My Angel Baby

My Angel Baby
Haruskah keluarga kita hancur?


__ADS_3

"Ya Allah, Mawan. Anak enyak yang paling ganteng. Akhirnya elo pulang juga tong" teriak enyak Mawan histeris begitu melihat anak semata wayangnya turun dari mobil mewah yang baru saja mematikan mesinnya.


"Enyak ah, malu Mawan nyak" keluh Mawan sedikit malu karena Sam terkikik melihat itu semua.


"Ya Allah nak... Enyak lega banget lihat lo pulang dengan selamat" kata enyak lagi sambil memeluk putranya, memeriksa keadaan anaknya dari ujung kaki hingga ujung kepala.


"Tapi Mawan minta maaf ya nyak karena ninggalin motor di TKP terus pisangnya Mawan hancurin, nyak" tutur Mawan lirih, Dia takut enyaknya marah.


"Kagak Wan. Karena Lo sudah berani menyelamatkan teman lo yang kaya raya itu, orang tuanya ngirim sepeda motor baru buat kita Wan, sekaligus gerobak gorengan yang baru sekaligus bahan baku dagangan yang bisa kita pakai sampai sebulan ke depan, Wan. Elo sudah jadi pahlawan bukan cuma buat teman lo doang Wan, tapi juga buat keluarga kita" ujar Enyak Mawan sambil terus mengelus rambut anaknya sambil berjinjit karena tinggi enyaknya yang hanya sebatas dada Mawan.


Mawan semakin heran, diapun menoleh ke arah Samuel yang daritadi melihat pemandangan haru di depan matanya sambil tersenyum manis.


"Mana teman lo yang baik itu Wan? enyak mau bilang makasih sama dia" kata enyak celingukan, berharap bisa melihat wajah dari orang yang sudah Mawan selamatkan.


"Siapa nyak? Samuel? Tuh anaknya" ujar Mawan menunjuk ke arah Sam yang masih duduk di dalam mobil yang pintunya sengaja dibuka.


Enyak tersenyum singkat, berjalan mendekat ke arah Sam yang tak berkutik di dalam mobilnya.


"Tong, enyak makasih banget ya sama lo dan keluarga lo yang baik. Elo kenapa bisa sampai dibegal sih tong? Ya Allah, mana muka lo ganteng banget tong" puji enyak di akhir kalimatnya.


Enyak mengamati wajah Sam yang keningnya terlilit perban, sama seperti Mawan. Lengan bajunya juga nampak merah kecoklatan, bekas darah yang mengering. Dan pipi serta bibirnya nampak sedikit bengkak tapi masih sangat terlihat ketampanan di wajah Sam.


"Sama-sama, nyak. Semua itu bukan dari saya nyak, tapi dari papa. Saya cuma anak yang terbuang, nyak. Tapi saya senang karena mereka masih punya hati untuk berterima kasih pada keluarga Mawan" kata Sam.


"Elo mah ada-ada saja, tong. Mana ada orang tua yang tega ngebuang anaknya sendiri kalau si anak kagak ngelakuin kesalahan, tong" ujar enyak tepat sasaran, salah sasaran jika Sam mengadu pada orang tua yang lebih banyak pengalaman daripada dia yang masih bau kencur.


"Hehe, iya juga sih nyak" kata Sam sambil menggaruk tengkuknya yang tidak gatal, dia memang tipikal orang yang mudah akrab dengan siapapun. Baru pertama kali ngobrol dengan orang tua Mawan juga sudah membuatnya nyaman.


Melihat Mawan yang masih sering meringis menahan rasa sakit karena jahitan di dahinya, membuat Sam sadar untuk segera minta izin pulang.


"Ehm, nyak. Sekalian saya mau berpamitan ya nyak. Biar kami juga bisa segera istirahat. Oh iya, biar besok Mawan libur dulu ya nyak" kata Sam meminta izin untuk Mawan.


" Iya lah tong, anak enyak lagi sakit gini masak iya harus enyak paksa masuk sekolah" jawab enyak.


"Yasudah nyak, Wan, gue pulang dulu ya. Elo cepat sembuh. Dua hari lagi kita ketemu di sekolah" palit Sam masih dari dalam mobilnya.


"Lo juga cepat sembuh, Sam. Semoga kita masih punya kesempatan buat ketemu lagi, ya" ujar Mawan sambil melambaikan tangannya saat pintu mobil Sam perlahan menutup.


Mawan berjalan pelan dengan masih dipapah oleh enyaknya untuk bisa sampai ke kamarnya yang mungil.


"Ceritanya bagaimana sih Wan? Kata orang-orang yang tadi kemari, katanya Lo sudah nolongin yuh anaknya pak bos" tanya enyak.


"Memangnya yang kesini tadi siapa saja nyak? Terus babe kemana?" tanya Mawan yang tak melihat babenya sejak tadi.


"Babe lo lagi mengurus surat-surat motor barunya. Cepetan lo cerita sama enyak, bagaimana kejadiannya?" desak enyak.

__ADS_1


"Mawan kebetulan doang nyak ngelihat Sam lagi dikeroyok orang pakai senjata tajam. Reflek Mawan mukul salah satu dari mereka yang hampir bisa nusuk Sam pakai belatinya menggunakan pisang dagangan kita" kata Mawan bercerita.


"Tadi Sam dikeroyok nggak jauh dari tempat langganan kita ngambil pisang" kata Mawan lagi.


"Sudah ah nyak. Mawan capek. Sakit nih jahitan, kayaknya biusnya sudah habis. Mawan mau rebahan aja" kata Mawan yang melihat enyaknya membuka mulut, masih kepo rupanya. Tapi Mawan sungguh sudah sangat lelah.


"Yasudah, elo istirahat saja ya. Semoga besok lo sudah baikan" ujar enyak sambil menyelimuti tubuh anaknya yang meringkuk diatas ranjang single dengan kasur kapuk diatasnya.


"Iya nyak, makasih" kata Mawan sambil terpejam, entah benar-benar tidur atu hanya ingin ditinggalkan sendirian di kamarnya.


Enyakpun berlalu pergi setelah sedikit membelai rambut belakang Mawan. Membiarkan putranya untuk beristirahat.


Tapi setelah enyaknya pergi, Mawan malah tak bisa bahkan untuk sekedar menutup mata.


Dia kepikiran akan sosok wanita yang ada di dalam salah satu mobil para preman yang tadi mengeroyok Samuel.


"Masak iya tuh cewek si Lian?" gumam Sam.


"Kalau memang benar itu adalah Lian, apa hal yang melatarbelakangi Lian sampai tega mengeroyok Samuel?" gumamnya lagi.


"Sepertinya ada aneh. Apa gue terlalu ikut campur kalau gue selidiki sendiri tentang Lian yang sebenarnya?".


"Ah, biarkan saja".


"Tapi bagaimana seandainya Lian melakukan hal itu lagi sehingga nyawa Sam benar-benar tidak tertolong? Sepertinya memang lebih baik gue cari tahu tanpa sepengetahuan dari Sam. Nanti kalau gue punya bukti yang akurat, baru gue bisa bilang ke Samuel bagaimanapun reaksinya nanti" tekad Mawan dalam hatinya.


"Dan untuk status Sam yang sebenarnya, bolehlah gue tanyain kalau sudah masuk sekolah" kata Mawan yang masih tak bisa memejamkan mata




"Aku sakitpun masih harua merepotkan tante Gita, kak? Kenapa nggak pulang ke rumah saja sih?" keluh Sam, ternyata mobil itu membawanya kembali ke rumah Gita, bukannya ke rumah dia sendiri. Padahal Sam sudah sangat merindukan belaian sayang dari mamanya saat dia sakit begini.



"Jangan manja Sam. Aku tahu apa yang sedang kau pikirkan" ucap Lia yang duduk berhadapan dengan adiknya yang diapit Gita dan Tomi, suaminya.



"Tapi sudah lama aku nggak ketemu mama, kak. Kan aku rindu" keluh Sam.



"Mama sedang menemani papa yang sedang perjalanan bisnis di Eropa, Sam. Baru kemarin berangkat. Dan kenapa kakak masih ada disini karena ada satu hal yang ingin kakak sampaikan padamu, dan ini sangat penting" kata Lia mematahkan hati Sam yang memang sangat rindu bermanja-manja pada mamanya saat sedang sakit.

__ADS_1



"Hal penting apa yang kakakku ingin sampaikan padaku?" kata Sam dengan malas, kakaknya selalu saja menggagalkan rencananya.



"Mengenai temanmu yang bernama Berlian itu, bisakah kalau kau tidak terlalu dekat dengannya?" kata Lia.



Sam memutar bola matanya jengah, selalu semua hal yang Sam sukai harus ditinggalkan atas perintah Lia.



"Semua yang kakak suruh sudah Sam lakukan, dari berhenti balapan liar sampai harus pindah sekolah dan pindah rumah. Sekarang untuk pertemananku juga harus kakak yang mengaturnya?" tanya Sam dengan serius, tak ada nada lucu yang dia selipkan seperti biasanya. Sam sangat sensitif jika mengenai Berlian.



"Salah satu anak buah kakak yang ada di TKP saat kau dikeroyok kemarin melihat kalau si Berlian itu memasuki salah satu mobil mereka" kata Lia tak kalah dingin, diapun akan berusaha semaksimal mungkin untuk melindungi keluarganya.



"Bahkan anak buahmu saja terlambat saat datang. Asal kau tahu kak, Mawan lah orang pertama yang membantuku untuk melawan mereka. Bukan orang-orang mu" balas Sam.



Gita dan Tomi hanya bisa saling pandang karena berada diantara pertengkaran kedua kakak beradik yang biasanya selalu rukun.



"Haruskah kau mati dulu agar percaya padaku, Sam?" tanya Lia mulai kasar.



"Jadi kau menginginkan kematianku? Atau jangan-jangan mereka juga anak buahmu dan kau malah mengkambing hitamkan Lian yang tak tahu apa-apa? Asal kau tahu, kak. Lian itu orang yang sangat polos. Dia tak tahu liciknya dunia, berbeda denganmu yang sudah sangat berpengalaman di semua bidang" kata Sam sedikit cemberut.



Lia memang tak pandai merayu, dia lebih suka berterus terang dan jujur meski harus sedikit terasa pahit.



"Haruskah keluarga kita hancur hanya gara-gara satu orang yang baru kau kenal?" kata Lia menekankan pertanyaannya.


__ADS_1


Lia pun belum mengerti jika menasehati orang yang sedang kasmaran itu sama saja dengan memarahi orang yang sedang sakit jiwa. Tak akan bisa!


__ADS_2