
Handoko sudah tidak sabar lagi. Untuk percobaan pertamanya, pria tua itu menyabetkan cambuk kecilnya ke arah punggung Eri meski dengan tidak menggunakan kekuatan maksimalnya.
"Ah! Itu sakit, tuan. Apa yang kau lakukan?" tanya Eri begitu terkejut dengan perlakuan Handoko.
"Kita akan bersenang-senang, sayang" ucap Handoko dengan senyumannya.
Kini, dengan gerakan cepat Handoko membuat tubuh Eri berada diatas meja dengan posisi telungkup.
Wajah Handoko berubah kali ini, seringai aneh tergurat di bibirnya saat melihat Eri tak berdaya seperti ini.
Tangannya terangkat tinggi dengan cambuk diujungnya. Dan dengan sedikit memakai kekuatan seorang lelaki, Handoko mencambuk punggung Eri sampai menimbulkan bunyi lumayan keras dan teriakan kesakitan dari bibir Eri.
"Aaahhh" teriak Eri saat menerima cambukan keduanya. Dan luka bekas cambukan itu mulai terlihat menjalar di punggungnya. Merah panjang diatas kulit putihnya.
"Berteriaklah sayang, kita nikmati malam ini bersama" ucap Handoko yang sesekali mecambuk Eri, sesekali mencumbui wanita itu dengan nafsu yang meluap-luap.
Nasib Eri kembali buruk malam ini. Perlakuan kasar Handoko terhadap dirinya semakin membuat rasa dendam terhadap keluarga Alexander semakin meninggi dan menumpuk.
Air matanya yang tumpah sejak tadi seolah tak membuat hati Handoko luluh untuk tidak lagi memakai cambuk untuk semakin melukai tubuh lemah Eri.
Hingga perlakuan kasar yang Handoko lakukan terhadapnya, membuat Eri yang tak kuat tak bisa lagi menjaga kesadarannya.
Eri pingsan setelah tak kuat mendapat siksaan dari tangan tua Handoko.
Rupanya pria itu memiliki kelainan dalam berhubungan, dia merasa puas dengan menyiksa pasangannya hingga tak sadarkan diri.
Tapi, semua perlakuan buruk itu tak pernah dia berikan pada mendiang istrinya. Dan semuanya dia salurkan pada setiap ja**ng yang disewanya dengan biaya yang sangat mahal.
"Ah, sakit" ucap Eri lirih di pagi hari ini.
Setelah matanya terbuka, rupanya dia sudah berada di dalam kamarnya dengan balutan selimut tebal dan nyaman.
Tapi sekujur tubuhnya penuh luka cambuk yang mulai terasa perih saat tergesek sesuatu.
Air matanya meleleh. Sebagai seorang wanita tentu hatinya hancur mendapatkan perlakuan seburuk itu.
"Ma, apa aku ikut mama dan papa saja? Apa aku harus menyudahi rasa dendam ini dan memilih untuk bersama kalian saja di alam sana?" tanya Eri lirih sambil menikmati rasa perih di seluruh tubuhnya.
__ADS_1
"Aku lelah ma, pa. Apalagi tak ada kalian bersamaku. Sementara banyak orang jahat di luaran sana. Aku lelah, ma.. Izinkan aku untuk ikut kalian saja" ucap Eri lirih sambil terus menangis.
Berkali-kali mendapat nasib buruk tentu membuat mentalnya semankin buruk juga. Mungkin yang dinamakan karma itu emang ada.
Saat kau menjadi manusia yang baik, maka kemanapun kau pergi akan selalu dikelilingi oleh orang-orang yang baik pula. Dan begitupun sebaliknya, saat kau berwatak jahat maka kemanapun kau pergi maka akan dipertemukan dengan orang-orang yang jahat pula.
Lama terlelap, Eri dibangunkan oleh Sumi. Art yang Handoko tunjuk untuk mengurusi keperluan Eri selama berada di dalam rumah itu.
"Ah, sakit" ucap Eri yang tersadar saat tangan Sumi berusaha menjangkau selimut yang Eri pakai.
"Oh, maafkan saya nona. Tuan menyuruh saya untuk membangunkan nona dan menyuruh nona untuk segera mandi. Saya sudah menyiapkan air hangat dengan lilin aroma terapi di sekitar bath up agar nona bisa mandi dengan nyaman" ucap Sumi.
Eri tak tertarik mendengarnya, rasanya dia hanya ingin tidur saja seharian ini agar rasa sakit di sekujur tubuhnya bisa sedikit berkurang.
"Maafkan saya, nona. Tapi ini perintah dari tuan Handoko. Jika nona tidak menurutinya, maka tuan akan marah dan kondisi nona bisa lebih buruk dari ini" kata Sumi mengingatkan.
Eri membuka matanya, melihat dengan tajam pada Sumi yang bertampang kasihan.
"Maksud bibik apa?" tanya Eri.
"Kalau tuan marah, nanti nona akan disiksa lebih dari ini. Jadi saran saya, lebih baik nona menurut dan segera selesaikan urusan nona disini" ucap Sumi lirih, seolah takut sesuatu.
"Kenapa bibik bicara seperti itu?" tanya Eri.
__ADS_1
"Karena ada banyak cctv di rumah ini, non. Dan kamera-kamera itu bisa bersuara" ucap Sumi berbisik.
Eri memandangi sekitarnya, dia baru tersadar jika memang banyak kamera di kamar itu. Dan itu tentu membuatnya geram. Rupanya Eri telah masuk ke mulut buaya.
Dan mau tak mau, wanita malang itu harus menurut pada si pria jahat. Mematuhi segala aturannya sambil menunggu Handoko memberikan kartu ATM berisi uang hasil penjualan rumahnya agar dia bisa segera pergi dari rumah neraka itu.
Sementara di kediaman Alexander malam ini.
Suasana hangat makan malam selalu tercipta saat ada Sam bersama mereka. Selalu saja ada tingkah konyol darinya yang membuat keperfeksionisan keluarga itu harus berkurang.
"Sam, kau tadi tidak masuk sekolah lagi? Kemana?" tanya Lia pura-pura tidak tahu dengan keseharian adiknya.
"Aku masuk kok kak. Tadi pagi kan kakak sendiri yang mengantarkanku berangkat sekolah" jawab sam santai, seperti biasanya.
Sementara Vicky dan Viviane membiarkan saja apa yang Lia lakukan pada adiknya selama tidak melampaui batas. Sekalian mengajarkan pada Sam untuk mencontoh Lia yang selalu tampil unggul sejak usia dini. Hingga di usianya kini yang sudah masih tidak lebih dari dua puluh lima tahun, gadis itu sudah sangat mandiri dan bisa belajar memimpin perusahaan.
"Jujur saja, atau satu minggu ke depan kakak akan memblokir kartumu. Biar saja kau tidak bisa jajan. Lagipula kau ini boros sekali. Kakak dulu seusiamu itu tidak menghabiskan lebih dari lima ratus ribu dalam satu minggu" lagi-lagi Lia menegur adiknya yang sangat boros.
"Kakak ini jangan menyamakan zaman sekarang dengan zaman kakak dulu. Jelas berbeda lah kak" keluh Sam.
"Apanya yang berbeda? Kau saja yang tidak bisa mengendalikan nafsu jajanmu. Selalu saja bersikap bossy. Kau dikelilingi oleh orang-orang yang hanya menginginkan fasilitasmu saja. Coba kalau kau sedang miskin, tidak akan ada orang yang mau dekat denganmu" kata Lia.
"Tidak mungkin! Teman-temanku itu orang yang tulus. Sama seperti kak Johan dan Kak Bayu yang mencintaimu dengan tulus, tapi sang Elsa masih saja berhati frozen hingga mereka harus rela menjadi dokter dingin yang jomblo dan pengusaha travel yang tersenyum sedih" ejek Sam.
"Kau ini" geram Lia sambil sedikit berfikir untuk memberikan sedikit pelajaran kepada Sam, adiknya yang nakal itu.
"Sudahlah, kalian ini kenapa selalu bertengkar sih? Ini kan waktunya makan, seharusnya kalian makan saja dulu" kata Viviane yang sudah memerah telinganya karena mendengar pertengkaran kedua anaknya.
"Mamamu benar, makan saja dulu. Baru nanti dilanjutkan bertengkar nya" kata Vicky sambil tertawa, senang saja dia mendengar kedua anaknya beradu mulut.
Karena dia pikir itu akan menjadi kenangan terindah saat salah satu dari mereka sudah memutuskan untuk membina hubungan baru dengan orang lain dan meninggalkan keluarganya.
Pasti kenangan tentang adu mulut seperti ini yang tidak bisa terlupakan.
Mendengar teguran mamanya, kedua bersaudara itu memutuskan untuk meneruskan makan malamnya yang sempat tertunda.
Sambil terus makan, Lia juga memikirkan apa langkah yang akan dia ambil untuk memberi sedikit pelajaran terhadap adik nakalnya itu.
.
.
.
__ADS_1