
Dua hari berselang, kondisi Eri sudah sangat baik kali ini. Dan madam Norita sudah kembali berkunjung ke kamarnya.
"Kau pasti sudah sangat sehat kan, Eri?" tanya madam Norita yang memasuki kamar Eri dengan sebuah kotak di tangannya.
"Aku sudah baikan, madam Terimakasih karena sudah mau menolong saya" ucap Eri.
"Tak ada yang gratis di dunia ini, sayang. Karena kau sudah sangat sehat, maka mulai malam ini kau harus ikut bekerja bersamaku" ucap madam Norita.
Eri sedikit terkejut, belum cukup rupanya nasib buruk mempertemukan dia dengan orang-orang culas. Mungkinkah semua ini adalah karma dari perbuatannya di masa lalu yang telah menyulitkan banyak orang?
Hingga kini dia harus selalu dipertemukan dengan orang-orang jahat?
"Ini adalah baju kerjamu. Kau masih harus berseragam karena kau masih dalam masa training. Dan tugasmu hanya sebagai pelayan di bar" penjelasan madam Norita semakin membuat Eri mematung.
"Sudahlah, nikmati saja pekerjaanmu. Karena aku yakin kalau kau akan menghasilkan banyak uang dengan wajah cantik dan body mulusmu itu" kata Madam Norita diiringi gelak tawa diakhir kalimatnya.
"Ingat! Temui aku di bar bawah jam sembilan nanti. Kalau tidak, aku pastikan nasibmu akan lebih menderita daripada saat kau berada di tangan Handoko" kata perempuan itu sambil berlalu, meninggalkan Eri yang tak punya pilihan selain memakai seragam kurang bahan untuk menyelamatkan masa depannya.
Dan benar saja, baju itu amat sangat minim di tubuhnya. Hingga lekukan tubuhnya yang menggoda para pria harus tersaji secara gratis demi menyenangkan mata para customer Norita yang sebagian besar adalah para pria hidung belang.
Selama berada di tempat Norita, Eri belum sekalipun keluar dari kamarnya. Dan sekalinya dia keluar, nasib kembali mempertemukannya dengan para pria nakal.
Di jam yang telah ditentukan, langkah gontai Eri dengan tubuh seksinya telah menjadi sasaran bagi para pria genit yang seolah ingin memakannya hidup-hidup.
"Madam, aku sudah disini. Apa yang harus aku lakukan?" tanya Eri tanpa senyuman, sebenarnya dia hanya ingin bebas, tapi rupanya tempat Norita lebih kejam daripada tahanan.
"Oh, bagus sekali. Dan kau sangat cantik" kata Norita, dia senang karena Eri yang tanggap untuk mau memakai make up yang telah dia siapkan.
"Layani saja para tamu, biar mereka senang. Siapkan semua yang mereka butuhkan. Bahkan bila perlu, temani mereka sampai ke kamar jika kau sudah siap" jawab Norita enteng.
Eri tak menjawab, tapi segera saja dia beranjak untuk memenuhi panggilan para pengunjung bar.
"Apa yang bisa kubantu, tuan?" tanya Eri pada salah seorang pria tambun dengan wajah bopeng.
"Bawakan aku segelas bir, dan temani aku setelah puas dengan minuman" kata si pria.
Meski sedikit jijik, Eri tetap berbalik badan dan menyiapkan apa yang pria itu inginkan.
"Ini pesananmu, tuan" ucap Eri sambil menyiapkan minuman di meja pria itu.
"Temani aku disini, cantik" ucap pria itu sambil menarik tangan Eri hingga terjatuh ke dalam pangkuannya.
Eri memberontak, tapi tenaganya tak cukup kuat untuk melawan.
"Panggil Norita. Kenapa ada wanita yang masih liar disini?" teriak pria itu sambil menahan Eri yang terus saja memberontak dalam pangkuannya.
Salah seorang pria terlihat menghampiri Norita dan melaporkan sesuatu hingga wanita itu datang ke tempat Eri dengan wajah emosi.
"Maafkan anak buahku, tuan. Dia baru disini. Masih malu-malu kucing, hahaha" kata Norita.
Pria itu hanya tertawa dan semakin mengencangkan dekapannya pada Eri.
__ADS_1
"Apa aku bisa membawanya malam ini?" tanya si pria.
"Tentu saja, lakukan sesukamu. Tapi jangan lupa bayar ya" kata Norita yang selalu tertawa di akhir ucapannya.
"Tentu. Kalau servicenya memuaskan, akan kubayar mahal kalian" ucap si pria yang langsung membawa Eri dengan paksa.
Rupanya sudah tersedia kamar berjejer serupa hotel di bangunan itu. Kamar yang berbeda dengan yang beberapa hari ini Eri tempati.
Kamar untuk pengunjung lebih besar dan bersih. Layaknya hotel saja.
Dan kembali malam pertama saat Eri sudah merasa lebih baik, harus dilalui dengan memuaskan nafsu pria nakal yang sebenarnya tak ingin dia lakukan.
Kembali Eri harus menangisi nasibnya.
"Sudahlah jangan menangis, setidaknya kau masih punya banyak uang dari hasil kerjamu semalam, Eri" ucap Wina yang kasihan saat melihat Eri yang terus saja menangis.
"Bukan hidup seperti ini yang aku mau, Win. Aku hanya ingin hidup normal layaknya orang biasa. Aku ingin bekerja dengan baik dan berpenghasilan cukup daripada banyak uang dengan hidup terkekang" ujar Eri yang masih menangis.
"Tapi sayangnya, kau tidak bisa keluar lagi setelah memasuki dunia Norita meski bukan kemauan mu, Eri" kata Wina.
"Tentu saja tidak. Tapi kita bisa apa?" tanya Wina.
"Bagaimana kalau kita lawan saja wanita tua yang jahat itu?" tanya Eri penuh tekad.
"Ssttt! Jaga bicaramu, Eri. Bahkan tembok saja punya telinga disini. Kalau sampai ada yang mendengar ucapanmu, bisa mati perlahan kamu karena siksaan Norita" kata Wina dengan ekspresi takut.
Lalu berdiri dan melihat situasi di luar kamar Eri. Memastikan jiak tak ada seorangpun yang mencuri dengar ucapan mereka barusan.
"Aman" gumam Wina sambil mengelus dadanya lega.
__ADS_1
"Lain kali jaga bicaramu, Eri. Kita hanya wanita lemah yang hanya bisa mengikuti kemana nasib akan membawa. Tidak mungkin kita bisa melawan Norita yang kejam dengan banyak harta dan anak buah dimana-mana" kata Wina berbisik, seolah ada orang lain disana.
"Aku setuju denganmu, anak baru. Bagaimana kalau kita bekerjasama?" tanya seorang pria yang tiba-tiba masuk ke dalam kamar Eri.
"Tomi, apalagi ini? Sudahlah, jangan biarkan nyawa kalian melayang sia-sia jika ingin melawan Norita" kata Wina sedikit panik, beruntung itu adalah Tomi, teman seperjuangannya yang mendengar ucapan Eri barusan.
Tomi adalah salah satu tukang pukul Norita. Pria itu sering kali merasa jengkel karena Norita yang suka semaunya sendiri dan tak berhati. Wanita tua yang sangat Tomi benci karena mengharuskannya menjadi pria pemuas nafsu wanita kaya saat Tomi masih berusia belia.
Saat dimana bangku sekolah yang seharusnya Tomi datangi, tapi malah puluhan kamar hotel yang harus dia sambangi karena dia menjadi milik Norita saat bapaknya tak bisa melunasi hutang judi sebagai jaminan dan malah menjadi alat pelunas hutang.
Tapi Tomi merasa lega karena telah berhasil menghabisi nyawa bapaknya sendiri dan kembai Norita menebusnya dari penjara karena banyak wanita langganan Tomi yang menanyakannya.
"Apa kau serius?" tanya Eri penuh harap.
"Tentu. Banyak orang yang tak suka dengan apa yang Norita lakukan pada mereka. Tapi bagaimana dengan dananya? Untuk melakukan suatu hal tidak akan bisa mulus tanpa adanya sokongan dana" kata Tomi dengan serius.
"Jangan khawatir masalah uang. Aku bisa memberikan separuh dari tabunganku ini untuk memuluskan langkah kita" kata Eri sambil memperlihatkan saldo di buku tabungan miliknya sampai membuat Wina dan Tomi sedikit tercengang.
"Oke. Aku akan mencari anggota baru. Secepatnya akan aku laporkan padamu saat aku berhasil merekrut mereka" kata Tomi penuh semangat.
Sementara Wina hanya diam, tak melarang dan juga tak mendukung gerakan Eri dan Tomi yang ingin berkhianat. Karena untuk melarang, Wina sendiri juga merasa jika terlalu banyak madam Norita merugikannya. Dan untuk mendukung, Wina pun terlalu takut untuk mendapatkan hukuman jika gerakan pengkhianatan mereka sampai ketahuan oleh anak buah madam Norita.
Akankah Eri berhasil dengan gerakannya untuk memperjuangkan keinginan merdekanya? Atau Malah kembali nasib sial akan menghampirinya saat kekuatannya tak bisa menandingi kekuasaan madam Norita?
.
.
__ADS_1
.
.