
Di pertemuan selanjutnya, Silvi dengan jelas menolak untuk ikut serta dalam pelajaran hipnotis yang sedang ketiga temannya dalami.
Memang gadis itu sedikit tidak tertarik dengan yang namanya teori. Ya meskipun sebenarnya lebih banyak praktek yang dilakukan, tapi yang namanya tidak tertarik membuat Silvi membiarkan ketiga temannya belajar tanpanya. Sementara dia sendiri lebih memilih untuk melanjutkan pemotretan.
"Jadi benar kalau Silvi tidak mau ikut kita kali ini?" tanya Ken yang sudah berkumpul dengan ketiga temannya di sebuah taman yang cukup ramai di week end seperti ini.
"Iya kak, dia minta maaf untuk kali ini karena tak sejalan dengan kita. Tapi ya mau bagaimana lagi, kan kita juga tidak boleh memaksakan kehendak kita sekalipun itu terhadap teman kita sendiri" ucap Lia sambil menjilati es krimnya.
"Iya, biarkan saja" kata Bayu singkat.
"Yasudah. Jadi, sekarang kita harus apa om?" tanya Ken.
"Setelah om jelaskan kemarin, sekarang kita bisa melakukan praktek ringan terhadap pengunjung taman ini. Om ingin tahu seberapa besar bakat kalian dalam pelajaran ini" kata Kris sambil memandangi sekelilingnya yang cukup ramai.
Pria itu sedang berfikir tentang apa yang akan dia perintahkan kepada ketiga murid dadakannya sebagai tes ringan.
"Oke, kita mulai dari tuan Ken saja" kata Kris setelah menemukan targetnya.
"Apa tuan melihat pria yang membawa sekuntum bunga mawar di belakang tubuhnya, yang sedang berdiri di sebelah sana?" tanya Kris.
"Ya, aku melihatnya om. Lantas?" tanya Ken
"Pria itu ingin mengungkapkan perasaannya terhadap gadis yang ada di barisan pembeli es krim di sebelah sana" kata Kris.
"Tugas tuan muda kali ini cukup mudah, berikan keberanian terhadap pria pemalu itu untuk berterus terang kepada si gadis dengan cara berteriak dengan keras untuk mengungkapkan perasaannya" kata Kris memberi perintah.
"Apa tuan bisa melakukannya?" tanya Kris.
"Oke. Aku coba dulu" kata Ken sambil sedikit berfikir.
Dan setelah menemukan jalan yang dianggapnya benar, Ken beranjak dari tempat duduknya dan berjalan mendekati pria pemalu itu lalu berdiri di belakangnya.
Sedikit mengingat teori yang dia dapatkan kemarin, kini Ken tengah berusaha untuk melakukan tugasnya dengan baik.
"Hei lelaki pemalu, hilangkan semua perasaan malumu itu dan hampiri gadismu untuk menyatakan perasaanmu sekarang juga" bisik Ken sambil memegang ringan pundak si pria.
Tapi sayangnya pria itu malah menoleh ke arah Ken dan memandangi Ken dari ujung rambut hingga ke ujung kakinya.
"Setelah gue lihat dengan baik, sepertinya lo lebih menarik daripada gadis itu" kata si pria pemalu sambil terus menatap Ken dengan penuh ketertarikan.
"Jadi, daripada gue kasih bunga ini ke dia, lebih baik buat lo saja. Dan gue sudah meyakini hati gue kalau gue sukanya sama lo" kata si pria pemalu sambil menyodorkan sekuntum bunga mawarnya kepada Ken.
Merasa bingung, Ken jadi salah tingkah sendiri. Apalagi sudah ada beberapa orang mengerumuninya.
Dengan sedikit gugup dan takut, Ken kembali menepuk pundak si pria dan mengucapkan sederet instruksi yang menurutnya baik.
"Kamu adalah pria normal yang merasa tertarik pada wanita. Raihlah impianmu untuk mendapatkan gadis itu sekarang juga. Ungkapan perasaanmu padanya!".
Sepertinya instruksi dari Ken kali ini berhasil. Pria itu terlihat sedikit linglung setelah mendengar ucapan Ken.
__ADS_1
Tapi selanjutnya, bibir si pria itu tersenyum penuh semangat sambil berbalik badan dan berjalan menghampiri gadis yang kini sedang digoda oleh penjual es krim Turki.
Dengan suara yang lantang, pria itu berlutut sambil mengangkat bunganya untuk si gadis dan berkata "Weni gadisku yang paling cantik, maukah kau menjadi kekasihku?" tanya pria itu sambil berteriak.
Membuat orang-orang yang ada di sekitarnya bergerombol untuk melihat jawaban dari gadis yang bernama Weni itu.
"Terima... Terima..." kata para penonton sambil bertepuk tangan.
Gadis itu menutup mulutnya, dengan binar mata yang menampakkan kebahagiaan. Bahkan terlihat matanya sedikit berkaca-kaca.
Ken kembali kepada temannya, dengan langkah gontai Ken bisa bernafas dengan lega karena dia berhasil menyelesaikan tugasnya meski di awal dia sempat gagal karena pria itu ternyata seorang g* y yang malah tertarik padanya.
"Hahaha, kenapa kak Ken tidak menerima perasaan pria itu kak? Kalau dilihat dari tampangnya, dia lumayan tampan loh" ejek Lia yang mendengar percakapan antara Ken dan pria itu sebelum Ken berhasil dengan tugasnya.
"Aku masih pria normal, Lia. Mana mungkin aku mau padanya. Kau ini menjengkelkan sekali" gerutu Ken yang membuat Lia semakin bersemangat menggodanya.
"Yang penting tugasku sudah berhasil. Kita lihat saja nanti kamu bagaimana. Kalau sampai kamu gagal, aku adalah orang pertama yang akan menertawakan mu" ancam Ken sedikit bersungut kesal. Bisa-bisanya Lia menertawakannya.
Suara riuh terdengar dari gerumbulan orang yang melihat aksi si pria pemalu yang rupanya rasa cintanya diterima oleh si gadis.
"Oke, tuan Ken bisa lebih banyak berlatih untuk memperdalam ilmu ini. Selanjutnya, siapa yang akan maju terlebih dahulu?" tanya Kris mengalihkan perhatian ketiga muridnya yang juga tengah melihat ke arah pernyataan perasaan itu.
"Aku saja om" jawab Lia tanpa ragu karena dia sudah sangat penasaran dengan kemampuannya.
"Oke. Ehm, tugas kamu kali ini adalah selami pikiran orang itu" perintah Kris sambil menunjuk seorang wanita yang terlihat sedang duduk sendirian di dekat pot bunga besar sambil tertawa sendiri.
"Bisa saja. Bahkan jika kau sudah sangat mahir, dengan kemampuanmu kau bisa membantunya sedikit demi sedikit agar bisa sembuh" ujar Kris sambil mengendikkan bahunya.
"Oke, baiklah om. Akan aku coba. Tapi jika gagal, tolong beri aku satu kesempatan lagi pada orang lain" kata Lia menyetujui tapi dengan syarat.
"Oke. Kau memang seorang negosiator yang ulung, bocah. Sekarang cepat lakukan tugasmu" kata Kris.
Lia mengangguk, menoleh ke arah kanan dan kiri untuk memastikan jika tak ada seorangpun yang sedang mengintai mereka.
Dan setelah dirasa aman, Lia segera berlari ke arah wanita paruh baya itu dan berhenti tepat di hadapannya.
"Hai tante. Apa yang sedang Tante lakukan disini?" sapa Lia berusaha memulai obrolan diantara mereka.
Wanita itu menoleh, tatapan yang awalnya fokus pada kelopak bunga kecil yang sejak tadi digenggamnya sambil cekikikan, kini beralih pada Lia yang berdiri di hadapannya sambil tersenyum manis.
"Siapa kau?" tanya wanita itu.
"Boleh aku duduk?" tanya Lia
Wanita itu mengangguk setelah terdiam sebentar. Dan Liapun duduk di sebelahnya.
"Tante sedang apa?" tanya Lia.
"Cincin bunga" jawab wanita itu singkat, dan tentu saja Lia tidak mengerti.
__ADS_1
Tanpa membuang waktu, Lia segera menepuk pundak wanita itu. Setelah mereka saling pandang, segera saja Lia mengatakan sugesti sesuai teori yang didapat kemarin untuk bisa menyelami pikiran seseorang.
"Fokus pada tatapanku, Tante. Dan katakan semua yang ingin tante sampaikan!" kata Lia.
Dan seperti dibawa arus waktu, wanita itu menangis sesenggukan sambil bercerita tentang kisah hidupnya.
"Suamiku, jangan bawa dia! Akan bagaimana nasib kami jika kau membawa suamiku pergi?" tanya wanita itu yang ternyata ditujukan pada segerombolan perampok saat dia sekeluarga tengah mengendarai mobil di kegelapan malam di sebuah dusun kecil di sebuah pulau.
Keluarga wanita itu terlibat kasus perampokan yang sangat mengenaskan.
Awalnya, ke empat anggota keluarganya yaitu dia sendiri, suaminya dan dua anak. Satu anak lelaki remaja dan satu lagi perempuan yang masih balita.
Semuanya diikat dan ditelungkupkan di jalanan tanah yang becek.
Lima orang perampok terlihat bernafsu saat mengikat wanita di hadapannya Lia ini yang dulunya sangat cantik dan tentunya masih muda.
Di hadapan suaminya, wanita ini digilir kawanan perampok itu hingga tak sadarkan diri. Sementara si suami hanya bisa menangis meraung melihat keluarganya tersiksa di dunia ini tanpa bisa dia menolongnya.
Puas dengan aksinya, kawanan perampok otu mulai mengeksekusi satu persatu anggota keluarga wanita itu untuk meninggalkan jejak.
Suami dan kedua anaknya dihabisi dengan sadis dan ditenggelamkan di sebuah danau di tengah hutan liar yang dekat dengan markas mereka.
Tentu jasad mereka habis dimakan ikan dan binatang buas yang ada di sekitaran danau itu.
Menyisakan si wanita yang diculik oleh kawanan perampok itu dan dijadikan budak nafsu.
Meski setiap hari wanita itu diberi makanan dan minuman, tapi mentalnya rusak karena setiap hari juga dia harua melayani siapapun yang ingin menggunakannya sebagai pemuas nafsu.
Hingga salah satu diantara rampok itu yang mungkin masih dikaruniai hati nurani merasa iba dan jatuh hati padanya.
Tanpa sepengetahuan kawanannya, salah satu rampok itu membebaskan wanita itu dan memberi cincin berupa bunga liar kecil yang disematkan disalah satu jarinya.
Wanita itu menemukan kebebasannya berkat bantuan salah satu perampok yang jatuh hati padanya dan membantunya berlari dari neraka itu.
Tapi dendam sudah tertancap di hati wanita itu. Saat keduanya tengah kelelahan karena berlari, dan mereka memutuskan untuk sejenak beristirahat di semak belukar di pinggiran hutan, dengan keberanian yang entah berasal darimana, wanita itu mengambil parang milik si pria yang tengah tertidur pulas.
Dengan segenap sisa keberanian di hatinya, wanita itu mengangkat parangnya tinggi-tinggi dan menjadikan leher si pria sebagai sasarannya.
"Aaahhhhh" teriak si wanita di kesempatan terakhirnya.
Bersamaan dengan itu pula Lia juga berteriak karena seolah-olah Lia ikut memasuki dimensi pikiran wanita itu dan ikut memegang parang untuk menebas leher di pria.
.
.
.
.
__ADS_1