My Angel Baby

My Angel Baby
Mulai Bergerak


__ADS_3

Terkadang kepentingan membuat kita melupakan persaudaraan. Kebutuhan untuk memuaskan hati membuat logika tertutupi. Dan segala kebaikan dari teman atau saudara akan hilang sesuai dengan harapan hati untuk menggapai angan.


Dan itulah yang tengah melanda Silvi kali ini. Gadis itu sedang ingin memuaskan keinginan hatinya setelah lelah karena hanya bisa mengagumi sosok Bayu selama hampir setengah dari usianya.


Kini Silvi sedang ingin memenuhi keinginan hatinya. Tergoda oleh semua hasutan dari seseorang yang ingin melihat dia dan semua sahabatnya hancur.


"Bagaimana Sil, aku yakin kalau pria ini sesuai dengan karaktermu, iya kan?" tanya Eri setelah memperkenalkan seorang pria pada Silvi, sesuai rencana mereka sejak beberapa minggu yang lalu.


"Bagaimana ibu bisa menemukan pria yang secara fisik cukup mirip dengan kak Bayu?" tanya Silvi heran, tapi juga senang.


"Itu tidak penting. Wajah pria seperti dia itu sangat mudah ditemui" kata Eri sedikit tak suka pada apapun yang berhubungan dengan keluarga Alexander.


"Tentu saja tidak, bu. Hanya ada satu pria di dunia ini yang seperti kak Bayu. Jika ada yang mirip, itu tidak lebih dari 50% saja kemiripannya. Dan patut ibu pahami kalau kak Bayu adalah satu-satunya pria yang paling sempurna di dunia ini" jawab Silvi tidak suka dengan pendapat Eri.


"Terserah kau saja, nak. Cinta memang terkadang membuat seseorang menjadi buta" omel Eri sambil menyeruput kopi pahitnya lalu menghisap dalam-dalam rokoknya yang sudah tersulut api.


"Kalian bersenang-senanglah, aku masih banyak sekali urusan yang harus segera kuselesaikan" pamit Eri yang langsung menggamit tasnya dan melenggang pergi meski tanpa sahutan dari dua orang di hadapannya.


"Dasar orang aneh" gumam Silvi.


"Hai beautiful girl, Aku mendengar ucapanmu" kata si pria dengan kikikan kecil di akhir kalimatnya.


"Ups. I'm forget that you still in here" jawab Silvi yang ikut terkikik kecil.


"Ok fine. Bagaimana kabarmu, Silvi? Ternyata tak hanya di layar kaca kau nampak mempesona, di dunia nyatapun kau sangat cantik" kata Pria itu sambil mengulurkan tangannya pada Silvi sebagai salam perkenalan.


"Kau ini bisa saja. By the way, siapa namamu tuan tampan?" tanya Silvi sedikit menggoda sambil mengerling manja.


"Aku Antoni, senang berkenalan denganmu" kata Antonio yang sengaja Eri bawakan untuk Silvi.


"Aku Silvi, senang bertemu denganmu" jawab Silvi.


"Tentu aku tahu siapa kamu. Semua orang juga tahu kalau kau adalah model terkenal" kata Antonio yang semakin membuat Silvi tersenyum malu.


"Kau bisa saja" jawab Silvi yang mulai nyaman dengan pria itu.


Dan seiring waktu berlalu, memang kenyamanan yang Antonio berikan sangat mudah membuat Silvi yang sampai di usianya yang melebihi masa remaja dan belum pernah sekalipun berhubungan terlalu dekat dengan seorang pria akan merasa bahagia dan mudah untuk dirayu.


Sedangkan tugas Antonio memanglah merayu dan memuaskan hasrat para keturunan hawa yang haus akan kasih sayang.


Ya, antonio memang menjajakan ketampanan wajahnya pada semua wanita yang menginginkan bantuannya untuk pemuas nafsu. Demi untuk menghidupi keluarganya yang sudah lama ditinggal mati oleh ayahnya, dan juga untuk memenuhi keinginan hatinya untuk hidup mewah.


Menginginkan jalan yang mudah untuk mendapatkan pundi-pundi rupiah, Antonio rela menjajakan dirinya.


Kini giliran Silvi yang tengah terjatuh di dalam lubang kesesatan.


Akankah rencananya akan terwujud tanpa halangan? Secara Bayu bukanlah pria bodoh yang mudah untuk dijebak.



__ADS_1


Setibanya Eri ke kediamannya di bar Norita, segera wanita itu berkunjung ke ruangan baru yang kini ditinggali oleh Viviane.



Langkahnya terasa sangat ringan dan ruang jika ingin menemui Viviane. Dia sangat ingin membuat wanita itu hancur.



"Selamat siang, princess Alexander" kata Eri yang baru saja memasuki ruangan khususnya.



"Kau gila kak. Ruangan macam apa ini?" tanya Viviane sedikit merasa takut, karena sejak semalam dia dihadapkan pada sesosok jenazah pria di dalam larutan kimia yang ada di sebuah akuarium besar.



"Hahaha, tidak usah takut cantik" ucap Eri sambil mengusap pipi Viviane yang terduduk dengan ikatan diatas sebuah ranjang.



"Apa kau lihat beberapa akuarium besar di dalam ruangan ini?" tanya Eri.



"Akuarium disini sudah aku siapkan untuk mengawetkan jenazah dari orang-orang yang aku anggap, ehm... Teman" kata Eri dengan kekehan pelan di akhir kalimatnya.



"Ehm, untukmu yang paling teristimewa. Kau boleh memilih kotak yang mana yang kau inginkan, Viviane yang cantik. Yang di ujung sana? Atau dekat dengan pria keparat ini?" tanya Ery yang kemudian tertawa keras.




"Nanti di sebelahmu akan aku letakkan mayat kedua anakmu, Angelia dan juga Samuel agar kalian bisa selalu bersama. Dan kisah kalian juga akan aku tulis di sebuah kertas yang nantinya akan aku tempelkan di akuarium kalian masing-masing" kata Ery menjelaskan dengan detail.



"Oh, hampir lupa. Abraham dan Suzy pun juga akan aku berikan tempat di dekatmu, Viviane. Dan aku hanya akan menyisakan Vicky yang masih selalu ada di hati ini. Oh, aku sangat menantikan saat dimana tinggal aku dan Vicky untuk merajut kisah hidup berdua sebagai pasangan yang saling menyayangi" kata Ery Dengan wajah berbinar setiap kali berangan tentang Vicky.



Mendengar semua rencana Ruby semakin membuat Viviane merasa takut. Wanita yang hidup dengan memupuk dendam selama belasan tahun ini seperti halnya bom waktu yang jika meledak akan membuat banyak nyawa melayang.



"Kau benar-benar sudah gila, kak" gumam Viviane.



"Siapa? Aku? Hahaha" tanya Ery yang semakin tertawa lepas.

__ADS_1



"Sebenarnya aku sangat ingin untuk segera menghabisimu, Vi. Tapi aku akan lebih senang jika melihatmu bersedih ketika nanti kau melihat saat aku memasukkan jasad Samuel ke dalam salah satu akuarium ini, hahaha, pasti akan sangat menyenangkan" teriak Ery.



"Dendammu keterlaluan, kak. Hatimu terlalu kotor. Bahkan Samuel yang tak tahu menahu tentang masa lalu kita, kau buat dia sebagai pelampiasan atas dendammu?" tanya Viviane.



"Kenapa tidak? Tinggal dua hari lagi, Vi. Saat dimana aku akan mengeksekusi Samuel menggunakan tanganku sendiri dan akan segera kubawa dia yang tak lagi bernyawa nanti ke hadapanmu. Tunggu saat itu datang, Vi" kata Ery sambil tertawa keras dan segera pergi dari ruangan itu.



Meninggalkan Viviane yang kini sendirian dan diliputi rasa takut karena dihadapkan dengan mayat dengan kondisi matanya yang melotot. Viviane yang juga merasa khawatir atas keselamatan putranya dan juga keluarganya.



"Oh Tuhan, apakah semua ini adalah karma karena kebodohanku di masa lalu?" gumam Viviane dalam tangisnya yang tak bersuara.



"Jika semua kebaikan yang aku lakukan selama ini belum cukup untuk menebus kesalahanku di masa lalu, tolonglah jangan libatkan anak-anakku dalam penebusan karma ini, Tuhan" tangis Viviane semakin pecah kali ini.



Setelah sekian lama hidup dalam kebahagiaan, kini nasib Viviane harus jatuh terbanting dalam penderitaan hanya dalam sekejap mata.



Saat terlarut dalam tangisnya, telinga Viviane mendengar suara sedikit gaduh dari plafon.



"Mungkinkah itu suara tikus?" tanya Viviane dalam hatinya.



"Tapi kenapa tidak ada decitan?" ingatan Viviane kembali ke masa dulu saat hidup di kontrakan, kadang ada tikus di atap rumahnya saling berkejaran dan berdecit nyaring.



Semakin lama terlihat olehnya jika kolong atap itu bergerak pelan. Viviane semakin awas dengan penglihatannya.



"Ya Tuhan, Ada apa lagi ini?" gumam Viviane sambil menyiapkan mentalnya untuk kejutan yang akan terjadi.



Ketakutan dalam hatinya semakin meninggi. Berharap bukanlah hal buruk yang akan terjadi di dalam penyekapannya.

__ADS_1



Akankah harapannya terwujud?


__ADS_2