
"Mau naik wahana yang mana?" tanya Sam setelah memasuki arena wisata yang menjadi tujuan Lian.
"Belum tahu, lihat nanti saja kalau sudah didalam" jawab Lian yang berjalan bersisian dengan Sam.
Sam hanya mengangguk, menuruti apapun yang menjadi keinginan Lian hari ini sebelum nanti dia akan mengutarakan isi hatinya untuk Lian.
Berada di dalam area permainan, Lian sedikit bingung untuk menentukan pilihannya. Semua terasa menyenangkan.
"Kenapa minta main kesini?" tanya Sam.
"Waktu masih SD, temanku pernah pergi kesini dan bercerita pada yang lain kalau dia sangat menikmati liburannya di sini bersama orang tuanya. Hal itu membuat satu per satu teman sekelasku ikut datang ke sini juga" kata Lian menceritakan masa kecilnya.
"Semua temanku sudah kesini, tapi saat aku minta ke ayahku, beliau memarahiku yang dinilai tak tahu susahnya orang tua. Jadi, sekarang saat kamu mengajakku pergi ke satu tujuan yang sangat aku inginkan, aku pergi kesini, Sam. Aku juga ingin tahu rasanya bersenang-senang dengan menaiki wahana permainan seperti itu" tunjuk Lian pada rollercoaster raksasa di hadapannya.
"Yakin mau naik itu?" tanya Sam meyakinkan Lian.
"Iya Sam, ayo" kata Lian sambil berlari kecil untuk antri menuju loket di wahana yang dia inginkan.
Sam hanya memandangi sambil ikut tersenyum melihat kebahagiaan di bibir Lian.
"Begini saja sudah bikin dia sebahagia itu. Lian... Lian... Gimana gue nggak klepek-klepek sama lo coba" gumam Sam sambil mengikuti langkah riang pujaan hatinya.
"Kamu pernah kesini, Sam?" tanya Lian yang berdiri di depan Sam saat mengantri.
"Baru pertama kali juga sih" ucap Sam.
"Bohong. Orang kayak kamu nggak pernah kesini? Memangnya kamu sukanya pergi kemana?" tanya Lian.
"Pernah sih naik Flounder's Flying Fish Coaster waktu ultah yang ke tujuh kalau nggak salah, di Disneyland Jepang. Waktu dapat tugas sejarah dunia, papa nyuruh gue observasi ke Mesir buat mengamati Piramid secara langsung. Dan terakhir kemarin gue ke Paris buat menyambut tahun baru sekalian ikut kakak yang lagi ada kerjaan disana" jawab Sam jujur.
Lian langsung menoleh pada Sam yang nampak mengibas-kibaskan tangannya seolah itu adalah kipas. Kepanasan dia rupanya.
"Kenapa?" tanya Sam.
"Kamu beneran? Nggak bohong?" tanya Lian yang sangai dengan kejujuran Sam.
"Beneran dong. Dan ke sini memang baru pertama kali ini buat gue. Mungkin kakak gue sewaktu kecil dulu pernah kesini" jawab Sam yang selalu mendengar tentang perihnya kisah masa kecil kakaknya.
Dan karena itu pula Lia selalu diprioritaskan oleh papanya. Tapi Sam tak pernah merasa terdzolimi. Sejauh ini, Hati ceria Sam tak pernah terfikirkan tentang apa itu iri dan dendam.
Lian hanya mengangguk dan mengamati penampilan Sam yang sudah sedikit acak-acakan. Wajah putihnya mulai kemerahan karena paparan sinar matahari. Dan timbul bintik-bintik kecil di dahinya, rupanya peluhnya mulai keluar.
"Kamu nggak biasa berjemur ya? Kenapa jadi mengenaskan gitu sih mukanya?" tanya Lian yang sudah hampir berada di penghujung antrian, sebentar lagi giliran mereka berdua untuk menaiki roller coaster itu.
__ADS_1
"Biasa kok. Cuma ini mataharinya terlalu panas saja. Nggak umum gitu pancarannya" jawab Sam.
Lian sudah membuka mulutnya untuk menanyakan status sosial Sam yang sebenarnya. Tapi dia urungkan karena sudah waktunya mereka untuk naik.
Sebenarnya alasan lain bagi Lian untuk menaiki roller coaster itu adalah agar bisa berteriak sekeras mungkin agar bisa sedikit melonggarkan dadanya yang penuh sesak.
Setiap melihat ke arah Sam, perasaan bersalah selalu menggerogoti hatinya. Pria itu sangat tulus dan berhati baik. Tapi Lian tak punya pilihan lain untuk tak menyakiti hati putih itu. Demi ayahnya, demi masa depannya.
Kini mereka berdua sudah duduk bersisian di roller coaster itu, sabuk pengaman sudah dikaitkan dengan kencang.
"Lo deg-degan ya?" goda Sam sebelum terasa adanya pergerakan apapun.
"Iya. Tapi aku penasaran" ujar Lian bersemangat.
Roller coaster itu mulai bergerak pelan, hati Lian semakin tak karuan. Lama kelamaan kecepatanpun bertambah.
"Apa sudah boleh berteriak?" tanya Lian dalam hatinya.
Rupanya suara teriakannya keluar secara otomatis saat rollercoaster itu bergerak semakin kencang.
"Aaahhh....." teriakan panjang yang keluar dari mulut Lian terdengar keras dan berulang-ulang.
Sam hanya bisa menamatkan wajah cantik Lian yang sudah masuk terlalu dalam di hatinya dari arah samping. Bahkan sangking fokusnya Sam yang melihat wajah Lian, tak terdengar sedikitpun suara gumaman apalagi teriakan dari mulut Sam. Dia terlalu terpana pada tambatan hatinya.
Jeglek!
Tiba-tiba mesin wahana itu terhenti dengan posisi Lian dan Sam yang sedang terbalik.
Semua orang tentu merasa terkejut dan takut. Terutama bagi mereka yang berada di posisi seperti Sam.
"Sam, kenapa sudah berhenti?" tanya Lian panik.
"Tenanglah Lian, diam dan jangan banyak bergerak. Gue takut alat pengaman lo bakalan terbuka kalau lo kebanyakan gerak" kata Sam memperingatkan Lian.
Terdengar suara teriakan dari banyak orang, baik yang sedang naik di wahana itu maupun pengunjung lainnya.
Sebagian besar yang berada di bawah sudah mengabadikan insiden itu melalui gawai mereka masing-masing.
"Sam, kenapa lama sekali?" tanya Lian yang masih berusaha tenang.
"Tenang Lian, gue yakin teknisinya pasti sudah berusaha memperbaiki" kata Sam, sebenarnya diapun merasa takut berada di posisi terbalik begitu. Rasanya semua darah dalam tubuhnya sudah mulai berkumpul di kepalanya.
Lian terdiam, kelebatan kisah hidupnya akhir-akhir ini seolah terputar di otaknya. Saat pertama bertemu dengan Sam yang baik hati. Saat sang ayah ingin menjadikannya alat untuk membayar hutang. Saat dimana dia harus patuh pada semua ucapan Eri.
__ADS_1
Dan mulai terfikir olehnya, mungkin jika hidupnya berakhir saat ini, saat dimana dia sedang bersenang-senang bersama dengan Sam, maka segala permasalahannya akan terselesaikan.
"Sepertinya memang lebih baik hidupku berakhir sekarang. Karena jika tanpa aku, maka masa depan Sam akan lebih baik" gumam Dam dalam hatinya.
Saat Lian membuka mata dan menoleh ke arah Sam, terlihat lelaki itu juga tengah menatapnya dengan perasaan yang tulus.
"Sam, kalau jatuh dari sini apa bisa mati?" tanya Lian lirih.
"Jangan berfikir yang tidak-tidak, Lian. Kalau lo mati sekarang, gue bakalan ikut sama lo" ujar Sam.
Kekhawatiran dalam hatinya semakin menjadi-jadi setelah mendengar perkataan Lian barusan. Sam cukup tahu masalah keluarganya. Mungkin hal itu yang membuat Lian berfikir pendek.
Lian mulai menggerakkan tubuhnya. Berusaha agar dia bisa terjatuh, biar saja Eri menyelesaikan dendamnya sendiri tanpa menyeretnya juga.
Dan hanya kematian yang akan membebaskan Lian dari kungkungan Eri yang jahat.
"Lian, stop! Don't do that! Lo bisa jatuh beneran, Lian" ancaman Sam tentu tak diindahkannya.
Lian tetap berusaha bergerak agar pengamanannya bisa terbuka.
"Lian, stop! Kalau lo nekat, gue bakalan ikut nekat kayak lo" ancam Sam lagi.
"Kamu jangan tolongin aku kalau pengaman ini sudah terbuka ya, Sam. Tapi kamu jangan mengikuti aku karena kamu masih punya keluarga yang sangat sayang sama kamu. Sedangkan hidup aku yang sudah miskin akan semakin tak berguna jika hanya bertujuan untuk menyakiti orang lain saja" kata Lian cukup panjang, dengan masih menggerakkan tubuhnya.
Dan rupanya apa yang Lian inginkan memang terjadi.
Alat pengamannya terbuka dan sedikit lagi Lian pasti terjatuh. Dan bisa dipastikan jika terjatuh dari ketinggian ini pasti tak akan bisa terselamatkan.
Tentu saja Sam sudah mengambil ancang-ancang terlebih dahulu. Mengamati dengan seksama bagaimana supaya bisa menyelamatkan gadisnya itu jika terjadi sesuatu.
Krak!
Besi menyangga dada Lian sudah terbuka dan gadis itu bersiap terjun bebas tanpa alat agar bisa menjemput kematiannya.
"Selamat tinggal Sam. Maafkan aku" ujar Lian yang mulai terjatuh.
"No! Liaaannn" teriak Sam.
.
.
.
__ADS_1