
"Aku sedang ada di Sumatra, Lia. Kau mau hadiah apa saat aku kembali ke Jakarta nanti?" tanya Johan sambil memamerkan back groundnya, rupanya dia sedang berada di atas sebuah yatch mewah miliknya yang sedang di sewa oleh sekumpulan wanita sosialita yang tengah berlibur dan meminta Johan secara langsung untuk menjadi guide bagi mereka.
"Lia tak butuh apapun, Jo. Kau salah menawari orang" sahut Bayu yang tak mau kalah bersaing dengan Johan.
"Mulai deh, Kak Bayu berantem sama Johan. Kan sudah aku usulkan sejak dulu, Kak Bayu sama aku saja, dan biarkan Johan berbahagia bersama Lia" tutur Silvi yang masih saja menyimpan perasaan pada Bayu dan masih juga dia dianggap hanya sebatas sahabat.
"Ada topik yang lebih penting?" tanya Ken yang selalu malas dengan perdebatan tentang masalah hati ketiga temannya.
"Kak Ken benar, kalian bertiga ini selalu saja ribut sendiri" keluh Lia yang juga tak pernah ambil pusing dengan perlakuan spesial dari Johan dan Bayu.
Mereka berlima tengah melakukan panggilan video bersama. Kebetulan mereka sedang ada waktu luang di sela kesibukannya.
Saat tak ada waktu untuk bertemu, mereka selalu menyempatkan untuk tetap menjalin komunikasi meski hanya lewat video call. Seperti sebuah rutinitas sejak mereka masih sama-sama sekolah, hingga kini mereka sudah sibuk dengan pekerjaan masing-masing.
"Bagaimana perkembangan Nirwana Entertainment, Sil?" tanya Lia yang juga turut andil dalam bisnis itu.
"Oh, jangan khawatir. Sudah banyak artis yang bergabung, dan sudah banyak pula pendatang baru yang berhasil dan mulai nampak sukses karirnya" ujar Silvi yang kini mulai belajar management artis sekaligus masih eksis dalam bidang modellingnya.
"Kau sangat hebat, Sil. Management waktumu sangat baik" puji Lia.
"Tentu saja. Aku kan juga ingin dipuji oleh kak Bayu jika sukses nanti" tutur Silvi seperti biasanya.
Dan Bayu selalu saja merasa risih setiap kali Silvi dengan terang-terangan mengutarakan isi hatinya.
"Ehm, tentang Family Magazine, bagaimana?" tanya Lia lagi.
"Masih tetap eksis meski sudah banyak pihak yang ikut menjiplak cara kerja kita" jawab Ken mantap.
Mereka saling membantu dalam bisnis masing-masing. Family Magazine yang dulu berkantor di gedung milik keluarga Alexander kini sudah berdiri sendiri meski di tempat yang lebih sederhana. Berkantor di ruko tiga lantai yang sekaligus sebagai tempat produksinya di lantai dua, lantai satu untuk menerima tamu dan juga para customer servis berkantor, dan lantai tiga untuk ruang karyawan. Dan Ken yang dipercaya untuk menjalankannya.
Sementara promosi terus dilakukan di semua perusahaan tempat geng Nirwana berkecimpung.
"Perusahaanku lah yang memberikan kontribusi terbesar selama ini untuk Family Magazine. Karena hampir setiap tamu yang datang ke tempat travelku tak pernah menolak untuk mengabadikan momen liburan mereka dalam majalah itu" ucap Johan membanggakan diri.
"Ya, terimakasih tuan bule karena kau sudah mendukung bisnis kami" sindir Ken yang malas mendengar ocehan Johan.
"Santai saja, take it easy" balas Johan.
"Maaf bu, meetingnya akan segera dimulai" ucap sekretaris Lia yang terdengar di sela video call para anggota Nirwana geng.
"Oh iya, saya segera datang" ucap Lia, dan segera saja sekretaris itu undur diri.
"Teman-teman maaf ya, aku harus menyudahi sesi video call kali ini karena ada meeting yang harus aku hadiri" pamit Lia.
"Of course my babe. Semoga meetingmu berjalan lancar" sahut Johan.
"Bye Lia" ucap Silvi.
"Semangat Lia" tutur Bayu.
Sementara Ken yang irit bicara hanya menganggukkan kepalanya.
Dan setelah mematikan layar laptopnya, Lia segera beranjak untuk memimpin rapat intern perusahaannya. Di bawah pengawasan Vicky tentunya.
Dua hari berselang, semua kartu dan fasilitas yang Sam punya masih saja diblokir oleh kakaknya sampai batas waktu yang tidak ditentukan.
__ADS_1
Langkah malas Sam setelah menuruni mobil keluarganya membuatnya tidak bersemangat untuk masuk sekolah.
"Sialan kakak!" umpat Sam yang hanya visa menggerutu.
"Gue kangen banget sama mobil sport dan arena balap. Papa sama mama juga kenapa sih kesannya patuh banget sama anaknya. Kan yang punya harta mereka, tapi kenapa malah semuanya harus atas persetujuan Lia sih" gerutunya sambil berjalan pelan menuju ruang kelasnya.
Wajah tampannya yang murung masih saja sedap dipandang dan menjadi pusat perhatian dari para siswi di sekolahnya.
"Sudah kayak anak TK saja gue tiap pagi harus minta uang saku ke papa" kepuh Sam.
"Ahhh! Lia sialan!" teriak Sam sambil meninju udara dengan sekuat tenaga.
Sadar menjadi pusat perhatian, Sam segera beranjak dari tempatnya berdiri untuk pergi ke kelasnya. Hanya tinggal beberapa menit saja bel masuk akan berdenting.
Dan langkahnya terhenti saat mendapati kedua sahabatnya, yaitu Nathan dan Hans sedang berada di balik lorong menuju kamar mandi pria.
Dengan senyum jahilnya, Sam meringankan langkahnya agar tak terdengar untuk mengagetkan kedua temannya.
Sudah tinggal lima langkah lagi dia sampai di tempat sahabatnya, namun niatnya untuk mengagetkan dia urungkan karena lamat-lamat telinganya mendengar obrolan serius dari Nathan dan Hans.
Sam mematung di balik dinding untuk mencuri dengar apa yang sedang kedua temannya bicarakan.
"Bisa bangkrut gue kalau tiap hari ngasih makan si pengeran Alexander" keluh Hans.
"Hahaha, kenapa bro?" tanya Nathan.
"Dia jajannya banyak banget, bro. Nggak nyadar kalau uang jajan gue nggak sebanyak dia dulu. Jatah sebulan gue bisa terhenti di tengah bulan kalau begini terus" keluh Hans lagi.
Sam semakin mematung, dia tak menyangka jika perbuatannya sangat merugikan bagi orang lain. Padahal sebelum Lia memblokir kartunya, jajan Hans dan Nathan selalu Sam yang membayarkan.
__ADS_1
"Kasihan juga sih lo. Tapi mau gimana lagi, Hans. Kan dia lagi dihukum sama kakaknya" kata Nathan.
"Tapi akhir bulan gue yang suram, Nat. Gimana ya caranya buat ngasih tahu si pangeran? Gedek juga gue lama-lama kalau sampai uang jajan gue terhenti di tengah bulan" kata Hans masih saja mengeluh.
"Susah juga sih, dia mana paham sama penderitaan orang, iya kan? Selama ini kan hidupnya selalu tercukupi, lebih malah. Tapi, gue juga sama sih bro. Masak iya tiap pulang sekolah gue harus nganterin dia balik? Kan rumah kita nggak searah. Males juga sih sebenernya kalau harus tiap hari ngasuh si pangeran" kini giliran Nathan yang mengadu.
Sam tertegun mendengar percakapan kedua orang yang dia anggap sebagai sahabatnya. Dia tidak menyangka jika dibalik senyum ceria keduanya tersimpan rasa tidak suka pada perbuatan Sam.
"Apa benar yang kak Lia katakan kalau gue di kelilingi oleh orang yang tidak tulus?" gumam Sam dalam hati, sambil tetap mendengar mereka dalam diam.
"Apa yang harus gue lakuin sekarang? Rasanya kecewa banget gue mendengar ucapan mereka. Padahal dulu tak pernah ada kata mengeluh dari mulut gue untuk menyenangkan hati mereka berdua" kini giliran Sam yang mengeluh pada keadaan.
"Gue cuma dihukum, bukannya bangkrut! Tapi mereka sudah merasa keberatan seperti ini. Apa jadinya kalau gue benar-benar bangkrut? Pasti mereka membuang gue dari circle pertemanan mereka" gumam Sam dalam kekecewaan.
Dan telinganya masih saja mendengar segala curahan hati dari kedua sahabatnya yang membuatnya semakin terkejut. Dalam hatinya, kini Sam sangat menyetujui apa yang Lia utarakan terhadapnya tempo hari.
"Kekayaan akan membuat semua makhluk mendekat padamu, tapi saat kau jatuh, jangankan manusia, setanpun akan enggan menggoda imanmu, Sam!" kata Lia di sela kemarahannya.
Dan kini Sam telah membuktikan omongan itu. Mungkin selama ini dia terlalu sibuk menyenangkan hatinya sendiri tanpa tahu bagaimana tanggapan orang lain terhadapnya.
Dan pengalaman telah mengajarkannya satu hal penting untuk berusaha menjadi orang yang lebih baik kali ini.
"Hai kawan, lagi ngapain disini?" tanya Sam yang sudah tak ingin mendengar omong kosong dari mereka.
Hans dan Nathan gelagapan tentunya, dalam benaknya mereka berpikir apakan Sam mendengar semua obrolannya?
Mata keduanya saling memberi isyarat untuk diam dan bertanya hal yang sama, Takut Sam mendengar obrolan mereka.
Sementara seperti biasanya, Sam berusaha menutupi rasa kecewa dalam hatinya dengan tetap tersenyum dan bersikap masa bodoh agar kedua temannya tak merasa tak enak hati.
.
__ADS_1
.
.