
"Aaahhh" teriak Lia bersamaan dengan wanita yang menjadi korban praktiknya.
Mendengar teriakan dari keduanya, membuat Bayu, Ken dan juga Kris segera mendatangi Lia yang nampak sangat terpukul.
Lia duduk berhadapan dengan wanita itu dan keduanya sama-sama terlihat ngos-ngosan. Air mata Lia sudah mengalir deras. Dan nafasnya yang memburu membuatnya tak kuasa untuk sekedar berkata-kata.
"Kau kenapa, Lia?" tanya Bayu sambil mengguncang pundak Lia.
Tapi tak ada respon darinya. Lia masih tetap menangis tersedu tanpa sepatah katapun keluar dari mulutnya.
"Lia, kau dengar kakak?" tanya Bayu sedikit lebih keras sambil menepuk pipi Lia yang basah karena air mata.
"Belikan minuman untuknya, Ken" kata Bayu yang sedikit panik.
Ken segera berlari menuju penjual minuman yang mangkal tak jauh darinya. Sementara Bayu yang masih berusaha mengguncang bahu Lia ternyata belum membuahkan hasil.
Lia tetap menangis tersedu.
Entah bagaimana awalnya, Bayu memberanikan diri untuk memeluk Lia dan menepuk punggungnya agar merasa lebih tenang. Sementara Kris hanya melihat sejauh apa yang akan kedua teman Lia lakukan untuk menolong sahabatnya.
"Lia, kau dengar kakak?" tanya Bayu.
Kini, sudah ada anggukan kecil dari Lia yang terasa di pundak Bayu saat mendengar pertanyaannya. Hal itu membuat Bayu merasa sangat lega.
"It's ok. Semuanya baik-baik saja" kata Bayu yang sudah melepaskan pelukannya dan memegang kedua pundak Lia sambil menatap matanya.
"Ini minumnya" kata Ken yang juga tergesa, menyodorkan air minum di dalam kemasan botol kepada Bayu.
"Minumlah" kata Bayu setelah membuka tutup botol itu.
Lia mengangguk lagi, dan meminum sebotol air mineral yang Ken bawakan dalam satu tarikan nafas.
Dan hal itu berhasil membuat kesadarannya kembali dan diapun merasa lebih baik meski masih sesenggukan.
"Kenapa? Ada apa?" tanya Bayu lirih, sambil membelai rambut Lia yang menjuntai.
Lia menoleh ke arah wanita itu, yang ternyata juga sudah memegang sebotol air mineral yang tinggal separuh. Tadi Kris yang memberikan kepadanya saat Bayu dan Ken sibuk mengurusi Lia.
"Apa yang aku lihat dari pandangan matanya itu semuanya benar, om?" tanya Lia pada Kris yang terbata karena sesenggukannya masih ada.
"Yes, sure. Apa yang kau lihat adalah kebenaran yang terjadi dalam kehidupan wanita ini" jawab Kris.
"Ya Tuhan, malang sekali nasib wanita ini om. Bagaiman kalau kita kirim dia ke rumah sakit jiwa atau kalau tidak kita kirim ke dinas sosial saja?" tanya Lia.
"Bisa saja" jawab Kris singkat.
__ADS_1
Tanpa basa-basi, Lia menelepon papanya. Mengadukan keinginannya untuk menolong wanita itu agar bisa sembuh dari rasa trauma yang pasti sangat menyiksa batinnya.
Entah bagaimana caranya hingga dia bisa sampai di kota ini dengan selamat dan bebas dari kejaran perampok yang ganas itu.
"Hallo, ada apa sayang?" tanya Vicky dari seberang telepon.
"Aku butuh bantuan papa untuk mengirim seseorang ke rumah sakit jiwa atau ke dinas sosial" kata Lia tanpa basa-basi.
"Wait, sebentar. Siapa yang akan kau kirim ke rumah sakit jiwa?" tanya Vicky heran, permintaan putrinya kali ini sungguh diluar nalar.
"Ada seorang wanita yang harus mendapatkan perawatan kejiwaan, pa. Lia menemukannya di taman X dekat mall" kata Lia.
"Oke. Apapun akan papa lakukan untukmu selama hal itu bersifat positif. Tunggu disana, nanti akan ada petugas medis yang akan menjemput wanita yang kau maksud" kata Vicky, sesuai janjinya, Vicky akan selalu mengabulkan keinginan Lia selama itu baik.
"Papa akan segera menghubungi dinas terkait dan papa pastikan jika mereka akan segera datang" kata Vicky lagi.
"Terimakasih pa. Lia tunggu secepatnya" ucap Lia di akhir teleponnya.
"Kenapa kau sangat perduli padanya?" tanya Bayu.
"Masa lalunya sangat suram, kak. Sebagai sesama wanita, Lia sangat marah pada kejahatan yang menimpanya. Dan semua murni karena ulah orang jahat, bukan karena tingkah lakunya" ucap Lia.
"Dan selama Lia bisa membantunya, kenapa tidak? Mungkin suatu saat nanti setelah wanita ini sembuh dari rasa traumanya, dia bisa mendedikasikan hidupnya untuk membantu sesama yang bernasib buruk sepertinya" kata Lia lagi.
Entah kesempurnaan yang Lia miliki ini memiliki sisi negatif yang seperti apa. Bayu dan Ken masih belum bisa menilainya karena selama ini Lia selalu bersikap baik.
Kekuatan uang dan nama baik sebuah keluarga memang menjadi tolak ukur kecepatan penanggulangan sebuah laporan yang ditujukan pada suatu lembaga.
Terbukti dalam kasus yang sedang Lia hadapi kali ini. Tak butuh waktu lama untuk memanggil pihak terkait agar bisa mengurus wanita yang sudah membuat Lia merasa iba.
Telepon Lia berdering saat para petugas medis datang dengan sebuah mobil ambulans.
"Hallo pa" sapa Lia dengan senyumnya karena papanya telah memenuhi janjinya dengan begitu cepat.
"Apa petugas medisnya sudah sampai? Tadi papa sudah menelepon dinas terkait untuk menjemput orang yang kau maksud, sayang" kata Vicky.
"Sudah pa, terimakasih karena sudah mau menuruti permintaan Lia. Lia sayang sekali sama papa" ucap Lia bangga, papanya sangat bisa diandalkan.
"Tentu, nak. Papa akan selalu menuruti permintaan mu selama itu baik. Dan papa juga sangat menyayangimu" tutur Vicky tak mau kalah.
"Bagaimana proses evakuasinya?" tanya Vicky.
"Wanita itu memberontak, pa. Dia terlihat ketakutan saat akan dimasukkan ke dalam mobil ambulance nya. Mungkin trauma masa lalunya membuat wanita itu takut pada mobil dan gerombolan orang" ucap Lia.
"Oke. Nanti kau harus menceritakan semua hal yang kau alami hari ini pada papa setelah kita di rumah. Papa tidak percaya jika kau akan menolong seseorang dengan mudah tanpa tahu latar belakangnya terlebih dahulu, bukan?" tanya Vicky, baru sekarang dia merasakan adanya kejanggalan dari permintaan putrinya.
__ADS_1
"Iya pa. Nanti setelah dirumah, Lia janji akan menceritakan semuanya sama papa. Tapi papa harus janji untuk merahasiakan semuanya dari mama" kata Lia.
"Kenapa?" tanya Vicky.
"Lia nggak mau kalau mama nantinya akan mencegah apa yang sedang Lia pelajari sekarang, pa" rengek Lia.
"Ok, kalau begitu nanti kita bertemu di luar saja. Kita ngobrol sambil makan di restoran saja, bagaimana?" tanya Vicky.
"Ide yang bagus pa. Dengan begitu mama tidak akan tahu dengan semua yang akan Lia ceritakan pada papa" jawab Lia senang.
"Baiklah, nanti papa jemput kamu ya" kata Vicky.
"Kita bertemu di restorannya saja, pa. Biar Lia minta kak Bayu untuk mengantarkan Lia" kata Lia.
"Oke. Hati-hati kalau begitu. Sampai ketemu nanti, sayang" kata Vicky yang ingin menutup telponnya.
"Iya pa. Tempat dan waktunya nanti papa kirim ke Lia ya" ucap Loa sebelum mematikan ponselnya.
Dan setelah itu, Lia yang berdiri bersisian dengan Bayu, Ken dan juga Kris hanya bisa memandangi proses evakuasi terhadap wanita yang masih saja histeris saat dipaksa masuk ke dalam ambulans.
Beberapa petugas tadi sudah sempat menanyakan sedikit tentang wanita itu kepada Lia.
Kini, Lia semakin merasa kasihan pada wanita itu saat salah seorang petugas yang harus menyuntikkan obat penenang dengan paksa karena wanita itu sangat sulit diajak berkomunikasi.
Tidak seperti tadi saat suasana sepi menemaninya. Wanita itu bisa dengan mudah Lia ajak bicara.
Dalam hatinya, Lia bertekad untuk sesekali menjenguk wanita itu di tempat barunya dan mengawalnya hingga suatu saat nanti dia akan mendapatkan kesembuhan.
"Apa kau merasa kapok dengan kejadian hari ini, Lia?" tanya Kris.
"Tentu tidak, om. Pengalaman hari ini justru membuatku semakin bersemangat untuk semakin mencari ilmu dan pengalaman agar tak selamanya seorang wanita menjadi lemah dan mudah tertindas" kata Lia penuh semangat.
"Melalui wanita itu, aku sadar jika menjadi wanita tidak cukup hanya bermodalkan tampang, tapi harus memiliki kemampuan untuk setidaknya menjaga diri sendiri dari segala sesuatu yang berbahaya" ucap Lia sambil melihat mobil ambulance yang sudah berhasil membawa wanita itu pergi dari taman untuk dibawa ke rumah sakit.
Mungkin Vicky juga sudah mewanti-wanti kepada petugas agar tidak melibatkan Lia saat berusaha membawa wanita itu.
Dan pengalaman hari ini semakin membuat Lia tersadar dan lebih membuka matanya untuk menjadi orang yang lebih baik.
.
.
.
.
__ADS_1