
"Lagi pada ngapain sih disini?" ulang Sam bertanya pada kedua temannya yang bersikap kikuk.
"Ehm, nggak ngapa-ngapain kok Sam. Tadi gue habis nganterin si Hans ke kamar mandi doang. Lo sendiri ngapain disini? Sudah bel apa belum sih?" tanya Nathan.
"Lagi ngobrol serius ya sampai nggak dengan suara bel? Sudah satu menit yang lalu sih belnya" kata Sam sambil melihat jam di tangannya.
"Minggir lo berdua, gue lau ke toilet bentar" usir Sam pada kedua temannya.
"Kayaknya sih dia nggak dengar ya, Nat?" tanya Hans sedikit khawatir setelah melihat Sam masuk ke dalam bilik toilet.
"Semoga saja, Hans. Elo sih. Yasudah kita duluan saja ke kelas yuk" ajak Nathan.
Dengan perasaan sedikit tak enak, kedua sahabat itu pergi ke kelasnya dan meninggalkan Sam yang masih berperasaan kecewa.
Mendengar langkah kaki yang menjauh, Sam segera keluar lagi dari dalam bilik toilet dan mulai merenung.
"Mood gue jadi semakin hancur saja" keluh Sam dengan gesture yang meleleh seperti lilin yang termakan api kecil.
"Bodo amat dah kakak menghukum gue lagi. Gue mau bolos kelas hari ini" ujar Sam sambil melangkahkan kakinya entah kemana.
"Eh tapi kan gerbangnya sudah ditutup. Kemana ya enaknya?" tanya Sam pada dirinya sendiri.
Melihat ke sekeliling dengan sedikit bingung, dan setelah cukup lama tertegun, Sam menemukan tempat yang bagus untuk menyendiri.
"Rooftop" gumamnya dengan tersenyum pahit.
Langkahnya sedikit tergesa untuk bisa segera sampai ke tempat tujuannya. Takut juga jika ada guru yang melihatnya dan menyuruhnya segera kembali ke kelas.
"Aman, sedikit lagi sampai" kata Sam.
Setelah sukses menapakkan kakinya di undakan terakhir di lantai teratas sekolahnya, Sam merasa senang meski hatinya sedih.
Duduk diatas beton yang terteduhi oleh genting, Sam bisa leluasa melihat luasnya sekolah elit yang dia datangi setiap hari.
"Sekolah ini kan elit, kenapa bisa Hans diberi jatah uang saku yang sedikit sama orang tuanya" gerutu Sam.
"Nathan juga, ngakunya anak orang kaya. Tapi berkorban bahan bakar sedikit saja buat nganterin gue pulang saja sudah banyak mengeluh" kata Sam lirih.
Kini dia memilih untuk melanjutkan kegiatannya dengan melamun saja.
Seperti orang yang baru tersadar, Sam masihlah remaja labil yang bisa selembek itu saat mendapati masalah hidup pertamanya. Hanya karena keluhan kedua temannya sudah membuat hati Sam sehancur itu.
Kadang tampang sangar dan kelakuan nakal tak bisa menutupi hati yang sedang sedih saat sendirian seperti yang sedang Sam rasakan.
Remaja bengal itu sedang sedih, belum tahu saja pedihnya patah hati tapi Sam sidah serapuh itu.
"Masak sih gue terlalu cuek sampai nggak peka sama perasaan orang di sekitar gue?" tanya Sam.
Kini dia sedang merenungi perbuatannya selama ini. Sifat boros, tak mau tahu, semaunya sendiri yang selama ini dia lakukan terbayang nyata di hadapannya.
"Pantas saja kak Lia selalu marah sama gue. Memang selama ini gue keterlaluan sih. Pokoknya mulai saat ini gue mau berubah. Gue harus bisa menjadi orang yang lebih baik biar nggak ada lagi orang yang merasa terganggu dengan perbuatan gue" tekad Sam dalam hatinya.
Semoga saja kebulatan tekadnya tak terusik dengan godaan dari sekitarnya. Tak seperti tobat sambal yang hanya sadar dalam sekejap dan selebihnya kembali ke kebiasaan lama.
__ADS_1
"Pulang juga kamu, Sam?" tanya Lia yang sudah menyambut kedatangan adiknya di teras rumah sambil bersantai dan mengerjakan pekerjaannya di laptop.
"Iya kak" jawab Sam lemas dan bergabung dengan kakaknya duduk berdua.
Lia memandang heran pada adiknya yang tumben tidak mengomel saat di sambut begitu.
"Ada apa?" tanya Lia menebak saja sebenarnya.
"Tidak apa-apa kok, kak" jawab Sam sambil nyengir kuda menyembunyikan kegundahan hatinya.
"Kemana kamu tadi tidak masuk kelas lagi?" tanya Lia.
"Aku di sekolah kok, kak. Di rooftop, lagi bad mood banget jadi ya percuma saja ikut kelas pasti juga nggak akan masuk pelajaran apapun ke otakku. Dan aku sudah siap kok kak untuk mendapatkan hukuman apapun yang akan kakak berikan padaku kali ini. Aku pasrah, nasibku memang ada di tanganmu kak" ucap Sam sambil mengambil capuccino di dalam cangkir yang tersaji untuk kakaknya dan tak lupa mengambil menyomot kue coklat yang belum Lia sentuh sama sekali.
"Hukuman apa yang akan kakak berikan padaku kali ini?" tanya Sam pasrah.
"Bagus kalau kamu sudah siap dengan hukuman yang akan kakak berikan. Dan semoga saja dengan hukuman ini, kamu bisa menjadi orang yang lebih baik ke depannya Sam. Tanamkan dalam otakmu, kalau semua yang kami lakukan semata-mata hanya untuk menjadikanmu pribadi yang lebih baik. Jadi, bersiaplah untuk menerima hukumanmu" ujar Lia sambil mematikan laptopnya dan beranjak dari kursi yang sejak tadi menemaninya.
"Memangnya apa hukumannya, kak?" tanya Sam.
"Paling lambat lusa kau juga akan tahu sendiri" kata Lia.
"Tapi kak, ayolah kak. Beritahu sekarang biar aku bisa mempersiapkan diri" rengek Sam mengikuti gerak langkah sang kakak.
__ADS_1
"No! Bersiaplah saja dan nikmati" kata Lia tak menggubris rengekan adiknya.
"Ma... Mama..." teriak Sam untuk mencaritahu hukumannya dari sang mama.
"Ada apa sayang?" tanya Viviane sedikit terkejut mendengar teriakan anaknya, wanita itu sampai tak sempat mencuci tangan dan melepas celemeknya karena takut terjadi sesuatu terhadap anak bungsunya.
"Mama lagi ngapain?" tanya Sam.
"Ada apa kamu memanggil mama? Mama sedang mencoba resep baru di dapur. Kenapa sayang? Ada apa?" tanya Viviane.
"Ma, tolong beritahu aku apa hukuman yang akak kakak berikan jika aku berbuat salah lagi?" rengek Sam seperti anak kecil pada mamanya.
Viviane menghela nafas, bukannya tak mau memberi tahu anaknya, tapi dia sudah terlebih dahulu berjanji pada Lia dan Vicky untuk tidak membocorkan pada Sam tentang hukumannya.
"Maafkan mama, sayang. Mama tidak tahu. Papa dan kakakmu yang sudah mempersiapkan semuanya. Jadi, mama minta maaf ya sayang" ujar Viviane.
"Ayolah ma, please" rengek Sam yang tak mempercayai ucapan mamanya.
"Mama benar-benar tidak tahu, nak" jawab Viviane sedikit bingung.
"Ah, yasudahlah. Terserah kalian saja. Memang tak ada satupun orang ya g menyayangiku di keluarga ini. Apa mungkin aku hanyalah seorang anak pungut yang diambil dari bawah jembatan?" tanya Sam dengan suara nyaringnya sambil meninggalkan mamanya untuk pergi ke kamarnya sendiri.
"Maafkan mama, Sam. Semua ini kami lakukan agar kau menjadi pribadi yang kuat dan tak mudah diperdaya oleh orang lain" gumam Viviane.
Setelah mastikan sang anak audah berada di lantai dua, Viviane segera pergi untuk meneruskan kegiatannya di dapur bersama koki keluarganya.
Viviane sedang membuat makanan untuk mertuanya, Abraham sedang tidak enak badan belakangan ini dan susah sekali untuk membujuknya makan.
__ADS_1
Jadi, sebagai menantu yang baik Viviane ingin membuatkan menu berbeda agar papa mertuanya itu mau makan dan berharap bisa segera pulih kembali.