My Angel Baby

My Angel Baby
Viviane Hilang


__ADS_3

Tawa bahagia menyelimuti para anggota panti sore ini.


Menggunakan tiga mobil besar, Viviane sengaja membawa banyak makanan, oleh-oleh dan juga bahan makanan untuk kebutuhan panti di lain hari.


Kali ini giliran panti asuhan yang berada cukup jauh dari kawasan kota yang mendapat giliran kunjungan oleh Viviane.


Sejak kemarin dia sudah disibukkan dengan belanja, memasak dan menyiapkan segala oleh-oleh untuk anak-anak panti dibantu para art nya.


"Terimakasih mama Vivi, kami senang sekali" kata anak panti dengan kompak setelah perut mereka kenyang dan masih mendapatkan bingkisan dari Viviane.


"Sama-sama sayang. Mama juga senang melihat kalian bahagia" jawab Viviane sambil tersenyum haru.


Menjadi anak buangan membuatnya sadar jika kepedulian orang tua sangatlah diperlukan oleh setiap anak.


Dan Viviane ingin jika semua anak asuhnya merasa diperdulikan oleh para pengurus yang berusaha menjadi orang tua pengganti bagi mereka, dan juga olehnya yang dengan senang hati mendonasikan harta dari keluarga Alexander yang tak akan pernah habis.


"Mama pamit dulu ya. Lain hari kita bertemu lagi" ucap Viviane, dan anak-anak panti itu bergantian mencium tangan Viviane dengan penuh rasa sayang.


Dan sebelum benar-benar pulang, Viviane masih menyempatkan diri untuk memberikan donasi berupa cek kepada pengurus panti untuk kepentingan harian panti tersebut.


Sungguh kebaikan hati Lia dan Samuel menurun dari sifat welas kasih dari Viviane.


"Apa kita langsung pulang, nyonya?" tanya supir pribadi Viviane, kebetulan hari ini Viviane hanya pergi berdua dengan si supir dan dua bodyguard saja, tanpa banyak pengawalan karena Viviane ingin lebih leluasa.


"Iya pak. Sudah sore, pasti bang Vicky bingung mencariku kalau tidak bertemu di rumah" jawab Viviane.


"Baik bu" jawab Supir itu yang langsung tancap gas, menyusuri jalanan dengan kecepatan sedang karena memang lalu lintas sangat lengang di pinggiran kota seperti ini. Tidak seperti di pusat kota nanti yang pasti akan macet.


Diiringi dua mobil dibelakangnya, Viviane merasa nyaman tanpa banyak orang di sekelilingnya.


Lelah dengan padatnya aktivitas sejak kemarin membuat Viviane mengantuk. Perjalanan yang masih panjang membuatnya dengan mudah terlelap di dalam mobil mewahnya.


Tapi itu tak berselang lama, karena masih dua kilometer perjalanannya sudah terganggu dengan seseorang yang tiba-tiba berdiri di tengah jalan.


Tidur nyaman Viviane terganggu karena supirnya yang mengerem secara mendadak.


"Ada apa pak?" tanya Viviane yang hampir jatuh dari tempat duduknya.


"Maaf bu, orang itu tiba-tiba berdiri di tengah jalan. Biar saya tanya dulu, mungkin dia orang gila, bu" jawab supirnya sambil melepas seat belt dan keluar dari mobil.


Viviane hanya bisa memandanginya saja dari dalam mobil. Percakapan supirnya dengan orang itu tak terdengar olehnya.


"Oh sial. Kenapa itu?" gumam Viviane yang melihat orang du tengah jalan tadi menghunus pisau pada supirnya.


Viviane mulai kalut, dia sadar sedang dalam bahaya. Refleknya menoleh untuk melihat dua mobil lain yang menemani perjalanannya tadi dan keduanya audah tak nampak.


"Kemana mereka? Apa yang sebetulnya sudah terjadi?" tanya Viviane ketakutan.


Bahkan saat melihat ponselnya untuk mencari bantuan, tak ada signal agar bisa menelepon Vicky atau polisi.


"Sial. Pasti mereka adalah musuhnya bang Vicky. Atau mereka adalah begal? Aku harus segera pergi" ucapnya saat melihat kode dari supirnya untuk segera pergi.


Dengan sigap Viviane beralih ke kursi kemudi. Menghidupkan mesin mobil dan menjalankan mobilnya secepat yang dia bisa. Meninggalkan si supir yang sudah dibekali ilmu pertahanan diri.


"Semoga kita bisa bertemu lagi di rumah, pak supir" gumam Viviane sambil terus berkendara.


Rupanya bahaya masih belum selesai sampai disitu saja. Dilihatnya dari kaca spion ada dua mobil yang membuntutinya dengan kecepatan tinggi.


Berusaha menyalip dengan teknik mengendara yang piawai.

__ADS_1


"Sial. Aku belum siap untuk menghadapi keadaan seperti ini. Bang Vicky, tolong aku" seketika dia teringat ucapan Vicky semalam yang memintanya untuk menunda satu hari dari jadwal yang biasa dia lakukan saat kunjungan ke panti itu.


Tapi dengan alasan takut kedatangannya dinanti para penghuni panti membuat Viviane nekat pergi sendiri tanpa memberitahu pada suaminya.


"Maafkan aku bang. Sekarang aku dalam bahaya karena tak mendengarkan ucapanmu. Topong aku bang" gumam Viviane sambil tetap fokus pada setirnya.


Dan matanya mulai berkabut. Sedikit kesulitan karena air matanya mulai turun. Viviane terus mengemudi sambil sesekali menyeka air matanya yang membuatnya tak bisa melihat ke jalanan.


Tapi kepiawaiannya dalam berkendara masih biasa saja. Hingga dua mobil yang membuntutinya sudah berhasil menguncinya dari arah depan dan samping.


Viviane ketakutan, dalam kebimbangan dia tak tahu apa yang harus dia lakukan.


Tanpa diduga, Viviane malah menginjak remnya hingga membuat dua mobil itu melaju jauh di depannya.


"Berhasil" gumam Viviane sambil membuka seat belt.


Viviane pikir berlari adalah jalan terbaik untuk saat ini. Dia berharap akan bertemu seseorang dan bisa meminta bantuan.


Setelah menyambar tas kecilnya di kursi belakang, Viviane segera berlari ke arah perkebunan tebu yang hanya terdapat jalan setapak untuk menelusurinya.


Tak diketahui seberapa luas kebun tebu itu karena ini juga pengalaman pertamanya untuk berlari.


"Sepatu ini menyusahkan saja" gumamnya sambil melepas sepatu high heels yang dipakainya ke sembarang arah.


"Seharusnya aku rajin berolah raga. Sekarang aku kesulitan untuk berlari" ocehnya sambil terus berusaha menjauh dari kejaran orang yang yak dikenalnya itu.


Viviane merasa sudah berlari cukup jauh saat pandangan matanya masih ditutupi oleh luasnya kebun tebu yang daunnya sudah banyak membuat kulitnya tergores.


"Kenapa tidak ada orang sih?" tanyanya.


Karena memang sejauh mata memandang, hanya ada pohon tebu dengan jalan setapak yang membuatnya merasa takut.


"Bagaimana cara mereka menanam semua ini jika tidak dirawat dengan baik? Seharusnya ada satu atau dua orang kan disini untuk merawat tanamannya?" ocehnya yang tak menyadari jika hari sudah mulai senja, tentu saja para pengurus dari tebu itu sudah pulang ke rumah mereka sendiri.


Lama kelamaan pandangannya menggabur dan kesadarannya menurun. Viviane pingsan kali ini.


Seseorang membawanya pergi entah kemana dan membiarkan tas selempang miliknya teronggok di jalan tanah di tengah pepohonan tebu yang rimbun.




"Aahh" tiba-tiba jantung Vicky terasa memompa dengan kecepatan tak biasa.



Masih di dalam ruangan kerjanya bersama Lia, Vicky terlihat kesakitan sambil memegangi dadanya.



"Papa kenapa?" tanya Lia panik. Berlari mendekati papanya dan mengelus pundak lebar itu.



"Vi" gumam Vicky masih tak mendengar pertanyaan sang putri.



"Kenapa pa?" tanya Lia masih panik.

__ADS_1



Tak menjawab pertanyaan anaknya, Vicky malah mengambil ponselnya untuk menghubungi sang istri.



Lang kali panggilannya tak terjawab membuat Vicky semakin khawatir.



"Papa sedang berusaha menghubungi mama?" tanya Lia lagi.



Kini Vicky tersadar ada Lia disampingnya. Putri tersayangnya itu terlihat tak kalah panik.



"Papa mau menelpon mama?" tanya Lia.



"Mamamu tidak mengangkat telepon dari papa, nak. Papa merasa jika mamamu sedang dalam bahaya" kata Vicky semakin cemas.



"Biar Lia tanya orang rumah" kini Lia berusaha menelpon rumahnya.



Sejenak keduanya sibuk dengan ponsel masing-masing. Berusaha menghubungi siapapun yang bisa ditanya perihal Viviane.



"Mama pergi ke panti, pa" kata Lia.



"Ya, papa ingat mamamu ada jadwal kunjungan di panti itu. Tapi mereka bilang mamamu sudah pergi sejak dua jam yang lalu" kata Vicky semakin cemas.



"Tenang pa. Kita cari mama bersama. Ayo segera pergi" ajak Lia.



Vicky pun bergerak cepat. Mereka berdua pergi untuk menemui orang kepercayaannya masing-masing untuk bergerak.



Kini keselamatan mamanya yang utama. Lia dengan timnya, begitupun Vicky dengan anak buahnya.



"Bergeraklah dengan rapi dan aman. Keselamatan istrimu ada ditanganku" sebuah pesan masuk ke dalam ponsel Vicky yang semakin membuat amarah di hatinya semakin meninggi.



"Sial! Siapa yang berani mengganggu keluargaku. Belum tahu mereka sedang berhadapan dengan siapa" gumam Vicky yang sudah duduk didalam mobilnya dengan supir.

__ADS_1



Dalam keadaan bingung, Vicky tak berani mengemudikan mobilnya sendiri. Keselamatannya masih dibutuhkan untuk menyelamatkan Viviane.


__ADS_2