My Angel Baby

My Angel Baby
Bye Bandung, Hallo Jakarta


__ADS_3

"Perkenalkan, ini Sofia. Beliau ini yang akan menggantikan saya bertugas untuk ke depannya. Dan terimakasih atas kerjasama yang sangat baik yang telah diberikan pada saya selama satu tahun ini" sambutan Ane membuat beberapa teman dekatnya terkejut.


Tak ada angin dan tak ada hujan. Tiba-tiba di acara meeting rutin yang diadakan tiap Senin pagi ini, Ane berpamitan dan memperkenalkan seorang wanita yang sebaya dengannya untuk menjadi penggantinya.


"Maaf, Mbak Ane nggak sedang bercanda kan?" potong Ayu tiba-tiba, tak menyangka dengan apa yang sudah Ane sampaikan.


"Tidak, saya sangat serius. Saya harus ikut suami saya menetap di Jakarta karena waktu yang beliau berikan untuk mencari pengalaman di kantor ini sudah cukup. Dan semuanya ternyata berjalan dengan sangat baik" tutur Ane dengan senyum lembutnya.


Para karyawan yang mengenalnya dengan baik tentu merasa amat sangat kehilangan dengan berita yang Ane sampaikan.


"Saya sendiri yang menginterview dan memutuskan supaya Sofia diterima di perusahaan ini. Dan saya sangat yakin kalau ke depannya kalian akan bisa bekerja sama dengan baik. Sekarang, bisa amda memperkenalkan diri secara langsung, bu Sofia" kata Ane memberikan kesempatan kepada Sofia untuk perkenalan.


Sementara dia sendiri yang kembali duduk di tempatnya harus mendapatkan tatapan tajam dengan netra yang berkaca-kaca dari Ayu.


"Mbak Ane kenapa buru-buru banget sih perginya? Pamitnya juga sangat mendadak begini. Memangnya mbak Ane nggak perduli sama perasaanku yang hancur karena kepergianmu?" keluh Ayu mendramatisir keadaan dengan air mata yang sudah mengalir.


"Kamu ini apa-apaan sih, Yu. Kan kita masih bisa telponan, video call juga bisa" kata Ane santai, diapun sebenarnya tak menyangka jika ekspresi Ayu akan se lebay ini.


"Memangnya ada kepentingan mendesak apa yang membuat mbak Ane tega meninggalkan aku sendiri disini?" tanya Ayu lagi.


"Besok Johan ulang tahun, Yu. Berhubung Lia juga sedang liburan sekolah kan aku harus sesegera mungkin kembali ke Jakarta biar bisa merayakan ulang tahunnya Johan" kata Ane berbisik, sementara Sofia masih melakukan perkenalan dan masih ada sesi tanya jawab dengan rekan yang lain.


"Aku bakalan rindu berat sama mbak Ane. Coba saja kalau Pak Bima mau sama aku, pasti aku diboyong juga ke Jakarta biar bisa jadi tetangganya mbak Ane" kata Ayu sempat-sempatnya bercanda di tengah rasa sedihnya.


"Oh, jangan khawatir. Nanti aku sampaikan salam dari kamu buat Pak Bima, ya" tantang Ane.


"Jangan lah mbak, aku kan cuma bercanda" kata Ayu yang sudah bisa terkekeh pelan.


Dan hari ini, Ane hanya berada di kantor sampai acara serah terima jabatan dengan Sofia selesai dijalankan.


Setelahnya, Vicky dan Lia menjemputnya untuk bisa segera pergi ke Jakarta.


Menggunakan jalur darat, mereka bertiga menikmati kebersamaan. Dengan bantuan beberapa mobil untuk mengangkut barang-barang mereka.


Sengaja Ane ingin lewat jalur darat saja karena sekalian ingin quality time bersama.


Tiba di Jakarta sudah hampir senja, mereka masih harus beristirahat untuk menghilangkan penat.


Dan ternyata Abraham dan Suzy sudah menyiapkan kamar khusus untuk Lia yang sengaja mereka dekorasi sendiri.


"Selamat datang di rumah kita, sayang" sambut Abraham yang berdiri bersisian dengan Suzy, dan ada juga Johan yang menyambut mereka.


"Terimakasih, kakek dan nenek. Aku juga sangat merindukanmu Jo" ucap Lia sambil memeluk satu per satu dari mereka.


"Aku juga sangat merindukanmu, Lia" jawab Johan dengan senyum sumringah.


"Kau pasti sangat lelah, nak. Kami sudah menyiapkan kamar untukmu. Beristirahatlah dulu, nanti kita bertemu lagi di saat makan malam" tutur Abraham sambil menggiring cucu tersayangnya ke lantai dua.


Membiarkan Vicky dan Viviane membuntuti dari belakang. Mereka berdua nampak sangat bahagia dengan sambitan dari Abraham dan Suzy yang sangat welcome pada Lia.


"Ini kamar Lia?" tanya Lia dengan mata berbinar.


"Ya, apa kau suka?" tanya Suzy.


"Aku sangat menyukainya, nek. Terimakasih" kata Lia sambil memeluk neneknya.

__ADS_1


"Kau tak ingin memelukku juga, Lia? Kakekpun ikut andil dalam menyiapkan semua ini" kata Abraham seperti anak kecil yang sedang merajuk.


Semuanya tertawa bahagia, Lia memeluk kedua orang tua itu penuh kasih sayang. Membuat Johan sungguh merasa semakin tak enak hati.


Pria kecil itu hanya berdiri terpaku dan melihat kebahagiaan keluarga itu dalam diam. Mengetahui kisah lama keluarga Alexander yang harus berantakan karena ulah mamanya, membuat Johan merasa tersisihkan meski sebenarnya semua orang masih tetap menyayanginya.


Johan berharap jika Vicky akan menepati janjinya untuk mengusahakan kebebasan ayahnya dan dia bisa tinggal dengan ayahnya saja.


Kini, Lia sedang sendirian di kamarnya. Kamar termewah yang pernah dia punya. Dengan ranjang besar berwarna pink kesukaannya. Dan jendela besar yang diberi tirai indah berwarna senada dengan cat di tembok yang berwarna pink salem.


Tanpa sempat membersihkan diri, Lia tertidur dengan nyenyaknya karena memang dia merasa lelah setelah menempuh perjalanan beberapa jam dari Bandung ke Jakarta.




Merasa tidur hanya dalam waktu singkat, Lia harus dibangunkan oleh seorang ART karena sudah mendekati waktu makan malam.



"Non, Non Lia. Ayo bangun, sebentar lagi waktunya makan malam. Saya sudah ditugaskan oleh tuan dan nyonya untuk memanggil non Lia" kata seorang art dari balik pintu, membangunkan Lia yang sedang tertidur pulas.



Beruntung Lia termasuk anak yang mudah dibangunkan, meski matanya masih terasa lengket, tapi Lia sudah bangun dan menyahuti ucapan wanita yang masih berada di balik pintu.



"Iya, aku sudah bangun" kata Lia dengan malas.




Dan setelah selesai dengan urusan kamar mandinya, Lia segera ganti baju dan keluar kamar untuk bergabung dengan yang lainnya di meja makan.



"Hai sayang, kau bisa beristirahat dengan baik?" sapa Abraham, bahkan sebelum Lia duduk di kursinya.



"Sangat nyenyak, kek" jawab Lia sambil tersenyum, dan duduk manis di sebelah Johan.



Semua anggota keluarga sudah berkumpul, Vicky dan Viviane duduk bersebelahan. Sementara Abraham duduk di kursi oling ujung ditemani Suzy di dekatnya. Dan ada Johan di sebelah Suzy yang membuat Lia memilih untuk duduk di dekat Johan.



Mereka makan dalam diam, tapi suasana bahagia nampak dari raut wajah semua orang. Tak seperti dulu saat Ruby yang menjadi nyonya Alexander muda, rasa tak suka dari kedua orang tua itu membuat suasana semakin buruk.



Tak ada yang membahas untuk acara ulang tahun Johan esok hari, hingga membuat Lia tak sabar untuk menanyakannya.

__ADS_1



"Bukankah besok kau ulang tahun, Jo? Apa kalian sudah menyiapkan pesta untuknya?" tanya Lia memecah keheningan.



Semua orang jadi saling pandang, tapi sebenarnya sudah ada pesta kecil yang sengaja disiapkan khusus untuk Johan.



"Tentu saja kami sudah mempersiapkan pesta untuknya. Kau pikir kami akan diam saja, sayang?" kata Abraham.



"Tidak perlu repot-repot, kek. Meski tidak ada pesta juga tidak masalah" tutur Johan yang semakin sadar diri, dia bukanlah siapa-siapa di dalam keluarga ini.



"Tentu saja harus ada pesta, Jo. Meski sederhana, yang penting kita sekeluarga bisa merayakan ulang tahunmu. Kan itu hari spesial untukmu, jadi ya harus dirayakan dong" kekeuh Lia yang ingin memberikan kejutannya untuk Johan.



"Pokoknya, besok akan ada pesta sederhana untukmu Jo. Atau kau mau pesta dengan mengundang teman-temanmu juga?" tanya Lia yang lebih bersemangat daripada Johan.



"Tidak Lia, sederhana juga sudah cukup untukku. Aku akan sangat berterima kasih" tutur Johan.



"Kau manis sekali, Jo" kata Viviane dengan senyum manisnya, dia sangat bangga dengan sikap Johan.



Belum tahu saja Viviane jika perasaan pria kecil itu sangat rapuh semenjak dia tahu mengenai latar belakangnya.



Hingga semakin lama berada di keluarga ini maka semakin membuat hatinya merasa sangat bersalah terhadap Lia.



Apalagi sejak dia berteman dengan Lia, Johan sudah sangat cocok dan bertekad untuk selalu ada jika Lia membutuhkannya. Karena memang kehidupan Lia yang dulu sangat sederhana bertolak belakang dengan kehidupannya yang mewah. Padahal semua kemewahan itu sebenarnya adalah milik Lia.



Saat Lia merasa tak ada yang perlu dikhawatirkan, disitulah semakin timbul rasa bersalah dalam diri Johan.



.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2