
"Sialan... Aahhhhh" Ruby berteriak tak karuan setelah selesai dengan kegiatannya di bar dan melayani dua orang tamunya malam ini.
Memasuki kamar Viviane, dia melemparkan meja nakas kecil yang ada di dekat ranjang hingga membuat Junet dan Is yang ketiduran di depan kamar Viviane terlonjak sangking kagetnya.
"Serangan musuh, Is" teriak Junet yang nyawanya belum sempurna memasuki badannya.
"Mana? Mana, Net?" tanya Is yang sudah memasang kuda-kuda sambil mengamati sekitarnya dengan mata yang tertutup sebelah.
"Apa lagi sih?" tanya Viviane yang juga baru tersadar dari tidurnya.
"Kau memang wanita sialan. Kau dan semua keturunanmu adalah bom waktu untukku. Kau adalah wanita ******, tak tahu diri" teriak Ruby semakin kesetanan sambil memukuli badan beserta wajah dan seluruh tubuh Viviane yang bisa dia gapai.
Ruby sangat sakit hati melihat tim Alexander menggunakan Johan sebagai bidak caturnya. Kekesalannya kali ini dia luapkan pada Viviane yang sudah dari kemarin bisa dia tangkap.
"Ah, sakit kak. Kau ini kenapa sih" teriak Viviane tak mau kalah.
"Kau itu memang ja**ng, brengsek" gumam Ruby yang kesadarannya hanya 50% akibat pengaruh alkohol, dilihatnya Viviane dengan lekat sambil memegang kedua bahunya.
"Kau memang sangat cantik, brengsek. Pantas saja Vicky tergila-gila padamu" ucap Ruby sambil memegangi dagu Viviane yang mukanya sudah dipenuhi memar.
"Kak, bisakah kau buka ikatan di kaki dan tanganku ini? Lalu kita berduel berdua saja, sampai salah satu dari kita ada yang mati. Kurasa itu akan lebih seimbang daripada kau menyiksaku saat keadaanku tak bisa membalasnya" kata Viviane.
"Kau hanya seperti seorang pengecut yang tak bernyali. Nyalimu hanya seluas ujung kukumu yang berwarna-warni itu, dan akan patah saat kau tahu artinya rasa takut" imbuh Viviane.
Ruby tertawa mendengarnya, tertawa terbahak-bahak sambil memegangi perutnya sambil sesekali bertepuk tangan.
"Kau memang jago dalam berbicara, Vi. Kau itu hanya sampah, kau tak sepadan denganku yang sudah menjadi orang kaya sejak kecil. Kau hanya sampah yang tak sengaja bertemu dengan Vicky hingga membuatnya lupa diri" kata Ruby geram.
"Seandainya waktu itu aku tak menabrakmu. Seandainya waktu itu aku tak merengek pada Vicky. Seandainya aku tak pernah bertemu denganmu, Aahhhh" kembali Ruby berteriak, menyesalkan segala ketidaksengajaannya saat bertemu dengan Viviane.
Ingatan kedua wanita itu kini berkelana ke masa silam. Masa dimana saat itu Viviane masih seorang murid SMP dan Ruby baru saja masuk universitas.
Menggunakan mobil sendiri, Ruby yang sedikit terlambat harus melajukan mobilnya dengan kecepatan diatas rata-rata demi mengejar waktu.
Saat di perempatan, Ruby bertekad menerobos lampu merah yang baru saja menyala.
Tapi sialnya, dia malah menabrak seorang siswi SMP yang ingin menyebrang jalan untuk mengejar angkotnya di seberang jalan.
__ADS_1
Siswi SMP itu terpental, niat Ruby ingin tancap gas saja jika orang-orang tidak mengerumuni mobilnya agar tak lari dari tanggung jawab.
Keluar dengan ketakutan, Ruby melihat korbannya terduduk di trotoar jalan dengan baju kotor dan kedua lututnya yang berdarah.
Seorang pelajar SMP yang sungguh cantik dengan dua kunciran yang terjuntai hingga melewati pundaknya.
Entahlah, Ruby merasa kasihan pada siswi itu hingga membuatnya mendekat dan berjongkok di hadapannya.
"Kau tidak apa-apa, dik?" tanya Ruby pelan sambil membelai lengannya.
"Matamu buta? Kakinya berdarah dan dia menangis. Masih sempat-sempatnya kau bertanya begitu" teriak seorang pria di dekat Ruby hingga membuat Ruby tersadar dan kembali merasa takut. Ya, Ruby memang secengeng itu.
"Kau harus bertanggung jawab. Dasar anak orang kaya yang bodoh. Apa SIM mu hasil menyogok?" umpat yang lainnya.
Ruby tertunduk sambil meraba ke dalam tas jinjingnya.
"Ah, aku lupa membawa dompetku" gumam Ruby semakin kelimpungan.
Sebenarnya orang tuanya sudah melarangnya untuk membawa mobil sendiri. Biarkan supir yang mengantar jemputnya untuk kuliah. Tapi dia itu bandel, niatnya untuk pamer pada kawan kampusnya malah membuatnya terkena masalah seperti sekarang.
Hanya Vicky yang ada dalam otaknya. Sahabatnya itu pasti i akan selalu ada untuknya. Daripada meminta tolong pada orang tuanya, Ruby memutuskan untuk menelepon Vicky supaya datang membantunya.
Kesempurnaan wajah yang sedikit khawatir itu semakin membuat Vicky terlihat tampan saat membelah kerumunan orang dan menemui Ruby, sahabatnya.
"Ada apa, By?" tanya Vicky yang juga selalu terngiang di telinga Viviane dan Ruby hingga saat ini.
Viviane menengadah mendengar suara Vicky, dan tak bisa dipungkiri jika gadis belia itupun juga terpesona padanya.
Vicky berjongkok di hadapan Viviane setelah mendengar cerita dari Ruby. Senyumannya yang secerah mentari pagi membuat Viviane hanya bisa membalas semua pertanyaan Vicky juga dengan senyuman, rasa sakitnya terlupakan.
"Apa kakimu sangat sakit?" tanya Vicky.
Viviane hanya mengangguk, "Apa perlu ke rumah sakit?" tanya Vicky lagi.
Dan Viviane pun hanya bisa mengangguk. "Apa kau tak bisa berjalan sendiri?" tanya Vicky.
Dan lagi-lagi Viviane hanya bisa mengangguk seperti orang bodoh karena baru pertama kali baginya melihat seorang pria sesempurna Vicky.
__ADS_1
"Baiklah" kata Vicky singkat sambil membawa Viviane dalam gendongannya.
Sebenarnya Viviane terkejut tapi membiarkan saja Vicky membawanya sambil di gendong. Dia seolah terhipnotis olehnya.
Meninggalkan Ruby, Vicky membawa Viviane ke klinik terdekat.
Dan dari situlah awal kedekatan Vicky dan Viviane terjadi hingga membuat mereka menjadi sepasang suami-isteri dengan begitu banyak drama yang sudah mereka lalui.
Menyisakan Ruby dengan sejuta sesalnya. Karena keegoisannya, sifat manjanya dan ingin perhatian dari seorang Vicky, Ruby malah membuat Vicky semakin jauh darinya.
Ruby hanya bisa menangisi kekosongan hatinya dengan bermain lelaki. Berharap bisa melupakan Vicky yang nyatanya semakin merajai hatinya dengan tak tahu diri.
Serangkaian peristiwa masa lalu yang terkenang semakin membuat Ruby frustasi kali ini.
Kembali dia memukuli Viviane bagai samsak hingga teriakan kesakitan darinya tak didengar oleh Ruby.
"Cukup bos, dia bisa mati" cegah Junet yang kasihan melihat Viviane yang kesakitan.
"Biarkan saja. Biarkan dia mati. Aku sangat membencinya" teriak Ruby yang kedua tangannya dipegangi oleh Junet dan Is.
"Tenang bos. Nanti rencana bos bisa gagal kalau bos tidak berfikir dengan tenang" kata Is meyakinkan Ruby.
Dengan nafas yang memburu dalam genggaman Junet dan Is, Ruby berusaha menurunkan emosinya.
"Aahhh, kau memang sialan Vi. Bahkan saat kau sudah dihadapanku dengan tak berdaya pun, aku masih belum bisa membuatmu mati" kata Ruby yang sudah mulai tenang.
"Akan segera kuurus anak lelakimu itu, lalu kau bisa bersiap untuk giliran selanjutnya. Dan setelah itu, Lia akan menjadi urutan berikutnya. Dan sebagai pamungkasnya adalah pasangan si tua Abraham dan Suzy, hahahahaha" tawa Ruby menggema dalam ruang kecil itu.
Sambil tetap tertawa, Ruby meninggalkan Viviane yang sudah babak belur.
Kini Junet dan Is mendekat. Berusaha menolong Viviane sebisanya. Kedua pria itu merasa tak tega melihat keadaan Viviane.
"Cari kotak obat, Is. Gue mau buka ikatan neng Viviane dulu" kata Junet.
"Iya bang" jawab Is sambil berdiri dan keluar ruangan.
Rupanya masih ada segelintir manusia baik yang mengelilingi Viviane.
__ADS_1
Viviane yakin jika semua ini akan segera berakhir, dalam tangisnya dia berharap semoga kelak setelah semua ini selesai, keluarganya masih bisa tetap utuh.