
Meski sudah mendapat wejangan dari Tomi, masih saja tak membuat Sam merasa lebih baik. Tingkat kegalauannya masih di level internasional.
"Lo lemes banget kayak slime sih, Sam" kata Mawan yang ikut bermalas-malasan di mejanya, seperti Sam yang sedang bertopang dagu.
"Lo perhatian banget sama gue, Wan" balas Sam.
"Lo kan teman gue, Sam. Kasihan gue lihat Lo kayak gini. Berbaur kek sama teman yang lain. Ke lapangan yuk Sam, kita maen bola. Cowok kok mengurung diri" kata Mawan dengan logat Betawinya yang kental.
"Males gue, Wan" kata Sam.
"Ayolah Sam. Kita cari cewek cantik, gimana?" kata Mawan sambil menaik turunkan alisnya dengan raut wajah konyol.
Sam yang pada dasarnya adalah pribadi yang ceria tentu tak akan tahan dengan wajah Mawan. Tawanya pecah melihat tingkah laku temannya itu.
"Ayo deh Wan. Lo ngotot banget. Awas kalau sampai nggak dapat cewek cantik" kata Sam sambil berdiri, bersiap menuju lapangan.
"Asik. Pasti dapatlah. Lo kan cakep, Sam. Gue nebeng doang sama kecakepan elo. Biar ada cewek cantik yang mau ngobrol sama gue" canda Mawan yang semakin membuat Sam terhibur.
Sampai di lapangan, ternyata sedang ada yang bermain basket. Sepertinya si most wanted sekolah sedang beraksi. Terbukti dengan banyaknya sorakan dari para siswi dengan wajah berbinar.
Tak disangka, bola terlempar ke arah Sam yang membuat banyak pasang mata memandang ke arahnya.
Sam memang jarang sekali keluar kelasnya. Karena Gita yang selalu membawakannya bekal membuat Sam bisa lebih mengirit uang jajannya. Dan berdiam diri di kelas adalah jalan ninjanya.
"Wah, anak mana tuh ganteng banget" mulailah gumaman para kaum hawa memuji ketampanan calon pewaris dinasti Alexander.
"Iya, baru tahu gue ada cowok setampan itu di sekolah kita" kata yang lain.
"Dia mah teman sekelas gue. Ganteng banget memang, tapi jarang keluar kelas" kata salah satu teman sekelas Sam.
"Beneran? Anak IPA dong?" tanya yang lain.
"Uwah, selain tampan, pintar juga dong kalau masuk ke kelas IPA" puji siswi lainnya.
Mawan jadi ikut merasa populer saat berdiri bersisian dengan Sam dan menjadi pusat perhatian dari seluruh murid yang kebetulan sedang berada di lapangan.
Merasa tertantang, Sam memang suka bermain basket. Mendapat bola seperti ini membuatnya kembali ingin merasakan permainan bebas di jam istirahat.
Tak banyak kata, segera Sam mendribel bolanya dan memainkannya dengan lihai. Seperti saat dia bertanding dengan Lia jika menginginkan sebuah pujian dari papanya. Dan Sam masih belum seprofesional Lia dengan kekalahan yang tipis.
Kini, semangatnya kembali melejit saat Sam ingin menyalurkan emosinya.
Berlari, memutar, melompat, dan kembali berlari hingga dia berpeluh. Dan akhirnya bisa mencetak nilai.
Sorak sorai pecah saat lompatan Sam dengan bolanya memberi poin baginya.
"Teman gue nih" teriak Mawan yang sejak tadi menjadi bayang-bayang Sam.
__ADS_1
Bel berdenting tanda waktu istirahat sudah usai. Kemenangan berada di tangan Sam saat bertanding dua lawan dua dengan siswa most hunted di sekolahnya.
Kini, julukan itu tertuju untuk Sam yang sebenarnya masih suka mengurung diri di kelas.
Terbukti setelah pertandingan basket di jam istirahat pertamanya, banyak siswi yang berlalu lalang di depan kelas Sam hanya untuk melihat Sam dari jarak dekat.
Kelas yang biasanya sepi itu kini menjadi ramai. Bahkan tak jarang ada yang berani masuk hanya untuk memberi sebuah surat yang sepaket dengan snack nya untuk Sam.
"Hai Sam, ini buat Lo dari gue anak Bahasa" kata salah satu siswi yang memiliki mental baja karena berani mengutarakan isi hatinya tanpa rasa malu.
"Buat gue? Untuk apa?" tanya Sam heran. Dulu di sekolahnya yang lama tak ada teman yang seberani itu.
"Lo baca saja ya, jangan lupa sekalian dimakan snack nya" kata si gadis.
Merasa tak mendengar jawaban dari Sam dan Sam hanya melihat hadiah di tangannya dengan tampang ragu membuat gadis itu kembali berkata, "Lo tenang saja Sam. Gue nggak naruh pelet atau sejenisnya kok di makanan itu. Aman semuanya. Lo bisa makan dengan tenang. Jangan dibuang ya, dah Sam" ucapnya sambil berlalu dengan wajah malu.
"Cewek aneh" gumam Sam.
"Hadiah yang keberapa Sam?" tanya Mawan.
"Sini gue kumpulin, lo baca dulu suratnya" kata Mawan lagi yang sejak tadi mengumpulkan hadiah-hadiah yang Sam dapatkan.
"Lo baru keluar kelas dalam hitungan beberapa menit sudah sepopuler ini, Sam. Coba kalau lo tiap hari mejeng di lapangan. Gue yakin kalau tuh cewek-cewek langsung bawa keluarganya ke rumah lo" celetuk Mawan sambil membuka salah satu snack hadiah untuk Sam, dan memakannya.
Rasa galau yang Sam rasakan sedikit berkurang dengan aktivitasnya membaca surat-surat dari para fans barunya.
Membuat Doni, si ketua OSIS yang sebelumnya adalah most wanted yang tergeser oleh Sam merasa sedikit terganggu.
"Lo mau gabung di OSiS?" tanya Doni yang entah sejak kapan berada di depan meja Sam.
Bahkan Mawan yang sedang sibuk dengan snack nya pun tak menyadari kehadiran Doni.
"Gue nggak minat sih. Cuma ngabisin waktu" jawab Sam yang keberatan.
Dengan gaya coolnya memasukkan kembali beberapa lembar surat ke dalam laci mejanya dan bersiap menanggapi obrolan dengan Doni.
"Di sekolah ini ada satu peraturan yang mewajibkan muridnya untuk ikut ekskul minimal satu saja. Dan gue harap, lo mau gabung di OSIS saja" desak Doni.
"Gue nggak minat kalau OSIS. Dan jujur gue baru tahu tentang peraturan itu. Sepertinya gue lebih milih basket sih daripada OSIS" jawab Sam.
"Oke. Basket juga tidak apa-apa. Yasudah, gue balik ke kelas dulu" pamit Doni begitu saja.
Percakapan itu telah menyita perhatian banyak orang, terbukti dengan banyaknya murid yang mencuri dengar obrolan mereka.
"Lo jadi terkenal sih sekarang, Sam" kata Mawan lirih.
"Gue nggak perduli, Wan" jawab Sam dingin.
__ADS_1
Belum tahu saja para siswi di sekolahnya ini dengan para siswa di sekolah lama Sam. Kalau sampai mereka tahu, pasti mereka akan kebingungan untuk mengidolakan siapa karena sebagian besar murid di sekolah lama Sam berwajah tampan.
Mungkin faktor status sosial juga mempengaruhi tampilan seseorang.
Sam masih saja merasa galau saat sendirian, mengingat wajah cantik Lian yang berseliweran dalam benaknya. Hingga para siswi yang berkeliaran di sekitarnya terlihat biasa saja di mata Sam.
"Lian, lo dimana? Bagaimana keadaan Lo? Apa lo sehat? Apa mereka menyiksa lo?" berbagai pertanyaan bertebaran di otaknya.
Dan jalan yang bisa dia gunakan untuk sedikit menghilangkan rasa was-was nya adalah mengirim pesan pada Lia, kakaknya.
"Kak, sidah dapat kabar tentang Lian?"
kembali satu pesan terkirim ke nomor kakaknya.
"Kak, tolong cariin Lian"
rengek Sam dalam pesannya.
"Kak"
"Kakak"
Lia sampai jengah dengan ratusan spam pesan dari adiknya itu. Dan saat Lia menghubungi Ken, hanya sedikit info yang baru Ken dapatkan.
"Hallo kak Ken" sapa Lia untuk meneruskan spam pesan daei adiknya.
"Ada apa Lia?" tanya Ken yang kebetulan juga tengah mempelajari video cctv dari jalan dimana Lian dibawa para pria ke dalam van.
"Sudah dapat info tentang gadis itu, kak?" tanya Lia.
"Kebetulan aku sedang melihat video di jalan pagi itu, saat mereka membawa si gadis" jawab Ken yang masih fokus.
"Lalu?" tanya Lia.
"Dari plat nomornya, kakak tahu jika itu mobil milik pimpinan sebuah bar yang sudah tutup. Tapi anak buah kakak masih mencari tahu kebenarannya, Lia. Paling lambat besok siang semua infonya sudah kakak emailkan padamu" jawab Ken.
"Baiklah, terimakasih kak. Lia tunggu kabar dari kak Ken selanjutnya" kata Lia mengakhiri panggilannya.
Dan Liapun meneruskan info yang dia dapat pada Sam agar adiknya yang sedang galau itu tak lagi mengganggunya sepanjang waktu.
Dan bagi Sam, info yang masih setengah seperti itu semakin membuatnya merasa kacau. Karena Lia menyebutkan kata Bar. Sam jadi terus berfikir akan keselamatan Lian yang polos dalam kungkungan para manusia tak bermoral.
.
.
.
__ADS_1
.