
"Ada-ada saja sih ya pa, masak iya orang sudah setua itu masih bisa hilang? Tapi apa papa nggak merasa familiar sama pengacara yang bernama Handoko itu, pa?" tanya Viviane di sela saat santainya bersama sang suami.
"Bisa saja itu terjadi, ma. Dia kan orang berpengaruh, pasti adalah kontroversi mengenai dirinya. Entah itu yang menjadi pendukungnya maupun pembencinya" jawab Vicky sambil memainkan ponselnya untuk mengecek pekerjaan kantor.
"Iya juga sih. Tapi mama seperti sering mendengar nama Handoko itu disebut. Tapi dimana ya pa?" tanya Vivi dengan muka penasaran, menggaruk rambutnya sambil berusaha mengingat sesuatu.
"Tentu saja mama sering mendengarnya, dia itu kan pengacara terkenal" jawab Vicky singkat.
"Oh Tuhan, iya papa benar. Dia itu pengacara dari keluarga kak Ruby dulu. Papa ingat kan? Saat dia pasang badan untuk menghalangiku saat berusaha meyakinkan papa Abra kalau Lia itu anakmu" kata Vivi sambil menutup mulutnya dengan tangan dengan wajah terkejut.
"Papa tahu, makanya papa merasa senang saat dia dikabarkan hilang saat liburan di pantai. Biar saja dia makan ikan hiu, malas sekali papa mendengar namanya. Karena dulu dia berhasil meyakinkan papa, aku terpaksa pergi jauh darimu kan, sayang" ujar Vicky sambil membawa Vivi ke dalam dekapannya dan menciumi seluruh wajah istrinya itu.
"Papa ih, nanti kalau dilihat orang kan malu" kata Vivi dengan pipi blushing nya.
Vicky tersenyum sambil menatap wajah cantik istrinya. Dia sangat senang saat berhasil membuat wajah istrinya memerah begitu. Hal itu membuatnya semakin yakin jika hanya ada namanya dalam hati Viviane.
Meski sudah tak muda lagi, tapi tak bisa dipungkiri jika mereka adalah pasangan yang serasi. Raut tampan dan cantik masih tercetak jelas di wajah mereka.
Dan hasil dari perkembang biakan mereka bisa menghasilkan anak yang tak kalah rupawannya. Ya, Lia dan Sam juga berwajah cantik dan tampan.
"Papa ini, kayak ABG saja. Ingat umur pak, anak juga sudah dewasa begitu" gerutu Vivi yang masih merasa malu.
"Tapi papa masih ingin mengajak ayah dan ibumu untuk berdamai, ma. Pasti bahagia kalau mereka pun bisa memberi restu bagi kita" ujar Vicky.
Sejenak Vivi termenung tiap kali membahas masalah ayahnya yang tak kunjung luluh untuk merestui mereka.
"Memang sejak Sam lahir, kita belum sempat berkunjung lagi pada ayah dan ibu. Bagaimana kalau liburan nanti kita ajak Sam dan Ia ke Surabaya, pa? Siapa tahu ayah mau dibujuk oleh Sam yang pandai merayu itu" kata Vivi mencetuskan idenya.
"Mama benar. Sepertinya kita harus meluangkan waktu untuk menuntaskan masalah ini. Keluarga kita harus berdiri diatas restu dari orang tua kita, bukan?" jawab Vicky menyetujui.
Vivi tersenyum senang, suaminya selalu sabar untuk menghadapinya sejak masih di masa pacaran dulu. Tak pernah Vicky berlaku kasar padanya dan pada kedua anak mereka. Padahal di luaran sana dia terkenal kejam dan tak ada ampun untuk satu kesalahan kecil. Tapi tabiatnya yang tak baik itu tak pernah dia bawa masuk ke dalam rumah tangganya.
"Terimakasih karena kamu sudah terlalu sabar untuk menghadapi orangtuaku yang sulit untuk luluh ya pa" ujar Vivi.
"Semua akan aku lakukan demi keluarga kita, ma. Terutama untuk kedua anak kita yang sudah mulai dewasa. Meski jika nanti aku harus bertaruh nyawa, yang penting kalian bisa bahagia" ujar Vicky sambil membelai rambut istrinya dengan sayang.
"Jangan bicara begitu, pa. Bahagia kami jika ada kau bersama, dan mama yakin kalau kita pasti akan bisa menua bersama. Merawat kedua anak kita dengan baik dan semoga bisa secepatnya bisa berkumpul dengan orang tua kita" kata Vivi sambil memeluk sayang pada suaminya.
Saat keduanya sedang bersama, suasana selalu seperti saat mereka sedang berpacaran dulu. Rasa cinta kasih dan sayangnya tak pernah berubah.
Mereka sangat beruntung bisa bersatu dengan cinta pertamanya meski harus dengan banyak sekali cobaan sebelum mendapatkan kebahagiaan seperti sekarang.
Padahal ini hari Sabtu, tapi sesuai rencana kerjanya, Lia harus turun tangan untuk meninjau lokasi mall yang katanya butuh renovasi karena akan dibangun gedung bioskop di dalamnya.
Denah dan desain dari gedung yang akan direnovasi sudah dimusyawarahkan dengan matang. Baik dana dan para pekerja audah ditetapkan, tinggal kunjungan terakhir untuk bisa segera merealisasikan rencana itu.
Ditemani sekretaris pribadinya, Lia terlihat sangat berwibawa menjadi seorang pimpinan di tim itu.
"Bagaimana Bu, apa masih ada yang perlu di kaji ulang dari kesepakatan ini?" tanya kepala kontraktor yang dipercaya untuk membangun tempat itu.
__ADS_1
"Semuanya sudah sangat bagus, pak. Saya setuju. Dan saya harap tidak ada yang meleset dari semuanya, baik itu anggaran dan waktu penyelesaiannya" ucap Lia.
"Tentu bu. Saya pastikan kalau semuanya akan sesuai dengan proposal kerjasama kita. Saya akan bekerja semaksimal mungkin agar ke depannya kita bisa terus bekerjasama" jawab kepala kontraktor itu.
Setelah bersalaman dan menyelesaikan kunjungannya, Lia yang merasa lapar karena memang hari sudah siang, maka diapun berbelok ke kedai mie ramen yang lumayan penuh.
Semalam Lia sempat menonton kartun Naruto karena Bayu berkata kalau Hinata lebih cantik daripada Sakita meski matanya buta.
Lia yang penasaran terhadap sosok Hinata mencoba untuk mencari tahu, tapi saat melihat videonya malah tersaji gambar Naruto yang nampak lahap saat menghabiskan ramen yang Naruto bilang sangat lezat.
Jadilah sekarang dia ingin mencoba menu itu karena selama ini meski sering melihat iklan mie ramen, Lia tak pernah tertarik untuk mencobanya.
Kedai bernuansa Jepang itu cukup luas. Lia tak menyangka jika di dalam mall milik keluarganya ada kedai senyaman ini.
Harum semerbak bumbu ramen menusuk hidungnya sejak pertama kali memasuki kedai itu. Dan itu semakin membuat Lia merasa lapar.
"Kamu tidak tahu siapa--" belum sempat sekretarisnya melanjutkan perkataannya, Lia segera memotongnya karena dia ingin menjadi orang biasa yang tak disegani karena jabatannya, tapi karena atitutenya.
"Saya ingin menu yang banyak disukai karena saay tidak begitu paham dengan ramen. Dan minumannya, saya mau teh hijau saja. Kamu mau apa?" tanya Lia pada sekertaris nya sambil mengedipkan mata agar dia tutup mulut.
Sekretarisnya mengerti dan memesan menu sesuai seleranya.
Sambil menunggu pesanannya datang, Lia mengamati sekelilingnya. Ruangan yang cukup luas itu terbagi dua bagian.
Sepertinya ada ruangan bersekat yang dikhususkan untuk keluarga yang ingin suasana lebih nyaman dengan keluarganya. Posisi bilik itu agak tinggi, jadi harus melepaskan alas kaki untuk duduk disana karena tempat duduknya lesehan dengan bantal duduk layaknya ruang tamu di Jepang.
Sedangkan Lia duduk di bangku biasa, banyak kaum muda dengan gadgetnya di kursi seperti yang Lia duduki. Mereka terlihat sibuk dengan gadget mereka masing-masing.
__ADS_1
"Hmm... harum sekali bau mie ini" kata Lia mengomentari hidangan yang baru saja tersaji di depannya.
"Iya Bu. Memang ramen adalah salah satu menu olahan mie yang cukup terkenal karena aroma dan rasanya yang khas" jawab sekretarisnya.
Lia memulai makan siangnya, tak lupa memfoto makanannya untuk dipamerkan pada Bayu yang saat itu sedang berkutat dengan jarum dan gunting bedah karena Bayu sedang berjuang untuk operasi sapah satu pasiennya.
"Ehm ... memang nikmat" gumam Lia yang terlihat lahap dengan makanannya.
Beberapa kali mengecek ponselnya, tak ada jawaban dari Bayu dan Lia mengerti jika Bayu pasti sedang sibuk.
Hingga Lia selesai dengan makan siangnya, diapun ingin segera pergi dari tempat itu karena nanti sore, Tian, pacarnya itu mengajaknya pergi jalan-jalan. Dan Lia ingin segera berdandan agar penampilannya terlihat semakin sempurna sebagai seorang wanita.
"Sebentar aku ke toilet dulu" kata Lia sebelum beranjak pergi.
Lia harus melewati ruangan bersekat untuk sampai di toilet. Dia berjalan dengan tenang seperti biasanya.
Tapi sepertinya ada suara yang dia kenali dari salah satu bilik bersekat. Rasa penasarannya membuat langkah kakinya tak sengaja berbelok dan mencari sumber suara.
"Sepertinya aku kenal suara ini" gumamnya sambil terus melangkah.
Matanya terbelalak begitu berhenti di salah satu bilik dan melihat siapa pemilik suara yang sejak tadi membuatnya penasaran.
"Uwah, kalian terlihat begitu menikmati makan siang ini" kata Lia mengomentari pemandangan di depan matanya dengan senyum yang merekah.
Mendengar suara Lia, membuat kedua orang di dalam bilik itu sedikit terkejut dan menoleh pada sumber suara dengan wajah tak kalah heran.
Siapa itu yang Lia sapa? Apakah Bayu karena sejak tadi pesannya tak kunjung di balas?
.
.
__ADS_1
.