My Angel Baby

My Angel Baby
Masih tetap Poor Johan


__ADS_3

"Lia?" pertanyaan Bayu sudah tak terdengar oleh Lia yang pingsan.


"Keadaan darurat. Segera kita bawa pasien" kata Bayu panik.


Bayu dan Vicky langsung menggendong Lia dalam sisi yang berbeda untuk meletakkannya diatas tandu. Bahkan mereka berdua sendiri yang mengangkat tandu itu, membuat petugas medis merasa sedikit bingung karena tugasnya yang tergantikan.


Rombongan Lia berlari meninggalkan polisi yang sibuk dengan beberapa mayat yang tergeletak. Vicky sudah memerintahkan beberapa buahnya yang dipercaya untuk tetap tinggal di tempat itu dan menunggu hasil penyelidikan polisi.


"Tante Viviane bisa pulang bersamaku. Pasti om sangat khawatir pada keadaan Lia" ucap Johan sambil menuntun Viviane dengan sayang.


"Maafkan tante, Jo" ucap Viviane.


"No! Aku yang seharusnya berucap maaf pada Tante dan Lia. Semua ini karena ulah mommy. Dan bagaimana bisa tante ada disini? Aku tak melihat ada tante saat pergi ke tempat ini bersama Lia tadi" kata Johan.


"Ah itu, lupakan saja" jawab Viviane yang merasa tak enak untuk bercerita pada Johan atas apa yang telah mommynya lakukan.


Dengan tergesa, Lia sudah dimasukkan ke dalam mobil ambulance. Bahkan Bayu dan Vicky masih disampingnya.


Bayu terlihat cekatan untuk memasang alat bantu kehidupan di tubuh Lia. Mengecek denyut nadi Lia yang melemah, mengontrol tekanan darah dan nafas Lia.


Sementara Vicky hanya bisa melihat semua itu dengan hati berdebar kencang. Karena saat Lia terbaring lemah dan lengan kirinya terlilit jaket dengan banyak sekali darah disana, pria itu terlihat sangat frustasi.


Wajah Lia sudah semakin memucat. Suara sirine ambulance terdengar sayup-sayup di telinga dua pria itu. Dan lajunya kendaraan emergency itu sesekali mengguncang tubuh keduanya hingga harus berpegangan pada apapun.


Sedangkan Johan masih mengikuti dengan mobil milik keluarga Alexander yang dibawa anak buah Vicky, bersama Viviane yang belum sempat di tegur oleh suaminya saat melihat kondisi Lia yang mengkhawatirkan.


"Maafkan papa sayang, seharusnya papa tak membiarkanmu masuk sendiri. Seharusnya papa lebih keras menolak keinginanmu yang ingin menyelamatkan mamamu. Seharusnya papa juga ikut bersamamu, seharusnya... Argh!" ucap Vicky sambil menjambak rambutnya, bahkan mungkin air matanya sudah terjatuh jika tak ada Bayu disana.


"Ah sial! Bahkan aku melupakan istriku saat melihat keadaan putriku seperti ini. Aku harus meminta maaf padanya nanti saat bertemu" ucap Vicky semakin gelisah.


Bayu hanya bisa mendengar semua ocehan pria perfeksionis di depannya itu. Dalam hati sebenarnya Bayu ingin sekali tertawa. Tapi tentu dia menahannya karena keadaan memang sedarurat itu.


"Apa mungkin semua pria akan menjadi lemah seperti ini jika dihadapkan dengan keselamatan wanitanya?" gumam Bayu dalam hatinya sambil memandangi wajah teduh Lia yang terpejam.

__ADS_1


"Akupun sangat gelisah memikirkanmu, Lia. Bertahanlah! Berjuanglah untuk tetap bisa hidup! Aku akan sangat sabar menantimu" ucap Bayu dalam hatinya.


"Kenapa kau diam saja, Bayu? Lakukanlah sesuatu agar Lia bisa segera membuka matanya" rengek Vicky seperti anak kecil saja.


"Sudah om. Peralatan yang lebih lengkap tentunya ada di rumah sakit" ucap Bayu.


"Kenapa kau tidak melepaskan jaket itu? Sudah terlalu banyak darah didalamnya. Bahkan mungkin sudah bisa diperas" keluh Vicky lagi.


"Tidak ada peralatan jahit yang memadai di dalam mobil ini, om. Meskipun ada, akan sangat sulit menjahit luka segawat ini dalam mobil yang sedang melaju kencang. Itu lebih berbahaya" jawab Bayu.


"Ah, kau saja yang tidak bisa melakukannya" kata Vicky terlihat kesal.


"Kenapa lama sekali? Sebenarnya rumah sakit mana yang mereka tuju. Apa Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo di Surabaya?" kata Vicky semakin tak jelas.


Bayu hanya diam, mencoba mengerti kegundahan hati seorang ayah yang sangat menyayangi putrinya. Sebenarnya Bayu juga sangat khawatir. Tapi sebisa mungkin pria itu berusaha terlihat tenang agar keadaan tidak semakin mencekam.


Lima belas menit berlalu, mobil ambulance sudah berbelok ke pelataran rumah sakit Persada, rumah sakit terbesar di kota ini.


"Om tunggu disini, biar kami tangani Lia lebih lanjut. Biarkan kami bekerja dengan baik agar Lia bisa segera pulih. Tolong sampaikan salamku pada tante Viviane dan tolong mintakan doa darinya demi kesembuhan Lia" ucapan Bayu membuat Vicky yang sebelumnya sangat ingin ikut masuk dan melihat para medis menangani Lia mengurungkan niatnya.


Dia ingat untuk menyapa istrinya yang baru terbebas dari sekapan Ruby. Vicky harus bermain dengan baik dalam dua perannya malam ini. Sebagai seorang ayah dan suami yang baik.


Di dalam ruangan, Bayu menerima pakaian steril dan juga topi yang dijulurkan oleh suster agar dia kenakan.


Bersama dokter jaga, Bayu menangani Lia dengan sangat hati-hati. Mereka sudah mengenal siapa Bayu. Kiprahnya yang bagus di dunia kedokteran membuat mereka membiarkan pria itu ikut menangani pasien istimewanya meski bukan di jam jaganya.


"Luka tusukannya kecil tapi sangat dalam, dok" ucap dokter jaga saat membuka jaket yang Bayu lilitkan di lengan Lia.


"Iya. Sepertinya mengenai arteri subklavianya. Jahit dengan benar dan hati-hati, dok" kata Bayu mengingatkan, sementara dia sedang memeriksa kesadaran Lia yang semakin menurun.


"Tolong ambilkan darah, pasien kehilangan banyak darah" perintah Bayu yang segera dilakukan oleh suster.


Selang oksigen dan infus sudah terpasang sempurna. Kantong darah sedang Bayu usahakan untuk masuk ke tubuh Lia dengan selang lainnya.

__ADS_1


Keadaan masih kritis, para dokter sedang berusaha menolong Lia dengan mengerahkan semua kemampuan mereka.


Sementara di luar, Viviane baru keluar dari mobil bersama Johan yang menuntunnya. Nampak Viviane yang terlihat sedikit kurus di mata Vicky.


"Sayang, maafkan aku yang tadi tak menghiraukanmu. Aku sangat mengkhawatirkan kondisi Lia" ucap Vicky sembari merebut Viviane dari tangan Johan dan segera memeluknya.


"Iya, bang. Aku mengerti. Bagaimana sekarang kondisi Lia?" tanya Viviane sedikit menggigil, wanita itu merasa kedinginan.


"Lia masih di dalam UGD. Apa kau merasa dingin?" tanya Vicky sambil membuka jasnya, membiarkan Viviane memakai baju itu.


"Aku hanya merasa, lapar bang" ucap Viviane jujur, karena memang selama hampir tiga hari dalam sekapan Ruby, Viviane hanya memakan sepotong roti pemberian Junet di siang pertama saat Viviane berada di bar Norita.


"Oh sayang. Kasihan sekali. Kita ke kantin saja ya. Tapi bagaimana jika dokter mencari keluarga pasien?" tanya Vicky sedikit bingung.


"Biar Johan yang menunggu disini, pa" kata Johan yang masih memanggil papa terhadap Vicky, kebiasaan lama yang sangat sulit dia hilangkan.


"Oh bagus. Aku tak melihatmu sejak tadi. Baiklah, tolong jaga Lia dengan baik. Jangan seperti mamamu yang bisanya hanya menyusahkan kami" kekesalan Vicky dia tumpahkan pada Johan yang tak tahu apapun.


Johan jadi merasa menjadi seorang anak kecil lagi. Dulu dia yang selalu Vicky salahkan jika terjadi sesuatu. Dan Johan masih berusaha untuk memahami itu dengan berdiri diam dan menunduk.


"Bang, jangan bersikap kasar pada Johan. Kasihan dia" kata Viviane mengingatkan suaminya.


"Biarkan saja. Ayo pergi" kata Vicky sambil menggandeng tangan istrinya untuk pergi ke kantin rumah sakit.


Meninggalkan Johan yang memilih untuk duduk seorang diri di luar UGD. Memikirkan nasib yang selalu tak baik menerpanya.


Memikirkan sang mommy yang dia kira sudah menjadi orang yang baik, tapi ternyata kini semakin buruk.


Johan tak mengerti dengan alur kehidupan yang Tuhan berikan padanya. Mengapa Tuhan memberinya kehidupan yang pahit sedari dia kecil dulu.


Beruntung pekerjaannya sebagai seorang pemilik usaha Travel memberinya banyak kesempatan untuk berlibur sambil bekerja. Jika tidak, bisa dipastikan jika kondisi kejiwaan Johan akan menjadi sangat buruk.


Johan yang malang.

__ADS_1


__ADS_2