
"Sialan! Lelaki itu sudah berhasil membuat Lia terjebak dalam status baru, bro. Apa kau nggak kesal?" tanya Johan, baru pertama kalinya dia sengaja menemui Bayu di rumah sakit tempatnya magang untuk membahas masalah Lia yang sudah berstatus sebagai kekasih Sebastian.
Bayu sebenarnya sedikit terkejut, tapi pembawaannya yang tenang membuatnya terlihat biasa-biasa saja di mata Johan.
Keduanya kini tengah mengobrol di kantin rumah sakit dengan ditemani segelas kopi hitam untuk Bayu yang hampir semalaman tidak tidur karena harus melakukan operasi besar pada salah satu pasiennya, sementara Johan memilih kopi capuccino sachet.
"Memangnya kamu mau melakukan apa, Jo? Semua itu sudah keputusan Lia" jawab Bayu santai, bahkan dia masih bisa membaca koran terbitan hari ini.
"Kau tahu sendiri si Sebastian bodoh itu cuma memanfaatkan Lia kan, bro? Apa kau tak memperdulikan Lia?" tanya Johan semakin gemas karena Bayu yang terlalu biasa saja.
"Kita lihat saja ke depannya bagaimana, jika memang pria itu berbuat ulah pada Lia, kita baru turun tangan. Tapi untuk sekarang, jangan lakukan apapun terlebih dahulu karena Loa sedang dilanda asmara" kata Bayu mengingatkan.
"Hatiku sakit sekali, bro. Huft, padahal Lia tahu kalau kita memendam rasa padanya, tapi sepertinya dia sengaja mendiamkan kita" keluh Johan seperti anak kecil.
"Kau juga menyukainya kan, bro? Aku tahu dari pandanganmu yang selalu berbinar-binar saat melihat Lia" cerocos Johan.
"Tapi kita harus bersaing secara fair, bro. Siapapun kelak yang Lia pilih, kita harus ikhlas. Jangan sampai ada dendam diantara kita" lanjut Johan bersuara.
"Kau yakin sekali kalau Lia juga menyukaimu?" tanya Bayu.
Johan melirik ke arahnya, membahas Lia tak membuat Johan merasa malu. Dia sangat ingin memiliki gadis itu, tapi selalu saja masa lalu membuatnya takut untuk melangkah.
"Ah, sudahlah. Yang penting kita harus segera menyelamatkan Lia. Meski dalam hal lain Lia itu sangat bisa diandalkan, tapi dia sangat bodoh dalam menilai seorang pria. Ibaratnya domba, Lia kini sedang diincar oleh serigala" kata Johan.
"Ya, dan kau serigalanya" jawab Bayu santai, sambil sesekali menyesap kopi hitamnya.
"Kau ini menyebalkan sekali. Aku pergi sajalah. Bicara denganmu tak ada gunanya. Dan satu lagi, kau tidak perlu membayar minuman ini. Aku mentraktirmu" kata Johan sambil beranjak dari tempat duduknya, meninggalkan Bayu.
"Terimakasih" jawab Bayu.
Johan hanya melambaikan tangannya singkat sambil meneruskan langkah lebarnya seperti sedang terburu-buru.
Kini Bayu sendirian, baru dia bisa berwajah sedih setelah mendengar penuturan Johan tadi.
Dia tidak menyangka jika Lia akan secepat itu memberikan hatinya pada pria lain. Padahal dia yakin jika Lia pasti juga punya perasaan khusus padanya.
Tapi semua itu dihadapinya dengan santai. Bayu yakin jika tak lama lagi hubungan itu akan kandas. Entah wangsit darimana yang meyakinkan Bayu akan hal itu. Tapi yang jelas, pria itu masih tak akan mundur untuk memperjuangkan hubungannya dengan Lia.
Waktu makan siang sudah tiba, sebagai pasangan kekasih baru, Sebastian memberanikan dirinya untuk datang ke kantor Lia dan mengajaknya untuk makan siang bersama.
Tiba di lobi kantor, sudah banyak wanita yang melirik ke arahnya. Memang tak dipungkiri jika Tian memiliki paras yang visa membuat kaum hawa jatuh hati.
"Ibu Lia ada di ruangannya?" tanya Tian pada resepsionis.
"Apa sudah ada janji sebelumnya, pak?" tanya resepsionis itu.
"Belum. Kamu hubungi saja dia dan bilang kalau Sebastian menunggu di bawah. Atau biarkan saja aku mendatanginya ke ruangannya" kata Sebastian penuh keyakinan.
__ADS_1
"Baik pak" jawab resepsionis itu yang segera menghubungi Lia melalui telepon kantor.
Tak lama berselang, resepsionis itu menginformasikan jika Tian diperbolehkan untuk ke ruangan Lia.
Dengan langkah santai penuh kewibawaan, Tian menuju ruangan Lia melalui lift yang tersedia.
Setelah sampai di depan pintu, Tian mengetuk pintu itu setelah memperbaiki penampilannya.
"Silahkan masuk" jawab suara dari balik pintu.
Tian membuka pintu itu dengan senyum lebar dan segera menghambur ke hadapan Lia untuk memeluknya. Tapi segera Lia tepis dan mengisyaratkan dengan alisnya jika mereka tak hanya berduaan di ruangan itu.
Sadar dengan isyarat yang Lia berikan, segera Tian menoleh ke arah sofa yang ada di tengah ruangan.
Betapa terkejutnya dia saat melihat dua pria gagah berbeda usia tengah duduk santai dengan beberapa dokumen diatas meja dan cangkir beserta kudapan yang tersaji.
"Ehm, selamat siang Pak Vicky dan Pak Abraham" sapa Tian.
Meski ini adalah pertemuan pertamanya dengan para anggota keluarga Alexander, tapi dia yakin jika dia tidak salah orang. Siapa juga yang tidak mengenali dua pentolan keluarga terkaya di kota itu.
"Siapa kau? Barani sekali kau ingin memeluk putriku?" tanya Vicky dengan pandangan mengintimidasi.
"Ehm, dia kenalanku, pa. Namanya Sebastian, biasa dipanggil Tian" terdengar sahutan dari Lia yang membuat Tian mengernyitkan alisnya karena Lia yang tak mengakui hubungan spesial mereka.
"Ehm, iya. Perkenalkan, saya Sebastian" kata Tian dengan terpaksa saat Lia membelalak padanya.
Vicky dan Abraham menyambut uluran tangan Tian secara bergantian dengan wajah masam.
Mereka masih menganggap jika Lia adalah gadis kecil yang belum masanya untuk memiliki hubungan spesial dengan seorang pria.
__ADS_1
"Duduklah, mari kita bicara" kata Abraham yang semakin membuat Tian merasa gentar.
Rumor yang beredar jika Abraham lebih mengerikan daripada Vicky. Pria tua dihadapannya itu memang terlihat lebih garang meski usianya sudah lanjut. Kewibawaan dan kharismanya masih terlihat menakutkan.
"Ehm, baik pak" jawab Tian dengan tangan yang sudah mendingin.
"Ada urusan apa sampai kau rela menemui cucuku disini?" tanya Abra.
"Ehm, saya hanya ingin mengajak Lia untuk makan siang bersama, pak" jawab Tian, sementara Vicky masih memandanginya dengan tatapan horor.
"Hubungan kerjasama apa yang terlibat diantara kalian?" tanya Vicky.
"Perusahaan kita bekerjasama di bidang advertising, pa. Tian dengan brand fashion di perusahaannya sedang meluncurkan produk baru, dan dia mengiklankan produknya melalui perusahaan kita sekaligus pemasarannya melalui platform aplikasi belanja online di perusahaan kita juga, pa" jawab Lia, memang mereka sebelumnya terikat dengan semua yang Lia katakan tadi, dan hubungan kerjasama itu juga masih berlanjut.
"Papa sedang bertanya padanya, Lia" kata Vicky lirih, seperti terdengar lebih mengerikan daripada orang yang sedang membentak.
"Tapi kan sama saja pa, Tian ataupun Lia yang menjawab juga pasti akan mengatakan hal yang sama" jawab Lia.
"Siapa tahu dia punya jawaban yang berbeda" kata Vicky yang masih memandangi Tian.
"Sebaiknya kalian tidak usah makan diluar, temani kakek dan papamu makan disini saja Lia. Kakek akan menyuruh OB untuk memesan makanan di restoran langganan kita. Jadi kalian tidak perlu repot lagi untuk mencari restoran" kata Abraham lebih ke arah perintah daripada pilihan.
Lia hanya mengangguk, lalu berdiri dan ikut duduk dengan ketiga pria yang sedang terlibat pembicaraan serius.
Sementara Tian sudah tentu sangat berkeringat dingin. Niatnya ingin bersenang-senang dengan kekasih barunya, malah terkunci diantara pria keturunan Alexander yang berbeda generasi seperti ini.
Meski sedih keberatan, tapi Tian tak bisa mengelak. Daripada aset berharganya terlepas setelah bisa dia dapatkan dengan susah payah, lebih baik kali ini dia mengalah terlebih dahulu demi memuluskan langkahnya nanti.
.
.
.
__ADS_1