
Mengingat janji Lian untuk bersama ke kantin saat jam istirahat, membuat Sam tak sabar menunggu waktu berlalu.
Dan benar saja, begitu bel berdenting segera dia menuju ke meja Lian yang berada di barisan depan untuk mengajaknya pergi. Tentu Mawan ikut membuntuti, ada hal yang mengganjal dalam pikirannya dan akan dia tanyakan pada Lian nanti. Semoga ada celah.
"Ayo ke kantin" ajak Sam duluan.
Dengan berat hati, Lian tentu harus menyanggupi daripada Mawan semakin curiga.
Sepanjang perjalanan mereka, banyak pasang mata yang memandang kagum karena mendengar desas desus tentang selamatnya Sam dari pembegalan atas bantuan Mawan.
Tapi tak ada satupun dari mereka yang berani bertanya karena sudah diwanti-wanti oleh pihak sekolah untuk bersikap biasa saja terhadap mereka saat sudah masuk sekolah. Dan beruntung semua murid mematuhinya.
"Kalian mau pesan apa? Biar gue yang pesankan" ujar Sam penuh semangat demi sang pujaan hati. Sementara untuk Mawan, tentu karena Sam merasa jika masih kasihan padanya.
"Biar aku bantuin kamu deh, Sam" ujar Lian sedikit memaksa.
"Tidak perlu Lian, karena Sam masih kuat jika hanya membawakan tiga mangkuk bakso saja, iya kan Sam?" kata Mawan yang berusaha mencari kesempatan agar bisa berdua saja dengan Lian.
"Lo benar, Wan. Kalian disini saja, mai bakso kan?" tanya Sam.
Dan mau tak mau, Lian haris mengangguk. Dia terjebak dalam suasana tak bersahabat kali ini. Mawan cukup cerdik untuk mencari kesempatan.
"Gugup amat neng? Kayak bocah mau disunat saja. Santai dong" ujar Mawan, memang Lian terlihat jelas kegugupannya. Duduknya tak bisa tenang.
"Eh, nggak kok Wan. Aku biasa saja" ujar Lian takut-takut.
"Kemarin waktu Sam dikeroyok, lo lari kemana Lian?" tanya Mawan dengan pandangan mengintimidasi.
"Ehm, ke perkampungan terdekat Wan. Lelah banget lari dari kejaran penjahat itu" kata Lian berusaha bersikap sewajar mungkin.
"Kampung yang sebelah mana?" tanya Mawan.
"Kampung yang diseberang jalan itu" jawab Lian.
"Kok lo bisa tahu kalau ada kampung disitu?" tanya Mawan lagi.
"Ehm, dari itu... dari kabel listrik yang masuk desa" jawab Lian sebisanya.
"Kampung yang banyak pohon pisangnya?" tanya Mawan.
"Iya itu, betul" jawab Lian bersemangat.
"Kok gue bisa nggak ketemu ya sama lo? Padahal gue juga baru dari kampung itu, bawa motor dan pisang. Lo tahu sendiri kalau gue ke sana sengaja untuk cari pisang" rupanya pertanyaan Mawan tadi hanya untuk menjebak Lian saja.
"Oh, nggak Wan. Aku baru ingat kalau aku larinya ke kampung yang sebelahnya lagi, bukan yang banyak kebun pisangnya" jawab Lian bertambah gugup.
"Tapi cuma ada satu jalan Lian, baru setelah masuk perkampungan, ada banyak jalan yang bercabang. Sedangkan dari jalan poros, hanya ada satu jalan terdekat, dan untuk ke kampung yang lain, jaraknya lebih dari satu kilo" kata Mawan dengan santainya, membuat Lian semakin terlihat bingung dan memandang tak tentu arah.
"Sewaktu gue baru keluar dari perkampungan, yang gue lihat ada dua mobil terparkir di sisi jalan. Meskipun kaca jendelanya berwarna hitam, tapi gue yakin ada cewek yang lagi duduk manis di dalam mobil itu yang lupa melepaskan helmnya. Ehm, apa lo tahu siapa kira-kira cewek itu, Lian?" tanya Mawan.
Mendengar itu semakin membuat Lian membelalak kaget. Memang kemarin dia lupa melepaskan helmnya saat turun dari motor Sam. Bahkan helm itu dia lepaskan saat sudah sampai rumahnya. Para preman suruhan Eripun tak mengingatkan jika Lian masih memakai helm.
"Lagi ngobrolin apaan sih? Kelihatannya seru banget?" tanya Sam yang sudah datang dengan tiga botol minuman dingin, sementara tiga mangkuk bakso pesanannya dibawakan oleh penjaga kantin.
"Eh, Sam. Kita nggak lagi ngobrolin apa-apa kok. Cuma Lian lagi cerita kalau dia itu suka lupa buat melepaskan helmnya meski sudah turun dari motor. Iya kan Lian?" pertanyaan Mawan itu sangat riskan untuk dijawab.
Lian bingung harus bagaimana. Dijawab salah, tak dijawab pun bertambah salah. Akhirnya dia hanya tersenyum tanpa bersuara, sambil menata mangkuk dari nampan ke atas meja.
Hari ini Lian masih terselamatkan dengan datangnya Samuel, entah di hari esok saat ada kesempatan untuk mengobrol dengan Mawan dan berdua saja apakah dia masih bisa untuk mencari kebohongan lain demi bisa menutupi kebohongannya hari ini.
Dan selama acara makan siang kali ini, Lian merasa sangat tak nyaman karena dilihatnya Mawan yang sering kali menatap curiga ke arahnya.
Sementara Sam tak menyadari hal itu. Karena rasa spesial di hatinya untuk Lian malah membutakan mata hatinya untuk mendengarkan kejujuran dari sekelilingnya. Dan hanya kebohongan demi kebohongan dari mulut Lian lah yang Sam percayai.
__ADS_1
Lain Sam lain pula Lia. Rupanya kedua keturunan Alexander itu tengah dilanda kasmaran.
Lia yang sedang didekati oleh Sebastian pun tak pernah melihat sisi buruk dari pria itu. Apalagi Viviane yang juga tertarik dengan visual Sebastian yang good looking semakin membuat Lia yakin jika pria itu memang jodohnya.
"Kartu ATMku tertinggal di kantor, Lia. Tadi aku lupa untuk mengambilnya dari sekretarisku. Dan kebetulan uang cash di dompetku juga tinggal sedikit karena tadi aku sumbangkan ke badan amal. Bisakah memakai uangmu dulu untuk membayar makanan ini? Nanti setelah sampai kantor akan aku transfer semua billnya padamu" lagi-lagi Sebastian beralasan untuk mengelak dari bill restoran yang cukup besar.
"Tentu saja. Tidak masalah. Ini mbak, pakai card saya saja" kata Lia yang menyodorkan black card-nya.
Sebastian sedikit melotot melihat black card milik Lia. Dalam benaknya, Sebastian juga menginginkan kartu yang seperti itu.
"Ini kartu anda, nona. Terimakasih" ucap waiters setelah transaksi pembayaran selesai.
"Sama-sama, mbak" jawab Lia sambil memasukkan kartunya ke dalam tas mungil di pangkuannya.
Tak lupa pandangan mengejek waiters itu layangkan pada Sebastian yang dianggapnya hanya berpura-pura saja.
Mungkin cukup banyak lelaki yang melakukan hal yang sama dengan Sebastian di restoran itu, hingga membuat si waiters merasa risih dengan berbagai alasan dari si pria demi tak membuat harga dirinya jatuh.
"Oke, sebaiknya kita segera kembali ke kantor masing-masing karena jam dua nanti aku masih ada meeting dengan klienku, Tian" ujar Lia membuyarkan aksi nakal Tian.
"Oh, ok. Tentu saja. Ayo segera pergi" jawab Sebastian.
Lia tak membawa mobil sendiri tadi, karena Tian berinisiatif untuk menjemput gadis itu setelah melakukan janji mendadak dengannya.
"Bagaimana Lia, apakah kau mau untuk mempertimbangkan perasaanku yang menyukaimu? Bisakah kita berhubungan lebih dari sekedar teman? Maukah kau menjadi kekasihku, Lia?" tanya Tian setelah keduanya duduk manis di dalam mobil Tian.
Bahkan Tian sudah mempersiapkan sebuah cincin bermata biru yang cantik demi mengutarakan maksud hatinya pada Lia.
Lia terkejut, dia tak menyiapkan jawaban apapun di dalam otaknya jika sewaktu-waktu Tian kembali membahas hal ini.
"Kau menembakku, Tian?" tanya Lia sedikit malu.
Tian hanya mengangguk dan semakin memperjelas jika ada cincin di tangannya untuk diberikan pada Lia.
__ADS_1
Meski begitu, wajah cantik Lia bersemu merah karenanya. Memang rasanya seperti sedang terbang ke awan saat seseorang sedang mengutarakan isi hatinya padamu. Apalagi jika orang itu juga cukup berarti di hati kita.
"Jawablah, Lia. Tanganku sudah cukup pegal untuk membawa cincin yang penuh cinta ini untukmu" kata Tian membuyarkan lamunan Lia.
Merasa terdesak dan tak ada alasan untuk mengelak. Maka mau tak mau pun kini Lia dengan spontan mengangguk malu.
Mengisyaratkan jika dia menerima Tian sebagai kekasihnya.
"Oh god, thank you for today. Aku sangat mencintaimu, Lia. Pakailah cincin ini sebagai tanda jika kita adalah sepasang kekasih" ujar Tian sambil menyematkan cincin di jari manis Lia, dan ukurannya memang sangat pas.
Lia hanya tersenyum dan mengangguk. Kini dalam hatinya bertanya-tanya, apakah benar keputusan yang baru saja diambilnya kali ini?
Tapi untuk mundurpun sudah terlambat, katena cincin itu sudah tersemat cantik di jarinya.
Tian mendekatkan wajahnya pada Lia, berusaha untuk sekedar mendapatkan kecupan dari kekasih barunya itu.
Tapi dengan refleknya, Lia menahan bibir Tian yang sudah sedikit monyong. Menyiratkan jika Lia masih belum mau disentuh olehnya.
"Why? Kita adalah kekasih, sayang" keluh Tian.
"Aku masih belum bisa melakukan itu pada siapapun selain ciuman sayang di pipiku oleh papa" jawab Lia mantap, tak ingin prinsipnya terkhianati.
"Oh, baiklah. Suatu saat nanti, aku yakin jika kaupun akan rela menciumku sebagai seorang pria yang berarti dalam hidupmu" jawab Tian dengan bijaknya, menutupi rasa malu akibat penolakan Lia.
Dan setelahnya, Tian langsung tancap gas untuk mengantarkan Lia ke kantornya terlebih dahulu.
Di sepanjang perjalanan, Tian selalu saja tersenyum manis saat netranya tak sengaja bertabrakan dengan netra Lia yang kemudian tertunduk malu.
Meski belum ada getaran perasaan cinta, tapi hati Lia berdegub karena malu dengan hubungannya yang baru.
.
.
.
__ADS_1
.