
"Jadi, lo kemana saja selama tiga hari ini Lian?" tanya Sam yang menyempatkan diri untuk menghabiskan waktu istirahatnya di kantin bersama Lian dan Mawan yang tak mau lepas dari Sam.
"Sebelumnya aku minta maaf ya Sam, sudah membuat kamu khawatir" kata Lian sebelum menjawab pertanyaan Sam.
Sam hanya mengangguk, dia terlalu berharap untuk mendapat jawaban dari Lian.
"Aku ketemu ibu. Sewaktu para pria itu membawaku, ternyata ada ibuku di sekitar situ. Dan ibu yang sedang bersama temannya berhasil mengecoh para penjahat itu dan membawaku pergi" jawab Lian.
"Ibu lo? Gue kira ibu lo sudah nggak ada" kata Sam.
"Ehm, bukan ibu kandungku sih. Dulu ibu Eri pernah melihatku sedang disiksa oleh ayah. Dan ibu Eri menolongku waktu itu, bahkan sempat membawa ayah ke kantor polisi hingga ayah berjanji untuk berubah dan akan merawatku dengan baik" kata Lian menceritakan tentang dirinya.
"Tapi rupanya ayah tetap begitu meski tak lagi menyiksaku, masih saja suka berjudi dan minum minuman keras" Kata Lian sedih.
"Untung saja lo ketemu sama orang yang baik. Yang penting sekarang lo aman. Sekarang lo tinggal dimana? Nanti kalau pulang, gue anterin ya?" kata Sam menawarkan dirinya.
"Ibu menyuruh orang untuk mengantar jemput aku, Sam. Dalam waktu dekat ini, aku masih harus berhati-hati, jadi ibu masih belum berani memberiku kebebasan" ujar Lian.
"Benar juga sih. Yasudah, lain kali kalau semuanya sudah aman, gue yang bakalan nganterin lo pulang, ya" kata Sam.
"Iya" jawab Lian, mengangguk dan tersenyum cantik. Membuat hati Sam berdegup kencang saat melihat wajah pujaan hatinya.
"Sekarang lo anterin gue pulang saja Sam, pasti gue nggak nolak" celetuk Mawan yang menyadarkan Sam jika masih ada seonggok daging lainnya yang berada ditengah mereka.
"Lupa gue kalau ada lo, Wan" kata Sam.
"Lupa lo sama temannya kalau ada cewek cantik" kata Mawan sambil merengut, membuat Sam dan Lian cekikikan mendengarnya.
Seharian ini Sam sangat bahagia tentunya, lalu bagaimana kabar dari para fans barunya? Tentu berita tentang Lian yang dekat dengan Sam akan tersebar dengan cepat di lingkungan sekolahnya.
Beberapa dari fans itu mulai mundur, kembali menjadikan Doni si ketua OSIS sebagai idola mereka. Tapi juga masih ada beberapa yang masih kekeuh mengirimi Sam hadiah meski sudah tahu jika sudah ada Lian. Bukankah mereka mengirim itu semua dengan anonim, jadi baik Sam ataupun Lian tak tahu siapa pengirimnya.
Jarum jam akan berputar cepat saat suasana hati sedang bahagia. Itulah yang Sam rasakan saat sudah bisa melihat Lian dalam pandangannya. Apalagi kini Sam bisa melihat gadis itu sepanjang waktu.
"Sudah bel ya?" tanya Sam sambil melihat punggung Lian yang duduk cukup jauh di depannya.
"Iye, lo girang amat. Ngomong tuh lihat lawan bicaranya. Nggak kayak lo" kata Mawan sambil merapikan peralatan sekolahnya dan bersiap pulang.
__ADS_1
"Lian, lo beneran nggak mau gue antar pulang?" tanya Sam yang sudah menyambangi meja Lian.
"Buset nih anak gercep amat" kata Mawan yang mengekor pada Sam, berdiri di dekat meja Lian.
"Enggak Sam. Makasih ya. Mungkin lain kali kalau ibu sudah mengizinkan" kata Lian dengan senyumnya.
"Lihat deh, ibu sudah mengirimkan pesan untukku" kata Lian sambil memperlihatkan layar ponselnya.
"Gue minta nomer lo ya. Nanti kalau sudah dirumah, biar gue bisa hubungi lo" kata Sam, mengeluarkan ponsel mahal miliknya.
"Ini nomornya" kata Lian.
Sam segera menyimpan nomor Lian di ponselnya. Sesaat sebelum sebuah nomor masuk untuk menelpon gadis cantik itu.
Sekelebat, Sam melihat wajah si penelepon yang sepertinya tidak asing baginya. Sewaktu Lian menarik ponselnya, Sam masih berusaha mengingat sepotong wajah yang baru saja dilihatnya. Tapi memorinya yang bertumpuk sedikit kesulitan untuk menemukan data tentang wanita di layar ponsel Lian. Hanya kernyitan dahi yang tercetak di wajahnya selama Lian mengobrol lewat ponselnya.
"Sam, aku duluan ya. Ibu sudah menungguku di depan sekolah. Beliau ikut menjemputku hari ini" kata Lian berpamitan, Sam sedikit terkejut.
"Eh, iya. Gue temenin ke depan ya. Sekalian mau ke parkiran ngambil motor" kata Sam.
"Boleh" jawab Lian yang segera beranjak dari kursinya.
Sepanjang perjalanan mereka, banyak pasang mata yang menatap. Ada tatapan kagum karena melihat pasangan sejoli yang serasi, ada tatapan tak suka pada Lian yang sudah merebut idola mereka, ada yang kecewa pada Sam yang tak menggubris satu pun dari para fansnya, dan ada juga tatapan kasihan pada Mawan yang seperti menjadi anak bawang.
Padahal dia ikut Sam atas kemauannya sendiri. Tapi namanya gosip, meski salah menjadi seolah-olah benar saat berkata jika Sam hanya memanfaatkan Mawan saja.
"Mana ibu lo?" tanya Sam, celingukan melihat beberapa mobil yang berjejer dengan angkot saat jam pulang sekolah.
"Disana! Mobil hitam itu" jawab Lian sambil menunjuk sebuah mobil City car sederhana jika dibandingkan mobil keluarga Alexander.
"Tapi tertutup semua kacanya, gue nggak bisa lihat wajah ibu lo" kata Sam.
"Lain kali saja aku kenalin. Aku duluan ya Sam, Wan. Sampai jumpa besok" kata Lian berlalu, sambil melambaikan tangannya pada Sam dan Mawan.
Sam hanya mengangguk dan segera berlalu ke parkiran untuk mengambil motornya.
"Lo bareng gue, Wan?" tanya Sam yang masih mengingat temannya.
__ADS_1
"Kagak Sam. Gue mau ke rumah engkong gue, kagak searah sama rumah lo. Gue naik angkot saja" jawab Mawan yang malah nongkrong di depan gerbang, disamping penjual cilok.
"Yasudah, gue duluan ya" kata Sam.
"Iye" jawab Mawan.
Mawan masih sedikit heran karena mobil yang Lian tumpangi masih belum juga tancap gas. Padahal sudah sejak beberapa lama mereka diam di tempatnya setelah Lian masuk tadi.
Ekor mata Mawan sempat melihat tampilan wajah dari dalam mobil yabg dia yakini sebagai ibu dari Lian.
"Buju buset, menor amat ibunya si Lian. Gincunya men, merah cabe" gumam Mawan yang melihat ibu Lian langsung menutup kaca mobilnya saat matanya bertubrukan dengan mata Mawan.
"Wan, gue duluan" pamit Sam dari atas motornya sambil melambaikan tangannya pada Mawan yang sedang makan cilok.
Mawan hanya melambaikan tangan untuk menjawab sapaan Sam dan ikut bangkit untuk memasuki angkot yang sudah nampak.
"Bagaimana Lian, bagaimana hari pertama sekolahmu?" tanya Eri pada Lian yang hanya duduk menunduk disampingnya.
"Baik-baik saja, bu" jawab Lian.
"Lantas, bagaimana dengan Samuel? Apa dia masih tertarik padamu?" tanya Eri lagi.
"Tadi dia langsung memelukku saat perkenalan, bu" jawaban Lian semakin membuat Eri senang.
Satu langkah awalnya berjalan sangat lancar. Bocah ingusan memang sangat mudah diperdaya.
"Bagus. Terus dekati dia dan pastikan kalau dia jatuh hati padamu" kata Eri yang sudah tersusun beberapa rencana di otaknya.
"Tapi bu. Kenapa ibu menyuruh saya untuk mendekati Sam? Apa ada yang ibu rencanakan untuknya?" tanya Lian memberanikan diri.
"Bukan urusanmu. Lakukan saja perintahku atau aku akan membunuh ayahmu yabg tidak berguna itu" kata Eri ringan.
Lian hanya bisa kembali menunduk dengan jawaban Eri. Dirinya seolah menjadi hewan peliharaan Eri. Yang diberi kebebasan berjalan, tapi lehernya diikat tali untuk membelokkan arah sesuai keinginan tuannya.
"Maafin aku, Sam. Aku tak punya pilihan lain" gumam Lian dalam hatinya, dengan perasaan sangat bersalah pada Sam, super heronya.
.
__ADS_1
.
.