My Angel Baby

My Angel Baby
Formasi lengkap Keluarga Hutama Dan Keluarga Rubel [END]


__ADS_3


...MAB by VizcaVida...


...|53. Formasi Lengkap Keluarga Hutama Dan Keluarga Rubel (END)|...


...Selamat membaca...


...[•]...


Fotografer kepercayaan keluarga Hutama itu sekali lagi di panggil untuk mengabadikan moment berharga keluarga itu dengan memotret formasi lengkap keluarga Hutama.


Para wanita duduk di bagian paling depan. Sedangkan para pria berdiri di barisan belakang. Jenita tersenyum penuh wibawa, di sebelah kanannya, ada Stefany yang juga tersenyum cantik dengan gadis berpipi gembil dan berwajah rupawan yang sama-sama tersenyum. Sedangkan disisi kiri, Angel dengan wajah Asia kebule-buleannya memangku seorang bayi laki-laki bertubuh gemuk, berwajah bule perpaduan antara gen yang dibawa Angel dari sang ayah, dan juga gen sempurna keluarga Hutama yang dibawa Louis.


“Satu, dua, tiga.”


Satu jepretan berhasil. Sang fotografer profesional menunduk dan memperhatikan layar kecil dari kamera mahalnya untuk mengecek hasil. Ada ekspresi salah satu anggota yang kurang pas, menurutnya.


“Kak Louis, tolong senyumannya yang tulus ya. Sekali lagi.” pinta sang fotografer. Semua mata tertuju pada Louis yang lagi-lagi membuat mereka harus berpose senyum dengan gigi kering. Stefany meraih Louis dan menepuk keras satu lengannya.


“Sekali lagi bikin gagal, bakal gue—” Stefany membuat gestur menggores lehernya dengan telapak tangan. Tapi Louis acuh dan berkata.


“Aku udah berusaha, Stef.” kilah Louis melakukan pembelaan untuk dirinya yang teraniaya.


Angel menepuk satu lengan Louis yang lain.


“Udah, jangan ngeles. Bayangin wajah Nicho yang biasa kamu goda saat bangun tidur.” cerocos Angel. Ia tau betul, senyuman Louis selalu tulus ketika mendapati putra mereka bermain aktif saat dirinya membuka mata.


Nicholas, adalah nama anak mereka. Nicholas Harris Hutama.


“Oh, oke.” jawab Louis kaku, menurut pada si pawang. Sedangkan Stefany, mencebik kesal.


“Dasar STI.”


Jenita menoleh pada menantu pertamanya. “Apa itu STI?”


Robert mencolek lengan Stefany dan meminta para wanita untuk kembali fokus ke kamera agar acara potret memotret ini segera berakhir.


Kalau bukan mamanya yang meminta, para lelaki itu tidak akan bersedia berdiri lama-lama dengan memamerkan gigi mereka hingga kering seperti ini. Tapi, terlepas dari itu, mereka semua juga bersyukur karena dipersatukan menjadi keluarga yang utuh sekarang. Bahkan mereka bisa mengabadikan kebersamaan seperti ini, merupakan sebuah kebaikan Tuhan.


Louis mulai membayangkan wajah putranya yang menggemaskan, kemudian tersenyum.


“Satu, dua, tiga.”


Satu jepretan lain membuat mata mereka hampir rabun karena kilat lampu yang tercipta dari kamera. Sang fotografer kembali menilik layar kameranya, kemudian menyatakan jari telunjuk dan ibu jarinya membentuk huruf O.


“Sip!” katanya, dan berhasil membuat semua orang mengelus dada dan bernafas lega. Louis memang biang kerok yang patut di demo dan tidak diberi makan malam hari ini.


Dan setelah melepas kepergian si fotografer yang berjanji akan menyelesaikan foto dan frame berukuran besar itu dalam waktu satu minggu, para anggota keluarga kembali menuju ruang keluarga, masih dengan baju senada yang mereka kenakan khusu hari ini.


“Sini, biar aku ajak Nicho. Kamu bantu mama dan kak Stefy nyaiapin makan malam.”


Angel mengangguk dan menyerahkan bayi kesayangannya itu ke tangan sang papa.


“Tutututu, cayangnya Daddy.” kata Louis menggoda Baby Nicho yang masih berusia empat bulan kedalam menggendong dan mencium gemas pipi putranya yang bulat dan padat berisi.

__ADS_1


“Jangan aneh-aneh kalau bergaya didepan Nicho. Nanti anaknya jadi usil kaya bapaknya.” celetuk Stefany yang lewat sambil membawa seikat daun bawang yang ia ambil dari lemari pendingin.


“Sirik tanda tak mampu.” sahut Louis kesal. Mereka hanya bercanda, dan Hutama yang melihat kelakuan anak serta menantunya itu, hanya geleng-geleng kepala. Tapi, dalam hati dia bersyukur karena kini, keluarganya terasa begitu sempurna penuh kebahagiaan.


***


Setelah makan malam sudah dihidangkan diatas meja, mereka semua berkumpul dengan Hutama di kursi utama paling ujung. Dia memimpin do'a sebelum acara makan malam itu dimulai. Dia mengajak seluruh anak dan menantu, cucu serta sang istri untuk mensyukuri nikmat yang sudah diberikan Tuhan kepada mereka. Dan juga dia tidak lupa mengucap syukur karena keluarga mereka sudah dipersatukan dalam bahagia, meskipun sempat mengalami cobaan sedikit penuh drama.


Selesai berdo'a, mereka segera mengisi perut dengan banyak sekali ragam makanan yang tentu saja, tidak pedas. Seisi rumah Hutama—termasuk Louis—tidak bisa mengkonsumsi makanan terlalu pedas.


Ditengah suara centil Rebecca yang bercerita tentang sekolah nya, obrolan ringan orang dewasa juga terselip diantara mereka.


“Kapan-kapan kita ngumpul lagi seperti ini. Papa suka lihat cucu papa kumpul sama papa.”


Jenita menatap sengit. “Papa tuh yang harus luangin waktu, jangan sibuk terus.” ketusnya pada sang suami. Ia juga terkadang kesal sendiri saat Hutama pulang hanya sehari, lalu pergi lagi.


Hanya gelengan kepala yang menjadi tanggapan untuk protes sang istri padanya. “Intinya, kita harus sering-sering berkumpul disini, ketemu, ngumpul biar papa sama Mama seneng.” kata Hutama yang sudah selesai dengan makan malamnya. “Waktu nggak bisa diulang. Papa mama juga udah berusia. Jadi kita manfaatkan waktu kebersamaan yang tidak akan pernah bisa terulang kalau papa dan mama kembali ke pangkuan sang kuasa.”


Suasana berubah sedikit sendu karena yang dikatakan oleh Hutama memang benar. Waktu tidak akan bisa diulang kembali, dan kebahagiaan seperti ini, hanya akan jadi kenangan yang mereka semua simpan dalam hati.


“Papa benar. Louis akan sering-sering bawa Nicho kemari.” kata Louis, menatap lekat pada fitur sang ayah.


“Nginep sini ya, mama masih kangen sama cucu dan anak-anak mama.”


***


Musim dingin sudah berlalu di Selandia baru. Pohon-pohon mulai bersemi kembali, memperlihatkan warna yang begitu indah ketika berbaur bersama sinar matahari pagi yang menyapa.


Louis, Angel, Giara, dan tentu saja Nicho, baru saja mendarat di bandara Wellington, Selandia baru.


“Mana bapakmu? Katanya jemput disini?”


“Ya, mungkin didepan mam. Biar Angel telepon dulu.”


Akan tetapi, belum sempat Angel mencari dan menekan nomor ayahnya, suara Patrick yang menggelegar terdengar menyapa di kejauhan. Pria itu bahkan setengah berlari saat menghampiri.


“Oh my God. Sorry I'm late, baby.” kata Patrick yang langsung memeluk tubuh putrinya yang sangat ia rindukan. Kemudian, memeluk menantunya yang begitu tampan dimatanya. “Wow, he's so handsome.”


“Ah, thank you, Dad.” jawab Louis sembari membungkuk lima belas derajat dengan telapak menyentuh dada.


Lalu, tatapan mata abu-abu Patrick beralih pada bungkusan gemas dalam gendongan mantan istri.


“Oh my God. This is your son? My cutie lovely grandchild?” tanya Patrick begitu terkejut, antusias, dan kagum dengan sosok Nicho yang begitu menggemaskan dalam gendongan Giara. Ia tidak menduga jika sudah menjadi seorang kakek sekarang. “So cute.”


Dan saat telapak tangannya hendak menyentuh pipi sang cucu, Giara dengan sadis menepuk punggung tangan Patrick hingga jatuh di udara. “Pakai bahasa anakmu. Bukan bahasamu.”


Angel menahan nafas. Ia takut Daddy nya akan marah karena dilihat dari raut wajah yang berubah datar, Angel tau jika Daddy nya itu sedang tidak menyukai sikap Giara yang tiba-tiba menekannya seperti itu.


Tapi, sebelum perang itu terjadi, Angel segera menginterupsi dengan suara lantang dan tawa kaku.


“Ah, Daddy. Ayo ajak jagoan kecil Angel main kerumah kakeknya.”


Patrick tersenyum, lalu merangkul pundak Louis dan berkata, “Pakai bahasa saja kalau bicara sama Daddy, oke?”


Angel menggeleng tidak percaya jika daddy-nya justru membalas sarkas pada sang mama. Akan tetapi, tidak ada pertengkaran. Mungkin keduanya juga sadar jika tidak harus cosplay menjadi Tom and Jerry untuk hari ini karena ada menantu. Angel bersyukur karena ada Louis yang mau mengerti situasi.

__ADS_1


Setelah sampai dikediaman Patrick dan makan malam, Angel terpaksa merelakan putranya tidur bersama sang nenek, dan dirinya hanya berdua macam remaja kasmaran bersama Louis di dalam kamar.


“Anggap aja bulan madu.” celetuk Louis mengeratkan pelukan dan himpitan kakinya pada tubuh Angel yang berbaring menyamping memeluknya.


Angel membenamkan wajahnya pada dada Louis yang selalu nyaman untuknya bersandar. Dia juga sangat menyukai aroma yang menguar lembut dari tubuh sang suami.


“Terima kasih, sudah mencintaiku, dan Nicho.”


Louis mengecup puncak kepala Angel, kemudian mengusap punggungnya. “Aku yang harus berterima kasih sama kamu, sayang. Kamu wanita kuat dan hebat yang sangat penting dalam hidupku.”


Diam, Angel menunggu kalimat Louis yang mungkin masih belum terucap sepenuhnya.


“Terima kasih sudah bertahan denganku, meskipun semua prosesnya sangat menyakitkan untuk dirimu, untuk kita lalui.” usai mengatakan ini, Louis kembali mengecup puncak kepala Angel.


Angel menggerakkan jarinya membentuk pola melingkar diatas dada Louis. “Karena kamu juga berhak bahagia, sayang.” kata Angel memberi alasan yang selama ini ia simpan rapat dalam hati. “Kamu orang baik yang pantas bahagia, meskipun kamu tau sendiri prosesnya tidak mudah.” Angel kembali menjeda, ia meletakkan telapak tangannya diatas dada Louis dan mendongak. “Sekarang, semua sudah terbayar lunas. Perjuangan kita berbuah manis. Semua orang kembali menerima kita, terutama Nicho.”


Entah mengapa, Louis malah terharu dan ingin menangis mendengar kata-kata Angel. Ia mengecup bibir istrinya dengan lembut. “Makasih.” bisik Louis tepat didepan wajah angel, lantas kembali menciumnya.


“Aku cinta kamu.” balas Angel berbisik. Ia tersenyum dan mendekatkan bibirnya sekali lagi pada milik Louis hingga ciuman menuntut pun, tak dapat dihindari.


Sepertinya, malam ini benar-benar akan menjadi malam syahdu untuk bulan madu mereka setelah hampir dua tahun menikah.


“I Love You too, My Angel Baby.” []


...—END—...


###


Terima kasih sudah mengikuti cerita My Angel Baby.


Tidak lupa, terima kasih juga untuk yang sudah memberikan dukungan penuh kepada author mulai dari like, komentar, Vote dan hadiah yang kalian berikan untuk karya Vi's ini. Sekali lagi terima kasih, dan mohon maaf jika selama menulis My Angel Baby, Vi's banyak salah kata atau tutur bahasa yang kurang sedap didengar atau kurang berkenan di hati pembaca sekalian. Terima kasih orang-orang baik, tanpa kalian Vi's bukan apa-apa di sini.


Pada akhirnya Louis menjadi satu dari banyak orang yang berbahagia didunia ini.


Dan sebagai pelengkap halu kita, Vi's kasih gambaran ketika Nicholas dan Rebecca sudah dewasa. *Semoga nggak ada copyright disini 😁


📌 Anak Bujangnya pak Louis pas udah kenal betina👇



(Gen yang muncul 💯 persen orang bule, turunan emaknya)


📌 Anak Perawannya pak Robert pas udah kenal pejantan👇



(💯persen Chindo, karena Stefany keturunan asli Chinese)


Semoga suka dengan visual dua bocil yang sudah dewasa diatas.


Sekian, atas perhatiannya saya ucapkan banyak-banyak terima kasih. 🙇


Bye ...


Silahkan mampir ke lapak baru author ya, judulnya WE

__ADS_1


See You


Vi's


__ADS_2