
Johan sangat frustasi. Dia sampai tak punya muka untuk sekedar mengucapkan 'semoga lekas sembuh' kepada Lia.
Saat mengetahui bahwa Lia selesai ditangani dan akan dipindahkan ke ruang rawat, Johan memilih untuk kembali ke bar Norita dan mencari petunjuk kemana kira-kira mommynya pergi.
Bahkan Vicky dan Viviane juga tak melihatnya setelah selesai makan malam di kantin rumah sakit.
Saat Johan tiba di bar, kondisi di sana sudah sangat acak-acakan.
Banyak anggota kepolisian yang menangkap dan membawa beberapa orang untuk digiring ke kantor polisi.
Dan satu hal yang semakin membuat Johan tak mengerti adalah ditemukannya akuarium berukuran besar dengan satu mayat yang diawetkan didalamnya.
Ada sebuah lempengan besi dengan nama Handoko dibawah akuarium itu. Begitupun di beberapa akuarium lain yang tertulis nama Berlian, Samuel, Lia, Viviane, Abraham, dan Suzy. Tapi tak ada nama Vicky disana.
Hati Johan semakin teriris dibuatnya. Rasa minder membuat Johan tak punya muka untuk bertatapan dengan Lia lagi.
"Oh mom. Hal apa yang sebenarnya membuatmu begitu merasa benci terhadap keluarga Lia? Tak tahukan engkau mom, jika putramu ini sangat mencintai gadis yang kau benci itu? Lantas bagaimana aku akan meneruskan hidup ini jika kau saja tak mau mengerti aku, mom" keluh Johan yang sudah berkaca-kaca. Tak menyangka jika mommynya sangat membenci Lia.
Diam-diam Johan mengunjungi kantor mommynya. Memeriksa semua berkas yang tertinggal yang sekiranya bisa menjadi petunjuk kemana mommynya bersembunyi.
"Aku harus melakukan semuanya dengan cepat sebelum para polisi menggeledah tempat ini" ucap Johan.
Satu persatu berkas yang dirasa penting telah Johan baca. Dan perjuangannya mengantarkan Johan pada sua buah buku Sertifikat rumah. Satu atas Nama Norita, sedangkan yang satunya atas nama Ruby Eria, milik mommynya.
Johan tak membawa sertifikat itu, dia hanya memotret alamat dan peta rumah itu untuk dia kunjungi. Tapi kedua rumah itu ada di dua tempat yang berjauhan.
"Aku harus mengunjungi rumah ini, siapa tahu mommy sedang ada di salah satunya" gumam Johan.
Segera Johan pergi ke tempat terjauh pagi itu juga, rute yang cukup menguras energi karena letak rumah yang dekat dengan hutan dan jalan yang berliku.
Johan berkendara hampir tiga jam lamanya untuk bisa sampai disana. Dan saat tiba disana, Johan tak mendapatkan apapun bahkan dia sampai mendobrak pintu dan mencari mommynya ke segala penjuru ruangan.
"Ah ****! Where are you, mom" keluh Johan yang kembali berkendara untuk pergi ke tujuan keduanya.
Tapi sebelum Johan pergi ke rumah yang kedua, dia menyempatkan diri untuk sekedar sarapan sambil mengisi bensin di sebuah SPBU.
Samar-samar Johan mendengar kabar pagi ini melalui sebuah televisi yang terpasang di rest area tersebut.
Berita yang menayangkan bar Norita yang sedang diacak oleh polisi dan juga kabar terbaru tentang kondisi Lia yang merupakan salah satu keturunan Alexander yang sedang terkena musibah.
Tak dijelaskan perihal kejadian yang menimpa Lia. Penyiar berita hanya menyampaikan jika banyak sekali kiriman bunga yang dikirimkan ke ruang dimana Lia dirawat.
Belum ada pihak luar yang diperbolehkan untuk menjenguk gadis luar biasa dalam hal bisnis itu.
Johan hanya bisa mengukir senyum sambil mendengarkan berita tersebut. Dia memang sangat mengagumi dan mencintai gadis pemberani dan cerdas itu, bahkan sejak Johan masih kecil dulu.
"I'm sorry, Lia. Kau dan keluargamu menjadi susah karena ulah mommyku. Aku tak tahu bagaimana cara meminta maaf kepadamu" batin Johan semakin pilu.
"Enough! Aku harus segera menemukan mommy sebelum dia berulah lagi. Mungkin memang mommy sedang berada di rumah yang ada di sertifikat itu. Aku harus segera kesana" ucap Johan sambil menandaskan sisa kopi capuccino setelah menelan rotinya.
"Both of you are important for me, mom and Lia. Tapi jika harus memilih, lebih baik aku membawa mommy pergi menjauh dari negara ini dan membuka lembaran baru kehidupan kami. Semoga Tuhan masih memberikan kesempatan untuk mommy menjadi manusia baru yang lebih baik" serangkaian doa Johan panjatkan demi mommynya.
Sudah hampir siang saat Johan sampai di pelataran rumah mommynya. Dari kejauhan dia melihat ada sebuah mobil terparkir di luar.
Johan masih mengamati dari jarak yang aman.
__ADS_1
Tin Tin...
Suara klakson dari mobil mahal Sam terdengar menyakitkan di telinga Lian yang tak bisa tidur sejak semalam.
Mendengar Sam yang ingin mengajak Lian pergi membuat Ruby terus saja mengingatkan jika rencananya harus dilakukan hari ini juga.
"Lian, lama banget sih" Sam sedikit berteriak karena Lian tak nampak juga setelah Sam menunggu hampir lima belas menit.
Sam tak tahu jika ada penghuni lain di rumah Lian pagi ini, jadi dia biasa saja untuk berteriak seperti itu.
"Iya, kamu ini tidak sabaran sekali sih" kata Lian yang sudah keluar dengan setelan seragam dan tas punggungnya.
"Kusut banget mukanya? Kenapa?" tanya Sam yang melihat kantung mata Lian agak menghitam.
"Kelihatan banget ya? Aku nggak bisa tidur semalam, Sam" jawab Lian jujur.
Sam malah tersenyum mendengarnya, didalam pikiran Sam, Lian tak bisa tidur karena memikirkan kalau perjalanan mereka siang ini pasti menyenangkan.
"Terimakasih Sam" ujar Lian yang sudah duduk manis dan Sam kembali menutup pintu mobilnya.
Di seberang sana, Johan masih mengintai dengan penasaran yang tinggi.
"Bukankah itu Sam? Dengan siapa dia pergi? Tapi benar ini adalah alamat rumah di sertifikat milik mommy" gumam Johan dengan masih mengamati keadaan sekitarnya.
Johan menajamkan penglihatannya, ternyata ada mobil lain yang juga sedang mengintai mereka berdua.
"Bukan hanya aku yang penasaran" gumam Johan.
"Mobil hitam dengan dua pria di dalamnya, aku yakin mereka adalah bodyguard yang Papa suruh untuk melindungi Samuel, sedangkan mobil van hitam yang di seberang jalan itu siapa?" tanya Johan yang selalu membawa teropong kecil di dalam mobilnya.
__ADS_1
Sedangkan Samuel benar-benar tak tahu jika nyawanya sedang dipertaruhkan disini. Dan Lia. Sebagai umpannya.
"Lo terlihat cemas banget, Li?" tanya Sam yang melihat Lian gelisah, duduknya tak tenang dan terlihat gadis itu tengah memainkan jempol diatas pangkuannya.
"Enggak kok Sam. Aku cuma agak grogi saja karena sebentar lagi waktunya aku untuk menjawab semua pertanyaan kamu" jawab Lian berkelit. Tapi tentu Sam percaya padanya.
"Tak terasa waktu sangat cepat berlalu ya, Sam. Sebentar lagi kita sudah bukan lagi murid SMA yang katanya akan menjadi masa paling menyenangkan untuk dikenang" kata Lian berusaha menenangkan diri.
"Gue cuma pingin segera sampai di pantai dan lo bisa segera jawab pertanyaan gue, Li. Dan gue harap jawaban lo akan membuat gue merasa bahagia nantinya" kata Sam dengan pandangan fokus ke jalan raya.
"Kalau jawabannya tidak seperti yang kamu mau, bagaimana?" canda Lian.
"Gue tinggalin lo di pantai, pulang sendiri" jawab Sam dengan gelak tawanya.
"Jahat banget sih" kata Lian.
"Lo yang jahat, gue sudah sabar menanti jawaban menyenangkan dari lo selama hampir tiga tahun, malah kekecewaan yang gue dapat. Lebih jahat lo kali" kata Sam.
"Aku harap meski mungkin hari ini akan menjadi hari pamungkas, tapi tidak membuat perasaan kita berubah ya, Sam. Semoga di masa depan masih ada kesempatan untuk kita merasakan bahagia" kata Lian.
"Absurd banget obrolannya. Bahas lainnya saja kalau lo merasa nggak nyaman" ucap Sam yang sudah membelokkan mobilnya ke gerbang sekolah.
Tentu mobil sport keren itu menjadi pusat perhatian bagi seluruh murid di SMA Negeri tempat Sam menamatkan SMA nya.
Lian tak biasa menjadi pusat perhatian seperti ini. Langkahnya terlihat kikuk dan selalu menunduk saat melewati teman-temannya yang masih saja memperhatikan mereka berdua.
Sementara Sam yang tingkat kepercayaan dirinya sangat tinggi terlihat biasa saja saat melewati teman-temannya.
Dan di luar sana, Sam sudah ditunggu oleh predator dan juga malaikatnya. Entah siapa nanti yang akan menang.
__ADS_1
Johan yang selalu ingin melindungi Sam, ataukah Ruby yang sudah kembali dikawal dua orang anak buah kepercayaannya?