My Angel Baby

My Angel Baby
Tidak Buruk


__ADS_3


...MAB by VizcaVida...


...|27. Tidak Buruk|...


...Selamat membaca...


...Jangan lupa Like dan komentar nya ya teman, list favorit dan vote jika berkenan ☺️ Terima kasih...


...[•]...


Louis membawa pikirannya yang kacau itu ketempat Robert. Ia tidak mau pergi ke bar dan mengambil resiko buruk atas sesuatu yang akan terjadi jika tidak bisa mengontrol diri. Robert juga bilang jika dia sudah ada dirumah, dan mempersilahkan adiknya yang terdengar kacau itu untuk mampir ke rumah.


Sesampainya disana, Louis disambut dengan gelayut manja Rebecca yang mengajaknya bermain. Apes bagi gadis kecil itu karena Louis tidak sedang dalam mood untuk bersenang-senang. Otak dan hatinya sedang berkabut dan dipenuhi rasa bingung.


“Lu ngapain pake minggat dari rumah.” kata Robert sembari menoyor kepala Louis dengan jari telunjuknya.


“Males sama mama.” sambar Louis sekenanya. Dia memang sedang kurang enak hati dengan mamanya karena insiden perjodohan tempo hari.


“Aku juga sudah memperingati mama untuk tidak memaksakan keinginannya padamu, Lou. Tapi, sepertinya mama tetap keras kepala.” kata Robert mencoba menenangkan si bungsu yang lesu. Pria yang biasanya terlihat gagah dan percaya diri itu, kini bersandar di punggung kursi dengan wajah terlihat lelah dan merana. “Jadi, siapa wanita yang dibawa mama kali ini?”


Louis menerawang jauh. Ia melihat langit-langit ruangan dengan sorot lurus dan ... kosong. “Putri pemilik kebun dan perusahaan teh yang ada di puncak. Namanya Liana.”


“Pak Tantono?” tebak Robert.


“Kamu kenal, Rob?” tanya Louis, sedikit menarik bangkit kepala dan bahunya untuk melihat pada presensi Robert.


“Engga. Cuma pernah denger nama itu saat ngobrol sama papa.”


Louis mengerutkan kening.


“Papa pernah bahas sama kamu?” tanya Louis mulai menelisik.


Robert menghela nafas. Ia bisa menangkap kecurigaan yang di sorotkan Louis padanya. “Pernah, tapi bukan masalah perjodohan. Papa mau investasi di perusahaan pak Tantono.”


Mendengar hal itu, Louis membanting tubuhnya cukup keras pada sandaran kursi sambil memejam dan memijat pelipisnya yang terasa makin berat.


“Aku, merencanakan sesuatu dengan Angel.”


Robert memasang telinga. Ia mulai mendengar cerita yang disampaikan Louis.


“Aku menceritakan tentang perjodohan itu ke dia. Lalu aku memiliki ide untuk membatalkan itu dan memperkenalkan Angel sebagai kekasih agar mama membatalkan perjodohan itu.” Louis menjeda. Ia memukul-mukul perpotongan hidung dan alisnya dengan kepalan tangan, lalu kembali bicara. “Angel meminta waktu dan aku memberinya kesempatan untuk berfikir.”


“Mama nggak akan terpengaruh sama ide konyolmu itu, Lou.”


“Aku tau. Tapi apa salahnya mencoba, Rob. Aku sudah kehabisan akal ngadepi mama.”


“Terus sekarang bagaimana?” tanya Robert ingin tau akhir dari pemberian kesempatan itu.


“Hari ini, aku datang ke apartemennya. Dia terlihat ketakutan saat melihatku, lalu ... dia menolak rencana yang sudah kami susun dan yang hampir dia setujui itu.”

__ADS_1


Robert menatap lekat sosok Louis yang terlihat menyedihkan. Ia sedikit merasa iba pada nasib adiknya yang terlalu di kendalikan oleh sang mama. Itu dampak dari manjanya Louis pada sang mama di masa lalu.


“Kamu sudah ngasih tau papa kalau kamu nolak perjodohan itu?”


Louis menggeleng.


“Ngomong aja sama papa. Siapa tau kamu bakalan dapat solusi dari papa. Mama nggak akan berkutik kalau papa yang turun tangan.”


Ada benarnya tentang ucapan Robert. Tapi ada sesuatu yang mengganjal dalam hati Louis, mengapa Angel seperti takut sekali saat melihatnya? Itu yang ia rasakan dari raut wajah dan tatapan Angel padanya tadi.


“Nggak. Males.”


Robert memukul paha sekal adiknya hingga berbunyi nyaring.


“ROBERT!!” teriaknya kencang karena pukulan kakaknya meninggalkan rasa panas di permukaan kulit di balik celana yang ia kenakan. “Shiiit!!” umpatnya terang-terangan sambil menggosok bagian yang terkena serangan dadakan dari sang kakak.


“Ngobrol sama papa, biar dapet solusi. Jangan jadi pengecut ah!”


“Siapa yang pengecut?!” kata Louis berteriak.


“Kamu! Siapa lagi memangnya?!” sahut Robert tak kalah tinggi dua oktaf dari suara Louis. Meskipun begitu, mereka tidak pernah berakhir sampai adu jotos atau baku hantam. Robert hanya merasa kesal dan Louis selalu menyadari keusilannya.


“Kamu yakin mama nggak ikut campur masalah Angel ini, Rob?”


Robert mengedikkan bahu keras. Ia tau peringai sang ibu, tapi tidak mau menuduh tanpa bukti konkrit. Bisa-bisa dia dituduh sebagai anak durhaka kalau melakukan itu. Robert tidak mau.


“Entahlah. Coba pancing Angel biar ngomong.”


“Bisa?”


Louis menoleh kasar, menatap lurus pada Robert yang terlihat meremehkannya.


“Ya mastiin aja, kamu mampu engga ngadepin mama yang keras kepala gitu.”


“Ya kalau masih saja maksa, aku bakalan nekat kali ini.”


“Nekat? Eh, jangan macem-macem pake buntingin anak orang segala, dek.” cerocos Robert dengan wajah polos tanpa dosa


Sangking kesalnya, Louis bangkit. Memiting kepala kakaknya, kemudian menindihnya diatas sofa hingga Robert berteriak sambil tercekik. Gila memang adiknya ini. Ah, bukan hanya Louis sih. Keduanya terlihat seperti anak kecil yang sedang adu otot kalau sedang seperti ini.


Tiba-tiba Stefany yang sudah berhasil menidurkan Rebecca ikut bergabung. “Ada apa sih?!” kata Stefany yang baru keluar dari area kamar Rebecca dan terkejut melihat apa yang dilakukan Louis pada Robert. “Astaga Lou, kamu apain Robert. Bisa mati suamiku nanti. Ya ampun, lepasin.” pekik Stefany mencoba memberi bala bantuan kepada sang suami. Ia menarik mundur kemeja Louis hingga pitingan lengan kekar si ipar terlepas dari leher Robert.


“Ya ampun. Kamu baik-baik saja kan sayang?”


“Dia yang bikin ulah.” sengak Louis melepas kepala Robert, dan pria itu terbatuk-batuk dengan wajah memerah.


“Shiiit!!! Adik laknat!” umpatnya lepas landas tanpa rem.


“Sukurin!”


Stefany menepuk punggung Louis dan memaki adik iparnya yang sudah membuatnya terancam menjadi janda itu. Ia tau keduanya hanya bercanda. Tapi bercandanya laki-laki itu kadang nggak kenal tenaga. Main piting-pitingan sampai otot menyembul, itu bukan pertanda baik.

__ADS_1


“Ada apa sih?” kesal Stefany menatap Louis sinis sambil memeluk dan membawa Robert dalam pelukannya.


Tidak terima melihat kemesraan mereka, Louis berniat menyerang Robert sekali lagi dengan menjambak rambut kakaknya sendiri hingga pria itu mengaduh. Astaga, Stefany harus bekerja ekstra demi melindungi suaminya yang terkena amukan gorila gunung yang sedang gundah gulana itu.


“Lou! Jangan gila!” teriak Stefany tak terima suaminya jadi sasaran Louis. Aduduh ...


Stefany saja tidak pernah menjambaknya seperti itu. Oh tidak, sering sih, kalau sedang bergulat di ranjang. Tapi, jambaknya kan penuh cintah.


“Jangan pelukan didepan ku begitulah. Tau situasi hati adiknya sedang kacau malah mesra-mesraan begitu. Kesel gua, brother.”


Stefany menyemburkan tawa tidak kira-kira kerasnya, sampai dia hampir terken-cing-ken-cing di celana. Wajah Louis sudah terlihat seperti banteng yang hendak menumbuk target alih-alih gorila ditinggal pasangan.


“Makanya, nikah.” sengak Stefany mengecup kening Robert yang tersenyum.


Louis bersumpah akan membuat iri mereka berdua jika sudah punya pasangan, nanti. Ya, nanti, dulu, karena sekarang belum ada yang digandeng. Masih usaha tapi sudah rusak saja. Kalah sebelum perang istilahnya. Louis merana dengan mengembuskan nafas lelah.


“Nikah sama siapa?”


“Siapa gitu, kek. Kucingkah? Kambing kah?”


“Sialan! Kamu pikir aku—”


“Udah gini aja,” potong Robert tak ingin melihat perdebatan istri dan adiknya yang nanti akan berakhir perang dunia keempat. Kalau dia dan Louis yang bertengkar, otot yang bekerja. Berbanding terbalik dengan Stefany dan Louis, mereka akan saling lempar cacian, makian, bahkan barang-barang yang ada didekat mereka. “Kalau kamu beneran mau serius sama Angel, deketin dia, yakinin dia supaya mau sama kamu. Jangan mundur cuma gara-gara di gertak mama.”


Sekarang Stefany mengerti duduk permasalahannya. Louis patah hati untuk kesekian kalinya karena mama mertuanya yang memang suka mengatur dan juga memaksa itu. Ya mau bagaimana lagi, hidup hampir enam tahun bersama Robert, Stefany juga pasti tau sifat mama mertuanya.


“Jadi kamu mau ngajak Angel nikah?”


“Bukan nikah, sayang. Dia mau ngajak Angel jadi pacar buat batalin perjodohan yang mama lakuin lagi ke Louis.”


Stefany mendengus mendengar permasalahan yang masih saja sama dan belum berubah sejak dulu. Mungkin, jika mama mertuanya itu tidak kebanyakan mau, Louis mungkin sudah punya anak lebih besar dari usia Rebecca. Sayangnya, Louis harus menerima semua peringai mamanya yang terus saja menyetir kehidupan pria itu, termasuk kisah cintanya.


“Sekarang aku pingin tau. Dulu kalian punya susuk apa, kok mama bisa langsung luluh gitu aja.”


Robert dan Stefany saling tatap. Mereka sadar rasa frustasi yang sedang dirasakan Louis saat ini hingga berkata demikian.


Stefany melepas Robert dan menepuk bahu adik ipar yang dulu adalah teman baiknya.


“Aku yakin, kamu bisa melewatinya kali ini. Yakinkan mama jika kamu serius dan tidak ingin melepas angel.”


“Sulit, Stef. Mama kayak nolak Angel sekarang. Beda sama yang pertama kali kerumah bikin kue waktu itu. Mama sekarang hanya ingin Liana yang jadi menantunya, bukan Angel.”


“Makanya, yakinin mama, kalau Angel pantas buat kamu. Buat keluarga Hutama. Jangan sampai kamu menyesal kemudian hari.”


Louis menatap lurus dan kosong pada televisi yang baru saja di nyalakan Robert.


Ide itu ... tidak buruk. []


###


Spam komen? Boleh banget, biar penulisnya bahagia 🎊🎊🎊

__ADS_1


__ADS_2