
"Kenapa cuma makan nasi pakai mie instan? Itu double Karbo, nggak baik buat kesehatan, Lian" ujar Sam penuh kelembutan saat berbincang dengan tambatan hatinya.
"Nggak apa-apa, yang penting perut kenyang biar bisa fokus saat belajar nanti Sam" jawab Lian dengan senyum lembutnya.
Di jam istirahat ini, Sam dan Mawan yang sudah seperti jamur kulit baginya, beserta Lian sedang menikmati bekal masing-masing di kelasnya. Bersama murid lain yang juga membawa bekal dari rumah.
"Tapi kan nggak bagus buat kesehatan, Lian. Setidaknya perbanyak sayurnya atau tidak usah pakai nasi" kata Sam masih berlanjut.
"Sudah beberapa hari ini ibu tidak pulang ke rumah, Sam. Jadi aku harus berhemat dengan uang bulananku karena kemarin lusa juga ayah meminta uang padaku. Aku tidak tahu kapan ibu akan datang untuk memberikan aku uang bulanan" kata Lian sambil menikmati bekalnya.
"Lagian ya Sam, nggak semua orang itu seberuntung kamu yang bisa membawa bekal dengan komposisi gizi yang tepat. Bagi kami kaum akar rumput, ada makanan untuk mengganjal perut yang lapar saja sudah harus bersyukur" tutur Lian lagi, sementara Sam terlihat sangat menyimak setiap wejangan yang keluar dari mulut Lian.
"Iya, lo memang benar Lian. Dan sebagian besar dari kaum kayak kita ini, kaum yang lo bilang akar rumput ini juga adalah kaum yang mudah sekali terjerumus pada tindakan kriminal. Kaum kita nggak segan-segan untuk mencelakai teman kita sendiri demi kepentingan diri sendiri".
"Menurut gue, banyaknya orang yang baik dan orang jahat di kaum akar rumput itu 50:50. Kaum kita mudah diperdaya, kaum kita mudah di adu domba karena sedikitnya ilmu karena sulit untuk sekolah membuat kita mudah untuk menjadi orang yang jahat. Dan sepertinya kita harus waspada karena bisa saja kita jadi bagian dari orang yang jahat dan bermuka dua. Di depan kita terlihat baik dan tulus, tapi di belakang kita adalah sosok yang siap untuk mendorong ke dalam jurang yang dalam" kata Mawan dengan panjangnya, menyindir Lian yang masih menjadi misteri bagi Mawan.
Masih belum ada lagi kesempatan baginya untuk menanyakan kemana Lian pergi saat dia dan Sam sedang dikeroyok preman.
Mendengar perkataan Mawan yang cukup panjang dan terdengar serius membuat Lian dan Sam melihat ke arah Mawan dengan pandangan aneh. Tak biasanya Mawan bersikap begitu.
Yang jelas Lian tahu kemana arah pembicaraan Mawan, namun neda halnya dengan Sam yang melihat Mawan dengan pandangan sedikit mengejek.
"Omongan Lo Wan, sudah kayak orang paling benar saja. Tumben banget sih lo ngomong gitu?" tanya Sam setelah sedikit berfikir dan merasa jika ada yang sedang Mawan sembunyikan darinya.
"Ya nggak ada alasan apapun sih, Sam. Gue cuma mau ngingetin kalian doang. Kita tuh kudu hati-hati dalam memilih teman. Jangan karena tampang doang bikin kita langsung percaya. Tapi lihat situasi sekeliling orang itu, kadang yang terlihat jernih itu tak selalu menyehatkan, Sam" tambah Mawan, dan itu semakin membuat Lian merasa tak nyaman.
"Lo ngomongin apa sih Wan. Gue semakin nggak paham" kata Sam sambil membereskan wadah bekalnya, sebagian lauknya yang penuh gizi dia bagikan pada Lian, karenanya membuat Sam selesai lebih dulu dalam menghabiskan bekalnya.
"Sudahlah, otak lo yang terlalu encer itu sedikit sulit untuk menerima kenyataan pahit, Sam. Jadi lebih baik nanti saja saat gue menemukan sesuatu, gue laporin sama lo. Bolehkan Lian?" tanya Mawan lagi, dan itu semakin membuat Lian yang aslinya memang anak gadis yang polos semakin terlihat gelisah. Dia terlalu takut jika Mawan akan mengetahui semuanya.
"Lo juga, kenapa jadi berkeringat gitu sih Lian?" tanya Sam tanpa curiga sedikitpun.
"Ehm itu, ehm karena mienya pedas Sam. Iya, mienya pedas. Tadi aku kasih cabe, ternyata kebanyakan" jawab Lian agak terbata.
"Makanya kalau nggak tahan pedas, nggak usah dikasih cabai dong. Kan kasihan lambung kamu" kata Sam sambil mengulurkan minuman dingin pada Lian, dan segera Lian teguk minuman itu hingga tandas.
"Pelan-pelan dong, Lian" kata Sam sambil menggelengkan kepalanya.
Dan semua itu semakin membuat Mawan yakin jika ada sesuatu yang disembunyikan oleh Lian. Mawan berjanji dalam hatinya sendiri untuk mengungkap kebohongan Lian terhadap Sam karena dia merasa berhutang budi pada Sam dan keluarganya karena telah memberikan lapangan pekerjaan pada kedua orang tuanya.
"Eh, iya Sam" jawab Lian tak enak hati dengan pandangan menusuk yang Mawan berikan padanya.
Hingga waktu istirahat selesai dan bekal para murid juga sudah habis dimakan, Lian jadi takut untuk buka suara. Takut jika nanti Mawan bisa memancing obrolan yang diluar kendalinya.
__ADS_1
Sedangkan dalam hatinya, Mawanpun berjanji untuk sesegera mungkin menyelesaikan penyelidikannya.
"Apa kau sudah menemukan semua info mengenai Johan?" tanya Eri pada seseorang yang dia percaya untuk menemukan semua info tentang Johan, anaknya.
"Sudah nona, semuanya sudah lengkap di dalam map ini" jawab orang itu sambil menyerahkan sebuah map berwarna kuning pada Eri.
Sejak berhasil menghabisi Handoko, Eri lebih memilih untuk berdiam diri di barnya sambil berjaga agar mayat Handoko beserta semua informasinya tetap aman.
Eri mulai membuka lembar demi lembar dadi laporan yang diberikan padanya. Ada rasa bangga, rindu, dan perasaan sayang yang tertahan saat membaca baris demi baris dari informasi mengenai Johan.
Dia bangga karena ternyata Johan berhasil membawa bisnis travel milik ayahnya yang dulu hanya di Polandia saja, kini telah berhasil merambah beberapa wilayah di Asia.
Dia rindu untuk bisa memeluk sayang putra semata wayangnya itu karena audah lebih dari sepuluh tahun dia tak bisa melihat perkembangannya.
Hingga sebuah ketukan di pintu ruangannya memecah fokusnya dan memilih untuk memasukkan laporan itu ke dalam laci meja kerjanya.
"Oh Lian. Ada apa?" tanya Eri, dia sedikit lupa jika punya tanggung jawab atas diri Lian sebagai orang suruhannya.
"Maaf bu, aku datang karena ibu belum membayarkan uang bulanan. Dan satu lagi, sepertinya ada temanku yang sedang curiga padaku atas kejadian pengeroyokan terhadap Samuel waktu itu, bu" kata Lian dengan suaranya yang sedikit bergetar.
Lian bingung untuk melapor atau tidak saat Mawan selalu menyindirnya saat bersama Samuel. Lian takut jika dia bisa kelepasan bicara dan bisa membuat posisinya berbahaya karena kini Lian tahu seberapa pentingnya keluar Alexander itu.
__ADS_1
"Ambil ini, gunakan dengan baik. Dan siapa yang mencurigaimu?" tanya Eri sambil memberikan sebuah kartu ATM pada Lian untuk dia pergunakan sehari-hari.
"Apa ini bu?" tanya Lian masih belum berani menerima kartu itu.
"Aku rasa akan lebih aman jika kau jarang kemari karena aku khawatir kau diikuti oleh seseorang, jadi kartu ini bisa membuatmu tetap dirumah tanpa kekurangan uang. Ambillah" kata Eri.
"Oh iya bu. Dan orang yang curiga padaku itu adalah Mawan, teman sekelasku dan juga Samuel yang dulu sempat menolong Samuel dari pengeroyokan" kata Lian, tangannya terulur untuk mengambil kartu ATM yang ada di atas meja kerja Eri.
"Kau memang bodoh dan tidak berguna. Sepertinya aku garus segera mencari cara agar si bungsu itu bisa segera dimusnahkan. Kau pergi saha dulu, dan setelah aku dapatkan jalannya akan aku hubungi kau lagi" kata Eri
Lian mendengus sebal, sebenarnya yang Lian inginkan dengan mengatakan hal itu adalah agar dia bisa terbebas dari tugasnya untuk mencelakai Samuel karena dianggap tidak becus, tapi rupanya Eri masih tak mau melepaskannya.
Terpaksa dia segera pergi dari bar itu dan pulang ke rumah Eri yang biasa dia tempati.
Saat berjalan dengan menggerutu dan tak memperhatikan sekitarnya, rupanya langkahnya terhenti di depan gedung bar yang masih tutup karena telinganya mendengar seseorang memanggil namanya saat akan memasuki mobil.
"Hei Lian, sedang apa kau disini?" tanya sebuah suara yang membuatnya berhenti dan melihat pada orang itu dengan terkejut.
Siapa yang Lian lihat hingga membuatnya sedikit khawatir?
.
__ADS_1
.
.