
Sam keluar ruangan Lia dengan bersungut-sungut, sapaan para bodyguard yang stand by di luar ruangan Lia tak ada yang digubrisnya. Dan Lian yang membalas sapaan mereka dengan mengangguk dan tersenyum manis.
Tangan yang ditarik oleh Sam membuat Lian sedikit bersusah payah untuk mensejajari langkah Sam yang terlalu panjang dan agak cepat.
"Sam, aku lelah" rengek Lian yang nafasnya sudah memburu, lelah untuk berlarian.
"Ups, sorry. Maaf kalau gue bikin lo merasa nggak nyaman" ujar Sam dengan pandangan sayu, begitu dalam nama Lian tertancap dihatinya.
"Maaf ya Lian, kalau tanggapan kakak gue sama lo begitu. Dia memang selalu negatif thinking sama orang yang baru dikenalnya" kata Sam yang berhenti di salah satu kursi tunggu.
Kursi besi yang dingin, membuat siapapun yang mendudukinya pasti merasa kedinginan di awal.
"Nggak apa-apa, Sam. Ehm, kamu sadar nggak sih kalau banyak yang memperingatkan kamu buat hati-hati sama aku?" tanya Lian dengan pandangan hampa, nyatanya sangat pahit untuk menjadi racun yang disajikan pada orang yang kita sayangi.
Lian hanya bisa pasrah atas apapun yang nantinya akan menimpanya. Dicintai dan disayangi oleh orang yang kita sayangi ternyata bukanlah menjadi sebuah kebahagiaan bagi Lian.
Rasa berdosa senantiasa menghantuinya di siang dan malam. Memikirkan wajah Sam yang selalu menghiasi benaknya semakin membuat dada Lian sesak.
Haruskah dia menyerah dan berpihak pada keluarga Sam tanpa memperdulikan keselamatan ayahnya yang nyatanya sangat jahat terhadapnya sejak Lian masih kecil?
Lian semakin merasa frustasi.
"Maksud lo Mawan? Tuh anak memang selalu berpikiran buruk sama lo sejak kita berhasil selamat dari pengeroyokan yang waktu itu. Padahal menurut gue pribadi semuanya memang cuma karena ulah preman jalanan doang sih" kata Sam yang selalu membenarkan apapun yang Lian perbuat.
"Sam, kamu benar sayang sama aku?" tanya Lian.
"Apa semua sikap, perilaku, dan perkataan gue selama ini ke lo nggak menunjukkan betapa dalamnya rasa sayang gue sama lo? Gue juga nggak tahu kenapa bisa hati ini milih lo untuk berlabuh, gue nggak bisa memberi perintah ke hati ini buat berhenti sayang sama lo" ujar Sam yang sudah lupa akan emosinya terhadap sang kakak, ada Lian disampingnya adalah penawar bagi semua kegundahan Sam.
"Tapi jika seandainya semua peringatan yang kamu dapatkan itu memang benar, bagaimana?" tanya Lian memberanikan diri.
"Gue rela atas apapun yang lo lakuin sama gue. Gue rela meskipun harus mati jika memang Lo yang bunuh gue, Berlian" jawab Sam sambil memegang tangan Lian.
Hati Lian semakin merasa sesak. Cintanya tak bertepuk sebelah tangan, tapi sesaknya melebihi penolakan dari orang yang kita sayangi.
Karena Lian yang akan menjadi malaikat maut terhadap Sam yang begitu mencintainya.
Seperti ungkapan pujangga,
"Cinta adalah sesuatu yang murni, luhur dan diperlukan. Yang buta adalah bila cinta itu menguasai dirimu tanpa suatu pertimbangan."
Dan itulah yang sedang Sam alami. Mencintai dengan buta seorang Lian yang akan mencelakainya.
"Kenapa lo nangis, Lian? Apa memang nggak ada perasaan sedikitpun di hati lo buat gue? Sampai lo merasa kalau semua pernyataan sayang gue sama lo itu adalah beban?" tanya Sam yang melihat ada buliran air mata yang jatuh di pipi Lian.
"Bukan begitu Sam. Aku hanya sedih dengan takdir yang seolah sedang mempermainkan kita. Aku sedih jika kenyataannya nanti akan menjadi duri dalam daging" jawab Lian yang tak bisa untuk berterus terang.
__ADS_1
Ada keselamatan ayahnya yang harus dia jaga disini, bukan sekedar perasaannya yang harus dinomorsatukan.
"Ah, sudahlah. Biarlah takdir berkata apa. Lalui saja semua dengan senyuman. Baik ataupun buruk yang akan terjadi esok, berjanjilah untuk tetap menjadi Samuel yang baik dan berfikiran positif ya, Sam" pada akhirnya Lian tak kuat untuk terus membahas tentang perasaan.
"Maksud lo apaan sih, Lian?" heran saja Sam dengan kelakuan gadis itu, untung saja cinta.
"Kita pergi saja yuk. Ehm, bagaimana kalau besok kita jalan-jalan, Sam?" tanya Lian yang ingin bertarung dengan takdir.
Dari pertanyaan itulah yang akan menjadi awal dan akhir dari kisah cintanya. Dan besok adalah puncak dari semua penantiannya.
"Oke. Mau kemana?" tanya Sam kembali bersemangat.
"Bagaimana kalau ke puncak? Atau ke pantai?" tanya Lian agak bingung, dimana tempat eksekusi yang tepat untuk dia lakukan.
"Ke Puncak saja. Bukan week end, pasti tidak macet" jawab Sam.
"Boleh. Kita bawa bekal untuk bakar ikan dan sate ya" ajak Lian riang, biarkan saja dengan kenyataan, yang penting harapannya terwujud untuk bersenang-senang.
"Boleh. Nanti gue ke pulang dulu, mau tukar mobil. Gue jadi malas banget bawa mobilnya kakak. Biar gue bawa mobil sendiri" kata Sam.
"Naik angkot juga bisa, hehe" kata Lian.
"Gue ada mobil, Li. Ngapain naik angkot. Lagian mana ada angkot ke puncak. Ayo, ikut gue ke rumah. Gue mau tukar mobil" ajak Sam yang sudah kembali ceria.
Tangannya kembali memegangi tangan Lian dan menariknya dengan perasan gembira. Tujuannya untuk pulang ke rumah dan memamerkan Lian pada kakek dan neneknya.
Saat mobil Lia memasuki pelataran rumah, Lian tak menyangka jika rumah Samuel sebesar itu. Seperti kastil di film-film barbie yang Lian tonton di rumah tetangganya dulu sewaktu kecil.
"Rumah kamu sangat megah ya, Sam" kata Lian memuji.
"Bukan rumah gue, Li. Rumah orang tua gue. Sedangkan gue yang masih pengangguran ini belum punya rumah" jawab Sam yang sudah menghentikan mobilnya di depan teras agar dibawa ke parkiran oleh art nya.
"Ayo masuk" ajak Sam.
Ternyata sudah ada kakek dan nenek yang sedang bercengkerama di ruang tamu saat Sam memasukinya, ada juga dua orang yang sudah agak tua yang sedang bertamu.
"Sore, kek" sapa Sam, sedangkan Lian masih agak malu dan membuatnya berdiri di belakang Sam.
"Kamu sama siapa, tuan muda?" tanya Meryl yang rupanya sedang bersama kakeknya.
"Oh, ini perkenalkan semuanya. Namanya Berlian, panggil saja Lian. Teman istimewanya Samuel" kata Sam dengan bangganya.
Ke empat orang tua itu hanya saling lirik, seolah sedang bertelepati akan sesuatu.
"Teman sekolah?" tanya kakek Abra.
__ADS_1
"Marilah duduk bersama kami, nak. Jangan sungkan-sungkan. Panggil aku Oma Suzy" kata Suzy ramah.
Lian mendekat, menyalami satu per satu orang yang sedang berada si ruang tamu.
"Sepertinya aku pernah melihatmu dimana ya?" gumam Meryl.
"Hanya perasaanmu saja, nenek Meryl. Ah sudahlah, ayo Lian kita pergi. Semua orang sok kenal terhadapmu. Pasti nanti mereka akan bilang kalau aku harus berhati-hati padamu" kata Sam yang lagi-lagi menarik tangan Lian tanpa sempat gadis itu berucap salam.
"Sam, jangan begitu. Sangat tidak sopan kalau kau tidak berpamitan pada orang tuamu saat akan pergi" kata Lian sedikit kesal, baru tahu dia sisi lain dari Sam yang kekanak-kanakan jika berada ditengah keluarganya.
"Biarkan saja. Ayo masuklah" perintah Sam agar Lian memasuki sebuah mobil sport berwarna hitam milik Sam.
"Uwah, mobilnya bagus sekali Sam. Apa ini punya kakakmu juga?" tanya Lian.
"Tentu ini milikku. Hadiah ulang tahunku yang ke enambelas saat itu. Sekaligus hadiah karena aku bisa lulus SMP" jawab Sam sambil menelusuri interior mobilnya.
Memeriksa apakah mobil itu dirawat dengan baik selama Sam tak boleh mengendarainya.
"Hadiah dari siapa?" tanya Lian.
"Dari papa" Sam mulai menghidupkan mesin mobilnya.
Perlahan pintu garasi terbuka dan Sam bisa dengan leluasa mengeluarkan mobil itu untuk dia kendarai bersama Lian saja. Karena isi mobil itu hanya untuk dua orang saja.
"Bagus ya Sam" ucap Lian sambil tersenyum.
"Kau suka?" tanya Sam.
Lian hanya mengangguk.
"Semua akan jadi milikmu juga saat kau sudah memberikan hatimu untukku" perkataan Sam membuat Lian semakin yakin untuk segera menyelesaikan semuanya.
"Besok pulang sekolah ya Sam. Kita akan pergi ke dunia baru bersama. Aku tidak akan membiarkanmu pergi sendirian. Kita akan pergi bersama" kata Lian mantap.
"Lo ngomong apa sih? Aneh banget" tanya Sam.
"Nggak ada" jawab Lian sambil menggelengkan kepalanya dan tersenyum.
Senyuman pahit yang selalu Lian hadirkan di setiap kesempatan. Biarlah Lian akan menyelesaikan perintah Ery sekaligus pergi bersama Sam jika memungkinkan.
Takdir yang membuat Lian menjadi sebuah bidak catur yang dikendalikan untuk berperang di awal.
Berperang meski sebenarnya dia tak menginginkan itu semua.
"Ah... Ayah... Seandainya kau menjadi manusia yang lebih baik. Pasti nasibku tidak akan seperti ini" gumam Lian dalam hatinya.
__ADS_1
Dan gadis itu sudah yakin jika esok hari pasti nasibnya akan berubah.