman-temanku melihat perkembangan usaha kami yang ada di kantor papa?" tanya Lia sambil mengoleskan selai coklat diatas roti tawarnya, tumben sekali pagi ini Lia tak ingin memakan nasi.


"Tentu saja boleh, tapi nanti seharian papa ada meeting di luar kantor. Nanti kalian langsung saja masuk ke dalam kantor dan tanyakan pada pak Guntur, dimana letak ruangan untuk kedua pegawaimu" jawab Vicky sambil menyeruput kopinya.


"Ih, oke pa. Pak Guntur ya" kata Lia sambil mengangguk.


"Iya, dia adalah kepala security di kantor papa. Nanti biar papa kabari orang itu supaya kalian bisa langsung masuk ke ruangan kalian" ucap Vicky.


"Tumben sekali kamu mau kesana, Lia?" tanya Viviane sambil menyuapi Sam yang tak bisa diam.


"Sudah agak lama kami tidak melihat perkembangan usaha ini, ma. Jadi, kami hanya ingin tahu saja" jawab Lia.


"Memang sebuah perusahaan meski masih merintis seperti itu harus ekstra sabar, sayang. Tapi kalau papa lihat perkembangannya cukup bagus. Nanti di akhir bulan biar papa minta anak buah papa untuk menghitung laba atau rugi dari perusahaan kalian" imbuh Vicky sebelum beranjak dari kursinya.


Pria itu sudah ada janji ke luar kantor sejak pagi. Dan bisa dipastikan kalau seharian ini dia tidak akan mengunjungi kantornya.


"Terimakasih, pa" kata Lia sambil menoleh sedikit saat papanya mengecup pipinya untuk berpamitan, bergantian dengan mamanya dan juga Sam.


"Sama-sama, sayang. Jangan sungkan untuk meminta bantuan papa jika kau merasa kesulitan" pesan Vicky sambil berjalan pergi meninggalkan ruang makan yang sedikit ramai dengan keriwehannya setiap pagi.


Saat dimana semua orang sedang mengawali hari dengan sedikit hidangan penyemangat untuk bisa menghadapi hari yang panjang.




Hari ini adalah hari terakhir masuk sekolah, besok saat weeknend, semua orang akan berlibur dan menikmati hari bersama keluarganya.



Banyak yang bilang kalau Jum'at adalah hari pendek. Entah apa alasannya padahal pembagian waktunya juga sama, satu hari ada dua puluh empat jam.



Tapi tanpa terasa, ke empat sahabat beda kelas itu sudah berkumpul dengan wajah letih di sore hari saat bel pulang sekolah sudah berdenting beberapa saat yang lalu.



"Jadi ke kantor papamu, Lia?" tanya Silvi sambil melihat gerakan lambat dari jarum jam mahal yang melingkar di tangannya.



"Jadi dong. Tadi pagi aku sudah bilang kok sama Papa. Kita disuruh langsung datang saha ke sana karena papa sedang diluar kantor" jawab Lia sambil menaikkan tas ranselnya yang terasa cukup berat.



"Ayo berangkat bersama. Naik mobilku saja" ajak Ken seperti biasanya.



"Boleh, ayo" jawab Lia yang disetujui juga oleh yang lainnya.



Memang hanya mobil jemputan Ken yang selalu siap sedia untuk stand by di sekolah dan menunggu Ken hingga pulang.



Sementara Lia dan Silvi harus menelpon dulu sebelum pulang sekolah agar jemputan mereka datang. Sementara Bayu jarang sekali di jemput, dia lebih suka pulang sendiri menaiki angkutan umum karena dia sering pergi ke toko buku sepulang sekolah.



Karena hari ini mereka pulang lebih cepat, maka perjalanan itu tak terganggu oleh kemacetan lalulintas seperti hari biasa.



Hanya butuh lima belas menit rombongan geng Nirwana sudah sampai di depan bangunan megah milik keluarga Alexander.



"Ayo kita masuk bersama" ajak Lia.



Ketiga temannya mengangguk patuh, inipun adalah kali pertama Lia menginjakkan kakinya di perusahaan raksasa milik sang papa yang diwarisi dari Abraham.



Belum juga sampai di lobi untuk bertanya tentang Pak Guntur, telinga ke empat bocah itu sudah disuguhi dengan teriakan heboh seorang pegawai seksi yang berjalan melenggok mendekati empat sekawan itu.



"Hei bocah! Kalian mau ngapain ke kantor ini? Kalian pikir ini taman wisata sampai seenaknya saja kalian bisa masuk dan berjalan-jalan di kawasan kantor ini?" tanya Pegawai itu, tak lupa dengan pelototan tajam khas perempuan cerewet.


__ADS_1


"Maaf tante, saya datang ke sini mau cari Pak Guntur. Papa saya bilang kalau beliau sudah mengkonfirmasikan ke Pak Guntur kalau hari ini saya akan datang" jawab Lia masih berusaha sesopan mungkin.



"Siapa? Pak Guntur? Kamu tahu siapa itu pak Guntur? Beliau itu orang penting di kantor ini. Memangnya kamu siapa bisa sok ngatur Pak Guntur supaya menemui kalian? Hah?" bentak si tante bohay.



"Tapi papa saya bil--" belum lagi Lia menyelesaikan ucapannya, Tante itu sudah mengisyaratkan agar Lia diam dengan meletakkan ujung jari telunjuknya yang berwarna merah maron di bibirnya dengan gerakan seksi.



"Diam ya kamu anak kecil. Lebih baik sekarang kamu pergi dari sini karena ini bukan tempat bermain. Disini tempatnya orang bekerja, jadi jangan ganggu orang yang sedang sibuk. Hush! Hush! Sana pergi" bentak si Tante tanpa mau mendengarkan penjelasan Lia lebih lanjut.



Hingga beberapa orang yang kebetulan sedang lewat melihat keramaian itu sebagai tontonan gratis.



"Apa perlu saya telepon papa saya supaya Tante percaya kalau kami tidak sedang main-main?" tanya Lia memberi saran.



"Telepon saja kalau kamu berani" ancam tante itu tak gentar.



Lia pun mengeluarkan ponselnya untuk melakukan panggilan Video terhadap papanya. Tapi sayang sekali, mungkin memang Vicky terlalu sibuk dengan urusannya hingga tidak ada waktu untuk mengangkat panggilan itu



Melihat ponsel Lia yang tak tersambung membuat tante itu tersenyum masam, dan segera saja dia mengejek Lia.



"Dasar anak papa. Memangnya papamu perduli denganmu? Ayo, kamu mau telepon siapa lagi?" ejek wanita itu.



"Tante ini nggak pernah lihat TV ya? Masak sih nggak tahu siapa kita? Atau buka saja deh akun sosmed nya tante. Tante pasti salah satu follower kami" kata Silvi sedikit geram.



"Ssttt, sebentar Sil. Aku telepon kakek saja kalau begitu" kata Lia lagi.




Lia berdiri dengan santai sambil memencet nomor telepon Abraham yang ditulisnya dengan nama kontak Kakek Hebat.



Melihat layar ponsel Lia dan membacanya, membuat wanita itu semakin semangat mengejek dengan raut wajah menjengkelkan.



"Hai sayang, ada apa? Apa kau merindukan kakek? Tapi sayangnya kakek sedang berada di Greenland untuk merasakan dinginnya dunia yang mulai memanas" kata Abraham saat baru saja menerima panggilan Lia.



Terlihat pria tua yang sedang duduk bersisian dengan istrinya itu memakai jaket yang sangat tebal dan tengah duduk di dalam restoran mewah di tempat terdingin di salah satu belahan bumi.



"Kek, apa kakek masih populer di kantor papa?" tanya Lia ambigu.



"Maksudmu apa? Tentu saja semua orang disana masih mengenaliku. Aku kan berada di kantor itu lebih dari tiga puluh tahun. Dan sekarang aku sudah bosan" ucap pria tua itu dengan sedikit sombong.



"Apa kakek mengenal tante ini?" tanya Lia sambil mengalihkan kameranya ke kamera belakang agar kakeknya bisa melihat orang yang Lia maksud.



"Tentu kakek tahu, berikan saja ponselmu padanya" kata Abraham dengan santai.



Lia menurut, menjulurkan ponselnya sambil berkata"Kakekku ingin berbicara denganmu" kata Lia.


__ADS_1


Wanita seksi itu menurut, meski dengan gerakan menjengkelkan dia mengambil ponsel mahal Lia dengan sedikit ragu.



"Hei Merryl, jangan kau ganggu cucuku atau ku kembalikan kau ke jalanan. Sudah lama aku peringatkan padamu untuk menjaga sopan santun pada siapapun yang datang" Abraham mengomeli wanita yang dipanggilnya Merryl itu dengan cukup lantang.



"Kalau kau masih taj bisa menjaga tingkah lakumu, maka aku akan mengirimmu kembali ke asalmu" oceh Abraham lagi.



"Oh maafkan aku tuan. Aku tak tahu kalau gadis kecil yang cantik ini adalah cucumu. Karena setahuku cucumu seorang laki-laki. Atau dia sudah memutuskan untuk ganti gender sejak dini? Hahaha" kata Merryl tanpa takut dengan gelakan berat diakhir ucapannya.



"Berani kau membuat cucuku merasa tak nyaman, awas saja kau" ancam Abraham.



"Iya, iya. Maafkan aku kakek tua. Baiklah, mulai sekarang aku akan bersikap manis di depannya, demi anda, tuan" ucap wanita itu sambil memberi hormat pads Abraham.



"Sekarang kembali ponselku pada cucuku" perintah Abraham.



"Baiklah, tuan besar" jawab Merryl.



"Ini ponselmu nona kecil, dan maafkanlah kesalahanku ini" ucap Merryl yang kini sudah sangat melunak.



Lia mengambil ponselnya dengan sedikit ragu, bagaimana bisa wanita seperti ini bisa bekerja di perusahaan papanya yang sangat bonafit? Bukankah akan menjadi hal yang sangat memalukan jika wanita itu berlaku tidak sopan pada tamu penting?



"Sudahlah, jangan memasang wajah aneh begitu, sayang. Nanti kakek akan beritahukan padamu siapa wanita dungu itu. Sekarang, lanjutkan saja keperluanmu di kantor itu. Dan suruh saja Merryl itu untuk melayanimu selama kau dan teman-temanmu berada di kantor" perintah Abraham rupanya sudah terdengar oleh semuanya, tak terkecuali Merryl.



"Baiklah tuan besar" kata Merryl sambil menyerobot untuk melihat layar ponsel Lia.



"Sudah ya sayang, kakek masih ada urusan disini. Kau selamat bersenang-senang" pamit Abraham yabg bertingkah layaknya abg yang sedang berpacaran dengan Suzy.



Dan setelah sambungan ponsel itu berakhir, dengan tatapan menghunus Lia melihat ke arah Merryl.



"Iya, maafkan aku tuan putri. Hari ini kau dan ketiga temanmu yang tampan dan cantik ini akan aku layani dengan sangat baik" ucap Merryl sambil membungkuk ala pelayan Eropa.



"Dan untuk semuanya, pergi kalian! Memangnya sedang menonton apa?" kata Merryl mengusir orang-orang yang berkerumun melihat Lia.



"Mari tuan putri, aku aku akan antarkan engkau pada Pak Guntur si buncit tua, hahaha" ucap wanita itu tanpa tahu malu.



Dengan gaya sok seksi dan memberi arahan pada ketiga anak muda di depannya.



"Panggil aku Lia!" kata Lia sedikit membentak karena kesal dengan kelakuan wanita itu.



"Oh tentu, nona Lia. Mari ikut saya" kata Merryl lagi dengan sangat santun.



Meski malas, Lia ikut saja dengannya agar urusannya bisa segera selesai. Sementara ketiga temannya hanya bisa menggelengkan kepala dan tersenyum kecut.



.

__ADS_1


.


.


__ADS_2