My Angel Baby

My Angel Baby
Selamat


__ADS_3

"Buset dah, ngapain juga tuh mobil pada masuk ke daerah terpencil begini? Iya memang ini komplek perumahan, tapi kan sepi banget" kata Mawan lirih sambil terus saja membuntuti mobil yang keluar dari bar Norita dalam jarak yang aman.


Hampir dua jam berkendara, mobil itu nampak memasuki komplek perumahan elit yang sepi. Hunian nyaman ini hanya diisi segelintir orang yang biasanya adalah para simpanan para petinggi.


Ada juga yang memang menjadi penghuni tetap disini, namun hanya sedikit saja. Dan entah mobil itu akan menuju kemana, karena motor Mawan harus berhenti di seberang gerbang pintu masuk komplek yang dijaga oleh dua orang security dan terlihat cctv yang terpasang di beberapa titik.


Mawan tak berani ikut masuk ke dalamnya karena dia tak memiliki kepentingan apapun di dalam sana. Bahkan tak mengenal satupun dari pemilik rumah disini.


Dan ini sudah hampir pagi, demi rasa setia kawannya pada Samuel, Mawan rela bertaruh nyawa.


"Gue pulang saja. Yang penting gue tau kalau salah satu penghuni di komplek ini berhubungan dengan pemilik bar Norita yang baru. Gue harus mempelajari isi dokumen yang berhasil gue temukan. Setidaknya, semoga gue tidak terlambat agar bisa menolong Samuel dari sesuatu yang gue pun belum meyakininya" gumam Mawan. Instingnya yang peka mengatakan jika ada sesuatu yang buruk di masa depan terhadap Samuel.


Menahan dinginnya angin malam, Mawan memutuskan kembali ke rumahnya saja dan berharap bukanlah Willy yang ada didalam kantong kresek besar di dalam mobil tadi.


Setelah hampir tiga jam, Mawan bisa pulang dengan selamat.


"Bagus ya lo Wan. Sudah merasa gede ya lo? Sudah merasa dewasa?" kata sambutan dari emaknya membuat Mawan tersentak.


Pasalnya sang emak membentaknya saat baru saja memasukkan motor ke ruang tamu, di rumah Mawan masih belum ada garasi untuk menyimpan kendaraan.


"Astaga mak... Kagetnya hati ini" kata Mawan sambil mengelus dadanya, tapi dia lega karena bisa kembali mendengarkan suara bentakan emaknya yang berarti dia bis pulang dengan selamat.


"Dari mana lo? Pagi buta begini baru pulang? Enak ya punya motor baru? Mendingan gue kagak punya motor baru Wan daripada elo berubah jadi anak kalong" ucap emaknya cerewet.


"Maafin Mawan mak. Mawan baru pulang dari rumahnya si Samuel. Ada tugas kelompok yang harus dikerjain mak. Lah pas mau pulang, Mawan malah ketiduran" jawabnya sambil menggaruk tengkuk sambil cengengesan.


"Tugas rumah kepala lo botak? Tadi sore si Samuel kemari nyariin elo Wan. Terus itu si Sandi bilang kalau elo pinjem KTP nya buat apa? Elo sudah pinter bohong sama emak ya Wan?" masih dengan emosi yang tinggi, emak Mawan memarahi sambil memukuli Mawan menggunakan pukulan kasur.


"Aduh, sakit mak. Ampun. Mawan nggak bohong kok mak. Beneran Mawan ke rumahnya Samuel. Tadi waktu Mawan ke sana, Samuelnya lagi pergi. Makanya emak jadi salah paham" jawab Mawan bersikukuh, setidaknya emak yakin kalau kebohongan Mawan itu jujur. Lah?


"Benar lo? Kagak bohong?" tuh kan emak mulai percaya, inilah kelebihan anak jujur. Satu kali saja berbohong tidak akan ketahuan.


"Benar mak. Suer" jawab Mawan sambil mengacungkan dua jarinya.

__ADS_1


"Terus KTP Sandi buat apaan?" tanya emak lagi, sudah mulai melunak.


"Ya kagak buat apa-apa mak. Dia punya hutang sama Mawan, hutang gorengan dua puluh ribu. Karena lama kagak bayar, terus ditagih janji melulu, yasudah Mawan pinjam KTP nya. Lain kali kalau dia minta, biar ditukar sama duit gorengan mak" jawab Mawan dengan wajah polos.


"Eh, iya benar lo Wan... Sama emak juga ada hutang tuh bocah. Sekarang juga masih ada di warung dah saa temannya. Ngerjain tugas kuliah katanya, sekalian ngopi. Sini deh Wan tuh KTP, biar emak yang pegang. Nanti kalau dia kagak mau bayar lagi, biar emak bisa jadikan KTP nya buat jaminan. Kadang memang lo pintar juga sih, Wan" kata emak, kini sudah lupa emak dengan kemarahannya.


"Nih mak" ucap Mawan sambil menyerahkan KTP milik Sandi.


"Tapi ingat mak, jangan sampai di berikan sama Sandi kalau belum bayar hutangnya" pesan Mawan, karena meskipun terlihat emosian dan galak, tapi emaknya adalah orang yang tidak tegaan.


"Iye, lo kagak percayaan banget sama emak" jawab emaknya sedikit bersungut dan berjalan keluar rumah.


"Mau kemana mak?" tanya Masan sedikit berteriak.


"Ke warung nemenin babe elo, tuh si Sandi sama temannya juga belum balik kan" jawab emaknya sambil lalu.


"Aman" gumam Mawan sambil mengusap dada.


Memasuki kamarnya, Mawan duduk diatas ranjang kecilnya sambil mengeluarkan dokumen yang berhasil dia dapatkan. Rasa penasarannya membuat Mawan membuka dokumen milik Lian terlebih dahulu.


Mawan ingat belum membersihkan diri setelah mencoba meneguk bir di bar tadi meski hanya sedikit. Dan Mawan berjanji untuk tak lagi mengulanginya karena rasanya sangat pahit dan seperti membakar tenggorokan.


Heran dia kenapa banyak orang yang suka dengan minuman seperti itu, padahal rasa gurihnya susu dan segarnya jus buah jauh berkali-kali lipat terasa nikmat daripada alkohol.


Merasa sedikit gerah, Mawan berdiri. Melangkahkan kakinya menuju kamar mandi. Setelah membersihkan diri, sekedar mencuci wajah dan gosok gigi.


Dan sebelum memutuskan untuk kembali bersarang di kamarnya, Mawan berinisiatif untuk membuat segelas kopi susu untuk menemaninya begadang malam ini.


Karena waktu sudah hampir pagi, Mawan tak tertarik untuk tidur. Dia lebih ingin tahu siapa Lian sebenarnya.


Setelah selesai dengan urusannya, Mawan kembali ke kamarnya dan menutup pintu. Duduk di ranjang dan menaruh segelas kopinya diatas laci dipan. Tak ada meja di kamar sempit itu, hanya saja dipannya dilengkapi laci untuk menaruh buju pelajaran dan sebuah almari kecil untuk meletakkan pakaian.


Duduk berselonjor kaki sambil berselimut, Mawan kembali membaca lembar demi lembar biodata Lian yang sangat lengkap.

__ADS_1


"Gila sih, ayahnya Lian jahat parah" gumamnya saat melihat foto ayah Lian yang dilengkapi semua berita tentang dirinya dalam mengurusi Lian, anak semata wayangnya.


"Gue rasa memang sepertinya Lian itu bukan anak kandung bokapnya, deh. Mana ada ayah yang sejahat itu sama putrinya. Karena pada umumnya, seorang ayah akan jauh lebih menyayangi anak perempuan ketimbang anak lelakinya" gumam Mawan beranalisa.


Hingga saat dia terlalu asyik dengan bacaannya dan analisanya sendiri, sebendel berkas tentang Lian audah habis dia baca saat matahari sudah menampakkan diri.


Pukul enam pagi Mawan rampung dengan berkasnya, setelah dia simpan rapi berkas-berkas itu di dalam amplop coklat seperti sedia kala, Mawan memasukkannya ke dalam laci dipannya dan segera bersiap untuk pergi ke sekolah.


"Apa harus gue informasikan mengenai Lian ke Samuel hari ini juga?" tanya Mawan sedikit ragu.


"Tapi berurusan dengan orang yang sedang kasmaran itu banyak salahnya. Dia pasti nggak akan percaya sama semua omongan gue. Dan kalau sampai Sam tanya darimana gue tahu semuanya, apa yang harus gue jawab?" tanyanya lagi.


"Kalau gue jujur ngomong ke dia kalau gue menyelinap ke dalam ruang kerja Bu Eri, pasti Sam bakalan salah paham sama gue. Dikiranya gue juga naksir sama Lian sampai segitunya cari info tentang dia. Padahal kan gue lakuin semua ini demi dia, demi supaya dia bisa selamat dari orang jahat itu" gumam Mawan masih terlalu bimbang.


"Gue harus bagaimana ya?" tanya Mawan sambil berfikir.


"Wan, bangun Wan... Sekolah! Lo jangan pura-pura tidur supaya emak kagak tega bangunin elo buat sekolah ya" teriak emak dari luar pintu kamar Mawan.


Tanpa banyak kata, Mawan membuka pintu dan membuat senyum emak terlihat renyah karena melihat anak perjakanya sudah rapi dengan baju seragamnya.


"Gue kira masih molor. Sarapan dulu, bekalnya emak taruh di sebelah piring lo. Emak mau ke warung. Warung lagi rame Wan, banyak yang beli buat sarapan. Tumben banget dah banyak istri yang kagak masak hari ini" omel emak sambil mempersiapkan ***** bengek untuk dibawa ke warung.


"Harusnya emak bersyukur, warung jadi rame. Malah ngomel" ucap Mawan sambil memulai urusannya dengan piring dan nasi.


"Iya, emak bersyukur. Yasudah, nanti kalau mau berangkat langsung saja ya. Emak ke warung dulu" ucap emak sambil menyodorkan tangannya untuk dicium oleh Mawan.


"Iya mak" jawab Mawan sambil mencium tangan emaknya yang terus berlalu pergi.


Kembali pikiran Mawan tertuju pada Sam. "Nanti gue lihat dulu keadaan di sekolah, kalau memungkinkan, gue bakalan kasih tahu si Samuel deh" kata Mawan.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2