
"Tinggal besok saja ujian kita akan selesai kan, Lian?" tanya Sam saat dia dan Mawan bersama Lian sedang belajar bersama sepulang sekolah sore ini.
"Iya, kau harus tetap semangat, Sam" ujar Lian.
"Tentu. Demi Lo" jawab Sam mantap, selalu Mawan sedikit geram melihat tingkah Sam yang seperti ini. Bodoh sekali dia saat jatuh hati.
Lian kembali menyadari sempitnya waktu yang dia miliki untuk berusaha membebaskan Sam dari dendam Ery.
Lian tertunduk lesu, berharap masih ada kesempatan untuk memperbaiki semuanya. "Apakah masih ada waktu?" gumamnya dalam hati. Gadis itu baru menyadari jika keberadaan Sam di sekitarnya sudah seperti udara yang mengandung oksigen baginya.
Lian membutuhkan Samuel, Lian baru menyadari jika hatinyapun juga sudah dicuri oleh cowok humoris itu.
"Pokoknya gue ikut kemanapun lo pergi, Sam" celetuk Mawan membuyarkan lamunan Lian.
"Terserah lo deh, Wan. Gue usir dengan segala macam cara pun lo tetep nempel sama gue. Nyerah gue mah" jawab Sam dengan santai.
"Demi keselamatan lo, bego" kata Mawan lagi.
"Iya, terserah. Lagian ya, kalau ada dua orang beda gender lagi berduaan kan yang ketiganya memang setan" kata Sam sambil membaca buku di depannya, mereka bertiga kan memang sedang belajar bersama.
"Lo pikir gue setan?" tanya Mawan sedikit ngegas.
"Pikir saja sendiri" jawab Sam tanpa mengalihkan pandangannya dari buku.
"Dasar bego" ejek Mawan.
"Pinteran gue kali daripada elo" jawab Sam.
Sementara Lian hanya bisa terkikik kecil saat dua cowok yang selalu berada di sekelilingnya itu sedang saling lempar ejekan.
Sedikit hiburan baginya dalam himpitan hati dan keadaan.
Lian masih merasa tak punya pilihan.
"Kau nampak sangat bahagia, nak" ujar Ery yang sedang bersama dengan Silvi.
"Apa kalian sudah melakukannya?" tanya Ery lagi, sedikit penasaran, muka Silvi jutek terus sejak tadi.
"Apa kau membohongiku, bu?" tanya Silvi geram.
"Tentang?" tanya Ery bingung.
"Seseorang akan langsung hamil setelah berhubungan badan. Benar kan?" tanya Silvi tanpa rasa malu.
Ery terkikik mendengarnya. Sebodoh apa gadis yang sudah ternodai di depannya ini hingga masalah seperti ini saja dia tidak memahami.
"Kenapa ibu tertawa? Jadi benar kalau kau membohongiku?" geretak Silvi semakin kesal.
"Tentu tidak. Banyak pasangan yang melakukan itu sekali saja langsung hamil, bukan" kata Ery.
__ADS_1
"Tapi Antonio bilang tidak semuanya begitu" kesal Silvi.
"Memang ada yang tidak langsung hamil, tapi kan mayoritas langsung hamil. Tunggu saja sekitar dua mingguan. Dan kau akan tahu hasilnya" jawab Ery santai. Dia baru tahu jika Silvi memang sepolos itu.
"Aku tidak sabar menunggu selama itu" gerutu Silvi.
"Kalau begitu datanglah ke dokter kandungan satu minggu lagi. Biasanya dokter sudah bisa memeriksanya" kata Ery.
"Tapi kau menikmatinya bukan? Saat bersama Antonio?" goda Ery.
Silvi memblushing. Belum pernah sebelumnya dia membahas hal yang terlalu intim seperti ini.
"Baiklah. Lupakan saja pertanyaan ku" kata Ery yang kasihan melihat Silvi yang terlampau malu.
"Jadi, bagaimana rencana dari Lia dan teman-temannya?" tanya Ery menagih janjinya, Silvi bilang akan menjelaskan semuanya setelah urusannya tentang hamil selesai.
"Sepertinya? Apa kau tidak yakin dengan ucapanmu?" tanya Ery.
"Aku yakin. Tapi aku tidak terlalu fokus malam itu. Yang ada di otakku hanya kak Bayu. Yang lainnya tidak penting" kata Silvi dengan lancarnya. Padahal informasi dari mulut gadis ini tentang rencana penyerbuan dari Vicky adalah hal yang sangat Ery tunggu.
"Bodoh! Seharusnya aku tak terlalu mengharapkan mu" kata Ery sedikit geram, sementara Silvi hanya bersikap biasa tanpa rasa bersalah.
Selera makan wanita paruh baya itu jadi hilang. Harapannya untuk tahu semua rencana dari pihak musuhnya jadi berantakan. Tapi semoga saja apa yang Silvi sampaikan itu benar adanya. Sehingga nanti saat dia bertemu dengan Johan dalam keadaan genting, dia bisa menyiapkan hatinya.
"Dasar gadis bodoh. Cinta hanya akan membuatmu terluka" kata Ery.
"Kau bilang kalau kau sendiri merasa bahagia meski cintamu tak terbalaskan, yang penting kau bisa hidup berdampingan dengan pujaan hatimu. Apa kau lupa dengan semua petuahmu itu, ibu tua? Sekarang kau malah mengatai aku bodoh. Sebenarnya apa maksudmu?" tanya Silvi sedikit geram. Dia tak suka dibilang bodoh.
"Huft. Baiklah. Maafkan aku. Sekarang tolong katakan padaku rencana mereka sedetail mungkin. Dan kapan mereka akan mendatangi tempatku?" tanya Ery.
"Sudah kubilang setelah Johan datang. Aku juga tidak tahu mengapa mereka sangat bergantung pada kedatangan Johan. Selebihnya aku tidak tahu" jawab Silvi yang sudah tidak mood. Selera makanya pun jadi hilang.
__ADS_1
Ery hanya bisa menarik nafas geram. Memang susah berurusan dengan orang yang sedang jatuh hati. Apalagi dengan gadis sepolos Silvi.
"Moodmu berubah-ubah. Mungkin kau sudah hamil" celetuk Ery.
"Benarkah?" tanya Silvi yang kembali berbinar riang.
"Coba saja kau periksakan dirimu" jawab Ery sambil menggelengkan kepalanya, Silvi benar-benar bodoh menurutnya.
"Akan segera aku lakukan. Jika memang benar, kau harus membantuku untuk urusan selanjutnya, bu" kata Silvi bersemangat.
Segera gadis itu memanggil pelayan untuk membayar billnya dengan riang. Selanjutnya dia benar-benar akan mengunjungi dokter kandungan dengan diam-diam tentunya. Demi keamanan karirnya.
Johan datang agak terlambat malam ini. Ternyata cuaca buruk masih terjadi hingga penerbangannya harus delay selama hampir tiga jam.
Bahkan saat dia baru saja menuruni tangga pesawat, ponselnya sudah berdering dan Lia adalah pemanggilnya.
Agak heran Johan, tak biasanya Lia sengotot ini saat mengajaknya pergi. Hingga banyak sekali pesan yang gadis itu kirimkan padanya. Bahkan dia sudah dijemput di luar bandara oleh Lia tanpa diizinkan untuk sekedar mandi dan ganti baju.
"Johan" teriak Lia begitu nampak olehnya Johan yang datang dengan koper ukuran standar.
"Eh, hai. Tumben sekali kau menjemputku, Lia? Apa kai terlalu rindu padaku?" tanya Johan sambil memberikan kopernya pada supir.
Sementara Bayu hanya bisa membuang muka melihat interaksi antara Lia si pujaan hatinya dengan Johan rivalnya.
"Kita tidak punya banyak waktu. Sebaiknya kita langsung pergi sekarang juga, ya" jawab Lia yang tidak sengaja menggandeng tangan Johan untuk menelusuri jalan keluar dari bandara itu.
Johan tersenyum senang sambil menoleh ke arah Bayu yang hatinya semakin tercubit sakit, sementara ini hanya ada Ken yang berjalan di sisinya sambil menepuk bahu pria itu agar lebih kuat.
Kalut di hati Bayu tak hanya sampai disitu, bahkan setelah tiba di mobil, Lia langsung mendorong Johan untuk duduk di belakang bersamanya, sementara Bayu dan Ken di depan.
"Kau ingin menjadikan aku supir kalian, Lia?" tanya Bayu dengan tampang datarnya.
"Kalau kau tidak mau, biarkan aku saja yang menyetir, Bay" celetuk Ken mengerti isi hati sahabatnya.
Tak ada rasa bersalah di hati Lia, karena fokusnya hanya untuk menyelamatkan mamanya malam ini. Sementara rombongan Vicky dengan timnya sudah stand by di depan bar Norita sejak setengah jam yang lalu.
Dan Johan merasa sangat beruntung malam ini. Tak ada pikiran buruk dalam otaknya selama Lia memperlakukannya dengan sangat baik, dia hanya bisa bahagia.
"Sebenarnya kita mau kemana sih?" tanya Johan yang baru sadar jika mobil yang dia tumpangi melenceng jauh dari arah rumah mereka.
"Suatu tempat" jawab Lia yang terlihat khawatir.
"Apa kau baik-baik saja, Lia? Kau terlihat sangat cemas" tanya Johan yang baru menyadari tingkah laku Lia.
"Everything is ok, Jo. Aku hanya ingin melakukan satu hal saja bersamamu" jawab Lia.
"Oh ok" jawab Johan datar.
Dalam hatinya kini, Johan menyadari jika ada sesuatu yang tidak beres. Biasanya Bayu sangat tidak mau mengalah seperti ini. Ken juga nampak kaku, biasanya pria itu sangat semangat untuk meledek Bayu saat Lia bersikap baik padanya.
Tiba-tiba Johan ikut panik tanpa sebab.
__ADS_1