
Sambutan meriah didapat oleh Lia saat baru saja menapaki teras rumahnya. Ternyata kakek, nenek, kedua orang tua si kecil Sam dan pelatih pribadinya memberi kejutan.
Mengetahui langkahnya yang hanya kurang satu step untuk menjadi juara, keluarga Alexander sangat bangga padanya.
"Sulplise untuk kak Lia" kata Sam yang cadel.
Seketika penat yang sejak tadi Lia rasakan menjadi hilang saat melihat senyum tulus dari si kecil Sam yang berjalan mendekati dan memintanya untuk digendong.
"Ah, kalian berlebihan sekali. Pertandingan finalnya masih besok" kata Lia yang berjalan semakin mendekat.
"Saat kau berada di titik ini sudah membuat kami sangat bangga padamu, sayang" kata Viviane sambil mendekat dan mengambil alih Sam dari kakaknya yang nampak letih.
"Ya, mamamu benar. Ini adalah pertandinganmu yang terberat sejauh ini. Dan kami sangat bangga padamu" kata Abraham, sementara Vicky yang tersenyum dan berdiri di samping istrinya.
"Aku sudah sering ikut pertandingan, kenapa baru sekarang apresiasinya semegah ini?" sindir Lia.
"Karena ini adalah kompetisi terbesarmu. Dan kami sangat bangga padamu. Jika besok kau menjadi pemenangnya, maka papa akan mengabulkan satu keinginanmu" kata Vicky mengimingi sebuah hadiah untuk anaknya
"Benar?" tanya Lia memastikan, tentunya dengan nada bercanda.
"Tentu saja. Kau bisa pegang janji papa" kata Vicky.
"Oke deal" kata Lia sambil menyalami tangan papanya untuk sebuah perjanjian.
"Kami semua akan datang di pertandinganmu besok, Lia" kata Abraham.
"Aku sangat menantikan itu, kek" kata Lia sambil memeluk kakeknya.
Kebahagiaan itu harus segera dihentikan barang sementara waktu karena Lia rasa letih yang Lia rasakan sudah datang kembali.
Sesuai rencananya, kali ini Lia mengunjungi bath up nya dan berendam dengan nyaman di dalam air hangat dengan aroma terapi yang menenangkan.
"Ah... Nyamannya" gumam Lia sambil menutup matanya untuk menikmati kehangatan dan kenyamanan dari kegiatannya kali ini.
Betah sekali remaja itu saat berendam. Karena memang letih yang dia rasakan sudah menumpuk sejak masa latihan hingga pertandingan hari ini dan esok hari.
Jadi, tidak ada salahnya untuk memanjakan diri agar tubuhnya pun bisa diajak kompromi saat bertanding nanti.
Dan kini, sudah lebih dari satu jam Lia berada di dalam kamar mandinya.
Viviane yang merasa cemas datang untuk melihat kondisi anaknya. Dan ternyata, Lia tertidur di dalam bath up nya.
"Dasar anak ini" gumam Viviane mendekat, dan mengguncang pundak putrinya dengan lembut agar dia terbangun.
"Bangun Lia, kau sudah terlalu lama berada di situ. Nanti bisa masuk angin" tegur Viviane.
Tak butuh waktu lama, Lia membuka matanya sedikit demi sedikit untuk membiasakan cahaya yang masuk ke dalam matanya.
"Ehm, masih di sini ya aku, ma?" gumam Lia.
Viviane terkekeh kecil, anaknya itu memang menggelikan.
"Ayo cepat bilas badanmu dan segera ganti baju. Mama sudah memanggilkan terapis untuk membuat badanmu lebih terasa segar" kata Viviane.
"Uwah, terimakasih ma" ucap Lia bersemangat.
Sudah terasa keprofesionalan tangan dari seorang terapis yang sedang bermain dibadannya, dan Lia sudah tidak sabar lagi.
Segera dia melakukan perintah mamanya dan keluar dari kamar mandi. Dan rupanya, terapis itu sudah menunggu Lia ditemani seorang art.
"Silahkan pakai robe ini saja, non" kata si terapis.
Lia menurut, memakai pakaian pemberian terapis itu dan mulai merebahkan dirinya diatas ranjang.
Gemulai jari-jari yang profesional itu menari diatas kulit badan Lia. Membuat gadis itu merasa nyaman dan sangat menikmati kegiatannya.
__ADS_1
Lama dalam pijatan lembut membuat matanya tak kuat untuk bertahan. Ya, Lia tertidur saat terapisnya masih memijat lembut seluruh tubuh Lia.
"Bangun Lia, ini sudah pagi" suara lembut Viviane kembali menyapa telinga Lia pagi itu.
Gadis remaja itu menggeliat pelan, mendengarkan dengan seksama jika benar dia telah mendengar suara mamanya.
"Ayo bangun. Kau sedang mencari apa?" tanya Vivian yang melihat putrinya itu malah celingukan.
"Eh, benar suara mama. Tadi aku kira lagi mimpi, hehe" kata Lia lirih.
Duduk dengan masih bermuka bantal, Lia sedang mengumpulkan nyawanya. Dan tak lama berselang, "Kriuuukkkk" suara perut Lia memecah suasana.
Kembali Viviane terkekeh geli, "Kau pasti kelaparan ya, sayang? Kasihan sekali. Ayo turun, kita sarapan dulu. Ini sudah hampir jam tujuh pagi" kata Viviane yang masih menyisakan senyum di bibir cantiknya.
"Kenapa perutku sangat lapar ya, ma?" tanya Lia sembari menuruni ranjang dan beranjak ke kamar mandi untuk sekedar membilas wajahnya, menyisakan rencana untuk mandi pagi setelah sarapan saja.
"Tentu saja kau lapar, semalam kau tertidur saat terapis sedang memijat mu, dan kau sangat sulit untuk dibangunkan saat makan malam. Bahkan art yang mama suruh mengantarkan makananmu ke kamar ini, dia ambil lagi tadi pagi. Rupanya kau tak menyentuh makananmu itu sama sekali" kata Viviane dengan panjang dan lebarnya, ciri khas seorang ibu yang sedang menasehati anaknya.
"Yasudah, ayo sarapan ma" ajak Lia yang sudah siap meski masih memakai kimono pijatnya semalam.
"Lau mau turun dengan memakai kimono begitu?" tanya Viviane.
"Oh iya, sebentar Lia ganti baju dulu" kata Lia sambil menepuk jidatnya.
Lantas diapun memilih setelan piyama tidur dari lemarinya dan segera memasuki kamar mandinya lagi. Tak sampai lima menit, Lia kembali keluar dan segera mengajak mamanya untuk turun ke meja makan.
"Ini dia atlit kita baru turun. Kami sudah menantimu sejak tadi, Lia" sala Abraham.
"Pagi semuanya, maaf aku terlambat. Uwah, semua sudah berkumpul ya" kata Lia dengan senyumnya, bahkan si kecil Sam sudah duduk di kursinya sendiri.
"Nenek pakai baju apa sih?" tanya Lia saat melihat neneknya memakai baju dobel, balutan gaunnya dan sebuah kaos berwarna krem dengan sebuah foto di bagian dada, sayangnya baju itu terbalik, membuat fotonya tak terlihat jelas.
__ADS_1
"Oh ini? Kami sengaja mempersiapkan kaos ini untuk mensuport pertandingan mu nanti. Karena kami semua akan datang ke acara mu sebagai penyemangat, sayang" ujar Suzy yang belum menyadari jika tadi dia memakai kaos itu secara terbalik.
"Tapi fotonya todak jelas, nek" ujar Lia sambil mempersiapkan sarapannya di piring.
"Oh iya, hehehe. Pantas saja terasa aneh" ujar Suzy sambil melepas kaosnya dan memakainya dengan benar.
"Nah, seperti ini. Bagaimana, apa kau suka?" tanya Suzy lagi.
"Bagus nek. Aku suka. Tapi nanti aku masih harus ke sekolah dulu, lalu berangkat bersama dengan rombongan sekolah. Kalian datang langsung ke tempat bertandingku saja ya jam sembilan" kata Lia.
"Tentu, lagipula masih ada yang harus kami persiapkan dari rumah" sahut Viviane.
"Apa ma?" tanya Lia.
"Oh, hanya persiapan kecil sayang" kata Viviane hampir keceplosan.
"Baiklah, terserah. Tapi aku harus segera ke sekolah. Karena masih ada yang harus aku lakukan" kata Lia sedikit mempercepat sarapannya.
Saat kakek dan neneknya hanya memakan roti, berbeda dengan Viviane dan Lia yang tidak akan merasa kenyang jika tidak memakan nasi.
Mungkin mereka berdua terbiasa untuk harus merasa kenyang lebih lama karena hidup mereka dulu yang sedikit lebih tidak baik daripada keseharian kakek dan neneknya.
Ya, tapi semua sudah berlalu. Setelah semua saling memaafkan, kini kehidupan keluarga Alexander yang sebelumnya hampa meski ada Rubi dan Johan, berganti dengan suasana penuh kebahagiaan dengan adanya Viviane, Lia dan terutama si kecil Samuel.
Buah dari kesabaran Viviane dalam menghadapi cobaan hidupnya berakhir manis. Anak-anaknya bisa hidup nyaman dan terjamin, tidak seperti dirinya yang harus sedikit bekerja keras demi kelanjutan hidupnya dulu.
Jika kalian sedang dalam masalah, maka bersabarlah. Selesaikan satu per satu dengan lapang dada dan berdoa.
Buah dari kesabaran pasti akan terasa manis jika kita bersyukur.
.
.
__ADS_1
.
.