My Angel Baby

My Angel Baby
Apartemen Angel 2


__ADS_3


...MAB by VizcaVida...


...|28. Apartemen Angel 2|...


...Selamat membaca...


...[•]...


Kemeja putih pas tubuh berdasi kupu-kupu hitam dan berjas hitam, celana bahan warna senada dengan jas, rambut di pomade kesamping, dan senyuman merekah indah, adalah satu pesona yang diberikan Louis untuk semua orang hari ini. Wajahnya juga tak luput dari sorotan kamera dan berhasil membuat seisi studio menjadi riuh akan suara jeritan wanita.


Louis memang mempesona malam ini. Tapi apa yang dilihat orang-orang itu, berbanding terbalik dengan isi dan suasana hatinya. Beberapa kali perhatiannya pecah dan tatapan matanya mencari kehadiran seseorang. Sampai di pertengahan acara inipun, dia bahkan tidak berhasil menemukan keberadaan seseorang yang sehari lalu berjanji akan datang. Dia lah Angel. Wanita itu benar-benar tidak memberikan respon apapun pada pesan yang dikirim Louis beberapa jam yang lalu. Dan sekarang, keberadaannya pun tak dilihatnya di studio.


Angel sedang kurang enak badan dan memutuskan untuk tidak datang ke acara besar tahunan perusahaan ini, begitu menurut isi pesan yang dikirim oleh Angel empat jam yang lalu sebagai balasan pesan dari teman satu management nya, Rita. Pesan tersebut kemudian diberitahukan oleh Rita pada Louis setengah jam lalu ketika pria itu bertanya tentang kehadiran satu dari dua sekretarisnya.


Dan sekarang, Louis tidak bisa menikmati acara ini sedikitpun karena isi otaknya tidak sedang bersamanya. Ia ingin acara yang digelar dan di pantau langsung olehnya selama berbulan-bulan ini, segera selesai agar dia bisa pergi menemui Angel.


Hingga sesi terakhir acara berlangsung, Louis masih tidak bisa tenang karena rencana masih harus bertemu dan menemani beberapa orang besar dan penting untung ngobrol dan sekedar menikmati sisa malam dengan pesta whisky kecil di salah satu hall outdoor gedung VVIP perusahaan.


Rita yang sibuk berada di belakang panggung dikejutkan oleh suara Louis yang tiba-tiba menegurnya di sela-sela break acara..


“Lho, kenapa bapak ada di sini?”


“Coba tanyakan keadaan Angel, lagi.” katanya, yang berhasil membuat beberapa kru dan staff yang ada disana saling pandang diam-diam. Mereka yang memang sudah kepo dengan hubungan Louis dan Angel memasang kuping dan siap-siap menyebar informasi di grup gosip internal kantor.


“Baik, pak.”


Louis menunggu disamping Rita dengan dua lengan yang bersarang di pinggang. Wajah tampannya terlihat gusar. Sedangkan Rita sudah melakukan apa yang diperintahkan oleh Louis padanya. Ia mengirim pesan kepada Angel dan menanyakan keadaannya.


Tak berselang lama, balasan masuk.


Sudah mendingan, mbak. Cuma nyeri haid kok. Tapi sakitnya sampai bikin malas bergerak.


Pesan tersebut ditutup dengan emoticon bibir melengkung.


Rita menyodorkan balasan pesan dari Angel kepada Louis karena tidak ingin beberapa orang yang ada disana tau. Ini adalah privasi, dan Rita berhak melindungi karena Louis adalah atasannya. Satu hembusan nafas lega mengudara dari hidung si bapak tampan bernama Louis setelah tau keadaan orang yang sejak tadi menghantui pikirannya. Ia pikir, Angel sakit yang seperti apa sampai tidak dapat datang ke acara besar yang kata perempuan itu, tidak boleh dilewatkan.


Ia hanya bisa membatin, jika dirinya sekarang sedang diabaikan oleh seorang wanita. Hatinya mendadak nelangsa. Haruskah dia berakhir menyedihkan lagi?


“Terima kasih ya.” kata Louis pada Rita disemati senyuman lembut.


Rita mengangguk dan Louis meninggalkan Rita begitu saja tanpa peduli pada staff lainnya yang semakin ingin tau dan malah mencecar Rita dengan bejibun pertanyaan. Diantaranya,


“Ada hubungan apa sih pak Louis sama Angel, mbak?” tanya salah satu staff yang bekerja dengan Rita.


“Mana aku tau Jil. Kamu tanya aja sendiri sana sama pak Louis.” ketus Rita kemudian berlalu meninggalkan beberapa orang yang semakin penasaran karena Rita tidak mau memberitahu mereka. Alhasil, mereka membuat asumsi sendiri dan menyebarnya di forum gosip kantor.


Tung!


Eh, tau ngga? Pak Louis baru aja bela-belain turun podium dan datengin mbak Rita buat nanyain keadaan si Bit-ch devil berwajah malaikat.


Oh ya? Wah, ada yang ngga beres. Si devil selalu berhasil menarik perhatian pak Louis dengan tingkah menyebalkan nya.


Emang kayak ada sesuatu lho mereka ini.


Trus gimana? Lo udah tanya Mbak Rita?


Si pembuat berita menjawab,


Udah, tapi mbak Rita ngga mau jawab dan terkesan nutup-nutupi kenyataan jika mereka memang ada sesuatu.

__ADS_1


Wah, kita harus cari tau nih. Kalau perlu bajak akun WA nya si devil biar kita tau isi percakapannya sama pak Louis.


Nggak perlu. Sindir aja orang nya langsung biar merat dari kantor. Eneg gue lihatnya.


Dan pesan itu masih berlanjut dan semakin panas dengan cacian dan hinaan yang mereka lontarkan untuk Angel yang sama sekali tidak tau jika dirinya di jadikan bahan gunjingan oleh orang satu kantor.


Pukul delapan, acara sudah berakhir dan Louis mempunyai agenda menemui tamu-tamu VVIP dan bercengkrama di hall outdoor seperti yang sudah di jadwalkan.


Sedangkan dirumah, Angel sudah menghabiskan dua kantong keripik kentang yang tadi ia beli di minimarket biru dekat apartemen untuk menemaninya melihat siaran langsung acara televisi yang amat sangat meriah. Dia juga memantau rating dan respon penonton untuk dijadikan sebagai bahan pertimbangan memajukan kinerja perusahan siaran televisi tempatnya bekerja.


Sekarang acara itu sudah berakhir dan ia tau apa yang sekarang sedang Louis lakukan bersama tamu-tamunya. Dan Angel, melanjutkan kegiatannya dengan menonton film Netflix dari laptop.


Satu pikiran yang terus mengganjal di kepalanya masih saja menjadi beban. Ia berniat tidur cepat demi mengurangi rasa nyeri di perut dan kepalanya. Masalahnya bersama keluarga Hutama, sangat mempengaruhi mentalnya hingga berdampak tamu bulanannya datang lebih cepat, disertai nyeri pula.


Tanpa terasa, satu jam film thriller yang ia putar mengantarnya menyelami ruang mimpi.


***


Mobil Lexus mengkilat itu mendapat sambutan hangat dari penjaga palang pintu apartemen yang sejak tadi ingin dia datangi. Louis melirik jam tangan yang sekarang menunjuk angka sepuluh, membuat Louis bergegas juga berdoa agar dia tidak terlambat menemui Angel karena ini sudah memasuki jam istirahat malam.


Louis menuju lift, menekan angka empat, dan berlari kecil demi sampai didepan unit milik Angel. Setelah itu, alih-alih menekan bel, Louis memutuskan untuk menghubungi Angel.


Dua kali panggilan yang dia lakukan, diabaikan. Dan dia tidak bisa menyerah begitu saja. Dia harus berjuang sampai titik darah penghabisan, seperti kata Robert dan Stefany.


“Eum?”


Suara perempuan yang ia tuju, terdengar serak di seberang telepon.


“Kamu sudah tidur?”


“Ya. Ada apa menghubungi saya, pak?” tanya Angel yang saat itu setengah sadar karena bangun tidur karena terkejut.


“Apa??” pekik Angel yang mendapatkan senyuman senang dari Louis.


“Cuma ingin tau keadaan kamu, Ngel. Kata mbak Rita kamu sakit.” alibi Louis mengunakan Rita sebagai umpan.


“Sa-saya—”


“Tolong, satu kali ini saja.” pinta Louis memohon. “Kalau kamu memang sudah tidak ingin ada hubungan apapun selain partner kerja, tolong buka pintu kamu. Saya mau minta maaf secara langsung. Dan saya janji tidak akan ganggu kamu—”


belum selesai bicara, pintu unit Angel terbuka. Gadis dihadapannya itu terlihat sedikit berantakan, tapi entah mengapa Louis melihatnya semakin cantik.


Louis menurunkan ponselnya dari telinga dan mengakhiri panggilan yang dia lakukan pada Angel. Setelah memasukkan ponsel itu kedalam saku celananya, Louis tersenyum hangat ke arah Angel. Menyapanya dengan suara Husky yang begitu lembut menyapa telinga.


“Saya khawatir sama kamu.”


Ada sedikit rona di wajah cantik Angel. Ia tidak pernah merasa diperhatikan sejauh ini oleh seorang pria. Dan Louis lah yang berhasil membuatnya merasa disayangi dan dihargai oleh sesosok pria.


“Saya baik-baik saja kok, pak.”


“Kalau kami baik-baik saja, tidak mungkin sekarang kamu ada dirumah saja dan melewatkan konser Justin yang kamu tunggu-tunggu itu.”


Angel terkikik geli melihat perlakuan Louis yang sekarang sama sekali tidak mencerminkan seorang atasan baginya.


“Saya rasa bapak tidak perlu tau alasan saya tidak bisa hadir, karena itu rahasia perempuan.”


Louis tertawa sambil menutup mulutnya dengan kepalan tangan. “Tapi maaf, saya sudah mendengarnya dari Rita.”


Mendadak Angel membeku. Satu rahasianya sudah terbongkar didepan Louis karena Rita. Ah sungguh memalukan.


“Kata mbak apoteknya, itu cocok untuk mengurangi rasa nyeri yang sedang kamu alami.”

__ADS_1


Pandangan Angel turun pada sebuah kantong plastik bertulis nama sebuah apotek ternama yang sedang di sodorkan Louis didepannya. Ia terharu sampai membeku.


“Untuk apa bapak melakukan ini untuk saya?” tanya Angel tidak mengerti akan maksud dari kebaikan Louis padanya.


“Anggap saja sebagai permintaan maaf karena sudah bikin kamu nggak nyaman sama aku.”


Louis diam sebentar, kemudian kembali bicara. “Maaf sudah membuat hidup kamu terusik dalam masalah hidup saya. Saya tidak akan meminta atau memaksa kamu lagi untuk memberi keputusan karena keputusan itu sendiri seharusnya saya yang buat.”


Angel menunduk. Beberapa jam yang lalu, dia juga memikirkan banyak hal dan mengambil sebuah keputusan.


“Kalau begitu, silahkan lanjutkan istirahat kamu. Sekali lagi maafkan ke egois saya ke kamu, ya.” Kata Louis sambil menyodorkan tangan didepan Angel.


Perempuan itu terlihat canggung dan tak terbaca selain itu. Louis pun menurunkan telapak tangannya yang tidak mendapat sambutan dari Angel, kemudian tertawa miris.


“Kamu tetap sekretaris saya di tempat kerja. Jadi jangan pernah canggung dan jalani hari seperti biasanya. Tolong jangan pikirkan apa-apa lagi setelah ini dan kita tetap menjadi partner kerja yang solid seperti sebelumnya, oke?!”


Angel menatap lurus tanpa menjawab.


“Oke. Sudah malam, saya pamit, Ngel.”


Karena tak kunjung mendapatkan jawaban, Louis pun mengambil sikap dengan membalik badan dan berniat pergi. Tapi suara Angel kembali menahannya.


“Tunggu, pak.”


Louis mematung. Dalam hati ia bersorak gembira. Namun, kenapa ia tidak menemukan Angel ketika kembali membalik badan? Gadis itu menghilang sesaat dan kembali dengan kantong berwarna biru di tangannya.


“Ini, kastengel untuk bapak. Ada kue juga yang saya buat khusus untuk bapak didalam situ. Silahkan dimakan dirumah. Beri tau saya melalui pesan WA tentang rasanya. Dan terima kasih untuk hadiah beberapa hari lalu yang sangat cantik, dan juga obat yang bapak bawa untuk saya hari ini.”


Louis tersenyum dan menerima tanpa memikirkan hal-hal lain selain hanya perasaan biasa yang seharusnya ia pertahankan.


Ya, seharusnya hanya perasaan biasa. Tapi, entah mengapa perasaan yang Louis anggap biasa itu, terasa begitu luar biasa.


Ia seperti sedang, jatuh cinta.


“Sama-sama. Saya juga terima kasih untuk kue pemberian kamu ini. Nanti saya kasih testimoninya setelah mencicipi kue nya.”


Angel tertawa lebar. “Saya tunggu.”


***


Louis berjalan menuju mobil miliknya, duduk di kursi kemudi dan meletakkan kantong berisi kue sponge dan kastengel pemberian Angel. Tapi, setelah itu, dia kembali keluar dan berjalan menuju penjaga pintu palang yang malam ini berjumlah tiga orang.


Mereka menyapa ramah pada Louis.


“Ada yang bisa kami bantu, pak Louis? Apa ada masalah?”


“Oh, tidak tidak. Saya hanya ingin menanyakan sesuatu kepada bapak ... Retno?” kata Louis sedikit ragu ketika menyebut nama si satpam setelah melirik nama yang ada pada dada pria berkumis tebal itu.


“Oh silahkan.”


Louis menatap pria itu sambil tersenyum.


“Kira-kira, bagaimana saya bisa bertemu dengan pemilik apartemen ini ya, pak?” katanya mantap, yang membuat senyuman di bibir pak Retno sedikit memudar. “Saya, ada keperluan penting dengan beliau.”


Pria bernama Retno itu membungkuk dan berjalan meninggalkan Louis untuk masuk kedalam pos. Kemudian memberikan satu kartu nama kepada Louis.


“Pak Louis bisa menghubungi nomor tersebut dan membuat janji temu dengan pak Laksa.”


Louis menatap kartu nama berwarna silver di tangannya, kemudian tersenyum kepada pak Retno untuk yang kesekian kalinya.


“Ah, terima kasih banyak ya, pak Retno. Saya akan menghubungi pak Laksa secepatnya. Sekali lagi terima kasih sudah mau membantu saya.” []

__ADS_1


__ADS_2