My Angel Baby

My Angel Baby
Kondisi dua korban


__ADS_3

"Sumpah bukan aku orang yang ada di dalam foto itu, Lia. Kamu percaya kan padaku?" Bayu berusaha meyakinkan Lia yang hanya diam sejak memasuki mobilnya bersama Bayu.


"Entahlah. Aku bingung harus percaya pada siapa, kak. Silvi itu temanku, tidak mungkin kan kalau dia berbohong. Tapi untuk percaya, aku pun masih yakin padamu" jawab Lia sambil menatap ke luar jendela mobil.


"Bisakah kau membuktikannya?" tanya Lia penuh keseriusan.


"Pasti. Aku akan berusaha membuktikan semuanya padamu. Pasti ada hal kecil yang tak Silvi sadari telah mengecohnya, dan bisa menjadi bukti yang akurat untukku" jawab Bayu yang sudah memikirkan nama Ken, satu-satunya orang yang bisa melihat kejanggalan dalam bukti yang Silvi berikan.


Hingga sampai di rumah sakit, Lia kembali menampilkan wajah cerahnya demi membuat Sam lebih kuat. Anak itu terlihat sangat kacau.


"Kak, untunglah kalian sudah datang. Tolong lihat kondisi Lian, kak. Apa sudah ada kemajuan?" rengek Sam yang hampir menangis.


Bayu dan Lia tak tahan melihat sikap ceria Sam yang biasanya bisa sirna begitu saja karena kekuatan cinta.


"Aku akan masuk dan memeriksa keadaannya, Sam. Tenangkan dirimu" jawab Bayu sambil menepuk pundak Sam.


Tanpa banyak kata, Bayu segera memasuki ruangan khusus dimana Lian yang sudah berhasil dioperasi untuk mengeluarkan peluru dari dalam tempurung kepalanya masih saja memejamkan mata.


Sudah lebih dari lima kantong darah telah habis untuk mencukupi kebutuhan tubuh Lian. Tapi masih saja gadis itu tak mau membuka matanya.


Bayu melihat kondisi Lian yang telah melalui masa kritis setelah operasi yang dilaluinya beberapa jam yang lalu, tapi masih tetap sama. Hanya hening yang dia rasa, dengan suara mesin penunjang hidup yang menjulurkan kabel beraneka warna dan menghubungkan ke tubuh Lian. Selebihnya, belum ada kemajuan apapun.


"Kondisinya masih sama, dia sedang mengalami koma. Entah kapan dia akan sadar, hanya semangat dari dalam dirinya sendiri yang bisa membuat kondisinya semakin membaik, Sam" ucapan Bayu sama dengan dokter yang sebelumnya telah memeriksa kondisi Lian, namun Sam tak mempercayai dokter tersebut dan meminta Bayu untuk memeriksa ulang.


Sam hanya bisa pasrah, berharap kondisi Berliannya akan semakin membaik dan dia bisa mewujudkan impiannya untuk bersanding dengan gadis cantik yang selalu ada dalam hatinya.


Sementara Lia teringat akan Johan, segera gadis itupun berkunjung ke ruangan pria yang dianggapnya saudara itu. Dan Bayu juga masih mengekor, dia akan selalu menemani Lia.


Ruangan Johan berada tak jauh dari tempat Lian, diapun masih berada di dalam UGD. Tapi setelah operasi pengangkatan peluru dari dalam perutnya, kini Johan nampak lebih baik daripada Lian meski terlihat sangat pucat. Johan sudah sadar.


"Lia, akhirnya kamu datang mengunjungiku" ucap Johan dengan wajah berbinar melihat kedatangan Lia.

__ADS_1


Sementara Bayu menemui dokter yang telah mengoperasi Johan untuk mengetahui keadaan yang sebenarnya.


"Kau terlihat sudah lebih baik, Jo. Cepatlah sembuh, dan terimakasih banyak karena kamu telah bersedia melindungi Samuel" kata Lia yang tiba-tiba merasa canggung.


"Ya, aku merasa sudah sangat sehat. Mungkin setelah infus ini habis, aku sudah bisa pulang" kata Johan berusaha bercanda untuk menghilangkan suasana tegang diantara mereka.


"Tentu saja belum boleh pulang, kau masih sangat pucat. Memangnya sudah berapa kantong darah yang telah kau habiskan? Kenapa wajahmu masih pucat begini?" tanya Lia sedikit cerewet, Johan suka mendengar suara itu.


"Aku ini seorang pria, Lia. Dan aku harus kuat. Aku bukan lagi Johan kecil yang hanya bisa bersembunyi saat tahu mommynya berbuat jahat. Aku yang sudah besar begini harus berani menegur mommy saat dia berbuat salah" kata Johan sambil melihat ke awang-awang, Lia jadi teringat Johan kecil yang hanya bisa menangis saat ada orang yabg jahat padanya, dan Lia yang selalu memasang badan untuknya.


"Bisa kita bicara sebentar, Lia?" tanya Bayu.


Lia menoleh, setelah membelai dahi Johan yang berpeluh menggunakan tisu, Lia menghampiri Bayu yang melihatnya dengan tatapan nanar.


"Ada apa?" tanya Lia datar, dia belum bisa move on dari masalah sebelumnya dengan Bayu.


"Johan tertembak di bagian perutnya dan mengenai organ hatinya dengan cukup parah. Hampir sembilan puluh persen hatinya rusak akibat terkoyak dari peluru yang bersarang lebih dari satu jam di dalamnya" kata Bayu menjelaskan foto hasil Rontgen pada kerusakan organ dalam Johan.


Lia tak percaya, dengan mata berkaca-kaca dia menatap Johan yang juga tengah melihatnya sedang berbicara dengan Bayu.


"Dia membutuhkan donor hati secepatnya, karena dia tak bisa untuk terus hidup dengan hati yang telah rusak" kata Bayu.


"Apa semua orang bisa menjadi pendonor untuknya?" tanya Lia, Bayu mengerti arah pembicaraan ini.


"Tentu saja tidak. Karena dia butuh hampir seluruh hari dari pendonor nya. Pendonor itu bisa saja orang yang mati karena kecelakaan dengan kondisi hati yang masih bagus, sedangkan untuk orang lain dengan penyakit kronis yang hampir meninggal tentu bukanlah pilihan yang tepat karena bisa dipastikan jika kondisi organ hati mereka juga sudah rusak akibat komplikasi" jawab Bayu.


"Lalu kita harus bagaimana, kak? Apa harus menunggu di jalanan untuk mencari korban kecelakaan?" keluh Lia yang sudah hampir putus asa, dia sangat mengkhawatirkan kondisi Johan.


"Para dokter masih mencari jalan terbaik dan saling menginformasikan jika ada korban di jalanan. Semoga semuanya bisa segera diatasi" jawab Bayu.


Lia tak tahu harus berbuat apa, dengan langkah yang berat dia kembali menghampiri Johan.

__ADS_1


"Bagaimana perasaanmu, Jo?" tanya Lia.


"Aku bahagia, Lia" jawab Johan dengan senyum terpaksa.


"Apa yang kau rasakan?" tanya Lia.


"Aku sudah merasa sangat sehat" jawaban Johan malah membuat Lia menangis.


"Jangan menangis Lia, kau ini cengeng sekali" ujar Johan.


"Jangan berbohong, Jo" kata Lia terbata, ada Bayu disebelahnya.


"Haha, iya. Aku memang berbohong, Lia. Aku ini payah sekali karena tak bisa untuk membohongimu" kata Johan, kini dia merintih.


"Sebenarnya di dalam perutku ini rasanya sakit sekali, Lia. Sepertinya aku sudah tidak tahan lagi" kata Johan sambil memegangi luka bekas operasinya yang masih tertutup perban.


"Tahan ya, Jo. Kau pasti bisa pulih kembali" kata Lia sambil menangis.


"Jangan menangis, Lia. Tolong, setidaknya jangan menangis di hadapanku. Aku tak bisa melihat air mata menetes di pipimu" kata Johan memelas, padahal dia sendiri pun sedang menangis.


"Kau sendiri sedang menangis" kata Lia.


"Aku hanya sedang menahan rasa sakit ini, Lia" kata Johan.


"Apa kau tidak punya obat penghilang rasa sakit yang ampuh, pak dokter? Tolonglah beri aku obat itu untuk mengurangi rasa perih ini. Aku tidak tahan lagi" rintih Johan pada Bayu.


Tentu ada obat yang seperti Johan inginkan, hanya saja untuk memberikan padanya perlu pertimbangan yang sangat matang.


Bayu tidak ingin kondisi Johan akan sama dengan Berlian yang hanya bisa bertahan dengan bantuan mesin penunjang kehidupannya.


"Aku tahu kondisiku seperti apa, Dokter Bayu. Tadi aku mendengar saat dokter sedang berdiskusi untuk penangananku. Kau tidak perlu merasa cemas begitu. Kita masih tetap rival meski keadaanku seperti ini" kata Johan, sementara Bayu masih terdiam dan mendengar celotehan Johan yang sebenarnya hanya untuk mengalihkan rasa sakitnya.

__ADS_1


"Aku tahu kondisiku sangat parah. Aku juga tahu kalau berlangsungnya hidupku tergantung pada pendonor yang nanti bersedia mendonorkan hatinya untukku" Johan masih saja berkata-kata.


Sementara Lia sudah menangis, tak tahu harus bagaimana untuk menolong Johan. Pasti rasanya sangat sakit sekali. Lia tak bisa membayangkannya.


__ADS_2