
Satu bulan berlalu, dengan sangat bangga Lia terus saja bertepuk tangan dan menyorakkan nama tim dari Bayu yang ternyata keluar sebagai pemenang dalam perlombaan sains nasional tingkat SMP.
"Kak Bayu keren banget nggak sih. Duh, tambah sayang deh aku sama dia" kata Silvi yang juga ikut menemani tim dari sekolahnya untuk mengikuti lomba
"Jangan terlalu tinggi kalau menggantungkan mimpi, ingat saat terjatuh itu sakit, Silvi" entah ke berapa kalinya Lia menasehati Silvi agar tak terlalu mengagumi Bayu.
Lia hanya takut kalau nantinya nasib Silvi akan seperti kisah-kisah di novel sedih yang pernah Lia baca.
"Biarin dong, Lia. Cuma ngefans doang juga. Lagian mana mungkin aku menaruh perasaan pada pria seperfect kak Bayu, aku pun berkaca dan tak akan pernah berani melakukannya" jawab Silvi dengan tenang.
"Oke, bagus kalau begitu. Aku harap sih diantara kita berempat akan selalu kompak saat bersahabat. Jangan sampai hal kecil membuat persahabatan kita hancur" kata Lia mengingat kembali.
"Uwah, lihat deh. Kak Bayu ganteng banget" puji Silvi saat melihat Bayu dan kedua temannya naik ke podium untuk menerima piala dan hadiah dari perlombaan sains itu.
"Lusa giliran kalian yang menemaniku di pertandingan karate. Jangan sampai lupa" ancam Lia.
"Iya, iya. Semoga lusa kamu juga bisa meraih juara ya Lia" ucap Silvi sambil memeluk Lia secara paksa.
"Amin. Tapi lepasin deh, geli aku kalau kamu main peluk-peluk gitu" kata Lia.
Silvi terkikik geli, dia tahu kalau Lia sedikit tidak suka saat orang lain memeluknya tanpa izin.
Setelah upacara penyerahan piala sudah usai, sesi foto juga sudah dilakukan. Kini, semua peserta sudah diperbolehkan pulang.
Wajah bangga terlihat dari semua orang yang ikut mengantarkan para peserta lomba hari itu. Meski ada yang belum berhasil menjadi juaranya, tapi sudah bisa ikut tampil di ajang bergengsi seperti itu sudah menjadi suatu kebanggan bagi semuanya, baik dari pihak sekolah maupun keluarganya.
Karena itu berarti, anak didik mereka itu adalah yang terbaik diantara teman-temannya di sekolah.
"Selamat ya kak Bayu, kau keren banget" ucap Silvi.
Dengan gerakan kilat, cewek itu langsung saja menggeser posisinya agar berada di hadapan Lia untuk menyambut kedatangan Bayu.
Sebenarnya Silvi tahu jika orang pertama yang ingin Bayu temui adalah Lia.
"Terimakasih, Sil" jawab Bayu sambil menerima uluran tangan Silvi dan ternyata gadis itu sudah menggenggam sebuah hadiah untuknya.
"Apa ini?" tanya Bayu.
"Hadiah kecil karena kakak sudah menjadi pemenangnya" kata Silvi dengan riang, jangan lupa gerakan manja darinya yang membuat Bayu sedikit risih.
"Sekali lagi terimakasih. Tapi apa kau juga menyiapkan hadiah untuk Ken dan Felix? Karena kami kan satu tim" tanya Bayu.
"Tentu aku juga sudah menyiapkannya. Ini untuk kak Ken dan ini untuk kak Felix" kata Silvi yang secara refleks menggeser posisinya untuk menjauh dari Bayu agar bisa menjumpai kedua rekan Bayu yang lainnya.
Dan mereka bertiga jadi punya waktu tersendiri untuk mengobrol. Bayu menggunakan kesempatan itu untuk menemui Lia.
"Selamat ya kak. Tapi maaf, aku tidak membawakan hadiah seperti Silvi" kata Lia.
"It's ok. Ada kamu disini menyemangati ku saja sudah menjadi sebuah hadiah untukku. Ini pialanya" bibir Bayu memang selalu manis saat berkata untuk Lia. Bahkan dia menyerahkan trophy kemenangannya juga.
"Nggak usah lebay kak. Kupingku jadi gatal" ejek Lia, tapi tersenyum juga dia kalau Bayu berkata manis.
"Aku ingin hadiah untukku adalah sebuah kemenangan darimu saat mengikuti pertandingan karate nanti. Jangan khawatir, aku pastikan kalau nanti aku akan mendampingimu" kata Bayu sambil mengacak ujung rambut Lia, dan keduanya tertawa.
"Kalau kau tidak diijinkan oleh pihak sekolah, bagaimana?" tanya Lia.
"Maka aku akan bolos sekolah" ucap Bayu.
__ADS_1
"Jangan dong" cegah Lia.
"Kamu tenang saja. Aku pastikan kalau lusa, kami bertiga akan mengantarmu. Bahkan kami akan membawa mobil sendiri jika pihak sekolah mempersulit. Sedikit ancaman sepertinya tidak masalah" kata Bayu.
Lia hanya mengangguk ringan, dan kini Ken, Silvi dan juga Felix beserta guru pembimbing mereka sudah berkumpul. Sudah waktunya untuk kembali ke sekolah dan segera pulang.
Karena memang matahari sudah mulai tergeser hingga ke ufuk barat meski masih belum memberikan cahaya jingga di langit kota.
Para siswa itu sudah waktunya kembali ke rumah mereka masing-masing.
Gerakan mantap dan cepat membuat semua lawan Lia tumbang dengan mudahnya.
Sebagai perwakilan dari cabang karate tingkat SMP untuk putri, Lia dikategorikan lawan terberat saat itu.
Bagaimana tidak, selain disekolah, Lia pun memiliki guru privat untuk mengajarinya gerakan karate. Semua Vicky lakukan demi kebahagiaan Lia yang sangat menggandrungi cabang olahraga tersebut.
"Pemenangnya Lia, dari Internasional School" lagi-lagi wasit mengumumkan kemenangan Lia.
Masih kurang beberapa kali pertandingan. Karena sistem gugur dan peserta lomba yang cukup banyak, maka pertandingan final akan diadakan esok hari.
Ken sengaja membuat bendera kecil itu untuk menyemangati sahabatnya yang sedang bertanding. Meski irit bicara, terkadang Ken melakukan hal yang tak terduga untuk memberi sedikit surprise pada sahabatnya.
Mendengar namanya dipanggil dengan sangat keras, Lia menoleh ke arah Silvi dan melambaikan tangan dengan senyum merekah.
Sungguh cantik Lia di mata para lelaki, kondisinya yang sedang berkeringat dan rambut panjang yang terkuncir rapi.
Pemandangan indah itu tentu membuat Bayu dan Ken terpana hingga sedikit melongo. Rupanya bukan hanya mereka berdua yang seperti itu, karena saat Silvi melihat ke sekelilingnya, banyak juga mata para cowok yang tak berkedip dan mulut sedikit terbuka.
"Dasar lelaki" gerutu Silvi, diapun mengguncang pundak Bayu dan Ken hingga keduanya tersadar dan kembali bersikap sok cuek.
"Apa sih" gerutu Ken.
__ADS_1
Pertandingan berlangsung seru. Seperti dugaan semua orang jika Lia berhasil unggul dan menyisakan dua orang yang akan bertanding esok hari untuk menentukan pemenangnya.
Dua atlit cabang karate tingkat SMP yang sama-sama berkualitas. Keduanya sudah tak sabar menanti hari esok. Setelah sesi foto selesai, semua diperbolehkan pulang.
"Kau harus banyak beristirahat agar kondisimu fit untuk menghadapi pertandingan besok, Lia" ujar pelatih Lia saat mereka sedang berada di dalam mobil sekolah.
"Iya" jawab Lia singkat.
Memang hari ini cukup melelahkan. Sepertinya mandi dengan berendam di dalam bath up dengan dikelilingi aroma terapi bisa membuat tubuhnya kembali fresh. Lia sudah tak sabar untuk melakukan itu semua.
Bayu memaksa Lia untuk menyenderkan kepalanya di bahunya, meski awalnya sedikit merasa risih, tapi rasanya memang cukup nyaman hingga perjalanan mereka terasa berkesan.
Tapi tentu hal itu membuat Silvi sedikit cemberut. Semua orang tahu kalau dia sangat mengidolakan Bayu, tapi semua orang juga tahu kalau Bayu dan Lia sudah seperti kakak beradik yang sangat kompak.
Saat melihat Lia dan kandidat lain dari sekolahnya nampak terpejam, semua orang jadi terdiam. Membiarkan mobil itu berjalan pelan merayapi jalanan kota yang semakin macet.
"Bangun Lia" ucap Bayu lembut saat mobil sudah memasuki parkiran sekolah.
"Sudah sampai, ya? Maaf aku ketiduran kak" kata Lia sambil mengucek matanya.
Dan setelah semua turun, pelatih masih memberi sedikit nasehat sebelum memperbolehkan anak didiknya untuk pulang.
Setelahnya, sesuai rencana dari geng Nirwana, mobil keluarga Ken yang sudah dilengkapi supir yang akan mengantarkan ketiga sahabatnya agar bisa pulang ke rumah.
Rencana itu secara mendadak terfikir karena kemarin ayah Bayu yang harus pergi ke Bandung.
.
.
__ADS_1
.