My Angel Baby

My Angel Baby
Implikasi


__ADS_3


...MAB by VizcaVida...


...|25. Implikasi|...


...Selamat membaca...


...[•]...


Morning routine baru yang dilakukan Louis beberapa hari ini terasa menyenangkan. Tidak terasa sudah tiga hari ia tinggal di apartemen penuh kenangan ini, dan dia ... merasa nyaman. Tidak lagi terusik oleh kenangan lama atas dirinya dan Caca. Setiap kali dia teringat kenangan masalalu yang baginya terlalu indah itu, dia buru-buru mengalihkan isi otaknya dengan hal lain yang bisa membuatnya segera tersugesti untuk lupa. Salah satunya adalah Angel. Dia dengan tidak tau diri menjadikan sosok Angel sebagai objek imajinya ketika ingin melupakan masa lalu bersama Caca. Tapi entah mengapa selalu berhasil, padahal dia juga mencoba hal-hal lain yang menurutnya lebih menguntungkan, tapi Angel lebih besar pengaruhnya.


Louis membuka gorden besar dan tebal berlapis dua itu sampai di salah satu ujung. Berdiri menghadap keluar bentangan kaca yang menampilkan roda kehidupan diluar sana. Ia menyesap kopi dari cangkir yang digenggamnya. Pagi ini dia tidak perlu buru-buru ke kantor karena hari sudah berada di akhir pekan.


Selama disini, ia sudah mencoba mengakrabkan diri dengan beberapa penghuni lain yang menyapanya lebih dulu karena mengenali sosoknya yang sering menjadi topik pembicaraan di media masa, dan juga sering tersorot kamera.


Angel datang mengirim kastengel saat hari kedua, tapi wanita itu bergegas pergi karena ada pekerjaan lain yang katanya sangat penting.


Louis tersenyum ketika mengingat sosok Angel yang akhir-akhir ini berhasil membuatnya kepikiran, ya meskipun ia sengaja menjadikan Angel pengalihan, tapi tidak terasa jika perempuan itu sudah seperti menjadi bayangan nyata ketika ia ingin otaknya senang dan lupa akan masalah.


Angel belum memberikan keputusan final untuk ajakannya menjadi sepasang kekasih di dunia nyata. Tapi Louis sedikit banyak tau gelagat Angel yang terlihat salah tingkah saat berada disekitarnya, membuat Louis paham akan jawaban yang akan dia terima.


“Sial. Kenapa aku jadi terus mikirin dia sih?” gumamnya, bukan dengan raut kesal atau marah, tapi dengan senyuman lebar membentang di sepanjang garis bibirnya.


Louis menurunkan pandangan mata menatap box-er yang ia kenakan. Aman. Tidak terjadi satu hal yang membuatnya sampai berfantasi liar dengan objek perempuan baik seperti Angel. Tapi, dia juga laki-laki normal. Kadang membayangkan saja sudah hampir membuatnya on dipagi hari. Sialan memang. Louis merasa seperti pria brengsek tak tau malu jika dalam mode morning wood begitu.


Setelah puas melihat pemandangan kota yang riuh, Louis meninggalkan tempatnya berdiri dan berencana mandi. Namun langkahnya terhenti ketika mendengar suara singkat tanda pesan masuk di ponselnya.


Ia berjalan mendekati nakas yang pagi ini tersorot cahaya matahari dengan sempurna. Menurut prakiraan cuaca, hari ini akan terik hingga sore. Jadi tidak perlu khawatir kehujanan saat menunggu Angel diluar apartemennya nanti. Ups, dia bahkan sudah punya niat datang kesana bahkan sebelum meminta persetujuan si empu. Senyuman kembali membingkai di wajah tampannya. Sebuah pesan dari Angel.


Angel: Happy Weekend, pak. Jangan lupa bahagia. God bless You.


Diam-diam, Louis menekan bulatan di sudut kiri atas pesan. Foto Angel muncul dengan versi lebih besar, dan tanpa disadari Louis, jantungnya berdebar kencang melihat senyuman indah pada paras cantik bermanik abu-abu itu.


Tak ingin pesan itu hanya sebatas terbaca, Louis menekan tombol telepon sebagai balasan pesan yang dikirim Angel.


“Selamat pagi,” sapa Angel diseberang. Louis tidak tau apa yang dilakukan Angel pagi hari saat libur bekerja hari ini. Ia mendadak kepo.

__ADS_1


“Lagi ngapain?” tanyanya lembut.


Angel tak memberikan jawaban dengan jeda waktu cukup lama. Tapi, sesaat setelah itu, Louis kembali mendengarnya.


“Saya ... sedang mencuci pakaian. Setelah ini, mau buat sarapan. Bapak udah sarapan?”


Louis menahan tawa. Pekerjaan sejuta umat yang tidak lekang oleh waktu, mencuci pakaian. Louis mendadak ingin mencuci pakaian juga sebelum berangkat ke kantor untuk mengecek panggung dan gladi resik untuk acara besok.


“Belum. Nanti saja di kantor.”


“Bapak ngantor?”


“Eumm. Gladi resik buat besok. Ngecek tim juga biar ngga ada kesalahan.”


Ya, ambisius menjadi salah satu sifat Hutama yang di turunkan kepada Louis. Pria itu selalu menuntut kesempurnaan pada pekerjaan yang dilakukan orang-orang yang bekerja padanya. Tapi semua itu ia lakukan bukan tanpa alasan. Jika acara sukses, bukan hanya dia yang akan mendapatkan untung, semua orang yang berada di bawah naungan namanya juga akan merasakan hal yang sama. Royalti, bahkan bonus-bonus lain akan mengalir deras ke rekening jika acara itu sukses dengan rating yang baik.


“A~h. Selamat bekerja ya, pak. Semoga sukses gladi resiknya.”


Louis terkikik geli. Angel lucu juga ternyata. Mengapa ia menyemangati dirinya untuk sebuah gladi resik? Wah, gadis ini perlu di apresiasi dengan tepuk tangan meriah, tapi tidak bisa. Tangannya sedang sibuk memegang ponsel dan cangkir kopi.


“Makasih.” adalah pilihan jawaban yang benar. “Besok, kamu datang, kan?”


Bukan hanya tersenyum atau terkikik, Louis sekarang sedang tertawa renyah setelah mendengar jawaban jujur seorang staff kantor di tempatnya. Louis bangga bisa menyenangkan orang lain, tak terkecuali Angel.


“Malam ini, kamu ada acara diluar atau tidak?”


Angel diam sedang berfikir apakah dia ada janji dengan seseorang atau tidak. Ah, dia hampir lupa jika tidak punya teman selain mbak Rita, dan satu penghuni apartemen yang menjadi tetangganya sejak tinggal disini dan sering mengajaknya pergi belanja bulanan bersama.


“Sepertinya tidak.” jawab Angel mantap. Ia yakin jika tidak ada janji dengan siapapun.


Louis meletakkan cangkir kopi diatas nakas, menggaruk pelipis, kemudian mengusap tengkuk lehernya naik turun. Suara Angel benar-benar lembut, sangat pas dengan wajahnya yang cantik. Tuhan terlalu baik saat menciptakan sosok Angel. Perempuan itu benar-benar mencerminkan namanya. Angel, malaikat.


Sial. Dia bangun.


“Kalau begitu, nanti pulang kantor, saya mampir ke tempat kamu sebentar—boleh?”


Dilema menyerang Angel. Ia menggigit bibir bawahnya cemas. Tidak menutup kemungkinan Louis akan menagih janjinya. Janji memberikan jawaban dalam tiga hari setelah menerima pertanyaan dan pernyataan menjadi sepasang kekasih waktu itu.

__ADS_1


“B-boleh.” jawab Angel ragu.


Lagi-lagi terdengar diseberang sana, Louis tertawa. Angel semakin gugup.


“Jangan khawatir. Saya hanya ingin mampir sebentar memberikan sesuatu. Setelah itu langsung pulang.”


Angel merasa tidak enak. “B-baik pak.”


“Oke, sampai jumpa nanti ya, Angel.”


“I-iya. Sampai jumpa.”


***


Angelica Baby Gisamara Rubel.


Nama itu muncul dilayar ponsel Jenita beserta sebuah foto seorang gadis berwajah Asia dengan aksen bule yang membuatnya terlihat begitu cantik. Pose tenang dengan senyuman menyerupai foto formal pada kartu tanda penduduk itu, membuat geram raga Jenita.


Dia adalah putri dari pasangan Patrick Rubel, pria berkebangsaan New Zealand yang berprofesi sebagai seorang tentara, dan Giara Bella Saphira, wanita asal Surabaya yang sekarang membuka usaha butik di kota kelahirannya. Mereka menikah 26 tahun silam, dan tinggal di Bali.


Angel dan ibunya dulu memang tinggal di Bali. Papanya berkunjung setiap tiga bulan sekali saat mendapat cuti dari pekerjaan.


Tapi, ayah dan ibunya sudah bercerai. Mereka sudah berpisah dengan alasan sudah tidak cocok hidup bersama sejak putri mereka remaja. Putri mereka—Angel, hidup sebatang kara sejak usia SMA.


Jenita mendengus kesal. Ingin sekali dia berteriak saat ini melihat kenyataan kehidupan keluarga Angel yang berantakan. Tidak jelas, menurut Jenita.


“Beraninya dia mengharapkan putraku dengan keadaan hidupnya yang seperti itu?”


Rupanya, Jenita lupa berkaca.


“Gadis dari keluarga berantakan, tidak pantas mendampingi putraku!” seru Jenita tajam pada udara yang mengelilinginya.


Dia tinggal di salah satu apartemen kalangan menengah di daerah barat kota.


Sebuah pesan dari google map yang menunjukkan alamat dengan sebuah titik merah masuk ke ponsel Jenita. Senyuman mengerikan terbit dibibir merah merona nya hari ini.


“Kita lihat, apa kamu masih bisa mempertahankan keinginanmu mendapatkan putraku?” gumam Jenita dengan senyuman disudut bibir. “Aku jamin, kamu akan mundur sendiri tanpa aku minta.”

__ADS_1


###


—Dibuka dengan yang manis-manis, ditutup dengan ... *isi titik-titik tersebut dengan jawaban yang benar 😁


__ADS_2