
"Sudah berkali-kali aku berusaha menelpon Silvi, kak Ken. Tapi tak dijawab juga. Ehm, mungkin dia sedang tidur" kata Lia melalui panggilan teleponnya saat sedang menuju ke rumah Ken.
"Anak itu memang keterlaluan, janjinya kan jam sembilan" kesal Ken yang dengusan nafasnya sampai terdengar jelas dari teleponnya.
"Sudahlah kak, nanti juga datang. Kak Bayu sudah sampai?" tanya Lia.
"Sudah, tebak dia naik apa?" tanya Ken.
"Mana aku tahu" ujar Lia.
"Dia membawa motor sport, Lia. Bahkan aku tak tahu kalau Bayu bisa mengendarai motor. Aku sedikit terkejut saat tadi dia datang dengan motor hitamnya yang keren" kata Ken dengan nada yang ceria.
"Oh iya? Aku juga baru tahu. Kukira kak Bayu hanya bisa naik sepeda ontel" kata Lia sambil terkikik.
"Aku sudah dekat kak, sebentar lagi sudah masuk di halaman rumahmu" kata Lia yang melihat mobilnya sudah berbelok.
"Oke, aku sudah memberitahukan pada security untuk menyambutmu. Nanti ikuti saja dia" kata Ken.
"Oke, yasudah aku matikan teleponnya ya" kata Lia yang disetujui oleh Ken.
Dan kini, mobil Lia sudah berhenti di depan rumah Ken yang lebih mirip gedung perkantoran dengan lobi yang luas di lantai satu.
Seorang security menyambut kedatangan Lia dan mempersilahkan supir Lia untuk pergi.
"Silahkan nona, tuan Ken sudah menunggu anda di ruang latihan" ujar pria berseragam putih dan bercelana navy itu.
"Terimakasih, pak" kata Lia mengangguk dan mengikuti security itu dari belakang.
Lia berjalan sambil memandangi sekitarnya. Dan memang bangunan yang Ken bilang adalah rumahnya ini lebih mirip gedung perkantoran atau gedung apartemen.
Banyak orang berlalu lalang seperti pekerja kantoran pada umumnya. Bahkan ada juga seorang wanita yang mirip customer servis.
Security itu menuntun Lia untuk memasuki lift yang tersedia. Dan menekan angka lima untuk berhenti.
Lia sendiri heran kenapa keluarga Ken memilih model bangunan seperti ini untuk dijadikan rumah.
"Silahkan nona, kita sudah sampai" ucap security itu membuyarkan lamunan Lia.
"Oh iya pak" jawab Lia yang keluar dari lift terlebih dahulu.
Sedikit berjalan lebih ke dalam di lantai lima, ada beberapa pintu di koridor itu yang memang suasananya mirip tempat gym saat baru keluar dari lift.
"Ini teman tuan sudah sampai" ucap security yang mengantar Lia.
Lia terkejut saat melihat pintu sudah terbuka dan Ken ada di depannya. Rupanya Lia keasyikan melihat poster-poster besar yang terpajang di dinding lengkap dengan kata-kata bijak dalam berbagai bahasa.
__ADS_1
"Oke, kau boleh pergi. Ayo masuk Lia" ujar Ken.
Lia mengangguk sopan kepada security itu sebelum dia benar-benar pergi. Dan kini, Lia memasuki sebuah ruangan yang mirip tempat meeting di gedung perkantoran pada umumnya.
Sebuah meja besar yang dikelilingi deretan kursi empuk. Dengan sebuah layar proyektor cukup besar di depannya.
Dan sudah ada Bayu beserta seorang pria berjas formal berbadan tegap yang tentu belum Lia kenal sebelumnya.
"Hai kak, kau sudah lama?" tanya Lia menyapa Bayu.
"Baru saja, belum ada sepuluh menit. Bagaimana dengan Silvi?" tanya Bayu.
"Aku sudah berusaha menelponnya, tapi tidak diangkat juga. Mungkin dia kecapean karena semalam ada acara di tempat lesnya" kata Lia.
"Yasudah, kalau dia berminat pasti nanti akan datang menyusul" kata Bayu.
"Ya, kau benar Bay. Apa lebih baik segera kita mulai saja?" tanya Ken.
"Boleh" jawab Lia dan Bayu kompak.
"Oke, silahkan om. Kami bertiga sudah siap" kata Ken yang memilih duduk di sebelah Bayu, berseberangan dengan Lia.
"Baiklah. Perkenalkan nama saya Kris, kalian bisa memanggil saya om Kris. Seperti tuan Ken. Dan kehadiran saya disini karena tuan besar meminta saya untuk mengajarkan pada kalian salah satu ilmu yang dikhususkan untuk mempengaruhi pemikiran seseorang atau biasa disebut dengan ilmu hipnotis" kata Kris mengawali perkenalannya.
Selanjutnya mereka mulai mempelajari dasar dari ilmu psikologi itu dengan penuh minat. Terutama Lia yang memang menyukai hal-hal yang baru.
Selang satu jam dari kegiatan mereka, Silvi datang dengan tergesa dan berwajah sok polos saat security yang sama dengan yang tadi mengantarkan Lia berpamitan lagi.
"Maaf aku datang terlambat" kata Silvi yang langsung duduk di dekat Lia.
"Kau ini. Tapi kita tidak bisa mengulangi dari awal, Sil. Nanti kau bisa meminta Lia untuk mengajarimu sementara om Kris melanjutkan materinya" ucap Bayu sedikit kesal.
"Oke, tidak masalah kak. Yang terpenting hari ini kan aku bisa bertemu lagi dengan kak Bayu" ucap Silvi sambil mengeluarkan alat tulis dari tas branded nya.
Lia hanya bisa menggelengkan kepalanya, Silvi masih sangat mengagumi Bayu meski tak pernah ada sambutan dari cowok itu.
Kris melanjutkan materinya. Saat ketiga temannya memperhatikan dengan seksama, Silvi malah merasa bosan dan sedikit tak menyukai kelas ini.
Tapi tentu Silvi bertahan demi bisa mengambil perhatian Bayu yang selalu nampak cuek padanya.
Hampir tiga jam mereka belajar. Saat Lia, Bayu dan Ken merasa jika tiga jam itu berlalu dengan cepat, tidak berlaku pada Silvi yang terus saja terlihat menguap dan tak ada antusias.
Lia mengerti jika kelas ini bukan minat dari Silvi yang suka keramaian. Apalagi semalam dia pasti kurang tidur. Lia memahami ketidaktertarikan Silvi hari ini.
"Baiklah, om kira sampai disini dulu teorinya. Karena sebenarnya, setiap diri kita punya kemampuan untuk mempengaruhi pikiran orang lain. Dan di pertemuan selanjutnya, om akan membawa kalian untuk praktek langsung di lapangan, bagaimana?" tanya Kris.
__ADS_1
Selama pelajaran mereka berlangsung tadi, mereka sudah mempelajari teori sekaligus prakteknya yang sebenarnya bisa dikuasai meski hanya satu hari jika ada bakat.
"Uwah, boleh tuh om. Apa yang harus kami lakukan nanti, om?" tanya Lia.
"Hal sepele saja dulu, meminta orang lain menyerahkan barang-barangnya hanya melalui sentuhan dan tepukan. Atau bisa juga membuat orang lain merasa kebingungan seperti yang kamu alami saat pertandingan karate sesuai ceritamu tadi, Lia" kata Kris.
"Oh, ok. Kami akan berlatih sendiri untuk mempersiapkan diri. Dan aku sudah tidak sabar, om" kata Lia membayangkan jika dia bisa membuat orang lain mematuhi perintahnya.
"Tapi hati-hati ya. Jangan sampai orang lain tahu jika kalian bisa ilmu semacam ini. Karena itu sangat berbahaya" kata Kris mengingatkan.
Latihan itu selesai tepat saat Kris mendapatkan tugas dari ayah Ken. Segera saja pria itu pergi dengan tergesa.
Selama mereka berteman, belum pernah ada yang melihat secara langsung bagaimana rupa dari orang tua Ken. Baik itu ayah maupun ibunya.
Di setiap kegiatan sekolah, selalu saja orang suruhan orang tuanya yang datang untuk mewakili.
Meski begitu, mereka tak pernah mau mempermasalahkan hal itu karena mungkin memang orang tua Ken yang sangat sibuk dengan dunianya.
Hari ini Lia lalui dengan banyak ilmu yang dia peroleh. Pertama dari kakeknya saat berbincang tadi pagi, dan selanjutnya ilmu cuma-cuma yang dia dapatkan dari anak buah orang tua Ken.
"Setelah ini, kita mau apa?" tanya Lia yang melihat jam dinding masih menunjukkan pukul tiga sore.
"Aku ada sedikit pemotretan nanti jam lima. Ehm, aku pulang duluan saja ya, teman-teman" pamit Silvi.
"Oke. Apa perlu aku antar?" tanya Ken.
"Tidak perlu, mama sudah dalam perjalanan menjemputku. Rencananya akan langsung ke tempatnya" kata Silvi.
"Oke. Aku antarkan kau ke bawah, Sil" kata Ken.
"Oke. Bye kak Bayu, bye Lia. Aku selalu mengidolakanmu, kak Bayu" kata Lia yang masih sempat menggoda Bayu sebelum pergi.
Dan seperti biasanya, Bayu hanya terdiam tanpa respon dengan segala ucapan Silvi.
Memang Bayu dan Ken adalah siswa terkenal di sekolahnya. Bayu yang tampan dengan segudang prestasi, dan juga Ken yang ahli dalam bidang komputer dengan wajah oriental dan kacamata yang menghiasi hidung mancungnya.
Keduanya kerap mendapat pujian bahkan hadiah dari para penggemarnya. Tapi mereka juga dicap sebagai cowok tak tergapai karena tak ada satupun siswi yang dikabarkan pernah digubris oleh mereka kecuali Lia dan Silvi yang juga dikenal sebagai anggota dari geng Nirwana.
Padahal banyak juga siswa bad boy yang meski masih duduk di bangku SMP, tapi mereka sudah pandai mempermainkan wanita.
Sungguh para siswa generasi Z yang sudah berfikiran dewasa daripada usianya.
.
.
__ADS_1
.