My Angel Baby

My Angel Baby
Bayu adalah idola


__ADS_3

Setiap pagi Vicky selalu disibukkan dengan drama mual dan muntah dari Viviane yang banyak sekali alasan agar bisa mengusir Vicky, setidaknya agar mereka tak tidur seranjang.


"Aku tidak suka bau sabun yang kamu pakai, bang" keluh Viviane sambil menutup hidungnya dan menaikkan selimut hingga sedikit lagi menutupi kepalanya.


"Tapi aku kan memakai sabun yang sama denganmu, sayang. Kau jangan mengada-ada" keluh Vicky yang sudah tertendang dari singgasananya diatas ranjangnya sendiri.


"Pokoknya aku nggak suka. Nanti kamu mandinya pakai sabun yang baunya bukan itu, ya. Ehm, yang bau strawberry pasti aku suka" kata Viviane yang masih sedikit lemas.


"Padahal sejak semalam kamu tidurnya nempel terus sama aku, kenapa setiap menjelang pagi selalu saja kau mengusirku dari atas ranjang?" keluh Vicky yang sudah merebahkan dirinya diatas sofa.


"Aku juga tidak tahu, bang. Mungkin anakmu sedang ingin melihatmu sedikit berkorban" jawab Viviane dengan mata terpejam.


Vicky terdiam, dia jadi ingat lagi dengan masa lalunya yang telah menelantarkan Viviane dan Lia yang masih di dalam kandungan.


"Apa saat kau hamil Lia dulu, kau juga merasa rewel begini, sayang?" tanya Vicky dengan mata menerawang.


Viviane menoleh ke arah suaminya, dan tiap kali membahas masa lalunya pasti wajah Vicky akan berubah sedih.


"Saat aku hamil Lia, dia itu tidak pernah rewel. Sepertinya dia tahu kalau mamanya harus bekerja keras agar dia bisa hidup dengan baik" jawab Viviane dengan jujur, tapi saat mendengar kejujuran itu semakin membuat Vicky bersedih karena dirumahnya, dia malah menampung Ruby yang juga tengah hamil dan dia selalu saja bersenang-senang selama mendapatkan kesempatan untuk tinggal di rumah itu.


"Maafkan aku ya, sayang. Aku sangat jahat karena telah menelantarkan kalian berdua. Pasti kehidupan kalian sangat menyedihkan waktu itu dengan lingkungan baru dan tanpa biaya" kata Vicky yang masih bersedih.


"Kalau dibilang tanpa biaya sih nggak juga ya, bang. Karena selama kita berpacaran saat aku masih SMA waktu itu kan kamu memberikan aku kartu ATM yang selalu kamu isi secara rutin untuk uang jajanku" kata Viviane menceritakan sesuatu yang tak pernah Vicky ingat.


"Tapi kamu selalu bayarin aku tiap kali makan, jadi uang di dalam ATM itu terkumpul cukup banyak untuk biaya hidup saat awal-awal aku merantau di Jakarta ditambah lagi aku menjual cincin emas yang kamu berikan sebelum kita berpisah waktu itu. Ya dari keduanya, cukuplah sebagai bekal sampai aku menerima gaji pertamaku saat itu" lanjut Viviane.


"Aku sama sekali tidak mengingatnya. Tapi syukurlah kalau begitu, aku selalu terbayang dalam mimpi buruk ku kalau kalian hidup dengan susah payah, sayang. Dan itu adalah penyesalan terburuk dalam hidupku" kata Vicky yang masih memandangi langit-langit kamarnya dengan kedua tangan sebagai tumpuan kepala.


"Aku masih beruntung dikelilingi orang-orang baik yang mau menerimaku dan membantuku. Sampai saat aku berada di saat ini, semoga tidak ada lagi penyesalan untuk ke depannya" kata Viviane.


"Apa kau bahagia hidup bersamaku, sayang?" tanya Vicky dengan raut wajah seriusnya.


"Nggak usah bertanya yang tidak-tidak, bang" jawab Viviane yang masih malu untuk membahas masalah se privat itu.


"Aku kan hanya bertanya, jawablah. Setidaknya jika ada sifat ku yang tak kau sukai dan harus aku perbaiki, maka aku akan berusaha menjadi lebih baik demi kalian bertiga" kata Vicky dengan pandangan penuh pada istrinya kali ini.


"Sekarang yang terpenting buatku adalah kebahagiaan Lia dan calon anak ini. Selama mereka bahagia, maka akupun akan merasakan hal yang sama. Lia sudah hidup cukup sabar selama ini, bang" kata Viviane.


"Ya, kau benar. Dia sangat hebat karena akupun hampir tidak pernah mendengarnya mengeluh. Pasti keluhan itu akan disampaikannya dengan bahasa lain yang tak akan menyinggung perasaan kita" kata Vicky membanggakan putrinya.




Dan di pekan kedua, di awal masuk sekolahnya Lia sudah cukup akrab dengan Silvi. Ternyata temannya itu adalah anak dari seorang perwira polisi, Lia tidak menyangka jika dia dikelilingi oleh teman-teman yang berasal dari keluarga kaya.



"Lia, apa yang kau lakukan di liburan kemarin?" tanya Silvi saat keduanya tengah menunggu jam pelajaran pertama.



"Kak Johan datang mengunjungiku, dan kami belajar bersama" jawab Lia.



"Uwah, kak Johan bintang sekolah kita itu? Kau tahu Lia, aku sangat mengidolakannya. Susah sekali untuk bisa berteman dengannya, tapi kau baru pertama masuk sekolah sudah jadi teman baiknya" kata Silvi yang entah mengapa jadi cerewet.



"Aaahh.... Aku iri padamu Lia" kata Silvi sedikit berteriak dan berpura-pura memukuli lengan Lia yang malah terkekeh dengan kelakuan teman barunya itu.

__ADS_1



"Lalu aku harus bagaimana?" tanya Lia datar.



"Nanti saat kau bertemu dengannya lagi, tolong sampaikan salamku untuknya ya. Aku adalah salah satu fans nya" kata Silvi dengan mata berbinar.



"Kalau aku tidak mau?" goda Lia yang sukses membuat raut wajah Silvi berubah.



"Kau ini jahat sekali. Apa susahnya sih menyampaikan salamku padanya? Atau aku harus memberimu hadiah sebagai tanda terimakasih atas kerjasama kita?" tanya Silvi.



"Sepertinya begitu lebih baik" sahut Lia.



"Kau ini sedang memerasku ya?" keluh Silvi.



"Kau sendiri yang punya ide seperti itu, kenapa aku yang disalahkan?" tanya Lia yang semakin bersemangat menggoda Silvi.



"Baiklah, baiklah. Demi kak Bayu yang aku sukai, kalau kamu mau menyampaikan salamku untuknya, maka aku akan mentraktirmu makan di kantin saat istirahat. Bagaimana? Kau setuju kan?" tanya Silvi sambil menjulurkan tangannya agar Lia bersedia menerima persyaratan darinya.




"Benar ya? Jangan bohong! Uwah... Aku menyayangimu, Lia" ucap Silvi sambil memeluk Lia dari samping, tapi segera Lia melepaskan pelukan tak bermutu itu.



"Kau ini menggelikan" ejek Lia.



"Biarin .. weekk... Yang penting aku bisa bertemu dengan kak Bayu" kata Silvi yang sudah tak sabar menunggu waktu istirahat tiba.



"Kenapa melamun?" tanya Lia.



"Ingin segera istirahat" jawab Silvi.



"Belum juga pelajaran pertama tapi kamu sudah menginginkan jam istirahat. Kau ini ada-ada saja" kata Lia sambil menggelengkan kepalanya, sampai sebegitunya Silvi yang mengidolakan Bayu.



Dan seiring berjalannya waktu di hari itu, benar saja jika Silvi sangat bersemangat saat mendengar bel tanda istirahat berbunyi. Segera saja dia merapikan peralatan sekolah yang berserakan diatas mejanya dan segera menghampiri Lia.

__ADS_1



"Ayo Lia, cepatlah! Kita ke kantin sekarang, nanti kantinnya keburu penuh dan kita ketinggalan untuk bisa makan bersama kak Bayu" rengek Silvi yang tiba-tiba bersedia membantu Lia membereskan mejanya.



"Iya, kau ini tidak sabaran sekali sih" gerutu Lia yang sudah ditarik oleh temannya itu.



Dengan langkah tergesa, Lia dan Silvi mendatangi kantin yang belum cukup ramai. Dan pandangan Silvi yang memindai seluruh isi kantin belum menemukan adanya Bayu di dalamnya.



"Kak Bayu" teriak Lia saat melihat Bayu baru datang dengan temannya.



"Kau disini juga, Lia?" tanya Bayu dengan senyumannya, tapi dia tak memperdulikan Silvi sama sekali. Pandangannya hanya tertuju pada Lia yang nampak tersenyum juga padanya.



"Kita makan bersama ya kak" kata Lia.



"Boleh, kamu mau makan apa?" tanya Bayu.



"Ehm, makan apa Sil?" tanya Lia yabg tak digubris oleh Silvi, dia malah asyik memandangi Bayu dan salah tingkah.



"Sil, mau makan apa?" tanya Lia sedikit ngegas dan mencolek lengan temannya itu.



"Eh, apa?" tanya Silvi gugup.



"Mau makan apa?" tanya Lia lagi.



"Terserah kamu saja, aku ikut" jawabnya.



"Oke" kata Lia yang mengajak Bayu untuk mengantri di salah satu penjual soto. Entah mengapa rasanya lidah Lia sudah merasa cocok dengan soto yang kemarin dia makan hanya semangkuk berdua dengan Silvi karena insiden dengan kakak kelasnya.



Dan sejak saat itu, Lia jadi sering memesan soto tiap kali menyambangi kantin itu.



.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2