
"Kau telat lima menit, Sam. Coba saja kalau kamu langsung pulang tanpa menyentuh pacarmu itu. Pasti kau tidak akan terlambat" kata Lia saat baru saja melihat adiknya masuk rumah.
Sengaja gadis itu menunggu adiknya pulang dengan duduk tenang di ruang tamu sembari mengerjakan tugas-tugasnya.
"Iya, maafkan aku kakakku My Angelia yang cantiknya melebihi batas. Lagian masih jam berapa sih kak. Sibuk banget ngurusin urusan Sam" gerutu Sam sambil duduk di hadapan kakaknya.
"Bisa kamu sekarang melawan ya? Sudah sejauh apa kemampuan kamu untuk melawan kakak?" geretak Lia.
Pernah suatu kali Sam yang tak mau dikekang oleh kakaknya berusaha melawan gadis itu dengan bermodalkan otot tanpa otak.
Tentu Sam kalah telah, bahkan tulang kakinya retak, dan hebatnya, kedua orang tuanya malah menyalahkan Sam.
Sam harus dilarikan ke rumah sakit dan cuti selama beberapa minggu dari sekolahnya. Tapi tetap Lia akan menggantikan ketertinggalan pelajaran Sam dengan membawa guru privat ke kamarnya.
Pengalaman itu mengajarkan Sam untuk lebih merasa takut pada kakaknya daripada orang tuanya. Dan baginya, perkataan Lia adalah titah tak terbantahkan. Tapi remaja itu tahu jika apa yang Lia lakukan adalah untuk kebaikannya, dan masih ada banyak kasih sayang dari Lia untuknya karena Lia selalu menjadi tameng terdepan saat Sam terjatuh dalam suatu masalah.
"Ampuni aku kak" kata Sam sambil menangkupkan kedua tangannya di dada.
"Sekarang cepat tidur dan kakak tidak mau kalau sampai besok pagi kau terlambat ke sekolah" perintah Lia adalah mutlak.
Dan tanpa banyak kata lagi, Lia segera beranjak dari tempat duduknya untuk pergi ke kamarnya sendiri dan beristirahat.
Meski dengan menggerutu, nyatanya Sam menurut dan mengekor pada Lia karena kamar mereka yang bersebelahan.
"Huuu, dasar jomblo akut. Nggak tahu enaknya pacaran sih, makanya hidupnya abu-abu" keluh Sam sambil merebahkan dirinya diatas ranjangnya yang nyaman tanpa membuka sepatunya terlebih dahulu dan membawanya tertidur pulas karena memang hari sudah sangat larut.
Sementara di sebuah kamar kotor tempat dimana Eri tertidur sejak sore tadi, suara kucing yang berkejaran dengan tikus membuat tidurnya terganggu.
Di malam yang sunyi, tentu suara binatang yang tak pernah akur itu akan terdengar sangat keras dan memekakkan telinga.
"Ehm, aku ketiduran rupanya" kata Eri yang sudah terjaga dan kembali menelisik isi kamarnya yang kosong.
"Apa yang harus aku lakukan ya?" gumamnya yang tak mungkin bisa beranjak kemanapun karena gelap sekali di dalam rumah itu, apalagi Eri tak punya apapun untuk bisa dijadikan penerangan, ponselpun dia tak punya.
"Oh, aku tahu. Sepertinya besok aku harus menemui pengacara papa dan menanyakan tentang semua kekayaan papa dulu. Sekarang aku harus sabar menanti pagi datang" ujarnya lesu.
Kembali Eri merebahkan dirinya diatas ranjang berbantalkan tas besarnya. Dan saat menunggu pagi, wanita itu kembali terlelap setelah pikirannya melayang tak tentu arah.
"Sudah kubilang untuk belajar tepat waktu, Sam. Kita tidur di jam yang sama, tapi kenapa kamu tidak bisa bangun sesuai alarm di ponselmu?" masih pagi, pertengkaran kakak beradik itu sudah dimulai.
"Nggak telat banget kok, kak. Tenang saja" jawab Sam dengan santai.
"Pagi pa. Pagi ma" sapa Sam sambil mencium kening mamanya.
"Oh mamaku yang sangat cantik dan penyabar. Semoga nanti istriku bisa sesabar mama, tidak seperti harimau betina yang setiap hari selalu membuatku pusing itu ya, ma" gerutu Sam yang memilih untuk duduk di dekat mamanya.
"Kau ini, cobalah untuk bersikap lebih baik" kata Viviane dengan lembut.
"Oh ya, Lia. Bagaimana kelanjutan kerjasama ekspor perusahaan kita dengan perusahaan Malaysia kemarin?" tanya Vicky yang mulai membahas pekerjaan.
"Sepertinya kerjasama dengan negara itu kurang menarik, pa. Karena disana ada produk yang sama dengan milik kita dan lebih dahulu dikenal oleh masyarakatnya" jawab Lia sambil menikmati sarapannya.
__ADS_1
"Lia pikir lebih baik kita cari perusahaan dari Australia saja. Karena disana rival produknya leboh sedikit" saran Lia.
"Atur saja lah. Yang penting produk kita bisa habis terjual" kata Vicky.
"Tapi untuk minggu ini, Lia masih harus membantu Silvi untuk kerjasama kami di Nirwana Entertainment, pa. Karena tinggal peresmiannya saja. Semuanya sudah fix" kata Lia yang jadwalnya sudah sepanjang rel kereta api.
"Suruh saja orang kepercayaanmu untuk observasi beberapa perusahaan yang menurutmu merupakan negara yang strategis. Tidak harus Australia kalau menurut papa" ujar Vicky.
"Oke, pa. Nanti Lia akan membuat tim khusus untuk menangani eksport sosis kita" jawab Lia.
"Kak, boleh aku bergabung di Nirwana Entertainment sebagai calon artis? Aku kan tampan, rupawan dan juga berbakat, kak. Kau tinggal menyuruh anak buahmu untuk menaruh namaku di salah satu projectnya" celetuk Sam sambil makan.
"Kau ingin mencatut namaku demi karirmu? Hah, Mimpi saja" ejek Lia.
"Kalau kau mau berkarir, maka berkarirlah secara jujur. Ikuti aturannya dan jangan pernah membawa nama keluargamu kalau kau benar-benar yakin dengan bakatmu" tolak Lia.
"Diluar sana banyak sekali talent yang tidak kebagian tempat gara-gara manusia sepertimu, Sam. Jadi, berjuanglah dengan jerih payahmu sendiri jika kau ingin sukses" saran Lia yang sangat menyakiti hati itu hanya membuat Sam mencebikkan bibirnya.
Sam tahu jika Lia pasti kan menjawab seperti itu karena kakaknya itu sangat anti KKN. Semua yang dia lakukan murni karena hasil jerih payahnya.
Sebenarnya diam-diam Sam itu bangga terhadap kakaknya yang sangat mandiri dan pekerja keras. Dalam benaknya, suatu saat nanti dia ingin seperti kakaknya juga. Yang dihormati karena dirinya sendiri, bukan karena nama keluarga Alexander.
Menjelang tengah hari, Eri terbangun dari tidurnya. Rasa pegal dan tidak nyaman mulai terasa di tubuhnya. Sungguh sangat sakit menyiksa.
"Apa kamar mandinya masih berfungsi, ya?" gumam Eri sembari menuruni ranjang dan berjalan ke pintu yang menghubungkan dengan kamar mandi di dalam kamarnya.
"Wah, sayang sekali sudah tidak bisa dipakai" gumamnya penuh sesal.
"Aku cari toilet umum saja deh, sekalian ke tempat pengacaranya papa" ujar Eri dengan tekadnya.
Kini, dengan langkah gontai kembali perempuan itu menapaki jalanan kompleks yang sepi. Dan saat melihat pos satpam, Eri ingat kalau disana juga ada fasilitas yang cukup lengkap.
"Daripada kejauhan, lebih baik aku mencoba untuk numpang di pos satpam saja deh" gumamnya sambil terus berjalan mendekati pos.
Tampak seorang pria tengah asyik dengan buku catatannya hingga tak tahu jika ada Eri yang datang mendekat.
"Permisi pak, selamat siang" sapa Eri.
"Iya, siang Bu. Ada yang bisa saya bantu?" tanya satpam itu dengan sopan dan menaruh bukunya.
"Apa saya bisa numpang ke kamar mandi, pak?" tanya Eri.
__ADS_1
Satpam itu melihat tampilan Eri dari atas ke bawah. Tak ada kata yang bisa menjabarkan apa yang terjadi pada wanita ini.
Tampilannya memang sedikit berantakan, tapi dia tetap terlihat cukup menarik. Dan tas besar itu membuat si satpam merasa curiga.
"Apa yang ada di dalam tas besar itu, Bu?" tanya satpam.
"Oh, ini cuma pakaian saya saja pak. Saya baru pulang dari luar kota, dan saat saya kembali ternyata rumah saya sudah runtuh dan airnya macet, makanya saya mau numpang ke kamar mandi kalau boleh" ucap Eri.
"Rumah ibu di kawasan komplek ini juga?" tanya satpam itu tak percaya.
"Iya pak" jawab Eri.
"Rumah yang mana bu?" tanya satpam itu heran, karena kebanyakan penghuni rumah di komplek ini adalah orang kaya semua.
"Yang do blok D, pak. Rumah cat putih yang sudah tak lama tidak ditempati itu" jawab Eri.
"Saya dengar anak satu-satunya dari pewaris rumah itu sedang berada di dalam tahanan, bu" kata pak satpam.
"Benar, pak. Dan dia sudah keluar" jawab Eri yang kesabarannya sudah hampir habis.
"Oh, jadi ibu ini.. Ehm.. " satpam itu bingung bagaimana untuk bertanya tentang si anak yang sedang ditahan.
"Ya, saya adalah orang yang ditahan itu pak. Dan baru kemarin saya bebas, tapi saat pulang ternyata rumah saya sudah berbentuk seperti itu. Boleh saya numpang ke kamar mandi sebentar? Setelah itu saya janji tidak akan mengganggu tugas bapak lagi" kata Eri berusaha tegas, satpam itu terlalu banyak bertanya.
"Oh, iya bu. Boleh, boleh kok. Ehm, silahkan ibu pakai kamar mandi di sana itu" jawab Satpam itu sedikit gentar melihat Eri yang bertampang judes kali ini.
"Daritadi kek, banyak tanya sekali bapak ini" kata Eri sambil lalu, berjalan menuju ke kamar mandi untuk membersihkan dirinya.
.
.
.
.
__ADS_1
.