
Dua hari berselang, luka di sekujur tubuh Eri mulai membaik dengan perawatan ekstra dari Sumi untuknya. Hati Eri sedikit luluh saat melihat kebaikan dan ketelatenan Sumi saat mengurusnya.
Dan selama dua hari itu pula Eri tak pernah melihat Handoko berseliweran di rumahnya. Sumi bilang kalau tuannya sedang dinas keluar kota dan akan kembali esok hari dengan surprise untuk Eri.
"Jadi, besok tuan akan datang bik?" tanya Eri sambil menikmati rasa dingin dari salep yang Sumi oleskan di punggungnya.
"Iya, non. Dan tuan bilang akan memberi kejutan lain untuk nona" jawab Sumi dengan nada suara yang bergetar.
Mendengar kata kejutan lain, bukannya membuat Eri merasa senang, tapi malah semakin cemas karena Handoko memang pria yang penuh kejutan. Dan semua kejutannya malah terkesan mengerikan.
"Apa luka-lukanya sudah membaik, bik?" tanya Eri.
"Sudah semakin baik, non" jawab Sumi singkat.
"Kira-kira, kejutan apa yang akan tuanmu berikan untukku bik? Kenapa aku jadi merasa takut?" tutur Eri yang juga Sumi rasakan.
Sebagai sesama wanita, Sumi tentu merasa kasihan dengan nasib Eri. Memang kadang kecantikan fisik bukannya memberi manfaat tapi malah membuat si empunya tubuh semakin mudah terjerumus dalam kejahatan orang lain.
"Bik, tolong saya. Bisakah bibik membantu saya keluar dari rumah ini?" tanya Eri, sepertinya dia sudah tidak sanggup jika harus mendapatkan kekerasan fisik lagi dari Handoko.
"Apakah urusan nona sudah selesai dengan Tuan?" tanya Sumi, entahlah, perempuan paruh baya itu tidak pernah mau memandang mata Eri saat mereka sedang mengobrol. Seperti ada rahasia besar yang pembantu itu sembunyikan.
"Belum sih bik. Tapi bagaimana bibik bisa tahu kalau saya ada satu urusan dengan tuan?" tanya Eri heran.
"Tidak apa-apa non. Hanya saja beberapa wanita datang dengan satu urusan dengan tuan. Dan nasib mereka juga tidak jauh berbeda dengan nona" jawab Sumi
Eri menoleh setelah Sumi berkata begitu. Rasa nyaman dari dinginnya salep tak lagi dia rasakan. Kini, rasa khawatirnya semakin menggunung setelah mendengar pengakuan Sumi.
"Bik, setelah urusanku selesai, maukah bibik menolong saya untuk keluar dari tempat ini, bik? Saya mohon" rengek Eri seperti seorang anak kecil pada ibunya.
Dia yang tadinya tidur tengkurap sambil menikmati olesan salep dari tangan Sumi dengan nyaman, kini duduk sambil memegang kedua tangan Sumi dengan kucuran air mata.
"Bibik mohon nona jangan seperti ini. Kalau nona tidak mau melepaskan tangan saya, pasti tuan akan curiga dengan pembicaraan kita ini. Dan tuan akan semakin menyiksa nona. Jadi, saya mohon nona sedikit bersabar ya. Setelah urusan nona selesai, bicaralah pada bibik. Nanti bibik akan usahakan untuk membantu nona" ucap Sumi sambil berbisik.
Karena kamera pengawas di kamar Eri dilengkapi fitur suara. Jadi, memang sedikit sulit untuk berbicara tentang hal pribadi disana.
"Iya bik maafkan saya" kata Eri sambil menyeka air matanya.
"Aku harus kuat. Setelah uang itu aku dapatkan, aku akan berusaha lari dari rumah ini. Bagaimanapun caranya" kata Eri dalam hatinya.
Saat tak ada orang untuk bersandar, memang lebih baik untuk menyemangati diri sendiri agar tak putus asa.
Cukup lama kedua wanita beda usia itu saling mengobrol. Dan tanpa mereka sadari ternyata Handoko sudah berdiri diambang pintu yang tak tertutup sempurna.
__ADS_1
Beruntung Eri dan Sumi tidak sedang membicarakan hal yang berbahaya saat pria itu berada disana.
"Ehm, apa sesi tanya jawabnya sudah selesai?" tanya Handoko.
Eri sangat terkejut, begitupun Sumi. Melihat Handoko berdiri dengan seringainya semakin membuat Eri merasa takut.
Dengan isyarat saja Sumi mengerti jika Handoko menyuruhnya keluar. Meski sedikit berat hati, perempuan paruh baya itu beranjak meninggalkan Eri dengan sedikit perasaan tak enak.
Apalagi Sumi harus melepaskan pegangan tangan Eri yang cukup erat memegang tangannya untuk mencari perlindungan.
"Saya permisi, tuan" ujar Sumi sopan, dan pergi setelah menunduk sebentar pada Handoko dan Eri.
"Jangan takut, sayang. Kali ini aku tidak membawa cambuk. Tapi membawakanmu ini" kata Handoko sambil memamerkan sebuah kartu ATM dari sebuah bank ternama beserta buku tabungannya.
Meski takut, Eri lega karena Handoko benar-benar mau membeli rumahnya dengan harga yang mahal meski diapun harus mengorbankan tubuhnya demi memuaskan pria dengan kelainan bawaan seperti Handoko.
Saat Eri akan mengambil dua benda dari tangan Handoko, tanpa diduga pria itu membuang keduanya dibawah kakinya.
Senyum Eri tak jadi mengembang saat dia tahu bahwa pria itu sedang merendahkannya.
"Awas kau Handoko, kau adalah target selanjutnya yang akan aku bereskan setelah keluarga Alexander" gumam Eri dalam hatinya, tangan mulusnya sudah mengepal sempurna. Tapi untuk beradu fisik dengan pria tua itu tentu Eri tak akan sanggup.
Dengan berat hati Eri mengambil atm itu. Handoko sedikit puas karena merasa Eri bisa dengan mudah dia permainkan. Dari mata biasa, terlihat seperti Eri sedang berlutut pada Handoko.
"Hahaha, kau adalah j***ngku yang paling cantik sejauh ini. Dan kebodohanmu sebagai seorang wanita yang lemah sangat membuatku senang, sayang" kata Handoko sambil menjambak rambut panjang Eri yang terurai.
Dengan kartu yang sudah ada di tangannya, Eri kembali menangis saat rasa sakit kembali menyerang fisiknya dari orang yang sama.
"Ayo kemarilah, teman. Kita nikmati hari ini bersama" teriak Handoko.
Eri yang terkejut melihat ada dua pria asing yang juga masuk ke dalam kamarnya semakin membuatnya menangis. Entah apa lagi yang akan Handoko lakukan padanya.
Selain pasrah, tak ada lagi yang bisa Eri lakukan kali ini saat melihat ketiga pria di hadapannya ini sedang menyeringai ngeri padanya.
"Dia sangat cantik, kau pandai sekali mencari j****ng" kata salah satu dari mereka sambil tertawa terbahak-bahak.
"Aku tidak mencarinya, dia sendiri yang datang padaku" kata Handoko yang masih saja menggamit rambut curly Eri dalam genggamannya.
Pria lainnya sepertinya sudah tak sabar, karena tanpa komando apapun dia sudah menarik tank top Eri hingga robek.
Dalam ketidak siapan, Eri memang hanya memakai tank top dan hot pant hari itu. Karena dia pikir Handoko akan pulang esok hari.
Tapi rupanya iblis berkedok aparat hukum itu sudah tak sabar untuk kembali menyiksa Eri dengan kelainannya.
__ADS_1
"Ah, jangan tuan. Saya mohon, jangan sakiti saya lagi" tangis Eri yang semakin membuat ketiga pria itu semakin mengganas.
Dan tanpa ampun, mereka bertiga kembali melecehkan Eri siang itu. Eri hanya bisa pasrah dan merasakan pedihnya penyiksaan yang ketiga pria itu lakukan padanya.
Dan saat ketiganya merasa puas, mereka meninggalkan Eri yang hanya bisa terbaring tanpa busana diatas ranjangnya dengan tangisan pilu.
Seluruh tubuh Eri terasa sakit kali ini. Meski tak ada luka cambuk, tapi bagian intinya yang terasa sangat pedih karena ulah ketiga pria itu.
Kekerasan itu semakin membentuk watak manja Eri menjadi berubah. Tekad dalam hatinya yang terlalu sering mendapatkan kekerasan fisik akhir-akhir ini membuatnya menjadi wanita pendendam yang pasti juga akan membabat musuhnya tanpa ampun.
Menjelang senja, Sumi datang ke kamar Eri dengan senampan makanan untuknya. Dan melihat kondisi Eri yang mengenaskan membuat wanita itu tak kuasa meneteskan air matanya.
"Maafkan saya yang tak bisa menolongmu, nona" tutur Sumi sambil menyelimuti tubuh Eri yang dia biarkan terpampang apa adanya dengan masih terisak pilu.
"Makanlah non" kata Sumi sambil menaruh nampan diatas meja di samping ranjang Eri.
"Dan saya janji besok akan membantumu untuk keluar dari sini" bisik Sumi di telinga Eri.
"Benar bik?" tanya Eri lirih.
Sumi hanya mengangguk dan mengingatkan kembali pada Eri jika ada kamera jahat di kamarnya.
Perlahan Eri menggerakkan tubuhnya yang terasa sangat sakit. Dia duduk dengan tak nyaman sambil merapatkan selimutnya dan membuka mulutnya saat Sumi dengan telaten menyuapkan makanan ke dalam mulut Eri.
"Kenapa bibik baik padaku? Kenapa bibik mau membantuku?" tanya Eri lirih.
"Karena bibik tidak tahan melihat nona yang dijadikan sasaran. Sepeninggal nyonya, memang non Eri lah wanita pertama yang tuan bawa ke rumah ini. Dan bibik tidak menyangka jika perlakuan tuan semakin tidak karuan begini" ucap Sumi.
"Terimakasih, bik" kata Eri sambil meneruskan suapan demi suapan makanan yang Sumi berikan untuknya.
Eri tahu kali ini, sebagai orang biasa memang harus berkorban cukup besar untuk mendapatkan haknya.
Seperti Eri yang harus membayar syarat pada Handoko dengan tubuhnya untuk mendapatkan hak dari penjualan rumahnya.
.
.
.
.
.
__ADS_1