My Angel Baby

My Angel Baby
Kekesalan Lia


__ADS_3

Lia sudah selesai menjalani ujian semester, begitupun dengan Johan. Dan rencana yang Vicky susun sudah sangat matang untuk memberi surprise terhadap Johan.


Dan itupun artinya, Ane dan Lia hanya kurang dua minggu saja berada di Kota Bandung untuk selanjutnya menetap kembali di Jakarta bersama Abraham dan Suzy.


Semenjak kejadian di kantin waktu itu, semua karyawan harus berfikir ulang jika ingin bergosip dengan lantang dan berkelompok dengan volume yang keras.


Pengalaman mengajarkan mereka bahwa kadang kenyataan tak seperti yang mereka lihat.


"Pagi bu" ucap semua orang yang berpapasan dengan Ane yang baru sampai di kantornya, kali ini dia tidak sendiri karena Lia yang sedang libur sekolah merengek untuk minta ikut dengan alasan ingin bertemu papanya.


Vicky dan Viviane masih belum tinggal serumah dengan alasan malas untuk packing dan pindahan. Hanya saja tiap akhir pekan atau saat Vicky inginkan pasti dia akan datang ke rumah Ane atau sebaliknya.


"Pagi" jawab Ane dengan senyum canggungnya. Dia masih tak terbiasa diperlakukan seperti itu.


Berjalan santai dengan tangan bergandengan dengan Lia, dua wanita berbeda generasi itu terlihat sangat menarik. Mereka sama-sama cantik di usianya.


Hingga sampai di ruangannya, rupanya Ayu sudah tiba lebih dahulu daripada Ane. Ayu memang rajin dan cekatan meski kadang suka bekerja sambil bicara.


Lia segera menuju ruangan papanya dan mengetuk pintu, tapi tak ada sahutan dari dalam.


"Papa belum sampai, ma?" tanya Lia setelah mengintip ke dalam ruangan papanya.


"Kalau belum ada di dalam ya berarti belum sampai. Tunggu saja disini, nanti kan kalau datang juga kelihatan Lia" kata Ane sambil mengeluarkan berkas-berkas dan menyalakan komputer kantor untuk mengerjakan pekerjaannya.


"Kamu bosan ya sayang? Bantuin tante saja kalau bosan" canda Ayu.


"Memangnya boleh kalau Lia bantuin tante?" timpal Lia serius.


"Jangan dong, Tante cuma bercanda" jawab Ayu setelah terkekeh pelan.


Beberapa kali bertemu dengan Lia membuatnya tahu jika Lia sebenarnya mampu mengerjakan pekerjaan yang ringan, seperti memasukkan data dari para sales ke dalam kolom laporan secara manual maupun dengan komputer. Tapi Ayu merasa tak enak hati pada Ane.


"Ah tante, aku kira tante benar-benar butuh bantuan. Aku bosan sekali kalau cuma menunggu seperti ini" keluh Lia sambil mempermainkan permukaan meja hingga membuat suara deritan yang Ane tak suka.


"Aduh, berisik Lia" gerutu Ane sambil menutupi telinganya.


"Kalau pekerjaan kamu memang cukup banyak, boleh kok kalau mau Lia membantu. Daripada anak itu berbuat onar, Yu. Telingaku nggak suka mendengar deritan meja seperti itu" ucap Ane sambil mengelus lengannya, bulu kuduknya masih saja berdiri.


"Serius mbak?" tanya Ayu dengan mata berbinar.

__ADS_1


"Iya" jawab Ane singkat.


"Ah senangnya" gumam Ayu sambil tertawa kecil.


Lalu mengambil lembaran laporan dari beberapa salesnya yang harus dia pindahkan ke laporan manager untuk nantinya diserahkan pada Ane, serta diinput ke dalam komputer agar lebih mudah diperiksa karena berbentuk data.


"Lia, tolong kamu masukkan data penjualan dari nama-nama diatas kertas laporan ini ke dalam kolom yang sudah tante buatkan di laptop ini, ya. Nggak banyak kok, cuma laporan seminggu ini" kata Ayu sambil memberikan tempat yang nyaman untuk Lia.


Ayu memilih untuk menggiring Lia ke sofa yang berada di ujung ruangan agar anak itu bisa mengerjakan pekerjaannya dengan santai.


"Tante tenang saja, serahkan semuanya sama Lia. Pasti beres dengan hasil maksimal" jawab Lia, gadis kecil yang baru selesai ujian agar bisa naik ke kelas dua SD itu memang sangat jenius, memang cocok menjadi anak dari seorang pimpinan seperti Vicky.


"Buktikan!" kata Ayu.


"Nanti tante traktir es krim deh" tambahnya.


"Oke" jawab Lia sambil menautkan jari jempol dan telunjuknya hingga berbentuk huruf O.


Merekapun bekerja dalam diam. Semua nampak serius karena memang menjelang akhir bulan seperti ini banyak pekerjaan yang harus segera diselesaikan untuk mengejar pambagian gaji dan juga bonus para karyawan.


Hingga pekerjaan yang Lia lakukan hampir selesai, Vicky belum juga sampai di kantor. Tidak ada konfirmasi apapun darinya terhadap Viviane maupun sekedar menelepon kantor.


Bayangkan saja, di divisi yang Ayu pimpin ada tujuh orang sales yang harus menjual produk cepat habis seperti masker sachet, shampo sachet dan beberapa produk dalam bentuk sachet juga.


Semua laporan yang sangat rinci itu diperkecil dengan hanya mencari total penjualannya saja.


Itu artinya Lia masih harus menjumlahkan angka penjualannya sebelum dimasukkan ke dalam komputer. Jadi, selain berurusan dengan layar laptop, Lia juga berurusan dengan kalkulator.


"Ma, kenapa papa belum datang juga sih? Ini sudah hampir makan siang lho" kata Lia sedikit berteriak, membuyarkan konsentrasi sang mama yang sedang asyik dengan kumpulan angka dan data.


"Eh, iya juga ya. Sudah sangat siang ini" gumam Ane setelah melihat ke arah jam dinding.


Lalu segera mengeluarkan ponselnya untuk menghubungi suaminya yang entah sedang kemana. Tentu perasaannya jadi campur aduk sekarang. Karena tak biasanya Vicky tak berkabar begini.


Beberapa kali panggilan masih belum ada jawaban. Pesannya pun masih belum dibalas membuat Ane semakin merasa cemas. Membuyarkan konsentrasi kerjanya saja.


"Coba kamu saja yang menghubungi papa, Lia" usulan Ane segera Lia lakukan.


Menggunakan ponselnya, Lia berusaha menghubungi papanya. Dan beruntungnya, panggilan Lia yang ke lima kalinya baru terjawab oleh Vicky.

__ADS_1


"Hallo, papa dimana?" tanya Lia sedikit manyun.


Anak gadis memang selalu bertingkah manja pada papanya. Tak terkecuali Lia yang sedikit manja semenjak tahu kalau Vicky adalah papanya. Dan diapun menerima kenyataan itu dengan lapang dada setelah mendapatkan pengertian dan beberapa cerita yang sedikit di kurangi dari kenyataannya agar Lia mau menerima papanya.


Dan terbukti, keduanya nampak sangat kompak. Vicky sering mengajarkan bisnis pada anaknya meski usia Lia masih sangat muda. Karena Liapun merasa sangat tertarik dengan apa yang Vicky ajarkan padanya.


"(...)"


"Lia sudah menunggu papa sejak pagi tadi di kantor papa" kata Lia masih dengan rengekan manja.


"(...)"


"Segera selesaikan pekerjaan papa sebelum makan siang. Aku ingin kita makan bersama, pa" kata Lia masih merengek manja.


Setelahnya Lia memutuskan panggilan teleponnya. Dan setahu Ane, jika Vicky tak bisa untuk menolak keinginan putrinya ini.


Kadang Ane merasa kasih sayang Vicky terlalu berlebihan terhadap putrinya itu. Mungkin Vicky masih merasa sangat bersalah dengan masa lalunya hingga pria itu bertekad untuk memberikan apapun yang Lia mau selama itu baik dan Vicky mampu memberikannya.


Begitupun Abraham, semenjak menjadi mertuanya, pria tua itupun berubah menjadi sangat baik. Terutama pada Lia.


Sebenarnya Ane sangat senang karena perubahan sikap keluarga Alexander yang kini sangat menerima kedatangannya dengan penuh kasih sayang.


Hanya saja, kadang kebaikan mereka membuat Ane merasa bersedih karena masih belum bisa meluluhkan hati ayahnya.


Pria tua yang dipanggilnya ayah itu masih saja menyimpan amarah dan belum bisa memberikan maaf terhadapnya yang sudah sangat merindukan pelukannya.


Tapi untungnya masih ada Brian yang masih mau berkomunikasi dengannya dan membantu Ane agar bisa kembali menyatukan benang keluarganya.


Semoga saja masih ada kesempatan bagi Viviane untuk merasakan kasih sayang ayahnya lagi.


Memang tak semua apa yang kita mau akan terwujud selama belum diizinkan oleh sang pemilik semesta.


Kini, kehidupan Viviane sudah sangat baik dengan ekonomi yang sangat terjamin. Tapi masih ada kekosongan dalam hatinya yang masih belum bisa dia isi dengan apapun karena itu adalah tempat bagi sang ayah.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2