
"Hei Lian, sedang apa kau disini?" tanya sebuah suara yang membuatnya berhenti dan melihat pada orang itu dengan terkejut.
"Eh... Ehm ... Mawan? Kamu kok bisa ada disini?" tanya Lian sambil celingukan, melihat ke sekitarnya yang merupakan deretan ruko.
Dan Bar milik Eri berada agak di belakang, bar itu adalah bangunan terbesar daripada ruko lain di sekitarnya. Dan tentu saja tiap siang hari selalu tutup.
"Gue barusan habis nganterin pesanan orang. Lah Lo sendiri ngapain disini?" kembali Mawan bertanya dengan pandangan penuh selidik.
"Ehm, aku ehm, barusan bertemu dengan ibu. Sekarang aku mau pulang dulu karena tadi sepulang sekolah aku langsung kesini" jawab Lian jujur, dia memang gadis polos yang sulit berbohong tapi nasib membuatnya harus bersikap sedikit jahat.
"Ibu Lo ada di bar itu?" tanya Mawan menegaskan.
Lian semakin sulit berfikir, gadis itu terlalu gugup dengan pertanyaan spontan yang belum dia pikirkan terlebih dahulu jawabannya.
"Ehm,iya Wan. Aku pulang duluan ya Wan. Soalnya sudah sore. Tugas rumah kita hari ini banyak sekali. Apa kamu sudah mengerjakannya?" tanya Lian mengalihkan perhatian Mawan.
"Iya, lo benar. Tugas kita banyak banget. Gue juga belum ngerjain sih. Yasudah lo pergi duluan sana. Masih ada beberapa pesanan orang yang mau gue anterin nih" ucap Mawan sambil memperlihatkan beberapa kantong kresek berisi gorengan yang sudah dipesan beberapa karyawan dari ruko-ruko di sekitaran sana.
"Ehm, iya Wan. Kamu semangat ya kerjanya. Aku pergi dulu. Dah Mawan" pamit Lian dengan perasaan lega karena bisa terbebas dari pandangan Mawan yang teliti.
Mawan hanya tersenyum, dan tetap memandangi kepergian Lian. Mulai dari supirnya yang sigap membukakan pintu mobil sampai mobil yang Lian tumpangi hilang di jalanan yang cukup ramai.
Kini Mawan terdiam, mencoba berfikir untuk mencari tahu perihal Lian dimulai dari Bar ini saja terlebih dahulu.
"Bar Norita. Fotonya jelek banget" ejek Mawan yang memandangi bangunan bagian depan dari ruko itu.
Baliho besar berisikan sebuah foto jadul milik Norita yang sedang berdandan tebal tergambar disana. Dengan tulisan besar yang juga berwarna-warni, "Norita cafe and karaoke".
"Gue harus bertindak cepat sebelum keselamatan Samuel kembali terancam" gumam Mawan dalam hatinya.
Sebelum melakukan itu semua, hal pertama yang harus Mawan lakukan adalah mengirim gorengan yang masih panas di dalam beberapa kantong kresek berembun itu kepada pemesanannya.
__ADS_1
Setelah menstater motornya, Mawan segera beranjak sambil berfikir bagaimana caranya untuk bisa mendapatkan informasi dari bar itu.
Malam harinya, dengan hati berdebar Mawan bergegas membawa motor barunya ke arah Bar Norita yang pasti sudah buka karena sudah pukul sembilan malam.
Berbekal KTP yang berhasil dia dapatkan dengan mengambil secara diam-diam dari dompet temannya yang tadi sempat nongkrong di tempat orang tuanya yang menjual gorengan.
Namanya Sandi Gumilang, usianya sudah 18 tahun, jadi dia sudah mempunyai KTP.
Mawan memandangi foto dalam KTP itu dan sekilas memang wajahnya sedikit mirip dengannya.
Sudah sampai di parkiran bar, memakai celana jeans biru dan kaos santai yang terbungkus jaket levis, Mawan masuk dengan penuh keyakinan.
"Lo orang baru ya? Sepertinya baru kali ini lihat muka lo" kata pria berbadan tegap yang berdiri di depan pintu Bar.
"Iya bang. Baru pertama kali juga gue masuk tempat beginian. Gue lagi suntuk banget bang. Pacar gue tiba-tiba mutusin gue dan nikah sama orang lain. Gue kan jadi galau bang" keluh Mawan berpura-pura, semoga saja pria itu percaya padanya.
Pria itu melihat tampilan Mawan dari ujung kepala sampai ujung kaki. Menilai apakah Mawan jujut atau tidak.
"Nama lo siapa? Tunjukin KTP lo ke gue" kata pria itu masih dengan mata penuh selidik.
"Nama gue Mawan, nih KTP gue bang" jawab Mawan.
"Coba ulangi siapa nama lo?" tanya pria itu lagi, sambil mengamati dengan benar nama yang tertera di KTP itu.
"Mawan bang" jawab Mawan masih belum sadar.
"Terus lo kesini bawa KTP siapa?" tanya pria itu sambil memegang tangan Mawan dan menaruh KTP di telapak tangannya dengan kasar.
"Nama gue memang Sandi Gumilang, bang. Tapi biasanya orang kampung manggil gue Mawan soalnya waktu kecil gue suka makan sambil lihatin awan, makanya gue dipanggilnya Mawan, singkatan dari Makan kok lihat awan. Gitu bang" jawab Mawan dengan sedikit mengarang bebas.
"Gue masih belum sempat ngurus SIM, bang. Ini saja KTPnya gue dapat kemarin" jawab Mawan.
Belum sempat pria itu kembali mengintrogasi Mawan, terlihat temannya datang dan berbisik padanya. Raut wajah pria itu sedikit berubah setelahnya, membuat pria itu langsung memperbolehkan Mawan untuk masuk tanpa berminat lagi untuk memberi Mawan pertanyaan.
"Masuk lo, jangan sampai teler lo" kata pria itu sambil berlalu pergi.
"Huft, selamat" gumam Mawan sambil mengelus dada.
Kini dia beranjak untuk memasuki ber itu semakin dalam. Dan sensasi pertama yang dia rasakan adalah bau asap rokok dan alkohol yang begitu menyengat.
Bercampur menjadi satu dan membuat lubang hidung Mawan menjadi kembang-kempis karena baru pertama kalinya juga dia masuk ke tempat seperti ini.
Semakin ke dalam, mata Mawan semakin terbelalak karena melihat tampilan para manusia yang tak tahu malu.
"Buju buset" gumam Mawan dengan wajah terkejut saat melihat banyak wanita yang hampir tel*nj*ng sedang mengitari tiang besi yang tertancap di tengah meja, mereka menari seperti orang yang kesetanan sambil membawa rokok atau gelas berisi minuman memabukkan.
Sebagian wanita yang lainnya sudah dihampiri oleh pria yang juga menari sambil memegangi area tubuh dari si wanita sesuai keinginannya.
Di meja lainnya bahkan sudah ada pria berbadan besar yang berhasil menggendong satu wanita ala bridal style dan memasuki lorong gelap yang selanjutnya Mawan tak mengerti mereka mau kemana.
"Hei bro! Lo baru pertama masuk ke tempat beginian ya?" tanya sebuah suara sambil menepuk bahu Mawan.
"Ayo duduk bareng gue" ajaknya lagi.
Mawan tak bisa menolak, karena dia masih amatir tentang semua ini. Maka diapun duduk bersama pria muda yang Mawan yakin jika usianya pun sama seperti Sandi.
"Gue Willy, lo siapa?" tanyanya.
__ADS_1
"Ehm, gue Sandi" jawab Mawan menyebutkan namanya sesuai KTP.
"Oke Sandi, Apa sebelumnya Lo pernah minum?" tanya Willy.
"Belum" jawab Mawan singkat, karena memang dia tak pernah menyentuh alkohol sebelumnya, merokokpun dia tak pernah.
"Gue tahu apa yang lo butuh" ucap Willy yang langsung beranjak ke meja bar untuk memesankan Mawan minuman.
Suara Mawan untuk mencegah Willy tak terdengar oleh kerasnya alunan musik yang membuat tubuh pengunjung disana bergoyang.
"Nih buat lo, kadar alkoholnya cukup rendah. Jadi aman buat pemula seperti lo" kata Willy dengan segelas minuman berwarna biru di tangannya.
"Cobain dong, jangan lo lihat doang" perintah Willy.
Mawan sangsi untuk menenggak minuman itu, "Warnanya mirip bensin" komentar Mawan sebelum yakin untuk memasukkan cairan itu kedalam mulutnya.
Dan itu membuat Willy tergelak kencang karena meras lucu.
Seteguk saja, dan itu membuat Mawan kembali menyemburkan cairan birunya. "Pahit banget, enakan juga jamu" katanya berkomentar.
Willy hanya tertawa sambil terus menggoyangkan badannya sesuai irama musik dan sesekali menyeruput minumannya dan menghisap rokoknya secara bergantian.
"Lo sering kemari?" tanya Mawan.
"Ya, kalau gue lagi suntuk dan pengen yang anget-anget bro, hahaha" jawab Willy sambil terkekeh.
"Lo tahu siapa pemilik bar ini?" tanya Mawan lagi.
"Dulu madam Norita, dia sering ngasih gue diskon kalau gue lagi bokek. Tapi sudah lama gue nggak lihat tuh wanita tua, dan sekarang rumornya dia digantikan oleh wanita cantik yang namanya Eri" jawab Willy yang ternyata sangat faham dengan seluk-beluk bar itu.
"Lo sering kemari?" tanya Mawan.
"Sure. Kalau gue dapat banyak bonus dari pelanggan gue dan kalau gue lagi pengen kawin bro" jawab Willy.
"Kenapa nggak nikah saja, bro?" tanya Mawan heran, sedikit lupa dengan tujuannya.
"Gue tipe orang yang nggak suka dengan sebuah ikatan, bro. Biarlah begini biar hidup gue lebih berwarna" jawabnya.
"Eh, iya. Lo tahu nggak apa hubungan dari pemilik lama dan pemilik baru dari bar ini?" tanya Mawan lebih berkonsentrasi agar misinya visa segera disudahi.
"Katanya sih si Eri ini berhasil ngabisin nyawa Norita karena dendam" jawab Willy dengan nada rendahnya, sepertinya hal itu sudah menjadi rahasia umum dan Eri bisa selamat dari ranah hukum karena uang.
Mawan sedikit terkejut mendengarnya, dia pikir hal yang seperti itu hanyalah sebuah cerita orang tua untuk menakuti anaknya.
"Lo tahu banyak ya" kata Mawan.
"Rahasia umum, bro. Gue tahu karena sering kemari, bahkan gue punya kartu member disini" jawab Willy sambil menunjukkan kartu membernya.
"Kenapa lo bisa langsung nyaman ngobrol sama gue? Padahal kan bisa saja gue suruhan pegawai disini buat nyari orang yang terlalu banyak tahu macam lo" kata Mawan.
Willy sedikit berpikir kali ini, dan memandangi Mawan dari atas hingga ke bawah lalu tertawa.
"Lo saja nggak bisa minum alkohol, bagaimana mungkin jadi mata-mata" ejek Willy.
Mawan terdiam, lalu mengedarkan pandangannya untuk mencari petunjuk lain. Dan fokusnya berbuahkan hasil saat melihat seorang wanita cantik dan seksi datang dari pintu samar dengan diiringi dua pria kekar di belakangnya.
Keinginan Mawan hanya satu, dia ingin bisa masuk ke dalam ruangan di balik pintu itu.
Berhasilkah Mawan dengan misinya?
.
__ADS_1
.
.