
Silvi menapaki restoran yang telah di reservasi oleh si wanita misterius dengan sangat anggun. Meski mengenakan kaos oblong dengan hotpants yang dipadukan dengan sepatu casual, tetap terlihat jika silvi pastilah seorang model karena langkah kakinya yang teratur dan elegan.
"Iya hallo, aku sudah di dalam restoran ini" ucap Silvi sambil celingukan, entah bagaimana bisa dia datang hanya untuk menemui wanita yang bahkan dia tak tahu namanya.
"Meja nomor sepuluh di ujung ruangan" jawab si wanita.
"Oh baiklah" ucap Silvi yang telah menemukan tempat dimana dia harus duduk yang telah diisi oleh seorang wanita yang duduk memunggunginya.
Diiringi dua orang pria kepercayaannya, Silvi mendekati mejanya. Dan mulai tampak seorang wanita dengan gaun merahnya.
Sepatu berhak tinggi berwarna silver yang cocok dengan tas tangannya. Sementara gaun berwarna merah yang hanya tergantung dengan tali serupa spaghetti itu terlihat kontras dengan putih kulitnya.
"Maaf, apa kau yang ingin bertemu denganku?" tanya Silvi setelah berada di hadapan wanita itu.
"Oh, kau sudah datang rupanya" jawab wanita itu sambil berdiri dan menempelkan pipinya bergantian di pipi kanan dan kiri Silvi.
Silvi menurut, duduk di hadapan wanita itu dengan harapan akan ada cara baginya untuk bisa lebih dekat dengan Bayu. Atau bahkan mungkin bisa memilikinya?
Silvi duduk dengan penuh harap.
"Sekali lagi kamu mendesakku dengan pertanyaan konyolmu itu, aku tidak akan mau berteman denganmu lagi, Wan" ancam Lian setelah Mawan bertanya kembali mengenai posisi Lian saat pengeroyokan tempo hari.
"Aku kan hanya bertanya, Lian. Dan kau tinggal menjawabnya saja. Apa susahnya sih" balas Mawan yang memang hari ini sengaja berangkat lebih pagi untuk mencari waktu bicara dengan Lian sebelum Sam datang.
"Dan aku sudah menjelaskan berkali-kali padamu bahwa aku pulang, Wan. Aku pulang duluan. Maaf kalau apa yang aku lakukan itu salah karena meninggalkan kalian" jawab Lian sedikit emosi.
"Kau naik apa saat pulang? Tidak ada angkot yang lewat situ kan? Meskipun ada, hany di jam tertentu. Dan saat itu bukanlah saat dimana angkot lewat" tanya Mawan masih mendesak.
"Aku tidak tahu, yang jelas aku naik angkot dari sana. Aku panik, apapun yang lewat tentu aku hentikan untuk bisa pulang" jawab Lian tanpa berpikir.
"Oh... Ok" jawab Mawan berhenti bertanya.
Selain tak ada gunanya, sudah nampak Sam berjalan di koridor untuk segera sampai di kelasnya. Mawan segera kembali ke tempat duduknya seolah tak terjadi apapun.
Sejenak pikirannya tertuju pada Willy yang kala itu membantunya untuk masuk ke ruang pribadi di dalam bar Norita.
"Bagaimana kabarnya ya? Suatu saat nanti gue akan cari tahu tentang Willy di komplek perumahan yang di kunjungi karyawan bar Norita malam itu. Pasti ada sesuatu disana" gumam Mawan.
__ADS_1
Entahlah, akhir-akhir ini Mawan nampak sedikit lebih serius meski candaannya juga masih dilakukannya.
"Ini untukmu, Lian. Aku sengaja meminta tanteku untuk membuat dua bekal" telinga Mawan kembali mendengar pembahasan mengenai bekal bergizi menurut Sam.
"Aku pasti merepotkanmu, Sam. Kau tidak harus melakukan ini" kata Lian.
"Sudahlah, gue cuma nggak mau lo kurang gizi dan jadi stunting" ejek Sam.
Lian tergelak mendengarnya, "kamu pikir aku balita ya" kata Lian sambil menerima kotak bekal dari Sam.
"Terimakasih Sam, kamu terlalu baik" kata Lian.
"Everything for you, Lian. Gue sudah bilang untuk selalu ada buat lo, kan" kata Sam sambil mengerling.
"Kamu terlalu dini untuk memantapkan hati, Sam. Aki hanya tidak mau kalau kamu sampai kecewa" kata Lian.
"Entah mengapa hati ini sudah terisi penuh oleh namanya, Wan" gumam Sam yang masih terdengar oleh Mawan.
"Iya. Rasa cinta monyet lo itu sudah membuat mata lo buta, Sam" komentar Mawan sambil menggelengkan kepalanya.
"Huft, lo nggak tahu rasanya jatuh cinta sih, Wan" kata Sam sambil memegangi dadanya.
"Bodo amat lah sama urusan lo, Sam" kata Mawan yang masih melihat Sam tersenyum sendiri sambil memandangi ke arah tempat duduk Lian.
Memang Lian adalah gadis yang patut untuk dicintai jika tidak sedang terlibat dalam urusan kejahatan.
Mawan pun tak mengelak jika wajah Lian sungguh indah dipandang. Tapi yang sedang Mawan kejar adalah pengakuan kejahatan Lian agar bisa menyelamatkan Sam.
__ADS_1
"Sial! Kita kalah langkah kali ini" Vicky menggerutu mendengar hasil penyelidikan anggotanya mengenai Ruby.
"Bagaimana bisa Ruby menjadi pemilik dari bar itu?" tanya Vicky.
"Sepertinya sudah terjadi sebuah pengkhianatan di dalam struktur keanggotaan bar itu, pak. Jadi nyonya Ruby bisa dengan mudah menggulingkan penguasa lamanya, Norita" jawab anak buah Vicky.
"Lalu kemana Norita sekarang? Dimana Ruby menyembunyikan wanita itu?" tanya Vicky.
"Dari pengakuan nyonya Ruby yang kini dipanggil Eri bahwa Norita sedang sakit parah dan dalam pengawasan dokter. Tidak diperbolehkan untuk berkunjung dengan mudah agar bisa melihat keadaan Norita yang sebenarnya" jawab pria di hadapan Vicky.
"Bagaimana kau tahu?" tanya Vicky.
"Nyonya Eri sudah melakukan konferensi pers dengan beberapa foto dan video mengenai keadaan Norita diatas ranjangnya yang hanya bisa terpejam dengan banyak alat penunjang kehidupan di tubuhnya, pak" jawab pria itu.
"Darimana Ruby memperoleh keberanian seperti ini? Bukankah dia hanya wanita manja yang penakut" gumam Vicky.
"Keadaan bisa merubah kepribadian seseorang, pak. Orang yang sabar bisa saja menjadi pembunuh handal jika terlalu sering mendapatkan ketidakadilan" jawab pria itu.
Vicky mendongak padanya, mencerna setiap ucapan pria itu yang mengena di hatinya.
Dan memang benar jika kepribadian bosa saja berubah. Ruby sedang menjalaninya. Dan Vicky menjadi sedikit khawatir kali ini.
"Apa bodyguard yang menjaga Samuel masih stand by di tempatnya?" tanya Vicky yang mendadak cemas.
"Tentu pak. Masih ada dua orang handal yang selalu membuntuti kemanapun tuan muda pergi tanpa sepengetahuannya sejak kejadian pengeroyokan waktu itu. Dan untuk nona Lia juga masih dikelilingi bodyguard yang nona sudah ketahui" jawab pria itu yang rupanya adalah pimpinan dari para bodyguard di keluarganya.
"Bagus. Jangan biarkan mereka pergi tanpa pengawasan. Sepertinya di luar sana sedang tidak baik-baik saja" kata Vicky.
"Tentu pak. Kami akak selalu pastikan kemanan seluruh anggota keluarga Alexander" jawab pria itu mantap.
"Bagus" jawab Vicky singkat dengan pikiran masih tak tenang.
Diapun segera menghubungi Viviane, berharap wanita kesayangannya itu berada di rumah hari ini.
Perasaannya sedang buruk setelah mendengar berita mengenai Ruby dan sekutunya.
"Hallo sayang, kamu dimana?" tanya Vicky setelah sambungan teleponnya terhubung.
"Aku sedang berbelanja kebutuhan rumah, sayang. Di mall langganan kita" jawab Viviane yang sedang berdiri sambil memilih paprika.
"Kau sendirian?" tanya Vicky mendadak khawatir.
"Tentu saja tidak. Aku bersama dua orang art kita dan dua pengawal yang selalu kau utus untuk membuntutiku kemanapun" jawab Viviane yang mulai terbiasa dengan sikap protektif sang suami.
"Baguslah. Setelah berbelanja segeralah pulang, pelihara saja kebun kecilmu dengan baik daripada berkeliaran di luar rumah" kata Vicky.
Bibir Vicky tersenyum saat mendengar Viviane mendenguskan napasnya setelah mendengar ucapannya.
Vicky memang melarang Viviane untuk kembali bekerja di kantor setelah resmi menikah dulu. Kegiatannya dihabiskan dengan berkebun atau memasak. Dan kegiatan sosial yang selalu Viviane lakukan dengan menjadi donatur tetap di beberapa panti asuhan.
"Aku akan segera pulang setelah selesai berbelanja. Tapi nanti sore aku akan ke panti asuhan untuk membagikan makanan dengan anak-anak disana" jawab Viviane.
"Sure. Aku senang mendengarnya. Tapi ingat untuk selalu berada tak jauh dari para penjagamu, sayang. Nanti jika pekerjaan kantor segera selesai, aku akan menemanimu ke panti" kata Vicky.
"Oh aku sangat senang mendengarnya. Semoga pekerjaanmu tidak ada hambatan ya sayang. I Love You" kata Viviane mengakhiri panggilannya.
"I Love You too" jawab Vicky tanpa risih meski ada beberapa orang di ruangannya.
__ADS_1
Semua orang yang bekerja padanya sudah tahu betapa besar cinta Vicky untuk keluarganya, terutama untuk sang istri.
Ucapan sayang bukanlah hal memalukan yang selalu dia ucapkan.