My Angel Baby

My Angel Baby
Baby?


__ADS_3


...MAB by VizcaVida...


...|29. Baby?|...


...Selamat membaca...


...Jangan lupa luangkan waktu kalian untuk memberi like, komentar, juga vote dan beri hadiah untuk Louis dan Angel ya teman-teman pembaca sekalian....


...[•]...


Jika tadi, perasaannya begitu kalut akan rasa takut yang menjalar ke seluruh sistem kerja otak nya, saat ini buncahan kebahagiaan telah memenuhi hati Louis. Ia duduk di sofa ruang tengah setelah menyalakan pendingin ruangan dan televisi. Lalu, dia menarik satu persatu kue pemberian Angel, dimana ada tiga kotak kue kering, dan satu box kue sponge.


Penasaran, Louis pun segera membuka box kue sponge yang menjadi keinginan Angel untuk mendapat testimoni. Tapi, setelah kardus itu terbuka, mata Louis seperti ingin melompat dari tempatnya. Sebuah tulisan tertera di bagian atas kue tersebut. Sebuah tulisan yang terdiri dari beberapa kata yang membuat jantungnya berdebar, dan darahnya berdesir cepat memenuhi nadi. Louis merasa ter-ilhami.


Mari berjuang sama saya, pak.


Sangking senangnya, Louis sampai melakukan selebrasi dengan meninju udara, kemudian duduk membanting diri di atas sofa. Dengan telapak tangan bergetar, dia mencari kontak Angel di ponselnya. Menunggu nada hubung berganti dengan suara lembut Angel dengan jantung berdegup kencang. Ia yakin, ia sedang jatuh hati pada Angel saat ini.


Begitu nada hubung terhenti, suara tawa Angel menyambut.


“Pak, saya menunggu testi nya Via pesan WhatsApp. Bukan sambungan telepon WhatsApp.” katanya sambil tertawa, yang juga dibalas tawa oleh Louis.


“Jari saya geter, nggak bisa ngetik pesan. Jadinya telepon saja.” cerocos Louis tak mau menanggung malu.


“Ouya? Kenapa geter pak? Kan saya tidak sedang menagih hutang sama bapak?”


Selera humor Angel mungkin agak kolot, tapi Louis menikmatinya. Ia suka karena Angel mau menerimanya.


“Kamu ... serius?”


Angel diam sejenak. Kemudian,


“Eum, ya. Saya pikir, saya tidak bisa berhenti sekarang. Jika saya berhenti, sama saja karena nama saya juga sudah tercoreng didepan mama nya pak Louis.”


Ternyata, Angel harus mendengarkan yang sejujurnya. Tentang alasannya mengajak berkencan, bukan hanya karena tuntutan menghindari perjodohan. Tapi tulus dari dalam hati.


“Perlu saya luruskan sama kamu, Angel.”


Angel diam menunggu kalimat Louis yang sengaja pria itu jeda.


“Saya serius. Saya sedang berusaha mencari pasangan hidup yang akan menemani saya sampai nanti saya tua.”


Mendengar itu, Angel seperti berubah menjadi bongkahan es yang begitu keras seperti gletser di samudra Atlantik.


Louis, mau menikahinya? Oh ayolah, pasti hanya bercanda.


“Ma-maksud bapak?”


“Tidak etis membicarakan hal sepenting ini di telepon. Saya akan bicara langsung didepan kamu, besok.”

__ADS_1


***


Bit-ch!


Wah ada si itik, ups! Ada itik yang berubah punya buku angsa.


Wah, hebat ya. Memang sih, nggak kaget kalau seleranya kayak pak Louis. Soalnya dia nggak tau malu.


Nggak tau diri.


Nggak tau malu.


Tai.


Semua kata-kata serta kalimat jahat dan kotor itu Angel terima sepanjang langkahnya beradu diatas lantai kantor tempatnya mengais rupiah. Ia tau ini resikonya. Ia tau apa yang akan ia hadapi bukan hanya kebencian sosial yang ditujukan padanya, tapi juga cacian yang bisa menggugurkan mental dan menyakiti hati. Tapi Angel tau, dia akan bisa melewati semuanya. Termasuk nyonya Hutama, wanita yang mengandung pria yang sebentar lagi menjadi kekasihnya, Louis.


Ya, semalam Louis sudah mengakui perasaannya. Tapi dia ingin berbicara langsung didepan Angel, mengatakannya sambil bertatap muka.


Membayangkan itu, hati Angel mendadak hangat. Ia tidak akan mendengar atau peduli olokan orang-orang yang akan membencinya. Ia hanya akan menjalani hari sebagai diri sendiri, tanpa peduli omongan negatif orang yang akan membuatnya down, meskipun jujur, itu sangat menyakitkan.


Sesampainya di ruang kerja, Angel di sambut senyuman merekam bibir merah merona mbak Rita. Wanita satu anak itu tersenyum lebar seolah tau keadaan.


Tentu saja, semalam Louis juga mengatakan kejujuran jika pria itu tau semuanya dari Rita. Wanita ini menjadi Mak comblang tanpa diminta.


“Aduh, ada yang sedang berbunga nih.” godanya sambil melirik Angel yang sudah mengambil duduk di kursi kerjanya.


“Kata mbak, suruh usaha. Nih lagi usaha.”


“Pak Louis semalam khawatir banget sama kamu, tau nggak.”


Rona di wajah Angel mulai timbul.


“Selamat menikmati kebucinan pak boss setelah ini, nak.”


Angel menoleh. Ia benar-benar malu kalau sampai Louis melakukan itu padanya. Padahal, mereka cuma mau coba-coba.


“Apa sih, mbak Rita.”


Rita tertawa sekali lagi dan mulai mengaktifkan komputernya. “Kamu tau sendiri bagaimana pak boss kalau sudah cinta sama satu orang. Dia bakalan berjuang mati-matian, nggak peduli panas, nggak peduli hujan.”


Istilah yang dibuat Rita sungguh membuat Angel ingin tertawa. Wanita berhijab itu memang sudah bekerja lebih lama dan lebih tau bagaimana seorang Louis. Tapi Angel juga tau, bagaimana cara Louis memperlakukan seorang wanita. Ia melihatnya dari bagaimana Louis memperlakukan Caca seperti seorang ratu, dulu.


Eum, memang itu hanya cerita masa lalu. Tapi tetap saja membuat Angel harus berusaha tidak merona jika membayangkan dia berada diposisi Caca.


“Kalau begitu, saya harus bagaimana mbak? Mundur saja kah? Saya sempat memikirkan ini, loh.”


“Oy, enak aja. Mana ada mundur. Maju tak gentar seperti kata bung Karno dong ih. Nggak seru kalau kamu mundur dan mengaku kalah sebelum berperang.”


Angel terkikik geli saat Rita mengibaratkan perjuangannya seperti perjuangan sang pahlawan proklamator yang sangat berjasa bagi bumi pertiwi itu.


“Mbak Rita ini bisa saja.”

__ADS_1


Rita mengulum senyum. Ia menekuk bibirnya ketika pintu ruangan berderit dan sosok Louis muncul dengan kharismanya yang tak terbantahkan sama sekali. Jantung Angel mendadak berdebar melihat presensi tinggi nan rupawan tersebut berjalan mendekat, bahkan menyempatkan diri berhenti didepan meja kerja mereka berdua untuk menyapa.


“Selamat pagi, Mbak Rita. Selamat pagi,” pria itu menjeda, menatap lekat pada sosok Angel yang sedang terpanah dan mengunci pandangan padanya. “—Angel.” lanjutnya, tersenyum manis hingga dada Angel dipenuhi gemuruh sorak gembira hatinya.


“Selamat pagi, pak Louis.” jawab keduanya, kompak.


“Sudah sembuh?”


Angel menundukkan kepala. “Sudah, pak. Berkat pertolongan bapak.”


Mendengar itu dari bibir Angel, Rita mengerutkan kening diam-diam.


“Baguslah kalau begitu. Selamat bekerja.” kata Louis dipenuhi semangat. “Oh iya, ngel.” tegurnya ketika mengingat ada sesuatu yang ingin dia sampaikan. “Jam sembilan lima belas menit, tolong ke ruangan saya.”


“I-iya, pak.”


Louis mengangguk kemudian berlalu. Tatapan kedua sekretaris mengantarnya hingga hilang dibalik pintu kaca tebal nan buram. Lalu, dengan gerakan cukup keras Rita menepuk lengan Angel.


“Di tungguin tuh. OTW bucin dia.”


***


Seperti yang diinginkan sang Presdir, Angel datang memasuki ruangan di jam sembilan lima belas menit. Ia mendorong pintu kaca setelah mengetuknya sebayak tiga kali.


“Selamat pagi, pak.” tutur Angel menginterupsi perhatian Louis dari layar ponselnya. Ia berniat memberitahu kedatangannya seperti yang biasa ia lakukan. Tapi serangan panik terjadi saat Louis menatapnya dengan sorot lembut dan seperti dipenuhi rasa ... sayang? Wah, Angel terlalu berkhayal sepertinya. Efek obat penghilang nyeri yang di berikan oleh Louis padanya semalam benar-benar membuatnya menjadi besar kepala.


Betul kata orang-orang yang membenci dan membicarakan dirinya. Dia memang nggak tau diri, nggak tau malu.


“Oh, Angel. Masuk.” titah Louis sambil meletakkan ponsel diatas meja dan mengubah atensinya pada presensi Angel.


“Bapak ada pertemuan dengan pihak sponsor di hotel Shangri-La pukul sebelas siang nanti.” kata Angel mengingatkan yang dihadiahi tawa kecil di bibir Louis.


“Iya. Saya ingat kok. Kamu sudah mengingatkan lewat pesan WhatsApp pada saya, tadi pagi.”


Lalu, mengapa dia di minta datang keruangan sepagi ini? Biasanya, Louis hanya ingin tau jadwalnya melalui sambungan telepon kantor di jam setengah sepuluh pagi, setelah itu, Angel melakukan pekerjaan seperti biasa.


“Maksud saya meminta kamu datang kesini, mau membuat janji sama kamu.” Louis berkata sambil menerima stopmap dari tangan Angel berisi materi pertemuannya nanti. “Saya ingin mengajak kamu makan malam nanti. Setelah pekerjaan selesai, saya akan jemput kamu di apartemen, bisa?”


Sejujurnya, Angel ingin berteriak dan melompat-lompat karena bahagia. Tapi ia tetap harus menjaga kode etik hati nya. Tidak boleh bertindak gila dan memalukan di depan pria yang ia sukai.


Angel tau, jadwal Louis padat sekali hari ini. Jadi, paling tidak pria itu akan pulang sekitar jam tujuh malam dari kantor.


“Bisa, pak.”


Mata mereka bertemu beberapa detik, kemudian Louis memutuskannya terlebih dahulu dengan membaca lembaran di atas meja kerjanya. “Baiklah. Kalau begitu, lanjutkan pekerjaanmu. Maaf karena setelah ini, saya harus kencan dengan mbak Rita full day terlebih dahulu. Sampai jumpa nanti malam, Angel.”


Mendengar itu saja sudah berhasil membuat pipi Angel merona. “Baik, pak. Selamat bekerja.”


Louis berdiri dan berjalan mendekati Angel. Tatapan mata mereka kembali bertemu, degup jantung keduanya bertalu, hingga Angel merasa lemas ketika lengan kekar berbalut kemeja hitam itu menyentuh puncak kepalanya dengan gerakan sangat lembut.


“Semangat bekerja, Angel, baby.”

__ADS_1


Dan setelah itu, Angel merasa sesak dan memerlukan tabung oksigen untuk mengembalikan kinerja paru-parunya agar kembali membaik. Perlakuan dan perhatian Louis terlalu manis, dan Angel tak mampu mengabaikan semua itu seperti perempuan yang rindu kasih sayang. Ia pastikan akan jatuh cinta sangat dalam kepada seorang Louis Furry Hutama, Presdir yang seharusnya tidak pernah boleh ia cintai. []


__ADS_2