My Angel Baby

My Angel Baby
Perjanjian kecil


__ADS_3

"Pa, bangun pa. Kenapa tidur disini?" tanya Lia yang sedang berusaha membangunkan papanya.


"Ugh! Badanku sakit semua" gumam Vicky sambil berusaha membuka matanya. Lalu duduk dan menelisik keadaan sekitarnya.


"Kenapa papa tidur disini sih?" tanya Lia yang sudah rapi, memakai seragam sekolahnya dan menenteng tas di pundak, sepertinya gadis kecil itu ingin berpamitan.


"Oh, papa ketiduran sayang. Tadi pagi mamamu yang lagi hamil muda sedang rewel. Makanya papa keluar kamar supaya mama bisa beristirahat" ucap Vicky sambil menyeruput kopinya yang sudah dingin.


"Oh gitu. Tadi Lia lihat di kamarnya, mama juga masih tidur. Lia cuma mau berpamitan, Lia mau berangkat sekolah" tutur Lia lia sedikit cemberut.


Kehamilan mamanya itu terasa membosankan menurut Lia. Karena waktu kedua orang tuanya jadi banyak berkurang untuknya. Dan rasa cemburu itu masih bisa Lia tutupi dengan baik meski kadang secara tak sadar Lia telah bersikap kasar.


"Iya, kamu hati-hati ya sayang. Papa juga mau siap-siap ke kantor, sudah siang" kata Vicky yang mensejajarkan langkahnya untuk mengantar putri kecilnya itu keluar rumah dimana mobil antar jemputnya sudah menunggu.


"Selamat jalan Lia. Semoga harimu menyenangkan" kata Vicky sambil mencium kening anaknya.


"Papa juga" jawab Lia dengan senyum cantiknya.


Kebiasaan baru bagi Vicky untuk selalu memberikan ciuman pada gadis kecilnya itu jika akan pergi bekerja maupun saat Lia akan sekolah.


Kebiasaan yang tak pernah dia lakukan terhadap Johan. Dan Vicky rasa, mencium kening Lia membuat kebahagiaan semakin tumbuh di dalam hatinya.


Setelah melihat mobil yabg Lia tumpangi keluar dari gerbang rumahnya, Vicky kembali memasuki rumahnya dan langkahnya tertuju ke kamar untuk bersiap pergi ke kantor.


Dan benar saja, di dalam kamarnya Viviane masih terlelap dengan wajah damai.


"Kau selalu cantik dalam keadaan apapun, sayang" gumam Vicky sambil mencium kening istrinya dan menaikkan selimut yang Viviane pakai.


Wanita itu tak merasa terganggu barang sedikitpun. Dan Vicky hanya bisa untuk berusaha mengerti dengan keadaan istrinya yang sedang hamil.


"Apa dulu saat dia hamil Lia, dia juga tersiksa seperti ini?" gumam Vicky sambil terus melakukan aktivitas paginya.


"Jika benar seperti ini, sungguh kasihan sekali Viviane yang harus menanggung beban berat seorang diri. Bekerja dalam keadaan hamil dan mengatasi keluhan kehamilannya seorang diri" gerutu Vicky, menyadari jika dia memang sangat bersalah.


"Aku harus lebih memperhatikan mereka, Lia dan juga Viviane. Aku harus bisa menebus kesalahanku di masa lalu dengan mengganti kebahagiaan itu mulai sekarang" tekad Vicky dalam hatinya.


Padahal tidak tahu saja dia kalau Lia tengah cemburu dengan perhatiannya yang dirasa berlebihan terhadap Viviane hingga Lia merasa tersisihkan dan harus bermanja-manja kepada kakek dan neneknya.




"Darimana kamu, Lia?" tanya Bayu yang sengaja mencari keberadaan Lia, dan berpura-pura tak sengaja bertemu saat melihat gadis kecil itu keluar dari ruang ekskul karate.


__ADS_1


"Kak Bayu? Ehm, aku baru saja selesai mendaftar di ekskul karate. Meneruskan ekskulku di sekolah lama" jawab Lia.



"Wah hebat sekali kamu" kata Bayu.



"Biasa saja kak. Malah kata teman-teman Lia, kak Bayu adalah anak terhebat di sekolah ini karena sering menang dalam acara kompetisi yang kak Bayu ikuti" kata Lia yang membuat hidung Bayu sukses kembang-kempis karena merasa tersanjung.



"Ah biasa saja kok. Aku bahkan tidak ikut karate seperti kamu" jawab Bayu merendah.



"Ikut saja ekskulnya bersamaku" ajak Lia dengan senyum senangnya, siapa tahu Bayu mau bergabung.



"Tidak Lia. Jadwalku sudah cukup padat untuk bimbel, ekskul dan sekolah. Lebih baik kau saja yang mengajarkanku ilmu karate saat kita bertemu, bagaimana?" tanya Bayu mencari cara agar bisa bermain bersama Lia.



"Boleh juga sih. Tapi kak Bayu juga harus mengajarkan Lia kalau ada pelajaran yang belum Lia mengerti, bagaimana?" tanya Lia memberikan sebuah tawaran.




"Oke, kita deal ya kak" ucap Lia sambil menyodorkan tangannya.



"Oke deal" kedua bocah kecil itu sudah saling menyetujui sebuah perjanjian awal yang akan mengantarkan sebuah hubungan berkelanjutan hingga mereka sama-sama dewasa nantinya, bersama dalam banyak peristiwa yang akan menjadikan mereka pribadi yang lebih kuat dengan tempaan banyak persoalan hidup.



Menjadi kaya raya dengan limpahan harta nyatanya tak membuat sebuah masalah menjadi takut untuk mendekat, tapi ujian demi ujian harus mereka lalui tanpa memandang siapa dirimu, asalmu dan keadaan keluargamu.



"Bagaimana kalau week end ini aku berkunjung ke rumahmu? Kau siapkan saja semua pelajaran yang belum kau mengerti, dan aku akan bersiap untuk menerima latihan karate darimu, Lia" tanya Bayu yang tak mau menunggu lama, adanya kesempatan harus segera dia ambil. Begitulah prinsip hidup Bayu yang membuatnya menjadi anak yang terpandang di sekolahnya.


__ADS_1


"Ehm, boleh. Dengan senang hati aku akan menunggu kak Bayu datang ke rumahku week end ini" kata Lia bersemangat, mengingat week end kemarin dia hanya menghabiskan waktunya dengan kakek dan neneknya saja, sementara papanya sibuk mengurusi kehamilan mamanya.



"Apa kau sudah makan? Sebentar lagi waktu istirahat sudah selesai, Lia" tanya Bayu.



"Sudah tadi di istirahat pertama, kak" jawab Lia



"Kau masih belum merasa lapar lagi? Bukankah sudah lebih dari tiga jam pelajaran" tanya Bayu.



"Masih ada makanan ringan dan susu di tasku. Nanti saat aku sudah sampai di kelas, pasti aku akan memakannya" jawab Lia.



Dan benar saja, belum lama mereka mengobrol sudah terdengar suara bel yang menandakan bahwa waktu istirahat audah berakhir.



Semua murid nampak bersiap menuju je kelasnya masing-masing. Tak terkecuali Lia dan Bayu yang juga harus mengikuti pelajaran selanjutnya.



"Yasudah aku ke kelas dulu ya kak. Sampai bertemu lagi" pamit Lia sambil melambaikan tangannya.



"Dah Lia, sampai bertemu lagi" jawab Bayu sedikit lantang karena Lia yang langsung berlari menjauhinya. Letak kelasnya memang cukup jauh dari kantor ekskul karate, sementara Bayu berjalan santai karena letak kelasnya yang cukup dekat.



Selama berjalan, hati Bayu merasa sangat senang karena di akhir pekannya nanti dia sudah membayangkan akan bisa puas bermain dengan Lia.



Selama ini papanya terlalu sibuk dengan urusan pekerjaan. Dan meski di akhir pekan, tak jarang ayahnya yang single parent itu menghabiskan waktu diluar rumah untuk tetap menangani pekerjaannya.



Dan Bayu bisa pastikan kalau minggu ini akan berbeda. Memiliki teman baru yang satu frekuensi membuatnya semakin bersemangat.

__ADS_1



Dan Bayu sudah tak sabar untuk menunggu week end datang.


__ADS_2