My Angel Baby

My Angel Baby
Selamat tinggal, Jo!


__ADS_3

"Apa pestanya bisa kita teruskan?" tanya Suzy memecah suasana haru yang tengah terjadi sore ini.


"Oh tentu saja. Kita bicarakan semuanya nanti setelah acara pesta ini usai. Yang penting kita semua harus tetap merasa bahagia" ucap Robi dengan logat bulenya.


Semua orang tertawa mendengarnya. Dan pesta kecil untuk Johan sore ini berlalu dengan membawa kebahagiaan di hati semua orang.


Dan Liapun harus dipaksa untuk menghargai perasaan orang lain dengan tidak memaksakan kehendaknya agar Johan tetap berada di dalam lingkungan keluarga Alexander.



Abraham melarang Robi yang ingin bermalam di hotel. Sengaja pria itu menyuruh seorang art nya untuk menyiapkan kamar agar Robi bisa beristirahat di rumah ini malam ini.



Dan kini, saat makan malam tengah berlangsung. Kesempatan untuk membahas keinginan Johan dibuka lebar.



"Saya ingin membawa serta anak saya untuk tinggal di Polandia" celetuk Robi, karena memang sudah jauh-jauh hari rencana itu tersusun bersama Johan.



"Bagaimana menurutmu, Jo?" tanya Vicky, dia hanya tak ingin jika Johan hanya menuruti keinginan ayahnya karena sebuah ancaman.



"Sepertinya aku pun ingin bersama ayah saja, pa. Karena aku sadar jika tempatku bukanlah disini" kata Johan, pandangannya menerawang dengan perhatian penuh pada piring kosong dihadapannya.



"Apa kau yakin dengan keputusanmu, Jo? Kau sendiri yang waktu itu ingin kalau aku tinggal bersamamu agar kita bisa tetap bersama" kata Lia, masih berusaha untuk meyakinkan Johan agar tetap tinggal.



"Maafkan aku, Lia. Setelah aku pikirkan dengan baik, sepertinya aku akan lebih senang kalau bersama dengan ayahku sendiri. Seperti kau yang merasa senang saat bersama dengan papa Vicky" ucap Johan sambil memandangi wajah Lia.



Wajah gadis pertama yang sudah bisa membuatnya merasa nyaman dan tak perduli dengan asal usulnya saat mereka baru bertemu. Yang Johan rasakan adalah kenyamanan saat bersama Lia.



"Bagaimana dengan bisnismu di sana, Rob? Apa semua masih berjalan lancar atau sudah tak karuan?" tanya Vicky. Bagaimanapun, untuk melepaskan Johan agar bisa hidup dengan baik bersama Robi, maka Robi harus memiliki sumber penghasilan yang cukup untuk mereka berdua.



Tidak hanya cukup untuk makan, tapi juga semua biaya hidup untuk keduanya kelak. Apalagi Johan yang masih butu banyak sekali biaya hingga nanti saat dia kuliah.



"Sepertinya diambang kehancuran, tadi aku sempat menelepon asistenku disana. Dan sia bilang sejak aku masuk tahanan, ada beberapa hal yang tidak bisa dia handle secara langsung. Dan membuat beberapa investor yang dulu mempercayakan dananya untuk perusahaan kami, sekarang sedang menarik investasinya karena takut kalau perusahaan akan pailit jika ownernya tak ada di tempat" kata Robi dengan gamblangnya.



"Apa kau yakin masih bisa memperbaiki semuanya?" tanya Vicky.


__ADS_1


"Sebenarnya aku sangat yakin. Karena memang di bidang inilah passion karir yang sudah sangat saya inginkan sejak dahulu. Dan perusahaan saya sempat sangat berjaya sebelum, ehm... maaf, Ruby kembali memanggilku untuk berkunjung dan menetap sebentar di negara ini" jawab Robi sedikit menyesal.



"Jika saja waktu itu saya tidak memperdulikannya, dan tetap fokus pada bisnis saya, maka saya yakin kalau kesuksesan yang lebih besar sudah saya dapatkan" tutur Robi, meski tak ada raut penyesalan, tapi semua orang tahu jika Robi berusaha kuat demi tak melihat kesedihan di wajah Johan.



"Dan sekarang kau menyesal?" tanya Abraham.



"Terlalu menyesalpun tidak, tuan. Karena jika saat itu saya tidak datang untuk Ruby, maka saya tidak akan bisa bertemu dengan Johan. Anak lelaki saya yang ternyata juga menyayangi saya" jawab Robi dengan sangat yakin.



"Kau sendiri bagaimana, Jo? Apa yang kau inginkan?" tanya Vicky, dia harus berusaha bijak dengan tetap mendengar pendapat dari Johan secara langsung.



"Yang aku inginkan tetap agar bisa tinggal dengan ayahku saja, pa. Sepertinya itu akan lebih baik daripada menundanya lagi" ujar Johan tak kalah yakin dengan ayahnya.



"Apa kau siap untuk menjadi ayah sekaligus ibu bagi Johan, Rob? Karena mengurus seorang anak tak semudah yang kau bayangkan" kata Abraham.



"Sure, I am ready, sir. Hidup dengan baik bersama Johan akan menjadi motivasi yang luar biasa untuk saya menjadi orang yang lebih baik" kata Robi mantap.




"Tentu cantik. Dan sepertinya om juga harus meminta maaf padamu. Maafkan kesalahan om di masa lalu, ya. Om yakin kalau kau itu adalah gadis cantik yang berhati baik untuk mau memaafkan pria tua ini" kata Robi sedikit melucu, dia tak ingin Lia meragukannya lagi.



Semua tersenyum dengan kekonyolan Robi, tak terkecuali Lia yang juga ikut tertawa. Perlahan dia pasti bisa merelakan kepergian Johan.



"Ya, aku mau memaafkan om Robi asalkan tidak pernah lagi menyakiti Johan. Janji?" tanya Lia.



"Sure. Lagipula kalian masih bisa berkomunikasi melalui telepon dan panggilan video, kan? Dan saat liburan sekolah datang, kau bisa mengunjungi kami, atau Johan yang akan datang kesini untuk liburan. Bagaimana?" tanya Robi menumbuhkan antusias di hati Lia.



"Itu akan sangat menyenangkan, Lia" tambah Johan yang sudah tidak sabar untuk tinggal di luar negri.



Dan malam itu menjadi malam yang membahagiakan sekaligus menyedihkan untuk Lia.


__ADS_1


Karena di satu sisi dia tahu jika Johan akan lebih senang saat bersama ayahnya, tapi di sisi lain Lia masih ingin tinggal dengan Johan.



Dan rupanya, semua keperluan administrasi untuk Johan dan Robi sudah Vicky siapkan dengan lengkap.



Sebelumnya memang Vicky sudah membahas semuanya bersama Robi. Bahkan alamat rumah Robi pun, Vicky sudah tahu.



Jadi, semua keperluan Johan untuk tinggal dan bersekolah di Polandia sudah Vicky siapkan.



Saat Johan dan Robi pergi esok hari, maka Johan tinggal masuk di sekolah baru yang sudah Robi dan Vicky tunjuk sebagai sekolah terbaik untuk Johan.



Tinggal menunggu tahun ajaran baru datang, maka Johan dan Lia akan menempati sekolah baru mereka.



Keesokan harinya, Johan dan Robi sudah benar-benar akan bertolak ke Polandia.


Pagi-pagi sekali rombongan keluarga Alexander beriringan untuk melepas kepergian Johan yang bersikeras ingin ikut ayahnya.


Sementara Robi, Vicky dan Abraham semalam setelah makan malam bersama sudah saling bertukar pendapat untuk tetap mengawasi pergerakan Robi selama beberapa bulan ke depan agar pria itu tak berbuat macam-macam terhadap Johan tanpa sepengetahuan keluarga Alexander.


"Selamat jalan Jo. Semoga kau bahagia di sana" kata Lia sambil memeluk Johan erat.


"Kaupun harus baik-baik disini, Lia. Ingat bahwa suatu saat kita bisa bertemu kembali" tutur Johan sambil mengurai pelukan hangat dari Lia.


"Mama sedih sekali Jo, tapi untuk tetap memaksamu tinggal disini akan membuatmu jadi lebih bersedih. Maka, kau harus hidup dengan baik dan berjanjilah untuk selalu mengabari kami disini" tutur Viviane, wanita itu bahkan sudah menangis.


Entah mengapa akhir-akhir ini dia sangat mudah merasa terharu dan bersedih. Bahkan Vicky sendiri sedikit heran dengan perubahan watak istrinya yang sebelumnya adalah wanita tangguh itu.


"Johan akan berusaha untuk sesering mungkin menghubungi mama disini" kata Johan yang sudah mendapatkan banyak sekali ciuman di pipinya dari Viviane.


"Apa kau tidak ingin melakukan itu pada saya?' tanya Robi yang mengundang tatapan sinis dari Vicky, tapi Abraham dan Suzy malah tertawa.


"Kau berurusan denganku jika istriku berani menciummu, bung" kata Vicky yang seolah sedang marah.


Mereka sedikit bercanda sebelum Johan dan Robi benar-benar pergi dengan pesawatnya.


Suasana haru dan sedih masih terasa saat Vicky dan keluarganya melambaikan tangan sebagai ucapan perpisahan pada Johan dan Robi.


Dalam hati Lia bertekad untuk selalu menjadikan Johan sebagai sahabat sekaligus saudaranya yang paling bermakna.


Silaturahmi keduanya akan tetap terlaksana meski harus dipisahkan oleh perbedaan belahan dunia.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2