My Angel Baby

My Angel Baby
Pesan Di Pagi Hari


__ADS_3


...MAB by VizcaVida...


...|05. Pesan Di Pagi Hari|...


...Selamat membaca...


...[•]...


Telepon di meja Angel berdering. Fokus pada layar komputernya terpecah, teralihkan pada benda yang masih berbunyi dan menampakkan angka satu pada layar kecil dua dimensi berwarna putih. Nomor panggilan milik Louis.


Angel tersenyum, kemudian berdehem untuk menetralkan suaranya. “Angel Speaking.”


“Bisa ke ruangan saya sebentar?”


“Baik, pak.”


Panggilan terputus, dan Angel bergetar memperbaiki penampilan. Hari ini dia memakai pakaian casual namun tetap membuatnya terlihat cantik. Kemeja hitam satin lengan panjang, celana Jeans berwarna langit, kemudian style rambut yang ia ikat menjadi satu dengan poni menyamping yang terselip di balik telinga. Tak lupa sepatu pantofel Charles and Keith warna gelap.


Ia bergegas, tak ingin Louis menunggunya terlalu lama.


Angel mengetuk pintu sebanyak tiga kali, kemudian mendorongnya perlahan. Aroma musk bercampur rempah rosemary milik Louis menyapa penghirup Angel. Membuat jantungnya berdebar tak karuan.


Apalagi Louis selalu menyuguhkan senyuman yang dimata Angel begitu indah, Angel selalu betah berada dekat dengan pria ini.


“Hai Ngel. Selamat sore. Sudah siap-siap mau pulang?” tanya Louis riang sambil memeriksa berkas diatas meja.


“Belum, pak. Masih ada pekerjaan yang belum rampung.” jawabnya sesuai keadaan. Ia masih perlu memeriksa beberapa E-mail yang masuk sebelum melanjutkannya ke E-mail Louis.


Louis mengangguk. “Apa sudah ada feedback dari Management Justin?”


Akan ada perhelatan musik bertajuk pesta remaja yang diadakan oleh tim kreatif untuk memperingati hari berdirinya stasiun televisi yang sekarang di bawah kepemimpinan lOuis ini, dan tim mendatangkan Justin menjadi bintang tamu.


“Belum, pak. Nanti coba saya cek ulang.”


“Oh, baiklah. Lalu, sponsor dari produk Nolan?”


“Sudah beres.” kata Angel dengan nada antusias dan mengacungkan ibu jarinya tanda semua sudah berjalan dengan baik dan aman terkendali.


Louis tertawa melihat perilaku menggemaskan Angel. Dan Angel, entah mengapa berdebar.


“Bagus. Kamu memang bisa diandalkan.”


Wajah Angel merona. Lalu tanpa sengaja, matanya menangkap kotak berisi kastengel diatas meja Louis. Rupanya makanan itu benar-benar menjadi teman bekerja Louis. Angel mengangguk dalam imajinasi, lalu bergumam dalam hati jika dia akan membawakannya lagi jika sudah habis. Khusus untuk Louis, gratis. Tidak perlu bayar.


“Baiklah, kembalilah ke meja mu. Selesaikan pekerjaan mu sebelum malam datang. Jangan sering-sering lembur. Nanti kamu sakit.”


Diperhatikan begitu, membuat satu sisi dalam diri Angel menghangat. Kasih sayang yang selama ini ia rindukan, terasa terpenuhi oleh perhatian seorang Louis. “Baik, pak.”

__ADS_1


Angel memutar tubuhnya bersiap meninggalkan ruangan yang dipenuhi oleh aroma Louis ini. Namun suara Louis kembali menahannya.


“Oh iya,”


Angel berbalik. “Ada sesuatu yang hendak saya sampaikan ke kamu.”


Angel mengerutkan kening sembari tersenyum. “Apa, pak?”


Louis menggaruk pelipisnya, kemudian memandang kotak kastengel nya diam-diam, yang sudah hampir kosong.


“Saya ingin memesan kue ini lagi sama kamu.” katanya, sambil menunjuk kotak yang ia maksud.


Angel melongokkan sedikit kepalanya. lalu dengan cepat menjawab. “Oh, kastengel. Bisa, nanti saya bawakan lagi.”


“Eh, saya pesen lho ya. Bayar ke kamu. Jangan di kasih gratis lagi.”


Angel hanya mengangguk bukan untuk mengiyakan, tapi untuk membuat semuanya agar lebih mudah. Lebih singkatnya, agar tidak terjadi perdebatan untuk bayar-membayar makanan yang akan dengan tulus diberikannya itu.


“Nastar nya juga?” tawar Angel sudah menyerupai sales profesional yang menawarkan barang dagangannya.


“Eum, sebenarnya saya juga suka yang itu. Tapi saya sedang dilarang makan manis-manis sama Personal Trainer saya di Gym.”


Ah, dia juga rajin Gym ya? Pantas saja tubuhnya—


Angel menampar dirinya sendiri dalam imajinasi. “Diam Ngel. Jangan berfikir yang aneh-aneh. Dosa kamu!” bisiknya dalam hati.


“Ah, baiklah. Jadi bapak mau kastengel saja?”


Louis mengangguk.


Angel meninggalkan ruangan Louis dan mengelus dadanya yang berdebar. Gila, mengapa dia menjadi-jadi seperti ini? Sebelumnya, dia masih bisa mengendalikan perasaannya kepada Louis.


Angel bergegas menuju meja dan melanjutkan pekerjaannya. Namun semua berubah kacau saat ingatannya kembali menampakkan senyuman Louis dan tentu saja kebaikan pria itu kepadanya.


Tuhan, tolong jangan buat aku melambung ke awan jika nanti pada akhirnya Engkau akan menjatuhkan aku kembali ke daratan.


***


Lexus mengkilatnya sudah terparkir rapi di garasi rumah. Louis masih tinggal bersama mama dan papanya, namun lebih sering sendirian karena mereka berdua selalu sibuk melakukan ini dan itu. Pergi keluar kota, bahkan keluar negeri untuk urusan bisnis. Dan hari ini, mereka baru saja kembali dari kota Bali setelah menghadiri pertemuan besar bersama pengusaha-pengusaha lain yang berpengaruh di Indonesia.


Mama menyambut Louis dengan senyuman. Sejak putranya itu putus dengan Caca, sang mama kembali mencurahkan semua perhatian untuk si bungsu tampannya ini.


“Hai sayang. Kenapa baru pulang?” sapa Jenita begitu melihat presensi Louis yang hendak menaiki anak tangga menuju lantai dua.


“Mama sudah kembali?” tanya Louis sembari menarik dasi di lehernya agar lebih mengendur, lalu berjalan menuju mamanya, dan memeluk wanita yang melahirkan nya itu.


“Siang tadi. Tapi papamu sedang ada pertemuan lain dengan temannya.”


Louis menghela nafas. Papanya itu, sudah tua masih saja tidak mau berdiam diri dirumah. Tua-tua keladi kalau kata Louis. Semakin tua semakin tak mengakui usianya sendiri. Dan Louis terkikik membayangkan papanya yang memegang gelas Wine dengan kulit tangan sedikit keriput.

__ADS_1


“Kenapa tertawa?”


Louis menggeleng, lalu mencium satu pipi mamanya. “Engga. Cuma inget film Spongebob yang tadi sempat Lou lihat sebelum pulang.”


Jenita sampai heran. Putranya sebesar ini, masih saja suka melihat film anak-anak yang memiliki warna kuning dan berbentuk kotak itu tanpa mau di debat.


“Kamu ini. Inget umur!” kata Jenita sambil menepuk pantat Louis. “Lihat tuh, putra temen mama sudah pada nikah dan mereka udah pada gendong cucu—”


“Mama kan bisa bawa Rebecca kalau ada pertemuan seperti itu.”


Jenita mengangkat lengannya ingin menepuk punggung putranya yang selalu saja berdalih jika diminta untuk mencari pendamping hidup. Tapi Jenita juga sadar diri, mungkin Louis masih membenahi hatinya yang sedikit banyak juga patah karena dirinya yang tidak memberikan restu untuk hubungan sebelumnya bersama Caca.


“Ya udah. Cepetan mandi, makan malam, istirahat.”


“Iya Kanjeng mami . . . ” goda Louis lalu berlari tunggang langgang sambil tertawa lebar sebelum sendal lantai mama nya melayang menimpuk kepala atau punggungnya.


Jenita lega, karena pada akhirnya Louis mau kembali tertawa dan menyapanya setelah hubungan mereka yang sempat dingin karena kendala restu. Jenita menatap tubuh tinggi putranya tanpa putus ketika menaiki anak tangga. Ia sadar, jika putranya itu memang benar-benar memiliki hati yang besar dan baik. Louis seorang penyayang, dan Jenita bangga dalam hati karena sudah membesarkan pria berusia tiga puluh satu tahun itu dengan baik.


“Semoga kamu mendapatkan wanita yang baik juga untukmu, Lou. Mama hanya tidak ingin kembali membuat kamu kecewa atas penolakan mama.” gumamnya pelan sambil tersenyum membalas senyuman sang putra untuknya.


“Mama hanya tidak ingin hidupmu nanti menjadi dilema karena seseorang. Dan mama harap, wanita beruntung yang berhasil membuatmu jatuh hati nanti, mampu menjagamu seperti mama menjagamu selama ini.”


***


Pagi menyapa. Louis menggeliat dibalik selimut dan berusaha menatap jam dinding meskipun ruangan masih gelap. Pukul setengah enam pagi. Ia bangkit dan menyibak selimut yang menutup sebatas dadanya yang sama sekali tidak tertutup pakaian. Kebiasaan Louis ketika tidur adalah, melepas pakaian atasnya. Ia tidak suka memakai pakaian atas ketika tidur.


Ia bergerak meraih ponsel untuk mengecek sesuatu. Matanya memicing menyesuaikan pendar cahaya ponsel. Biasanya, di jam segini, Angel sudah mengirim jadwal pertamanya yang akan dia kerjakan di kantor. Dan benar saja, pesan itu sudah masuk ke ponselnya sekitar lima belas menit yang lalu.


Lebih tepatnya, ada tiga pesan yang masuk pada aplikasi WhatsApp nya.


Senyuman Louis mengembang begitu saja melihat kebiasaan wanita itu mengirim pesan di pagi hari untuknya, meskipun memang awalnya dia yang meminta.


Senyuman Louis berubah menjadi tawa karena bukan rentetan jadwal kegiatan yang ia lihat pertama kali dalam isi pesan Angel, melainkan dua, ah tidak, tiga kotak kastengel yang terlihat mengiurkan dan siap di kudap seharian di kantor. Baru setelahnya, jadwal meeting harian terpampang jelas dimatanya yang masih belum sempurna terbuka.


“Dia memang sekretaris yang luar biasa.” katanya dengan suara serak khas orang bangun tidur.


Thanks ya. Balasnya untuk pesan dari Angel.


Biasanya, Louis tidak pernah membalas pesan Angel karena menganggap itu hal biasa yang membantunya bisa bangun pagi dan tidak terlambat ke kantor. Hanya melihat dan bergegas bangun untuk kemudian bersiap pergi ke kantor dan melewati hari-hari yang melelahkan. Tapi hari ini, entah mengapa terasa begitu menyenangkan.


Apa karena Kastengel buatan Angel?


Ah, ya. Pasti karena itu. Bukan yang lain. []


###


Boleh tinggalkan komennya untuk duo baik hati kita ya akak... ☺️


Angel 👉

__ADS_1


Louis 👉


Terima kasih


__ADS_2