My Angel Baby

My Angel Baby
Hanya seumur jagung


__ADS_3

Karena toilet yang akan Lia kunjungi di dalam cafe itu harus melewati ruangan yang disekat menyerupai bilik bambu dengan cara duduknya yang lesehan, otomatis dalam posisi berdiri masih bisa terlihat pengunjung yang menempati ruangan di dalamnya.


"Uwah, kalian terlihat sangat menikmati makan siang disini" kata Lia mengomentari sepasang sejoli yang terlihat akrab.


Sejoli yang tengah makan sambil berfoto ria itu heran saat mendengar tiba-tiba ada suara wanita yang sepertinya sedang berbicara pada mereka.


"Ehm, Lia? Kenapa kamu bisa ada disini?" tanya si pria yang notabene adalah Sebastian yang belum lama ini meminta Lia untuk menjadi kekasihnya, tapi sepertinya bukan hanya Lia wanita yang sedang dia kencani.


"Memangnya kenapa kalau aku ada disini? Ini mall milikku, meski fungsinya untuk umum. Jadi bukan hal yang terlarang jika aku masuk ke dalam bangunan ini, kan?" jawab Lia.


Tian terkejut, dia tak menyangka jika mall terbesar di kotanya ini bahkan adakah milik keluarga Alexander. Dan Lia yang menjadi cucu tertua sudah pasti akan mewarisinya kelak.


"Bodoh! Kenapa aku bisa tidak tahu kalau mall ini juga milik keluarga Alexander" gumam Tian dalam benaknya, merutuki kebodohannya sendiri yang tanpa sengaja akan menghancurkan masa depannya.


"Dia siapa sih, sayang? Sombong sekali! Apa dia mengigau kalau mall ini miliknya? Sudah jelas kalau mall ini milik keluarga Alexander" kata wanita di samping Tian dengan wajah ketusnya.


"Hei wanita! Apa dirumahmu tidak ada televisi? Atau ponselmu tidak punya kuota data internet hingga kau tak tahu siapa aku?" tanya Lia yang sebenarnya ingin mengejek, kesal sekali hatinya.


"Oh aku tahu, kau sibuk menggoda pria-pria di luaran sana hingga tak pernah melihat berita penting rupanya" kata Lia meneruskan ejekannya.


"Kurang ajar! Kau pikir kau yang paling update? Tentu saja aku tahu kalau mall ini milik keluarga Alexander. Dan asal kau tahu jika pewaris dari mall ini tentunya adalah Angelia dan Samuel yang merupakan cucu dari Abraham, anak dari Pak Vicky, bosku di kantor" jawab wanita itu dengan lancarnya.


"Karena aku adalah karyawan dari pak Vicky, maka aku berhak untuk menikmati fasilitas di mall ini, bukannya kamu yang sok tahu itu" lanjut wanita itu, sementara Tian hanya bisa memegangi pangkal hidungnya dengan ibu jari dan telunjuknya. Tiba-tiba saja dia merasa pusing.


Tentu Lia semakin terkekeh mendengar jawaban wanita itu, padahal dia tahu semua tentang silsilah keluarga Alexander, tapi kenapa dia bisa wanita itu taj tahu wajah dari pemilik nama yang barusan dia sebutkan itu?


"Baiklah, aku pergi saja dari sini. Tak ada gunanya berbicara dengan tukang selingkuh dan wanita tak cerdas seorang kalian" kata Lia sambil memandangi Tian dengan lekat.


"Dan satu lagi, Sebastian. Aku harap hubungan yang baru saja kau resmikan ini, aku nyatakan berakhir sampai disini. Jangan pernah lagi menggangguku kecuali untuk urusan pekerjaan" kata Lia dengan tegasnya, tak ada guratan kesedihan sedikitpun dari wajahnya. Aura ketegasan dan kewibawaan yang terlihat selama berbicara membuat Tian dan wanitanya tak bisa berkutik, seolah terhipnotis untuk mendengarkannya sampai akhir.


"Tunggu, tunggu sayang!" cegah Tian sambil berlari kecil untuk mengejar Lia yang sudah beranjak beberapa langkah darinya setelah kesadarannya mulai kembali.


"Jangan beraninya kau pegang tanganku atau kau akan berurusan dengan para bodyguard ku" ancam Lia saat lengannya digenggam oleh Tian.


Seketika Tian menoleh ke sekitarnya. Dan memang ada beberapa pria bersetelan formal dengan kacamata hitam dan masker tengah memandangi ke arahnya.

__ADS_1


"Sial, jadi selama ini dia selalu dikelilingi oleh anak buahnya" gumam Tian dalam hatinya seiring dengan menciutnya nyali dalam hatinya.


"Oke. Tolong dengarkan aku sebentar saja, please" kata Tian memelas.


Lia jadi bingung dan malu karena mereka berdua sudah menjadi tontonan umum dalam cafe itu.


Apalagi ditambah dengan datangnya wanita yang tadi bersama Tian. Wanita itu berteriak memanggil sayang pada Tian yang malah terpaku di tempatnya.


"Sudahlah Tian. Anggap saja tak pernah ada hubungan apapun diantara kita. Toh baru beberapa hari yang lalu kau mengutarakan isi hatimu yang ternyata semuanya hanyalah sampah. Urus saja wanitamu yang katanya adalah karyawan papaku" ucap Lia jengah, sebenarnya dia sudah tidak tahan untuk segera ke toilet.


"Maksudnya? Siapa yang karyawannya papamu? Enak saja mulutmu kalau bicara" kata si wanita tidak terima.


Lia hanya menggelengkan kepalanya sambil berbalik badan, bersiap untuk meneruskan langkahnya yang hanya kurang beberapa meter saja dari pintu toilet.


Sadar jika Tian masih ingin mengejarnya, salah satu tangannya menyiratkan pada bodyguardnya untuk mengurus Tian karena dia sudah tidak mood lagi untuk bicara dengannya.


"Tunggu Lia, dengarkan aku dulu" kata Tian yang masih bisa menjangkau lengan Lia sebelum bodyguard nya datang.


Lia sudah tak mau lagi menoleh, dan dia visa bernafas lega saat bodyguardnya sudah berhasil mencegah Tian untuk lebih dekat padanya.


"Maaf, tapi bos kami sendiri yang meminta kamu untuk tidak mendekat padanya" kata si pria berkacamata, meski badannya kalah besar daripada Tian, tapi tenaganya tak bisa disepelekan karena latihan rutinnya.


"Ah sial" umpat Tian yang jengkel pada kebodohannya sendiri.


"Sayang, memangnya dia siapa sih?" tanya wanita di sebelahnya, pertanyaan yang semakin membuat Tian jengkel.


"Bodoh kamu! Dia itu Angelia, anak dari Pak Vicky, bosmu" akhirnya Tian mengatakan tentang Lia.


Wanita itu tentu terkejut hingga menutupi mulutnya yang menganga dengan kedua tangannya.


"Oh Tuhan, kenapa kamu tidak bilang dari tadi sih? Kalau sampai dia mengadu pada papanya bisa hancur karirku di perusahaan Alexander" gerutu si wanita yang semakin membuat Tian pening.


"Dasar kau memang bodoh" umpat Tian yang telah kehilangan ATM berjalannya, sudah banyak rencana licik yang tersusun rapi untuk merauk uang dari kekasihnya, Lia. Tapi semua itu sudah berakhir bahkan sebelum dia menjalankan satupun dari rencananya.


"Apa kau bilang? Aku bodoh? Kamu itu yang bodoh. Menyesal aku percaya pada semua omong kosongmu. Bahkan setiap kita pergi makan diluar selalu aku yang membayarkannya. Sekarang bayar saja sendiri" kata wanita itu semakin emosi dengan reaksi yang Tian berikan.

__ADS_1


"Ah sial, hari ini benar-benar sial" kata Tian sedikit berteriak sambil mengunggar rambutnya dengan kasar melihat kedua wanitanya pergi berlawanan arah dan sebuah bill di tangannya.


Saat langkah kakinya ingin menyusul Lia ke toilet, tentu sudah ada bodyguard yang menghalanginya.


"Jangan berani-beraninya mengganggu nona Lia" ancam pria di depan Tian dengan nada dan raut wajah mengerikan.


Seketika Tian pun ikut pergi dari cafe ramen itu dan masih harus membayar dulu makanan yang tadi sudah dimakannya.


Nyalinya memang hanya sebesar biji kacang meski badan tegapnya terlihat gagah.


"Apa semua sudah aman?" tanya Lia pada pria yang tadi menghalangi Tian setelah keluar dari toilet.


"Sudah non" jawab pria itu.


"Bagus" kata Lia sambil beranjak, kembali menemui sekertaris nya yang tadi dia tinggalkan sendiri.


"Lama sekali, bu. Apa ada masalah?" tanya sekertaris nya begitu melihat Lia datang.


"Hanya masalah kecil. Apa kau sudah selesai? Bisa kita pergi sekarang?" tanya Lia.


"Oh tentu bisa, bu" jawab sekretarisnya sedikit tak enak hati dengan jawaban Lia.


Setelah selesai dengan urusannya, baik urusan pribadi dan urusan kantornya, Lia masih tak ingin pulang ke rumahnya.


Menggunakan kendaraan kantor beserta supirnya, Lia menyambangi rumah sakit dimana Bayu sedang praktek. Penasaran juga dia kenapa sejak pagi tadi pesannya belum juga dibaca oleh Bayu.


Sekalian Lia ingin curhat tentang kejadian yang baru saja dia alami pada Bayu. Entahlah, rasanya nyaman saja untuk mengutarakan semua isi hatinya pada dokter muda itu.


"Semoga kak Bayu ada di rumah sakit" gumam Lia dalam perjalanannya. Seingatnya hari ini jadwal Bayu memang masuk pagi.


.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2