
...MAB by VizcaVida...
...|16. Ngajak Apa-apa, Itu Wajar|...
...Selamat membaca...
...[•]...
Suara dering telepon, suara langkah kaki terburu-buru, suara tawa, suara walkie talkie yang bersahutan, suara percakapan, dan suara-suara lain yang tertangkap indera pendengaran Louis, tak urung membuatnya jera menuju panggung yang beberapa hari lagi akan menjadi saksi keberhasilan lainnya yang ia raih di masa kejayaan dibawah kepemimpinan nya.
Langkahnya yang lebar tak membuat Louis memakan banyak waktu untuk sampai di sebuah ruangan yang akan menjadi saksi perjuangannya sekali lagi. Ia melipat lengannya didepan dada, melihat bagaimana para artis papan atas yang sudah paten mengisi acara besar ini, sedang berlatih. Ada satu rasa bangga yang menyapa hati Louis, perjuangannya tidak sia-sia untuk sampai di titik ini. Tidak terkecuali jasa Caca yang sudah berhasil mengubah pola pandang dan cara hidupnya yang dulu sempat tersesat jauh dari kata sempurna.
Kini, namanya dikenal. Di elu-elukan dari mulut ke mulut, dan tak pernah lepas perhatian orang kepadanya. Ini semua adalah bayaran hasil dari kerja keras yang ia lakukan selama bertahun-tahun merintis perusahaan siaran televisi yang dulu pernah hampir bangkrut dan gulung tikar.
Louis tersenyum dalam hati, ia tidak mungkin sekuat dan setegar ini tanpa wanita tegar dan kuat disampingnya, dulu. Nahasnya, itu dulu. Sekarang dia harus berjuang bersama para staff dan orang-orang hebat dan tahan banting demi mengurus pekerjaan yang begitu membutuhkan tenaga ini.
“Anda ada meeting dengan salah satu vendor yang menjadi sponsor di acara ini, pak.” Louis menoleh, mendapati Angel berdiri di belakang punggungnya dengan lembaran kertas di atas lengannya.
“Jam berapa?”
“Jam satu, setelah makan siang.” jawab Angel tanpa ragu. Ini semua sudah menjadi tanggung jawab yang dipikulnya sejak pertama kali menjejakkan kaki disini.
“Persiapkan apa saja yang perlukan untuk bahan meeting.” titahnya sebagai seorang atasan. Ia harus profesional kendati ada rasa tidak enak menyuruh Angel dengan nada seperti itu. Mengingat kebersamaan yang sudah terjalin antara dirinya, Angel dan keluarganya.
“Baik, pak.”
Angel segera berlalu karena masih banyak pekerjaan yang belum ia rampung kan hari ini. Termasuk menyiapkan bahan meeting Louis bersama vendor yang sudah ia katakan tadi.
“Tunggu.” seru Louis menghentikan pergerakan Angel, membuat gadis itu memutar tubuh dan kembali berdiri didepannya.
“Ya, pak? Ada yang lain?”
Louis mengerutkan kening sejenak, lantas menggaruk pelipisnya yang sama sekali tidak gatal. Hal itu ia lakukan semata-mata untuk mengalihkan gugup yang mulai menyapa ketika berhadapan dengan Angel.
“Kamu, jadi bertemu Rebecca hari ini?”
Oh ya, Angel hampir lupa akan hal itu. Tentu saja, dia harus bertemu gadis cilik yang sangat menggemaskan itu. Dia sudah janji akan datang membawa hadiah.
“Ah, itu—”
“Rebecca ada dirumah kak Robert. Nanti aku antar kesana.”
__ADS_1
“Sa-saya merepotkan—”
“Enggak. Saya juga kangen sama ponakan saya itu.” sahut Louis cepat sebelum Angel berubah haluan dan membatalkan rencana berkunjung ke rumah Rebecca dan mungkin bisa mendekatkan diri satu sama lain.
Eh, memangnya, Angel mau?
***
Serius?
Kenapa Louis sampai rela membatalkan jadwal Gym nya hanya untuk mengantarnya bertemu Rebecca?
Oh, jangan lupakan tadi. Tatapan mata orang-orang yang mulai penasaran dan curiga akan gerak-gerik mereka yang sering jalan berdua diluar konteks pekerjaan. Dan Louis hanya berkata ‘Tidak perlu di gubris’ sebagai
Tidak ada percakapan khusus, hanya sesekali membahas pekerjaan dan Rebecca yang terlalu manja pada Louis. Tapi, Angel mendengar pengakuan pria itu, jika dia sama sekali tidak terganggu. Malah merasa senang karena Rebecca nempel padanya.
“Mau ngobrol yang lebih spesifik nggak?” tanya Louis membuat Angel seketika bersemu. Spesifik yang seperti apa dulu?
“Spesifik yang bagaimana, pak?”
Louis melepaskan satu lengannya dari kemudi, lantas mengusap dagunya beberapa kali. “Ya masalah pribadi mungkin?”
Jika Angel boleh serakah, ia bahkan ingin tau semua kehidupan Louis mulai dari lahir sampai dewasa, sukses dan tampan seperti ini.
“Saya sih, tidak ada masalah apapun, pak. Apa bapak lupa, saya hidup sendirian.” kata Angel sambil tertawa lebar tanpa suara. Sebenarnya, dia ingin sekali mempunyai teman ngobrol hanya untuk sekedar melepas penat dan beban di pundaknya yang ia pukul sendirian. Hidupnya terlalu berat sampai ia lupa caranya mengeluh. Masa-masa sulit sudah berhasil membuatnya mandiri dan dewasa. Kini, tinggal bagaimana Angel memetik buah dari kesabarannya selama ini.
Tidak ada kata lain selain ingin mengumpat. Louis sedang memancingnya kan? Apa Louis mulai cerita dengan gerak-gerik nya hingga merasa tidak nyaman? Untuk itu dia memancing Angel agae bicara.
“Saya—”
“Kamu, pernah dekat dengan Lukas?”
Pertanyaan yang tidak pernah Angel duga meluncur begitu saja dari bibir Louis. Dari sekian banyak pertanyaan, mengapa Lukas yang justru dipilih sebagai topik pembicaraan? Angel masih belum paham, masalah apa yang menimpa keluarga mereka sampai-sampai Louis terlihat sangat tidak menyukai Lukas.
Angel tertawa kecil sebagai permulaan membuka suara. “Ya. Dia yang mendekati saya.”
“Apa kamu juga ada rasa sama dia?”
Angel menoleh. Lalu tertunduk sendu. “Saya itu tau diri, pak. Saya tau saya tidak pantas untuk siapapun termasuk Lu—”
Angel hampir saja keceplosan menyebut nama Loui—Eits, stop!
“Maksud saya, saya tidak pantas untuk Lukas. Dia tergolong putra konglomerat yang tidak akan pernah bisa saya gapai.” tutur Angel lembut tak ingin menyentil nama keluarga besar atasannya ini. Karena nama belakang Lukas juga masih menyematkan nama Putra.
__ADS_1
“Kalau misal sekarang dia coba deketi kamu lagi, apa kamu terima?”
Kali ini Angel tidak lagi bisa menahan tawa nya.
“Bapak bicara apa sih?”
“Ya bicara sesuai realita. Lukas kelihatannya masih ada rasa sama kamu.”
Angel kelabakan mencari jawaban. Apa benar yang dikatakan Louis ini? Dia tidak percaya jika Lukas masih menyukainya. Alasan dia pindah ke Amerika saja sudah membuktikan jika Lukas membencinya dan tidak ingin lagi mengejar dan berusaha meminta dia menjadi kekasih.
“Bapak ada-ada saja. Tidak mungkin lha, pak.”
Louis mengu-lum senyuman di bibirnya. “Tidak ada yang tidak mungkin jika Tuhan sudah berkehendak, Ngel.”
Angel diam-diam merasa memiliki harapan. Wajahnya bersemu merah.
“Kamu, ikut saya lagi kerumah kalau ada waktu.”
Angel memicing. Tanpa terasa, mobil Louis bahkan sudah masuk ke dalam kompleks perumahan elite di Jakarta itu, melewati palang penjagaan ketat yang bisa dimasuki oleh orang yang mempunyai akses untuk masuk kesana.
“Rebecca pasti senang kamu datang. Bawa hadiah lagi.”
“Semoga saja dia suka. Karena Uncle nya yang bantu memilihkan hadiahnya.” canda Angel yang dihadiahi kekehan renyah dari bibir Louis.
“Tapi, yang strawberry, sepertinya dia kurang suka.” kata Louis jujur, tak mau Angel malu didepan keponakannya.
“Eh? Benarkah? Kenapa—” Angel menelan kata-katanya. Hampir saja dia menyalahkan boss nya. “Maksud saya, nanti saya coba buat dia suka. Kalau gagal, ya sudah. Tidak apa-apa.”
Louis memutar kemudi ke kiri, memasuki salah satu blok yang terdapat jejeran rumah-rumah bergaya Eropa yang begitu sedap dipandang mata.
“Pak Robert, sepertinya suka bercanda, ya pak?”
Louis sedikit tersentil. Ia tersenyum disudut bibirnya tanpa mengalihkan fokus dari jalan beraspal mulus didepan pandangannya. “Iya. Saya memang kurang suka bercanda—”
“Bu-bukan itu maksud saya.” sahut Angel buru-buru menyela karena tau arah bicara yang mungkin akan disasar oleh Louis. “Sa-saya—maksud saya, pak Robert suka bercanda sama Rebecca.”
Louis tertawa. “Iya. Rebecca memang lucu dan menggemaskan. Makanya dia selalu berhasil buat siapapun yang dekat sama dia itu merasa cepat jatuh cinta. Kak Stefy mendidiknya dengan baik.” kata Louis bangga. Ia tidak pernah bisa menghindari rasa bahagianya ketika membahas tentang keponakan kesayangannya itu.
Angel mengangguk setuju. Memang benar yang dikatakan Louis. Stefany memang mendidik putrinya itu dengan amat sangat baik. Dan satu hal lain yang bisa dirasakan Angel ketika berada diantara pasangan itu. Robert amat sangat mencintai istrinya itu. Tatapannya selalu memuja dan mengagumi. Angel bisa melihatnya dengan jelas.
“Saya nanti juga pingin jadi kayak mbak Stefy kalau sudah punya anak.”
Mereka saling tatap sejenak, suasana berubah kikuk. Louis berdehem, dan Angel merona.
__ADS_1
“Maaf.”
“Nggak apa-apa, itu wajar. Itu mungkin impian setiap wanita jika menjadi seorang ibu untuk anaknya kelak.” katanya bijaksana sembari menyematkan senyuman manis yang membuat gula darah Angel tiba-tiba naik. “Pasti pria yang menjadi suami kamu kelak, adalah pria yang sangat beruntung.”[]